Ketika Pangeran Vampire Amnesia

Ketika Pangeran Vampire Amnesia
Bab # 18 Pertama Kali Melihat Dirinya Sendiri


__ADS_3

Kebahagiaan melihat tawa yang menghiasi pipi Arsyana, membuat Aaron senyum-senyum sendiri. Bahkan ia sulit untuk memejamkan mata. Malam ini memikirkan Arsyana lebih menyenangkan dari pada tidur.


"Ada apa denganku?" Aaron bertanya pada dirinya sendiri kenapa bisa sebahagia ini. Di benaknya terngiang-ngiang senyuman Arsyana.


"Apa aku sudah gila?" gumamnya lagi. Dia berusaha merubah posisi supaya bisa memejamkan mata. Namun itu tetap tidak berguna.


"Tapi Arsyana sangat mencintai Arya." Meski kata-kata itu terlintas di benaknya. Namun kali ini Aaron lebih suka mengabaikanya.


"Kenapa tidak? Aku tak kalah keren darinya. Aku juga bisa membahagiakan Arsyana." Entah kenapa kepercayaan diri Aaron bertambah, Aaron tak peduli dengan apapun lagi.


Aaron meraih hp di meja kecil dekat ranjang. Dia mulai menyetel Mp3 di hp-nya, memilih lagu kesukaanya. Pemuda itu terlena dalam imajinya hingga akhirnya ia terlelap tidur. Sampai saat bayangan itu kembali muncul. Bahkan kali ini ia bisa melihat siapa pria itu. Saat ia menoleh, senyum itu Aaron sangat mengenalnya, tatapan mata itu sangat jelas. Aaron terpetanjat bangun dari tidurnya tak kuasa menerima kenyataan kalau pria itu adalah dirinya sendiri.


" Aku hanya bermimpi, aku tau itu hanya mimpi, ini bukan kenyataan."


Aaron terus menyangkal, tak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Dia meraba wajahnya, memastikan kalau pria di mimpi itu bukan dia. Tak puas dengan itu, secepat kilat dia pergi ke depan kaca. Sekali lagi berusaha memastikan kalau dia salah. Namun betapa kecewanya ia, pantulan di kaca itu sama dengan pria yang ada di mimpinya.


"Aaaaaaaaaaaah"


Aaron lompat dari jendela lantai dua rumah itu. Tanpa alas kali dengan secepat kilat melompat dari gedung satu ke gedung lainnya. Menuju arah hutan. Tangisanya memilukan mengerang seperti orang kesakitan, membuat bangsanya khawatir. Aaron merasa tidak tau harus berbuat apa, bagaimana ia bertemu Arsyana, di fikiranya Arsyana akan benci dan takut melihat dirinya. Aaron merasa lebih baik tidak tau jati dirinya sendiri. Kenyataan ini begitu merobek-robek hatinya. Aaron hanya bisa lari sejauh mungkin tanpa Arah.


"Seharusnya mimpi itu tak pernah muncul, seharusnya aku tak melihat pantulan di kaca itu, seharusnya ku abaikan saja mimpi itu."


Marah, kesal, kecewa bergulat jadi satu. Namun semua tak berguna, kenyataan sepahit apapun adalah kenyataan.

__ADS_1


...*****...


"Tuan Muda Altair, Tuanku harus lebih berhati-hati!" Itu adalah kata-kata terakhir yang di ucapkan Damian sebelum menghilang.


Hari itu Damian seolah ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting dan rahasia. Namun mulutnya seperti terkunci oleh sesuatu. Secara diam-diam Damian mengirimkan sepucuk surat yang isinya. 'Tuanku ada sesuatu yang harus ku katakan. Malam ini hamba akan menunggu Tuanku di Cold Valley'. Namun entah kenapa malam itu Damian tak datang. Dan semenjak malam itu Damian tak pernah muncul lagi. Tak ada yang tau kemana dia pergi.


Di Kediaman Altair ( Rumah Pohon Altair)


Dari pada tinggal di Istananya yang megah dan indah. Altair lebih suka tinggal di rumah kayunya yang ia bangun bersama Damian di atas pohon. Meski sederhana namun pemuda itu lebih suka suasana tenang di rumah itu. Tak ada mereka yang hanya peduli pada kekuasaan. Selain itu dari rumah pohon, Altair dengan mudah menangkap buruanya. Hewan-hewan malang yang berkeliaran di hutan.


Tak seperti vampire pada umumnya Altair hanya meminum darah hewan atau sesekali mencuri dari Rumah Sakit. Atau jika terdesak meminum darah orang-orang jahat di luar sana.


Malam itu ketika Altair sedang beristirahat di rumah pohonya. Pasukan lycan datang menyerang. Bukan cuma puluhan, sepertinya ratusan lycan datang untuk menyerang. Beberapa dari mereka dengan posisi siaga, mengintai dari atas pohon. Dan sebagian lagi berjaga di bawah. Mereka setahap demi setahap mendekat ke rumah pohon Alta. Membuat Alta tak bisa lari ke mana-mana. Karena mereka sudah mengepung kediaman Alta dari segala sisi. Mau tidak mau Altair harus menghadapi mereka.


"Selemah apa kalian, sehingga harus datang berbondong-bondong untuk melumpuhkanku?" Altair mencabut pedang yang ia sematkan di punggungnya. Matanya yang kehijauan berubah menjadi merah menyala.


Dengan gagah berani dia menghadapi pasukan lycan itu sendirian. Satu demi satu lycan berhasil di lumpuhkanya. Kemarahan yang ia tunjukan di ujung mata pedagangnya hampir membuat musuhnya gentar. Sampai akhirnya mereka menyerang bersamaan dan memanggil kawanan lainnya. Altair mulai kewalahan, beberapa bagian tubuhnya luka-luka terkena sabetan pedang. Bahkan pemimpin lycan yang memiliki kekuatan lebih besar berhasil menusuk perut Altair. Dia hampir bisa di lumpuhkan. Namun dengan tenaga yang tersisa Altair berusaha lari. Tak ada pilihan lain jumlahnya kalah dari lycan yang membawa rombongan.


Secepat mungkin dia lari. Melompat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan tenaga yang tersisa. Hampir saja seorang lycan berhasil menangkapnya. Sampai akhirnya seseorang menyelamatkanya.


"Tuan muda," Teriak seseorang.


Altair menoleh, dia sangat mengenal suara pria itu. Altair tersenyum ketika apa yang ia fikirkan ternyata benar.

__ADS_1


"Damian," ucap Altair. Dia hampir tersungkur namun Damian berhasil menahan tubuhnya.


"Kemana saja kamu selama ini?" ucap Altair lemah. Mata Altair mulai terpejam. Dia tak sadarkan diri karena luka parah di tubuhnya.


"Tuan muda, maafkan hamba, hamba gagal melindungi Tuanku." Damian merasa bersalah.


"Tuan muda jangan khawatir Hamba akan melindungi Tuanku."


Damian membawa Altair pergi ke tempat yang aman. Tempat yang tidak di ketahui siapa pun.


...*****...


Dalam kesakitanya, Aaron mengingat kejadian sebelum ia ada di hutan tempat pertama kali Arsyana menemukanya. Dia tidak ingat sama sekali bagaimana dan kenapa dia bisa ada di sana karena yang dia ingat Damian menyelamatkanya dari kepungan pasukan lycan yang hampir membunuhnya.


Disisi lain Arsyana pun dengan perasaan yang sama. Dia merasa beruntung bertemu Aaron yang bisa mengembalikan tawanya yang hilang. Dia tertawa sendiri mengingat kejadian ketika pertama kali gadis itu bertemu dengan Aaron. Aaron yang mendekat tanpa pakaian, yang Arsyana kira cowok mesum. Aaron yang seperti tarsan masuk kota, cara makan Aaron yang bar-bar. Aaron yang di gandrungi gadis muda sampai ibu-ibu. Aaron yang seperti pelindung. Aaron yang romantis. Semua itu membuat Arsyana tersipu. Mengingat semua itu membuat Arsyana geli sendiri tapi sangat menyenangkan. Ia lebih memilih Arsyana terjaga semalaman dari pada tidur. Sedetik memikirkan Aaron lebih berharga dari tidurnya.


"Ada apa denganku?" gumam Arsyana.


"Apa aku jatuh cinta? Ah.. mungkin aku hanya mengaguminya." Entah bagaimana tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benaknya. Meski Ia coba tepis. Namun hatinya tak bisa bohong.


"Tapi mengapa aku sangat merindukanya?"


....... To be continued ... ...

__ADS_1


__ADS_2