
Seorang pria berkulit putih pucat, lebih pucat dari orang yang menderita anemia. Dengan piawainya melompat dari satu pohon ke ponon lainnya. Lompatanya bertambah cepat, seperti orang yang sedang berlari di atas awan. Sepertinya seseorang tengah mengejarnya. Sesekali disibakan jubah hitamnya angkuh. Ketika dia melompat ke tempat yang lebih tinggi.
"Tuan muda," teriak seseorang.
Pria asing itu menoleh, namun wajahnya tak terlihat sama sekali.
...*****...
"Deg..."
Aaron terhenyak, bangun dari tidur panjangnya. Dahinya berkeringat. Dia merasakan lelah yang teramat sangat. Mimpi itu datang lagi, dan kini semakin nyata. Namun Aaron masih tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.
"Dimana aku?" gumam Aaron bingung.
Mata Aaron menjelajah memeriksa seisi ruangan. Terlihat Arsyana duduk terlelap, dengan posisi tangan tengkurap di atas kasur. Posisi yang sama ketika pertama kali dia menjaga Aaron.
"Aaw...."
Aaron merasa kesakitan ketika tanganya hendak meraih segelas air, di meja dekat kursi tempat Arsyana duduk. Aaron baru menyadari ternyata tanganya masih berbalut infuse.
Meski begitu, dia sengaja tidak membangunkan Arsyana yang terlihat lelah.
" Braaak..."
Gelas air yang di pegang Aaron jatuh ke atas lantai, sebelum Aaron sempat meminumnya. Kini gelas itu hancur berantakan. Aaron memegangi kepalanya, bayangkan itu muncul lagi. Kini semakin jelas, Aaron bahkan bisa melihat senyum samar dari pria dingin itu, senyuman yang sepertinya tidak asing. membuat Aaron merasakan sakit yang teramat. Badannya mengigil, rasa dingin kini menjalar di sekujur tubuhnya. Aaron sepertinya membeku. Dia hampir tidak bisa menahanya, badannya lemas terkulai hampir saja pemuda itu tersungkur. Namun masih bisa di tahanya dengan tenaga yang tersisa.
"Ada apa dengan ku? Siapa pria itu? Kenapa aku selalu memimpikan hal yang sama?
Begitu banyak pertanyaan di benak Aaron. Tapi pemuda itu bahkan tidak tau bagaimana cara menemukan jawabnya.
...*****...
Sekelebat sinar datang, sinar putih yang masuk melalui sela-sela jendela. Sinar itu menjadi semakin jelas. Kemudian menjelma menjadi seorang pria yang memiliki mata merah menyala. Pakainya serba hitam dengan kulit putih yang sangat pucat, yang kini berdiri di hadapan Aaron. Membuat pemuda itu ketakutan.
"Si_siapa kamu?" hardik Aaron. Dia melangkah mundur dengan teratur. Bibirnya bergetar.
"Jangan takut! aku takan menyakiti mu," ucap laki-laki itu meyakinkan.
"Lalu apa maumu?" Aaron kembali bertanya penuh harap.
"Aku tidak perlu menjawabnya. Cepat atau lambat kau akan mengetahuinya," jawab pria itu, menyisakan tanda tanya besar di benak Aaron.
__ADS_1
"Tapi satu yang harus kau tau kerajaan sangat membutuhkan mu. Aku yakin Tuanku akan segera kembali." Pernyataan yang aneh dari pria misterius itu, membuat Aaron semakin bingung.
"Tuanku?"
"Kerajaan?"
"Siapa pria misterius itu?"
"Siapa aku?"
Kata-kata itu menjadi beban di fikiran Aaron. Berputar-putar seperti gasing yang ketika berhenti tak menyisakan apa-apa, terkecuali gasing itu sendiri.
"Tuanku, hamba harus pergi, hamba akan menyambutmu ketika nanti Tuanku pulang."
"Sampai jumpa Tuanku."
Pria itu berlutut memberi penghormatan, sebelum akhirnya dia hilang bersama hembusan angin.
Aaron duduk termenung di pinggir kasur. Masih memikirkan pertanyaan yang sama
"Apa dia pria yang selalu datang dalam mimpiku? Apakah dia yang tersenyum dalam bayangan itu?"
"Aaaaaaah....." Otak Aaron tak bisa mencerna semua itu. Semua begitu tak pasti.
...*****...
"Aaron apa kamu baik-baik saja?" tanya Arsyana merasa khawatir. Kemudian meraba kening Aaron, memastikan apa demamnya sudah turun atau belum. Namun Aaron masih tak merespon.
"Maaf tadi aku ketiduran," ucap Arsyana kemudian. Namun Aaron masih tidak merespon.
"Aaron..." Arsyana memegang bahu Aaron membuatnya terhenyak.
"Apa kamu mau minum?" Aaron hanya menggeleng. Dia masih terpaut dalam lamunanya membuat dia berada di antara sadar dan tak sadar.
Arsyana menuntun Aaron untuk berbaring di tempat tidur, kemudian menyelimutinya. Aaron begitu saja mengikuti Arsyana diantara sadar dan tidak sadar. Namun matanya masih tidak mau terpejam.
...*****...
"Tuan muda aku senang Tuan baik-baik saja," gumam pria bermata merah tadi. Dia berdiri memperhatikan Aaron dari atas gedung, sebrang Rumah Sakit tempat Aaron di rawat.
"Gadis manusia itu sudah menjagamu dengan baik," ucapnya lagi merasa lega.
__ADS_1
"Tuanku, seandainya kau tau kerajaan benar-benar kacau setelah kepergianmu. Tapi aku yakin kau akan segera kembali, memperbaiki semuanya."
"Namun sebelum kau benar-benar siap untuk kembali. Hamba akan setia menjagamu, seperti dulu Tuanku selalu melindungi hamba."
Pria dingin mengingat satu demi satu kenanganya dulu.
...*****...
"Sebagai seorang pria sejati kau tidak boleh lemah!" ucap Aaron remaja yang kala itu bertarung menghadapi Lycan (manusia srigala). Kala itu umur Aaron baru 100 tahun. Namun kepiawaianya dalam bertarung tak bisa di anggap remeh.
Bukan rahasia lagi pertarungan di antara lycan dan vampire sudah berlangsung selama ratusan tahun. Pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan di dunia kegelapan yang tak pernah berakhir. Karena keegoisan masing-masing.
"Ta_tapi a_ku tidak mau ma_ti Tuanku," jawab seorang pemuda sebayanya dengan bibir yang bergetar. Dia bersembunyi di balik batu besar yang terhalang rerumputan.
"Keluar lah! bersembunyi tidak akan menyelamatkanmu," ucap Aaron lagi memperingatkan.
"Ta_tapi _" Ucapan pemuda itu terputus. Aaron menariknya keluar dari persembunyianya.
"Berlindunglah di belakangku, bila tiba-tiba ada yang menyerangmu hunuskan lah pedang ini!" Aaron mencabut sebilah pedang yang ia sematkan di belakang punggungnya, memberikanya pada pemuda yang sedang ketakutan itu. Dengan tangan gemetaran pemuda itu menerima pedang pemberian Aaron.
" Tapi Tuanku_" belum sempat pemuda itu melanjutkan ucapanya secepat kilat Aaron berbalik menebas leher Lycan yang segera akan menyerangnya. "Haaaaat..." hanya dengan satu tebasan Lycan itu menemui ajalnya.
"Jangan banyak bicara! Lakukan saja apa yang aku perintahkan." Dengan tangan yang masih gemetaran pemuda itu mengacungkan pedagangnya dengan posisi siaga. Sementara Aaron masih focus melawan para Lycan.
"Tak perlu kau pertahankan vampire gagal itu! Hanya menambah beban saja, hahaha.. " ejek salah satu lycan yang memperhatikanya. Sepertinya ia memiliki jabatan yang lebih tinggi. Matanya memberi isyarat pada lycan lainnya untuk menyerang Aaron dengan pasukan tambahan.
Beberapa lycan menyerang Aaron dengan bersamaan. Namun hal itu, tak sama sekali membuat Aaron gentar. Mata pedangnya yang tajam dengan mudah menebas satu demi satu lycan yang menyerang dengan brutalnya. Salah satu lycan sengaja mengarah untuk menyerang pemuda yang ketakutan di belakang Aaron dan yang lainnya mengalihkan perhatian Aaron dengan menyerang bersamaan sehingga Aaron tidak bisa melindungi pemuda itu.
"Haaaat...." Pemuda itu mengangkat pedang dengan gemetaran, berusaha menegakan pedangnya supaya bisa menebas dengan stabil. Ketika seorang lycan berusaha menyerangnya.
" Aaaaaaaaaa..." dengan memejamkan mata, untuk pertama kalinya pemuda penakut itu berhasil menebas satu lycan dengan beberapa gerakan pedang yang ragu-ragu ia tebaskan.
"Terima kasih Tuan muda Altair, Hamba Damian Bryon memberi hormat." Pemuda itu berlutut memberi hormat. Dia sangat berterimakasih, karena Aaron akhirnya ia bisa lebih berani.
"Hamba mohon Tuanku, ajari hamba untuk bisa menjadi petarung sejati." Pemuda itu menunduk menyatukan kedua tanganya.
"Berdiri lah" ucap Aaron singkat tanpa menjawab pertanyaanya.
Pemuda itu merasa sedikit kecewa dia kembali berucap. "Hamba mohon Tuanku!" Dia semakin mendekat.
"Besok malam tunggu aku di Cold Valley," ucap Aaron mengisyaratkan kalo ia setuju.
__ADS_1
"Tentu Tuanku, " jawab Damian, sumringah. Dia menundukan kepalanya memberi hormat ketika Aaron yang berlalu pergi.
....... To be continued .... ...