
Pagi itu Arsyana bangun tanpa menemukan Aaron di kamarnya. Meski setengah sadar. Arsyana yakin kalau tadi malam Aaron menjaganya. Gadis itu berlajan mencari Aaron ke kamarnya dan benar saja Aaron ada disana sedang tertidur pulas.
"Kalau tidur wajahnya polos seperti anak kecil " gumam Arsyana, dia menatap lekat wajah Aaron. Tak sadar bibirnya tersenyum merekah.
"Maafin aku Aaron. Karena aku, kamu harus menghadapi banyak masalah." Mata Arsyana berkaca-kaca mengingat semua yang terjadi.
"Dan makasih karena kamu selalu ada." Arsyana tersenyum samar, ia hendak memegang wajah Aaron namun di urungkanya.
"Hari ini aku harus masak sesuatu yang istimewa untuknya." Arsyana bertekad, dengan penuh semangat dia pergi ke dapur untuk mempersiapkan semuanya.
...*****...
Arsyana mulai memcuci semua bahan, memotong - motongnya dengan penuh semangat. Kemudian memasaknya dengan penuh suka cita. Bibir gadis itu tak berhenti tersenyum. Pagi ini Arsyana akan membuat nasi goreng ayam kesukaan Aaron.
" Wah wangi banget, Aaron pasti suka," gumam Arsyana senang. Dia menghirup aroma dari nasi goreng yang akan segera ia hidangkan.
...*****...
Harap-harap cemas Arsyana menunggu Aaron di meja makan. Meski setiap hari bertemu di meja makan. Bahkan Aaron juga memakan makanan yang Arsyana siapkan entah mengapa hari ini Arsyana merasa gugup. Dia merasa takut Aaron tidak menyukai masakanya.
"Kenapa belum keluar, apa dia masih tidur?" gumam Arsyana, sesekali matanya melirik ke arah pintu masuk, berharap Aaron datang.
"Tap, tap, tap...."
Suara langkah kaki seseorang mendekat ke ruang makan. Wajah Arsyana berubah cerah, bibirnya tersenyum tanpa sebab.
"Sayang, Bibi pesan susu untuk bahan puding. Sebentar lagi orangnya akan datang mengantarkan susunya. Nanti tolong terima aja! Bibi mau mandi dulu, " ucap bibi Marisa.
"OK Bi," jawab Arsyana lemas. Dia merasa sedikit kecewa ternyata yang datang bibi Marisa.
Karena Aaron tidak kunjung datang akhirnya Arsyana putuskan untuk datang ke kamarnya, "Sebaiknya ku bangunkan saja," fikirnya.
Baru beberapa langkah keluar dari ruang makan, Aaron berjalan santai ke arah Arsyana.
"Ayo sarapan! ada nasi goreng ayam kesukaanmu," ucap Arsyana kikuk. Matanya seakan tak berani menatap lurus ke dalam mata Aaron.
"Ok sure," ucap Aaron.
"Trus kamu mo kemana Ar?" Aaron merasa penasaran.
"Emmh... itu, tadinya mo ngajak kamu sarapan," ucap Arsyana jujur, dia tersenyum malu-malu.
__ADS_1
Aaron tersenyum, mereka bersama pergi ke ruang makan.
...*****...
Diam-diam Arsyana melihat ke arah Aaron, dia ingin memastikan kalau Aaron menyukai masakanya atau tidak.
" Ayo Ar makan! kenapa malah melamun? " ucap Aaron ketika melihat Arsyana malah bengong tanpa memakan makananya.
Satu suap, dua suap Aaron menyantap makananya. Namun tak seperti biasanya, Aaron sepertinya tidak berselera makan. Hari ini dia makan lebih lambat.
" Apa mungkin nasi gorengku keasinan?" fikir Arsyana. Kepercayaan dirinya sedikit terkikis.
"Aaaaaaah"
Aaron merasa kesakitan, dia memegangi kepalanya. Bahkan ia menggigit bibir bawahnya kencang, seperti menahan rasa sakit yang teramat. Meski tangan satunya memegang pinggir meja dengan kuat. Akhirnya Aaron harus tersungkur ke lantai.
"Bibiiii, Tolooong.." teriak Arsyana memanggil bibi Marisa.
"Ada apa Arsyana ?" Bibi Marisa khawatir.
"Ini Aaron bi" Arsyana panik tak tau harus berkata atau menjelaskan apa.
"Aaron apa Ar." Bibi Marisa tak sadar kalau Aaron tergeletak di lantai.
"Ya Tuhan," Teriak bibi Marisa seraya membantu Arsyana yang hendak membopong Aaron.
Dengan kesusahan Arsyana dan bibi Marisa membopong Aaron ke kamarnya. Hari ini Arsyana bahkan tidak berangkat kuliah karena merasa khawatir pada keadaan Aaron.
"Panas banget Bi," ucap Arsyana panik ketika meraba dahi Aaron.
"Bentar, aku ambil kompresan dulu." Arsyana berlari kecil ke dapur untuk mengambil kompresan.
"Jangan mendekat, jangan mendekat!" Aaron mengigo dalam tidurnya.
"Aaron, Aaron, ini Arsyana." Arsyana berusaha membangunkan Aaron.
"Menjauh dariku, menjauh dariku!" Aaron masih mengigo
"Aaron, Aaron, tenang, ini Arsyana." Arsyana mengelus kepala pemuda itu, berusaha menenangkanya.
"Menjauh dariku, menjauh dariku, menjauh dariku!" suara Aaron semakin pelan, dia mulai tenang.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Aaron bangun, seperti orang ketakutan. Dia memegangi kepalanya, sepertinya dia sangat kesakitan. sempoyongan turun dari ranjang, masih memegangi kepalanya. Kemudian pemuda itu meringkuk di pojokan.
Arsyana mencoba mendekat. "Aaron kamu tidak apa-apa," ucap Arsyana merasa khawatir.
"Menjauh dariku!" Aaron sepertinya sangat ketakutan. Dia hanya mengatakan kata yang sama. Pemuda itu membenamkan kepalanya di kakinya.
Arsyana melangkah lebih dekat, Aaron melirik ke Arsyana dengan kepala yang masih terbenam, dia mengatakan hal yang sama. "Menjauh dariku!"
"Meow... Meow... Meow... " Caramel tak hentinya mengeong seolah mengetahui apa yang terjadi.
Tak pantang menyerah Arsyana semakin mendekat ke arah Aaron. Sama seperti sebelumnya Aaron hanya bilang 'menjauh dariku'.
"Aaron.." ucap Arsyana lembut. Dia duduk di samping Aaron . Di elusnya kepala pemuda malang itu. Arsyana mulai berbicara. " Aaron jangan takut, aku tak akan menyakitimu. Semua akan baik-baik saja."
Aaron mulai tenang. Seperti anak kecil yang ketakutan, dia menyandarkan kepalanya di dada Arsyana. Arsyana memeluk Aaron erat. Aaron kemudian tertidur, masih dengan kata kata yang sama. Walaupun kata-kata itu hilang bersama Aaron yang terlelap.
" Apa yang terjadi, kenapa bisa begini?" Arsyana bertanya pada dirinya sendiri. Dia tidak tega melihat keadaan Aaron yang seperti ini. Hal itu mengingatkanya pada hari dimana pertama kali mereka bertemu. Aaron pria yang misterius.
Arsyana kembali menaruh kompresan di kening Aaron. Demam Aaron masih tak mau turun.
Tanpa sadar Arsyana terlelap, dia bermimpi aneh. Banyak tangan yang berusaha menangkapnya.
"Tolooooong......"
Arsyana berteriak sekencang-kencangnya. Namun tak ada seorang pun yang mendengar atau datang. Hanya ada pepohonan tinggi yang berumur ratusan tahun mengelilinginya. Tempat itu begitu gelap, sepertinya cahaya matahari tak mampu menembus rindangnya pepohonan yang menjulang hampir menyentuh langit.
Arsyana terus berlari menjauhi tangan-tangan itu. Namun semakin cepat Arsyana berlari, tangan tangan itu pun semakin cepat mengejar. Arsyana terjatuh, ia merasa ingin menyerah. Berteriak pun tak berguna, tak ada yang akan menolong. Kini kakinya mulai lelah. Dia merasa akan membiarkan tangan-tangan itu menangkapnya.
"Tidaaaaaak..."
Arsyana terperanjat terbangun dari mimpi buruknya, keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya. Mimpi itu seakan nyata. Dia merasa lelah seperti sudah berlari sangat jauh. "Hanya mimpi," gumam Arsyana.
"Ya Tuhan, Aaron." Dia ingat Aaron sedang sakit. Buru-buru di periksanya kening pemuda itu. Arsyana begitu kaget demam Aaron malah semakin tinggi.
Arsyana bergegas pergi ke kamar bibi Marisa.
"Bi demam Aaron semakin tinggi, kita harus membawanya ke Rumah Sakit." ucap Arsyana, khawatir.
"Ok Ar, Bibi pesan taxi sekarang. Kamu siapin keperluan Aaron!"
Dengan bantuan bibi Marisa dan driver taxi, akhirnya Arsyana pergi membawa Aaron ke rumah sakit. Arsyana tak melepaskan genggamanya dari tangan Aaron yang terkulai lemas tak sadarkan diri. Dalam hatinya terus berdoa." Tuhan tolong selamatkan Aaron! "
__ADS_1
...... To be continued... ...