
Aku tersenyum bahagia menatap Zen. Aku mengaminkan setiap harapan dan keinginan yang muncul dari dalam dirinya. Semua juga menjadi harapanku di masa yang akan datang. Namun, aku sangat menyadari siapa aku dan siapa Zen.
"Sudah sampai, Al. Ayo turun" Zen tertawa melihatku. Aku melempar pandangan ke sekitar. Ah...benar saja sudah tiba di halaman luas rumah milik keluarga Zen Pratama Al Bukhari. Aku malu menyadari lamunan panjangku.
"Melamunnya jangan lama-lama, Al. Nanti kau akan lupa aku dimana" goda Zen yang membuat aku makin malu. Pak Bisma tertawa kecil melihatku.
"Makanya jangan lama-lama segera di halalkan, nak" ucap pak Bisma di sebelah Zen.
"InsyaAllah, pak. Nanti bapak juga yang ribet kana kiri" kata Zen tertawa lepas.
Pak Bisma tersenyum khas. Penuh wibawa sebagai orang tua. Hubungan Zen dengan pak Bisma sudah seperti keluarga. Pak Bisma dulunya merupakan orang kepercayaan ayah Zen sebelum Zen melanjutkan perusahaan ayahnya. Dan semenjak Zen menjalankan beberapa usahanya, maka pak Bisma setia mendampinginya.
Kami memasuki rumah keluarga Zen yang selalu asri dan adem. Khala Fatmah menyambut dengan gembira. Rumah terlihat sepi, pastinya anak-anak Khala Fatmah sedang sibuk dengan kuliah dan urusan masing-masing.
"Ayah kemana, Khala?" Zen memberikan kotak kue kesukaan Khala Fatmah dan melangkah menuju kamarnya.
"Ke kantor katanya ada klien yang ingin bertemu. Kata ayahmu jangan nunggu makan siang karena ayahmu akan telat pulang. Mungkin malam akan tiba di rumah" Khala Fatmah membawa kue ke dapur.
Aku setia mengikuti langkah khala Fatmah.
"Kapan kalian berangkat ke kota S, Al?" khala Fatmah menyuapkan kue ke mulutnya.
Aku tersenyum kecil.
"Rencananya hari Sabtu, khala. Tapi nanti ku tanyakan lagi dengan Zen siapa tau dia ada keperluan lain" aku membantu khala Fatmah menyeduh kopi herbal untuk diminum bersama pagi menjelang siang ini.
"Semoga urusan kalian lancar. Oh ya, apakah kau rencana membuat resepsi nanti?" khala Fatmah menatapku.
"Sebenarnya aku ingin sederhana saja, Khala. Tapi kan Zen belum bertemu dengan orang tua ku" aku sedikit malu untuk menyusun rencana.
Khala Fatmah tertawa.
"Jangan takut. Zen belum pernah serius seperti sekarang dengan lawan jenisnya. Dan khala rasa kamu adalah wanita pertama yang di bawanya ke rumah ini. Banyak berdoa yaa" ucap Khala Fatmah meyakinkan.
Aku mengangguk dan membawa baki kopi menuju ruang keluarga.
Aku melihat Zen telah berganti pakaian lebih santai dan terlihat segar. Pak Bisma dan sopirnyapun telah pergi. Mungkin mereka pulang untuk istirahat.
Sudah hampir jam 12 siang. Kami masih asik mengobrol panjang lebar. Sesekali khala Fatmah tertawa mendengar cerita Zen yang terksdang konyol dan lucu.
Khala Fatmah pamit untuk ke dapur menyiapkan makan siang. Tinggal aku berdua Zen di ruang keluarga.
"Apakah sudah kau telpon ayah dan ibu di kota S?" Zen bertanya dengan serius. Aku mengangguk.
"Apa katanya?" Zen nampak penasaran.
__ADS_1
"Mereka ingin bertemu denganmu. Dan aku katakan kalau aku aka datang hari Sabtu pagi"
"Aku akan menemanimu, sekalian aku langsung melamarmu"
"Tapi, Zen..." aku terkejut walaupun Zen sudah berkali-kali mengatakan kalimat itu.
"Tapi apa..?" Zen mengerutkan keningnya.
"Bukankah kau belum mengenal orang tuaku dan latar belakang kehidupanku" aku sedikit ragu.
Zen tertawa dan menatapku dengan penuh cinta.
"Aku sudah melihatmu, dan aku tahu siapa kamu. Gadis cantik, baik, lalu apa yang harus aku kenali lagi darimu?"
"Aku tidak ingin ada penyesalan setelah kau mengambil keputusan, Zen" ucapku lirih.
Zen tersenyum lalu menatap lurus ke arahku.
"Aku tidak ingin kau meragukan ketulusan cintaku ini, Al. Aku mencintaimu sejak seragamku putih merah sampai saat ini, dan insyaAllah selamanya" Zen meraih tanganku "Karena keseriusanku itulah aku ingin kita secepatnya menikah. Aku sangat berharap kau memahami keinginanku ini"
Aku mengangguk tak mampu mengatakan sepatah katapun. Zen tersenyum mengelus pundakku dengan lembut.
@@@@
Pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan lancar pukul 11.45 di kota S. Cuaca panas menyambut kami ketika telah melangkah keluar dari bandara Sultan Kaharuddin. Aku menyapu pandangan situasi bandara yang telah seratus persen berubah. Baik dari bangunan maupun luas areanya.
Aku melihat suhu udara kota S mendekati angka 27°C, terasa panasnya menyengat kulit siapapun apalagi yang tak terbiasa dengan cuaca panas. Sangat berbeda jauh dengan kota B.
"Masih panas seperti dulu" bisik Zen tersenyum sambil menarik koper pakaian.
"Sudah berapa lama kamu meninggalkan kota ini?" tanyaku sambil menunggu jemputan.
Zen tertawa datar.
"Hampir sepuluh tahun"
"Selamat datang untuk kita berdua" bisikku sambil tertawa. Beberapa orang tersenyum menyapa kami dengan ramah. Ada yang menawarkan untuk menggunakan jasa mobilnya mengantar kami, tapi ku tolak dengan halus.
Lima belas menit muncul adik iparku dengan senyum lebar. Keringat nampak menempel di dahinya.
"Selamat datang, kak. Maaf, aku agak telat. Tadi mampir dulu ke toko membelikan pesanan ibu" adik iparku tersenyum sambil menatap ke arah Zen.
"Zen, kenalkan dia iparku Arya"
Zen tersenyum dan mereka bersalaman sambil saling menyapa.
__ADS_1
"Ku panggil apa nih abang atau mas, atau kakak?" Arya menggaruk kepalanya.
Zen tertawa mengangkat bahunya.
"Dia lebih muda darimu" aku melirik Arya yang memang usianya lebih 3 tahun di atas Zen.
"Tapi..." Arya menggantung ucapannya sambil tersenyum menggaruk kepalanya. Zen tersenyum kecil.
"Panggil nama saja, mas" Zen melihatku sambil tertawa kecil.
Aku melihat Arya tertegun di beri panggilan "mas" dan beralih menatapku sambil memasukkan koper ke bagasi mobil.
Aku tertawa melihat raut wajahnya.
Arya menjalankan mobil meninggalkan halaman parkir bandara, melenggang tenang di jalan protokol yang lumayan ramai.
Zen dan Arya mengobrol dan sesekali mereka tertawa bersama. Aku merasa bangga Zen dengan mudah akrab dengan orang yang baru di kenalnya. Benar-benar pribafi yang supel. Usia muda tetapi pembawaan dan pemikiran yang dewasa dan tertata dengan baik. Yah, walau terkadang muncul juga sikap konyolnya.
Setelah lima belas menit, kami tiba di halaman rumah yang cukup luas. Halaman rumah yang selalu aku rindukan saat di kota rantauan.
Bunga-bunganya masih tertata dengan rapi dan indah.
"Arya..." aku terkejut melihat deretan bunga indah yang nampak menghiasi bagian lain yang tertata sedemikian rupa di ujung halaman tepat di bagian depan jendela kamar yang biasa aku tempati.
Arya tertawa mengerti apa yang membuatku memanggilnya.
"Ibu yang meminta untuk di tata dengan jenis bunga yang kakak suka. Kata ibu biar ada warna beda"
"Siapa yang merawatnya?" tanyaku mengagumi berbagai jenis bunga yang ada.
"Ayah menyewa orang untuk menata dan merawatnya. Sesekali ayah turun langsung, jika ada yang dirasa perlu di ganti tanamannya"
"Mengapa tidak ikut lomba desain taman aja" ucapku sambil tertawa.
Kami turun dan melangkah bersama ke arah pintu rumah yang terbuka namun nampak sepi. Mungkin ayah dan ibu sedang di bagian belakang rumah, sehingga tidak keluar mendengar deru mesin mobil di depan rumah.
Tak berapa lama Ibu muncul diikuti adikku dan dua bocah kecil yang ikut di belakangnya.
Senyum ibu membuatku bahagia. Aku langsung mencium tangannya dan memeluknya.
"Ibu semakin cantik saja tanpa aku" ucapku di telinganya. Aku langsung mendapat cubitan sayang dari ibu.
"Kenalkan, bu, dek..ini Zen Pratama"
Zen tersenyum menyalami ibu dan mencium tangannya. Adikku tersenyum menyambut Zen.
__ADS_1
"Ayah masih ada pekerjaan di luar, nanti siang baru kembali. Ayo, duduklah dulu kita ngobrol. Bagaimana cuaca kota kami nak Zen?" ibu mengajak kami semua diduk di ruang keluarga yang telah di tata untuk menuambut Zen.
Zen langsung terlihat akrab dengan ibu dan adikku terutama si kembar yang menggemaskan. Ku lihat beberapa kali mereka menarik-narik rambut di lengan Zen, bahkan mereka kini duduk di pangkuan Zen.