Ketika Pangeran Vampire Amnesia

Ketika Pangeran Vampire Amnesia
Bab 9 # Arsyana Sakit


__ADS_3

"Kenapa ga di habisin makananya, Bibi liat dari kemaren kamu makan sedikit banget." ucap bibi Marisa, khawatir melihat Arsyana yang hanya memainkan makananya.


"Ga apa-apa Bi," jawab Arsyana lemas, kemudian berlalu seolah menghindari pertanyaan lainnya.


Melihat sikap Arsyana, bibi Marisa dan Aaron hanya bisa saling menatap. Dengan gerakan mata dan dagunya, bibi Marisa menyiratkan pada Aaron untuk menemui dan menghibur Arsyana.


...******...


"Caramel, kenapa harus kaya gini, apa salahku, kenapa Arya tega. Cuma kamu yang selalu ada hiks... hiks...?" ucap Arsyana sedih. Dia memeluk kucingnya erat.


Langkah Aaron terhenti di depan kamar Arsyana. Sekali lagi dia memergoki Arsyana sedang menangis.


"Ini bukan waktu yang tepat," gumam Aaron, kemudian berlalu setelah sejenak memperhatikan Arsyana yang masih menangis. Ingin rasanya dia menghampiri gadis malang itu. Namun sekali lagi niat itu di urungkanya.


KEMARINYA


Tak ada yang tau kalau sebenarnya Arsyana melihat Arya mengikutinya diam-diam. Bahkan semenjak mereka keluar dari kampus. Hal itu membuat Arsyana kecewa. Seharusnya Arya menemui dan bertanya langsung pada Arsyana. Bukan Bersikap seperti pencuri.


"Arya, apa kamu sudah benar-benar menganggapku seperti orang asing? Kenapa kamu berubah? Taukah kamu aku rindu kita seperti dulu? Hiks... Hiks..." tanya Arsyana pada TV yang menayangkan pertandingan bola, seolah Arya berada di sana dan dia harus menjawabnya. Suaranya parau, air mata berlinang membasahi pipinya. Sementara mulutnya yang kecil, penuh dengan ice-cream.


Arsyana sangat kacau saat itu. Dua cup besar ice-cream habis di lahapnya. Aaron yang dari tadi berdiri mematung di depan kamar Arsyana. Hanya bisa melihat, tak mampu berbuat apa-apa. Ingin rasanya dia datang ke hadapan Arsyana, untuk menghiburnya.


...*****...


"Arsyana...."


Suara bibi Marisa lembut, memanggil Arsyana yang sedang duduk melamun di ruang TV. Sesekali dipijitnya tombol pada remote sembarang.


"Ya, Bi" jawab Arsyana lemah. Ia berjalan ke dapur menghampiri bibi Marisa.


"Sayang, bisa tolong hias cake-nya? Bibi harus menyelesaikan beberapa pesanan cakes untuk besok pagi," pinta bibi Marisa lembut.


Sebenernya itu hanya alasan bibi Marisa untuk membuat Arsyana melupakan apa yang mengganggu fikiranya. Mungkin dengan melakukan sesuatu Arsyana bisa lebih relax.


" Arsyana.... " teriak bibi Marisa yang kaget melihat Arsyana jatuh pingsan.


Dengan cekatan, Aaron mengambil alih tubuh Arsyana yang bibi Marisa berusaha tahan. Dengan tanganya yang kekar, Aaron menggendongnya masuk ke dalam kamar.


"Kamu demam sayang. Maafin Bibi yang tidak menjagamu dengan baik" ucap bibi Marisa merasa bersalah. Matanya berkaca-kaca, tanganya mengelus kepala Arsyana lembut.


"Bibi adalah Bibi yang hebat, Arsyana beruntung memiliki Bibi " ucap Aaron sambil tersenyum memberi semangat.


Bibi Marisa hanya tersenyum. Namun matanya masih berkaca-kaca. Dia menceritakan tentang bagaimana orang tua Arsyana meninggal. Dan betapa sayangnya dia pada gadis malang itu.

__ADS_1


Tiga Belas Tahun yang Lalu


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday Happy birthday


Happy birthday dear Arsyana


Dengan merdunya ibunda Arsyana bernyanyi lagu 'Selamat Ulang Tahun'. Tanganya memegang kue berwarna pink dengan mutiara kecil berwarna biru di hampir semua pinggiranya, di atasnya di hiasi dengan putri dan instananya. Sementara ayah Arsyana berdiri di sampingnya. Dengan riang menepuk-nepuk tanganya teratur, seolah memberi nada.


"Selamat ulang tahun, anak ibu yang paling cantik" ucap ibu Arsyana gemas, di ciumnya pipi kanan dan kiri putrinya dengan sayang.


"Selamat ulang tahun putri raja ayah," ucap ayah Arsyana, sambil mengangkat Arsyana ke udara, Arsyana tertawa bahagia. "hahaha.. Ayah, Arsyana terbang,"


"Mainya nanti lagi, Ayo sekarang tiup lilinya!" pinta ibu Arsyana.


"Jangan lupa make a wish!" timpa ayah Arsyana.


Dengan bahagia mereka saling menyuapi kue. Kue pertama Arsyana kasih ke ibunya."Makasih sayang," ucap ibu Arsyana seraya mencium bibir mungil putrinya. Kemudian Arsyana berikan suapan besar ke ayahnya," yah ayah jail." ucap Arsyana sedikit kesal. Di lapnya noda kue yang ayahnya colekan ke hidung lancip Arsyana.


"hahaha, sekarang putri raja ayah tambah manis," goda ayah Arsyana. Arsyana cemberut dan siap menyerang.


Bukannya lari menjauh, ayah Arsyana berbalik kemudian menyuruh Arsyana untuk mencoreng kue ke hidungnya. Namun tinggi badan Arsyana tidak memungkinkanya untuk melakukan itu, hingga membuat ayah dan ibunya terbahak.


"Yah, Ayah curang. Ibu juga sekarang malah berpihak ke Ayah, ga seru ni Ibu," ucap Arsyana kesal, mulutnya membulat cemberut.


"Ga sayang, Ibu tetep berpihak ke putri cantik ibu. Cuma putri Ibu ini sangat menggemaskan," ucap ibu Arsyana seraya mengangkat tubuh Arsyana sampai bisa menyentuh hidung ayahnya.


"Horee...." ucap Arsyana puas.


"Karena Ayah sudah membuat kesal putri raja Ayah. Sebagai permintaan maaf, Ayah sudah menyiapkan kado spesial, yang pasti putri Ayah suka."


"Apa itu?" tanya Arsyana penasaran. Dia mengernyitkan dahinya, satu telunjuknya memegang dagunya.


"Boneka Teddy Bear yang besar" tebak Arsyana dengan semangat.


"Bukan," jawab Ayah singkat


"Mahkota dan baju Princess," tebak Arsyana lagi, powernya sedikit berkurang.


" Bukan juga," jawab ayah lagi.

__ADS_1


"Yaah, bukan semua. Lalu apa ayah," Arsyana merasa sedikit kecewa.


"Malam ini kita akan pergi ke Wahana Permainan," ucap ayahnya dengan penuh semangat.


"Horee..." Arsyana berlari memeluk ayahnya. "Makasih ayah," ucapnya seraya mencium pipi ayahnya, sayang.


Mereka pergi menggunakan mobil. Ibu dan Arsyana duduk di belakang. Sementara ayah menyetir di depan. Arsyana berdiri menghadap kaca mobil melihat pemandangan dan gemerlap lampu di luar, sementara ibu memeluk Arsyana dari belakang. Mereka begitu bahagia. Di sepanjang jalan bernyanyi lagu 'You Are My Sunshine' dan 'The family fingers'. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba truck melaju kencang dan menabrak mobil mereka."Braaak....... "


Dengan tergesa-gesa bibi Marisa datang kerumah sakit. Saat itu bibi Marisa sedang kuliah di Kota B. Setelah menerima telpon dari rumah sakit. Bibi Marisa langsung terbang ke Kota A untuk melihat keadaan kakak dan kakak iparnya serta keponakan tercinta nya.


"Bibi, dimana Ayah dan Ibu? Hiks... Hiks..." ucap Arsyana menangis tersedu.


Tanpa berkata apa-apa bibi Marisa memeluk erat Arsyana kecil yang masih menangis di pelukanya.


Arsyana tak tahu di ruangan lain, ayah dan ibunya tengah terbujur kaku tak bernyawa. Takan ada lagi ibu yang menyuapi Arsyana dan memeluknya dengan hangat. Tak ada lagi Ayah yang selalu memanjakanya, mengangkatnya tinggi, seolah membiarkan putri kesayanganya menyentuh langit. Dan bagaimana mungkin bibi Marisa akan tega memberi tahu kenyataan sepahit itu pada gadis sekecil itu. Bagaimana caranya mengatakan kalau sekarang Arsyana yatim piatu. Di benak bibi Marisa bertekad. "Arsyana aku akan menjadi Ayah sekaligus ibumu, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu."


...*****...


"Biar aku saja Bi, bibi istirahat, aku tau Bibi pasti capek" pinta Aaron sopan, ketika melihat bibi Marisa yang akan pergi ke dapur mengambil kompresan.


Arsyana terbaring lemah di kasur, meski dalam keadaan tidak sadarkan diri, wajahnya terlihat sedih. Aaron tak kuasa milihatnya.


" Sleeping beauty, ayo bangun, gimana besok aku pergi ke kampus? Siapa yang mau bonceng?" pinta Aaron sambil meletakan kompresan di kening Arsyana dengan hati-hati. Aaron percaya meski tak sadarkan diri, Arsyana masih bisa mendengar dan merasakan dari alam bawah sadarnya.


" Sleeping beauty, andai aku Pangeran di negeri dongeng. Mungkin sudah dari tadi aku bisa membuatmu terbangun, hehe," goda Aaron, dia tertawa geli.


"Tunggu sebentar sleeping beauty, aku buatin kamu bubur dulu. Siapa tau aroma bubur bikinan ku bisa membuat mu bangun. Tapi jangan di ejek ya, aku tak pandai memasak sepertimu."


Dengan susah payah Aaron memasak bubur. Ini pertama kali baginya. Bumbu-bumbu, mangkuk, sendok, dan beberapa alat masak bertebaran dimana-mana. Pipi Aaron juga belepotan dengan bubur.


"Thanks God, akhirnya kamu bangun. Benar kan kataku, kamu mencium aromanya." Begitu senangnya Aaron ketika Arsyana tersadar dari pingsanya. Meski masih setengah sadar karena demam yang cukup tinggi.


"Ayo Ar makan walaupun sedikit, kamu perlu tenaga!" pinta Aaron sambil menyuapi Arsyana dengan bubur yang di buatnya lebih encer. Di fikiranya Arsyana akan mudah untuk menelanya.


Aaron menatap lekat Arsyana yang tertidur. Tatapan yang lembut, penuh kasih sayang. Entah mengapa dia merasa sangat khawatir. Ada rasa takut kehilangan juga. Tapi disisi lain Ia merasa senang hanya karena Arsyana tersadar dari pingsanya.


"Arya.....Arya.... " Dalam tidurnya Arsyana memanggil nama Arya. Suaranya parau, dari matanya menetes air mata.


"Begitu cintainya kah kamu pada Arya, Ar? Sehingga meski kau di sakiti, dalam tidurmu pun kamu masih memanggil namanya," ucap Aaron sedih.


"Please Ar jangan seperti ini! Jangan sakiti dirimu sendiri demi orang yang egois sepertinya," ucap Aaron lagi, matanya berkaca-kaca.


"Arsyana kamu gadis yang kuat, kamu bisa melewati semua ini," Aaron menelus kepala Arsyana dengan lembut. Berusaha menguatkan Arsyana.

__ADS_1


....... To be continued.......


__ADS_2