
"Arya... Arya... Arya...."
Terdengar sorak sorai penggemar, meneriaki untuk memberi semangat. Kebanyakan di antara mereka adalah kaum hawa. Mereka berteriak histeris melihat Arya meliuk-liuk di lapangan memainkan bola. Mata mereka berbinar penuh kekaguman, bibir mereka tak hentinya tersenyum. Bahkan salah satu dari mereka berjingkrak- jingkrak sambil berteriak Arya I love you.
Tak di pungkiri pesona pria 21 tahun itu selalu merebut perhatian para gadis belia. Perawakanya yang tinggi dan atletis, kulit coklat exotic, dengan kemampuanya yang mumpuni dalam memainkan bola di lapangan, menjadi nilai plus.
"Dia Aryaku,"
"Kalian boleh mengaguminya, tapi dia Aryaku,"
"Tuhan berikan kemenangan di Timnya Arya, amin."
Seorang gadis manis berdiri di podium paling depan, bergumam dalam hati penuh rasa bangga. Bibirnya yang tipis tak hentinya tersenyum. Matanya yang bulat berbinar penuh rasa bangga. Dia letakan tanganya di bawah dagu, mengepal seperti posisi berdoa. Berharap kemenangan di Timnya Arya.
"Goooool......"
Riuh penonton bersorak begitu gol cantik telah tercipta. Seperti biasa Arya membawa kemenangan bagi Timnya. Semuanya bersorak gembira. Terdengar juga mereka menyanyikan yel yel kebanggaan Tim Arya. Tak terkecuali Arsyana. Gadis itu berjingkrak kegirangan, merasa bangga dan bahagia.
...****...
"Congratulations my dear,"
"Arya kita harus rayakan kemenangan ini aku juga punya kejutan untukmu aku udah siapin semuanya malam ini harus jadi yang spesial.
" Ohok ... Ohok ..."
Dengan penuh semangat Arsyana berbicara, bahkan tanpa titik koma. Rasa bahagia yang meledak- ledak menyelimutinya sampai- sampai dia tersedak.
" Minum! "
" Pelan-pelan sayang bicaranya, tuh kan jadi tersedak."
Dengan sigap Arya menyodorkan sebotol air mineral, ketika melihat Arsyana tersedak, dia menahan rasa sakit karena sedikit kesulitan bernafas, wajahnya memerah. Tangan Arya yang kekar mengusap-usap punggung Arsyana, berusaha membuatnya relax. Namun Arsyana hanya tersenyum tengil seraya meraih botol minum yang di berikan Arya.
" Arsyana aku ingin ngomong sesuatu." Tiba-tiba Arya memecah kesunyian.
"Ok, ngomong aja," jawab Arsyana singkat.
"Jangan disini, ayo kita cari tempat yang nyaman untuk ngobrol."
Di raihnya tangan Arsyana ke sebuah cafe yang tak jauh dari sana. Dalam hati Arsyana menebak-nebak, apa yang ingin Arya sampaikan. Mungkinkah Arya akan melamarnya setelah 4 tahun pacaran. Tanpa dia sadari bibirnya tersenyum merekah.
"Arsyana ..."
"I_ i_ iah, eh apa?"
__ADS_1
Arya menepuk pundak Arsyana, membuatnya terperanjat, tersadar dari lamunanya.
"Kenapa senyum senyum sendiri, kamu ngelamunin apa?" tanya Arya bingung.
"Engga hehe," sangkal Arsyana, dengan bibir yang masih merekah kemudian dia mengedipkan sebelah matanya.
"Oke Arsyana," ucap Arya memulai pembicaraan.
"Iya Arya, " jawab Arsyana menggoda Arya. Sembari melipat kedua tanganya di atas meja, matanya yang bulat lekat memperhatikan wajah Arya.
"Udah ah becandanya! aku pengen ngomong serius," ucap Arya sedikit kesal.
"Oke fine," sahut Arsyana setuju.
"Arsyana, aku ingin kita break dulu." ucap Arya to the point.
"Apa Arya, kamu bercanda ya, ini ga lucu tau, aku bikin salah ya?"
Kata-kata Arya memukul hati Arsyana sangat keras, tanpa terasa air mata dengan derasnya membasahi pipi Arsyana. Kecerian yang tadi terpancar di wajahnya seketika berubah menjadi kemurungan.
"Ga, kamu ga salah apa-apa, aku hanya ingin focus berkarir. Kamu tau kan aku ingin sekali masuk TIMNAS, dan untuk mewujudkan semua itu aku harus focus."
"Kenapa harus putus, apa selama ini aku pengganggu yang menghambat karirmu?"
" Bukan gitu, kamu jangan salah faham, Aku cu_" Kata- kata Arya terputus, Arsyana memotong ucapanya.
"Cukup Arya, cukup. Aku ga mau dengar apa pun lagi, I'm done."
Arsyana pergi berlari dengan berlinang air mata meninggal kan Arya yang masih berdiri mematung, wajahnya menunduk merasa bersalah.
"Taxi ......."
" Mau kemana nenk? tanya Tukang taxi sopan.
" Jalan aja pak! "
Taxi melaju tanpa arah tujuan. Arsyana merasa sangat kacau, merasa tak punya tempat untuk pulang.
Semenjak orang tua Arsyana meninggal karena kecelakaan. Dia tinggal bersama bibinya. Saat itu Arsyana baru berumur 7 tahun. Dan Arya adalah tetangga sekaligus teman masa kecilnya. Arya bukan cuma pacar. Tapi juga teman dan mungkin sudah menjadi kebiasaanya.
" hiks ... Hiks ... Hiks ..."
Arsyana menangis sejadinya tak peduli supir taxi di depan diam-diam memperkatikanya dari kaca mobil. Harusnya hari ini menjadi hari yang spesial untuk Arya dan Arsyana. Selain perayaan kemenangan Timnya Arya, hari ini bertepatan dengan anniversary ke- 4 mereka. Sejak dari pagi Arsyana menyiapkan semua. Dari mulai kado, dekorasi, termasuk memasak makanan kesukaan Arya.
"Nenk ini sudah sangat jauh dari Kota, nenk mau kemana?" tanya supir taxi. Wajahnya pucat pasi, panik melihat Arsyana yang hanya menangis tanpa menjawab. Rasa takut menyelimutinya, bagaimana kalo orang kira dia adalah seorang penculik.
__ADS_1
" Berhenti di depan pak! " pinta Arsyana saat melihat sebuah persimpangan. Di dekat situ ada tempat yang dulu sering ia kunjungi bersama ayah dan Ibunya.
"OK nenk, nenk ga apa apa? " tanya supir taxi khawatir.
"Ga apa apa pak," jawab Arsyana seraya tersenyum untuk meyakinkan. Tepatnya senyum yang di paksakan.
Taxi berhenti di persimpangan. Arsyana masuk ke kawasan hutan, berjalan menapaki jalan setapak. Tak jauh dari sana terlihat pemandangan yang sangat Indah. Pepohonan yang rindang, bunga warna warni, terbentang pula danau berair bening sehingga kita bisa dengan mudah melihat ikan- ikan berenang kesana kemari.
"Apa salahku, kenapa kamu bisa berbuat ini padaku? padahal aku tulus menyayangimu. Apa tidak cukup usahaku selama ini, menjadi seperti yang kamu Mau? aku belajar banyak hal tentang bola, demi kamu. Kamu juga ga tahu Arya, selama ini aku menabung demi nonton piala dunia bersamamu. Tapi sekarang apa yang sudah kamu lakukan. Hiks ... Hiks ... Hiks ... Kenapa Arya kenapa? "
Teriakan dan tangisan Arsyana begitu memilukan. Kini semua pertanyaan itu menggema di langit, memecah keheningan. Tumpukan unek-unek di benak Arsyana, kini melebur bersama angin.
" Gubrak "
Terdengar sesuatu jatuh di kejauhan, sepertinya benda yang cukup besar. Karena suara itu mampu membuat Arsyana menoleh dan sejenak melupakan semua kesedihanya. Arsyana beranjak dari bangku kayu yang sudah ia duduki sejak lama. Tanganya masih menggenggam beberapa batu kerikil yang tadi dia lempar lemparkan ke Danau, sambil berteriak dan menangis. Kemudian Arsyana berjalan ke arah asal suara tadi.
"si_ssiapa kamu, kenapa bisa ada disini?"
Wajah Arsyana berubah pucat pasi, dia merasa ketakutan. Seorang pria asing tanpa sehelai benang pun menutupi badannya, berjalan sempoyongan ke arahnya. Matanya indah, berwarna kehijauan seperti zamrud.
"Jangan mendekat! "
"Jangan mendekat pria mesum!"
Teriak Arsyana. Tangan kananya memegang ranting kayu untuk perlindungan diri, dan satunya menutupi Mata. Membuat batu kerikil yang Ia genggam berjatuhan. Namun, pria asing itu terus mendekat. Bibir kritingnya seperti mengucapkan sesuatu yang tidak bisa di mengerti Arsyana.
"Selangkah lagi kamu maju, akan ku tusuk kamu," ancam Arsyana, seraya mengacung acungkan ranting kayu tadi ke arah pria asing itu. Meski tak mungkin ranting kayu sekecil itu bisa melukai pria yang berperawakan atletis.
"Gubrak ... "
Pria itu jatuh tepat di depan Arsyana, membuatnya ikut terjatuh. Satu tangan Arsyana berusaha menahan beban tubuh pria berkulit putih pucat itu. Walau akhirnya Arsyana ikut terjatuh juga, sementara pria kekar itu menindih badan Arsyana yang mungil.
Apa yang akan kalian lakukan jika ada di posisi yang sama?
............. To be continue ...........
.
Assalamualaikum...
Perkenalkan aku White Dandelion. Aku author baru di NT dan ini adalah novel pertamaku bergenre fantasy romance, non human. Aku harap kalian suka. Jangan lupa untuk like, komen dan masukan ke rak favourite kalian supaya aku lebih semangat untuk up kedepannya. Makasih.
Love you all
White Dandelion
__ADS_1