Ketika Pangeran Vampire Amnesia

Ketika Pangeran Vampire Amnesia
Bab 5# Bikin Kue


__ADS_3

"Wiiiiiing ...."


Suara mixer seolah tak pernah berhenti. Semua orang sibuk membuat kue-kue untuk besok sore. Bibi Arsyana sibuk dengan kukusan dan oven, bahkan penggorengan. Terlihat kue putu mayang baru di angkat dari kukusan. Warnanya hijau muda dan masih berasap begitu menggiurkan, gorengan udang yang masih mendidih di penggorengan. Udangnya besar-besar dan sebentar lagi akan berwarna kuning kemasan. Arsyana sibuk dengan adonan kuenya. Pipi dan tanganya belepotan dengan tepung sementara Aaron bertindak sebagai asisten yang menakar adonan sesuai arahan bibi Arsyana atau menyiapkan sesuatu jika ada yang di perlukan.


"Arsyana, Arsyana... Itu..," ucap Aaron, tanganya menunjuk-nunjuk ke arah wajah Arsyana. Suara nya terdengar pelan karena suara mixer yang mendominasi.


"Apa....?" ucap Arsyana balik bertanya.


"Itu di wajahmu," kata Aaron lagi.


"Ya apa Aaron? tanya Arsyana masih belum mengerti, dahinya mengerut, tanganya berusaha membersihkan sesuatu yang ada di wajahnya.


Namun bukannya tambah bersih. Wajah gadis itu malah semakin belepotan. Karena, tepung yang ada di tangan Arsyana semakin banyak mengotori wajahnya. Tanpa fikir panjang Aaron berjalan ke arah Arsyana dengan gagahnya. Kemudian menghapus semua tepung yang mengotori pipi dan area lain di wajah gadis manis itu.


"Nah, sekarang sudah bersih" ucap Aaron dengan polosnya, bibirnya tersenyum merekah membuat Arsyana merona.


"Thanks" ucap Arsyana gugup, dia berusaha menghindari mata Aaron.


Dapur berukuran 7x4m itu kini penuh dengan beberapa snack yang siap di packing, kardus-kardus untuk wadah snack, juga sisa bahan-bahan kue. Di dapur sederhana itu Arsyana dan bibinya biasa membuat masakan atau kue-kue pesanan catering. Setelah orang tua Arsyana meninggal bibi Marisa adalah satu-satunya keluarga Arsyana. Sejak itu Dia adalah ayah sekaligus ibu bagi Arsyana. Dia juga bekerja keras untuk menghidupi Arsyana serta membiayayai pendidikanya. Bahkan bibi Marisa menolak untuk menikah, dengan alasan ingin focus pada Arsyana. Dia begitu peduli pada Arsyana, selain itu hal yang dia lakukan adalah bentuk dari rasa terimakasihnya pada mendiang ayah Arsyana. Karena dia adalah orang yang paling menyayangi bibi Marisa dan dia juga yang membiyayai pendidikanya sampai kuliah.


...******...


"Happy birthday to you."


"Happy birthday to you."


"Happy birthday, happy birthday, happy birthday Arsyana."


Seorang anak berjalan ke arah Arsyana kecil sambil menyanyikan lagu 'happy birthday'. Tanganya memegang kue ulang tahun dengan lilin yang siap untuk di tiup. Kue itu berwarna pink muda dengan hiasan bunga-bunga dan seorang peri di atasnya.

__ADS_1


Bukannya tersenyum bahagia, Arsyana kecil malah berteriak histeris. Dia menangis dengan pilu. Anak itu bingung dan kaget. Dia berlari menghampiri Arsyana kecil yang tersungkur di tanah sambil menutupi wajahnya.


"Arsyana kenapa, apa aku bikin salah?" ucap anak itu bingung. Diletakanya kue tadi di sampingnya.


Arsyana kecil masih terus menangis tanpa berbicara apa-apa. Anak itu semakin bingung, tidak tahu harus berbuat apa.


"Arsyana maaf kalo aku ada salah tapi jangan menangis. Kata ibu, seorang pria tidak boleh membuat gadis menangis, kalo kamu masih menangis. Ibu nanti marahin aku, " ucap anak itu dengan polosnya. Dia kemudian memeluk Arsyana berusaha menenangkanya, tangan kecilnya menepuk-nepuk punggung Arsyana kecil.


"Ka_mu ga sa_lah apa-a_pa Arya. Ta_pi a_ku tidak suka perayaan ulang tahun. Karena di ha_ri ulang ta_hunku. A_yah dan Ibu meninggal, ka_rena kecelakaan. Hiks ... Hiks ..." ucap anak itu terbata-bata, berusaha menjelaskan. Dia masih terisak.


"Maaf aku tidak bermaksud. Aku hanya ingin membuatmu tersenyum. Kemarin aku dan ibu membuat kue ini untukmu. Kami juga menghiasnya dengan bunga dan ibu peri. Karena kamu suka bunga dan ibu peri ini akan menjaga dan melindungimu," ucap Arya kecil, matanya berkaca-kaca. Perasaanya campur aduk.


"Kamu bawa pisaunya, Arya," ucap Arsyana kecil tiba-tiba. Seraya menghapus air matanya.


"Pi_sau?" jawab Arya merasa kaget. Dia takut Arsyana akan menyakiti dirinya.


"Ya pisau, aku mau potong kuenya," ucap Arsyana lagi.


"Ayo kita berdoa untuk ayah dan ibumu! Kata ibu orang yang meninggal masih bisa melihat kita. Orang tuamu tidak suka kalo kamu bersedih, Arsyana. Ayo senyum! pasti kamu kelihatan lebih cantik," ucap Arya lagi, di pegangnya bibir mungilnya sendiri menirukan senyuman, seolah memerintah Arsyana supaya tersenyum juga.


" Ini enak " ucap Arsyana sambil tersenyum, setelah mencicipi kue bikinan Arya dan ibunya.


Arya merasa lega dan ikut tersenyum.


...*****...


"Arsyana awas...." teriak Aaron memperingati Arsyana.


Sebuah baskom berisi gunungan adonan kue, siap meluncur. Sebentar lagi akan melukai kaki Arsyana. Namun, Arsyana masih asik dengan lamunanya. Dia tidak menghiraukan peringatan Aaron. Dengan segera Aaron berlari untuk menyelamatkan Arsyana. Dan tepat pada waktunya tangan Aaron dengan sangat cepat menangkap baskom tersebut. Entah bagaimana caranya Aaron bisa dengan mudah melakukan itu . Dilihat dari jarak Aaron yang cukup jauh dan jarak antara meja ke kaki yang cukup dekat. Hal itu sulit di lakukan oleh orang biasa.

__ADS_1


...******...


"By the way, thanks ya tadi," ucap Arsyana berterima kasih. Karena Aaron menyelamatkan Arsyana dari kecelakaan di dapur.


"Ga masalah, " jawab Aaron sambil tersenyum.


"Tadi kamu ngelamunin apa? sampai ga focus," tanya Aaron penasaran.


"Aaron sepertinya umur kita ga jauh beda, kenapa kamu ga kuliah? atau besok kamu ikut ke kampus aja. Kamu daftar di kampus ku. Nanti kita bisa kuliah bareng," ucap Arsyana mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Aaron. Karena itu akan menggores lukanya.


"Tapi Arsyana, Aku_" perkataan Aaron terputus.


"Ga ada tapi-tapian, pokoknya besok kamu ikut ke kampus, soal biyaya kita fikirkan belakangan, toh kita bisa bekerja paruh waktu," sergah Arsyana mendahului Aaron yang akan beralasan.


"Kita juga bisa mulai usaha, Memiliki toko kue sendiri adalah impian ku sejak dulu." ucap Arsyana bercerita.


"Kenapa kamu ga mulai aja? kamu punya bakat Ar," Tanya Aaron.


"Aku memang senang bikin kue, dan sudah terbiasa membantu bibi Marisa, aku juga kuliah di management bisnis. Tapi ada satu masalah _" ucapan Arsyana tiba-tiba berhenti, sepertinya dia ragu untuk mengatakan alasannya.


"Apa itu?" tanya Arsyana penasaranan. Dahinya mengerut.


Arsyana menggeleng seraya tersenyum.


"Katakan saja Ar, walaupun aku ga bisa bantu, mungkin saja kita bisa bertukar fikiran untuk mencari solusinya." ucap Aaron menyakinkan.


"Aku belum memiliki dana yang cukup." ucap Arsyana sedih.


"Ga masalah Ar, nanti kita sama-sama cari solusinya." Aaron lekat menatap mata Arsyana, seraya tersenyum. Seakan menunjukan ke-optimisan dan kerjasama akan membuat semua mimpi mereka terwujud.

__ADS_1


Mereka asik berbincang sampai tengah malam, di temani secangkir coffee dan snack yang mereka bikin sendiri tadi.


__ADS_2