
"Aaron, Aaron, bangun!" ucap Arsyana membangunkan Aaron yang masih terlelap.
"emmmm." Aaron malah menarik selimutnya, tak mau membuka mata.
"Aaron bangun!" Arsyana menggoyang-goyangkan badan Aaron.
"Apa Ar..." Aaron terbangun, matanya masih setengah tertutup.
"Bangun Aaron, ayo kita latihan," ucap Arsyana, sambil menarik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh Aaron.
"Cepetan bangun!" ucap Arsyana.
Aaron malah duduk di pinggir kasur, sambil terkantuk. "Aaaaaron...." Arsyana menariknya dari kasur, dengan memegang pundaknya kemudian Arsyana menggiring Aaron ke kamar mandi. Aaron berjalan malas mengikuti langkah Arsyana.
"Dingin Ar..." ucap Aaron malas, sambil menguap, rambutnya yang hitam terlihat berantakan.
"Mandi!" perintah Arsyana, matanya membulat. Arsyana menggantungkan handuk di pundak pemuda itu.
"Ok, ok" Dengan terkantuk Aaron masuk ke dalam kamar mandi. Arsyana tersenyum merasa puas.
"Sepertinya hari ini toilet adalah tempat yang paling aman," ucap Aaron. Matanya perlahan menutup. Dia masih asik duduk di atas closet.
...*****...
Aaron berlari kecil di sekitar taman di ikuti Arsyana yang bersepeda di belakangnya. Namun kemudian Arsyana duduk di atas bangku untuk istirahat.
"Ayo, semangat Aaron! Jogging sangat baik untuk menguatkan daya tahan tubuh," teriak Arsyana, menyemangati.
Aaron masih focus dengan langkahnya. Keringat mulai bercucuran membasahi badan atletisnya. Menarik perhatian para cewek di sana.
"sexy nya...." gumam seorang ibu muda. Matanya seolah tak bisa lepas dari Aaron.
"Tuh type aku yang kaya gitu," ucap gadis remaja yang sedang bergosip dengan teman sebayanya. Gerakan matanya menunjuk ke arah Aaron.
Beberapa lainnya coba curi-curi pandang. Namun Aaron masih focus pada latihanya.
Tiba saatnya Aaron berbaring, untuk berlatih bench press di atas bangku taman. Dengan barbell yang terbuat dari dua ember bekas cat, yang di isi penuh dengan semen dan di sambungkan sebatang besi panjang. Aaron begitu piawai memainkanya. Gerakan naik turun barbell memerkan otot-otot yang bersembunyi di badan atletisnya.
Tak ada yang peduli dengan alat sederhana, yang di pake Aaron. Para gadis hanya memperhatikan betapa kuat dan memukaunya performa Aaron. Mata mereka seolah mengikuti gerakan barbell yang Aaron pegang di atas bahunya.
"Dasar cewek-cewek gatal, ga bisa liat cowok bening," gumam Arsyana dalam hati. Dia merasa ada sesuatu yang mengganggu di hatinya. Perasaan yang tak dia mengerti namun membuatnya tak nyaman.
"Aaron..." teriak Arsyana. Membuat Aaron menghentikan latihanya.
"Sini..." panggil Arsyana. Aaron bangkit, dia berjalan ke arah Arsyana. Keringat mengucur deras dari dahinya. Sebagian kaos tanpa lenganya di basahi keringat juga. Sejenak, waktu seolah berhenti.Tak sadar Arsyana menatap lurus ke arah Aaron yang semakin mendekat. Namun kemudian gadis itu memalingkan pandanganya.
"Aku tau tempat yang nyaman untuk latihan." ucap Arsyana sumringah. "Disana tempatnya luas, lebih tenang juga, ga banyak orang seperti disini," ucapnya lagi. Mata gadis itu menoleh ke arah para cewek disana.
"Ok kita kesana," ucap Aaron setuju.
__ADS_1
Dengan penuh semangat Aaron mengayuh sepeda menuju tempat yang Arsyana katakan. Sementara Arsyana duduk santai di belakang Aaron. Dia tersenyum puas, akhirnya bisa menjauh dari para cewek tadi.
"Ga berat kan?" tanya Arsyana tiba-tiba. Ketika mereka menaiki tanjakan.
"Berat banget, aku sampai susah mengayuh, hehe..." goda Aaron.
"iiiiiih Aaron... Bersepeda itu penting, bisa melatih keseimbangan juga. Pasti nanti berguna di lapangan. Apalagi ada beban di belakangnya kan lebih bagus, hehe," cerocos Arsyana, sok jadi professor.
"Hahaha... Aku cuma bercanda Ar." Aaron merasa gemas dengan tingkah Arsyana.
...*****...
"hhhhhh...."
Arsyana menarik nafas panjang, menghirup segarnya udara pegunungan. Matanya terpejam, tanganya di rentangkan seolah bersatu dengan alam.
"Disini indah banget Ar," ucap Aaron kagum melihat perbukitan hijau di sana.
"Lihat! Kita juga bisa melihat kota B dari atas sini."
"Iya Ar, Indah banget," ucap Aaron takjub.
"Yo mulai latihan," ucap Aaron bersemangat.
Latihan pertama yang di lakukan Aaron di bukit adalah angkat beban. Latihan ini berguna untuk melatih kekuatan.
"Hebat Aaron," teriak Arsyana, melihat betapa cepatnya Aaron melakukan itu. Dalam hitungan menit karung itu sudah menjadi gunungan.
Arsyana berlari ke arah gunungan karung pasir. Seperti seorang anak kecil yang melihat mainan baru, Arsyana dengan girangnya menaiki gunungan itu.
"Hahaha, aku berada di puncak tertinggi," ucap Arsyana senang.
Tak mau kalah Aaron mengangkat Arsyana dengan satu tangannya, yang ia simpan di bahu kekarnya. Dia berucap. "Ini baru puncak tertinggi,"
"Hahaha.. Lepasin Aaron! Nanti jatuh." Arsyana merasa takut sekaligus senang.
Selain angkat beban, untuk melatih kekuatan. Aaron melakukan beberapa set squat jump, squat thrust, back up, push up, dan pull up.
Kemudian Aaron berlatih skipping dengan menggunakan rotan, untuk melatih daya tahan tubuh.
"Satu, dua, tiga, empat......" Arsyana berusaha menghitung berapa banyak skipping yang di lakukan Aaron. Namun pemuda itu melakukannya dengan sangat cepat membuat Arsyana kewalahan.
"Arsyana, sini!" Aaron melambaikan tangan.
" Sekarang, berdiri di depan ku!" Arsyana mengikuti Intruksi Aaron.
"1...2..3...,sekarang lompat!, ini akan sangat menyenangkan." Karena belum siap Arsyana terperangkap rotan, ketika hendak melompat.
"It's OK, ayo coba lagi, Ikuti gerakanku!" ucap Aaron kembali memberi Intruksi.
__ADS_1
"Tapi pelan-pelan," pinta Arsyana,
"Sure, tuan putri." Aaron mengedipkan sebelah matanya.
Merekapun melompat beriringan, Arsyana tertawa bahagia.
Setelah itu Aaron melakukan shuttle run, sprint jarak pendek dan lari zig-zag untuk melatih kecepatan.
Arsyana juga membantu Aaron menyusun balok - balok kayu untuk melakukan lari zig-zag. Seperti biasa, Aaron bisa melakukannya dengan sangat baik.
Bahkan saat Aaron berlatih box jump dengan menggunakan batang pohon yang besar, Aaron bisa melakukan itu dengan sangat cepat.
Mata Arsyana tak bisa beralih dari Aaron. Tanpa sadar matanya mengikuti kemana Aaron pergi.
"Ar..." Aaron memanggil Arsyana yang berdiri mematung.
"Eh... Iya... Apa," ucap Arsyana tergagap.
"Gimana tadi?" tanya Aaron.
"Apa?" Arsyana bertanya balik, dia tidak focus.
"Latihanya Ar," Aaron menjelaskan.
" Oh... Latihanya. Bagus." Arsyana berfikir sejenak, kemudian menjawab telat, seolah nyawanya baru terkumpul.
"Kalo gitu sekarang boleh makan? Tadi kamu udah habis-habisan siksa aku, sekarang makan," cerocos Aaron. Tiba-tiba dia terlihat lemas, berbeda dengan Aaron yang tadi berlatih dengan gagahnya.
"Omg..." Arsyana ingat telah melupakan sesuatu.
"Ada apa Ar?" Aaron merasa khawatir.
"Bekalnya ketinggalan di taman kota. Sepertinya ku letakan di bangku. Sorry," ucap Arsyana merasa bersalah. Dua tanganya di satukan, di bawah dagu, meminta maaf.
"Ooh.. It's ok Ar," ucap Aaron sambil tersenyum dengan manisnya.
"Tapi tar di rumah masakin yang banyak ya!" ucap Aaron kemudian, dia mengedipkan sebelah matanya.
"Aku lapar banget," ucap Aaron lagi
"Siap Tuan, anything," ucap Arsyana menirukan gaya pelayan.
"Seseorang dengan sangat kejam telah menyiksaku, hahaha.. " goda Aaron terbahak.
"Aaaaa.. ron." Arsyana yang duduk diboncengan, memukul punggung Aaron pelan. Mulutnya membulat.
"Hahaha"
...... To be continued ......
__ADS_1