
"Titut ... Titut ...Titut ... Titut ..."
Entah berapa lama jam weaker itu berbunyi namun Arsyana masih asik dalam dunia impiannya.
"Oh God, jam berapa ini?"
Dengan mata setengah melek, Arsyana meraba jam weaker di meja kecil samping ranjangnya. Di lihatnya jam sudah menunjukan pukul 10 pagi. Membuat ia terpaksa harus membuka matanya lebar-lebar.
Bukannya pergi bersiap, gadis itu malah duduk santai di pinggir kasur. Arsyana tersenyum sendiri mengingat apa yang dia lakukan tadi malam.
"Aku begadang melamunkan Aaron?" gumamnya, dia tersipu. Dia merasa tidak percaya pada dirinya sendiri. Tapi kenyataanya Arsyana melamunkan Aaron semalaman.
Entah jam berapa Arsyana mulai terlelap. Hingga dia bangun kesiangan. Entah mengapa hari ini dia begitu merindukan Aaron. Merasa tak sabar untuk bertemu, padahal mereka tinggal di satu atap yang sama. Arsyana senyum-senyum sendiri sekali lagi mengingat kejadian dari awal bertemu Aaron sampai hari ini.
Dengan penuh semangat Arsyana segera bersiap. Meraih handuk dan pergi ke kamar mandi. Sambil gosok gigi, di depan cermin dia melihat dirinya sendiri, memperhatikan wajahnya dengan seksama. Menyakinkan pada dirinya sendiri kalau Ia pantas untuk Aaron.
"Aku ga jelek-jelek amat, hehe," gumamnya, merasa geli sendiri.
Tak seperti biasanya Arsyana berdandan. Dia memakai dress terbaiknya. Dress simple selutut berwarna peach. Di fikiranya sebentar lagi di meja makan, mereka akan bertemu. Aaron harus melihatnya dalam penampilan terbaiknya.
"Tukang makan, " gumam Arsyana. Dia berjalan menuju ruang makan. Di benaknya terbayang cara makan Aaron yang lucu.
Betapa kecewanya Arsyana. Dia tidak menemukan Aaron di ruang makan.
"Apa dia masih tidur? Tapi ini sudah siang." Arsyana merasa bingung.
Arsyana berjalan mencari Aaron ke kamarnya tapi Aaron tidak berada di sana. Hanya ada ruangan yang berantakan tanpa penghuni. Kemudian gadis itu mencari ke seluruh rumah namun Aaron tidak ada juga. Akhirnya Arsyana putuskan untuk mencarinya di kampus mungkin Aaron sudah berangkat duluan. Tapi Arsyana tetep tidak bisa menemukanya.
"Kemana kamu Aaron, kenapa kamu pergi tanpa berpamitan?" gumam Arsyana. Dia menunduk, matanya tak bisa melihat dengan jelas, kabut seperti menutupinya. Ada sesuatu di dadanya. Sesuatu yang mencekiknya erat, hingga ia sulit untuk bernafas. Kini dadanya terasa sangat sesak.
...*****...
Di dalam hutan yang lebat nan dingin. Aaron duduk sendiri, termenung meratapi kenyataan yang baru ia ketahui. Terlintas masa-masa indah bersama Arsyana membuat dadanya semakin sesak.
"Seharusnya aku tidak mengingat semuanya. Aku Aaron bukan Altair. Aaaaaaaaaa. " Aaron melempar sebongkah pohon besar untuk melampiaskan amarahnya. Terlihat beberapa pohon lainnya berantakan karena ulah Aaron.
__ADS_1
Aaron melompat dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa jeda. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah kastil yang megah bergaya gotic, khas abad pertengahan, mirip kastil Mont-Saint-Michel.
"Sudah beberapa bulan ini aku tidak pulang," gumamnya ketika memasuki gerbang istananya yang megah.
Pintu kayu itu terbuka dengan sendirinya. Pintu kayu jati yang di pinggiranya di hiasi ukiran antik. Suasana hening terasa ketika memasuki rumah. Di sana hanya terlihat barang - barang mewah nan antik bernilai jutaan dollar. Berbeda dengan suasana hangat di rumah Arsyana yang sederhana namun penuh senyuman.
Aaron berjalan menuju kamarnya. Suara hentakan kaki pada anak tangga yang menuju kamarnya, membuat orang tua Aaron menyadari kalau anaknya sudah kembali.
" Altair Catarino Zharkov, Putra ku sudah pulang."
Ibu Aaron menyambut anaknya dengan sumringah. Wanita berusia 500 tahun itu merentangkan tangan untuk memeluk putranya.
"Ibu sudah mendengar berita tentangmu, ayahmu juga ingin bertemu."
"Altair kerajaan ini membutuhkanmu. Kamu pewaris tunggal kerajaan ini. Ayahmu sudah sakit-sakitan, dia membutuhkan darah suci itu. Ibu harap kamu bertindak bijak."
"Segera temui ayahmu, dia menanyakan mu!"
Aaron hanya termangu, fikiranya jauh di dunia manusia. Dia tidak berkata apa-apa. Pemuda itu pergi menemui ayahnya di kamarnya.
"Tuan muda, bagaimana main-mainya? Sepertinya karena terlalu asik. Kau melupakan bangsamu," sindir ayah Aaron yang berbaring di tempat tidur mewahnya.
"Sebaiknya kau jauhi gadis manusia itu! kalau kau tidak ingin menyesal, " hardik ayah Aaron, dengan nada tinggi.
Aaron berlalu pergi menghindari perdebatan selanjutnya. Fikiranya saja sedang kacau, dia tak mau menambahnya lagi.
Ketika berjalan pulang ke kamarnya, Aaron tak sengaja mendengar percakapan antara kakak tirinya (Duke) dan pacarnya (Nikol) mereka sedang membahas darah suci untuk kekuatan dan keabadian. Namun Fikiranya sedang kacau. Ia hanya mengabaikan mereka. Dia juga tidak ingin memperkeruh hatinya jika Ia harus bertemu Duke.
"Kau tidak pernah berubah Duke," gumam Aaron.
...*****...
"Bagaimana mungkin kau bisa kuat, jika hanya meminum darah rusa itu, haha " sindir Duke, ketika memergoki Altair yang sedang berburu rusa di hutan. Dia memandang rendah adik tirinya itu.
Altair hanya terdiam, berusaha menghindari perdebatan panjang yang biasanya berujung perkelahian.
__ADS_1
"Aku malas bertengkar dengan mu, Duke, " ucap Altair ia bergegas pergi.
"Hey pecundang sepertinya ayah salah memilihmu sebagai putra mahkota, haha... " teriak Duke, ia terbahak.
Langkah Altair terhenti, dia mengepalkan tanganya kencang, berusaha mengontrol amarahnya. Terlihat mata pemuda itu mulai memerah.
"Kau sama bodohnya dengan ibumu, Kal_" Ucapan Duke terhenti. Secepat kilat Altair berpindah posisi. Kini tanganya mencengkeram leher Duke membuatnya susah bernafas.
"Katakan Duke kalian apa? Altair menatap tajam ke dalam mata Duke, terlihat mata Altair sudah memerah.
"A_a_a_" Duke berusaha berbicara.
"Katakan?" teriak Altair. Dia mengencangkan cengkramanya.
"Le_le_le_" Duke semakin susah bernafas. Dia mungkin akan menemui ajalnya.
"Sekarang kamu tau kan sekuat apa peminum darah rusa ini," ucap Altair puas. Dia melepaskan cengkramanya.
"Shiiit, ini belum selesai." Duke meraba lehernya. Masih dengan angkuhnya meninggalkan Altair yang tersenyum puas. Nicole yang sejak tadi menonton dengan wajah panik, pergi mengekor di belakang Duke.
Si sexy Nicole sudah beberapa kali mencoba menarik perhatian Altair. Dia berusaha memanfaatkan tubuh sexy-nya. Namun selalu gagal.
Beberapa Hari Sebelum Kejadian itu
Dengan gemulai bak seorang tuan putri. Nicole datang mendekati Altair yang sedang istirahat di kamarnya. Baju sutra sexy tanpa lengan, berbalut kain transfaran menyapu lantai kamar Altair yang terbuat dari batu marmer. Baju itu membalut tubuh sexy-nya dengan memperlihatkan bagian atas dari tubuh Nicole.
"Jangan naik!" ucap Altair tegas. Dia membuka matanya, ketika Nicole akan naik ke tempat tidur.
"Jaga sikapmu Nicole! Kau adalah calon iparku." Altair bangkit dari tempat tidurnya.
"Jangan munafik!" Dengan suara yang manja Nicole mencoba merayu sekali lagi. Dia mendekat, mencoba menyentuh wajah Alta, yang secepat kilat di cegahnya. Kini tangan Nicole terpelintir di belakang badannya sendiri.
"Bukan salahku, aku sudah memberi peringatan," ucap Altair.
Dengan kesalnya Nicole pergi keluar dari kamar Altair. Terdengar suara keras dari pintu yang di banting. Nicole menggunakan kekuatanya.
__ADS_1
"Tuan Muda" suara Damian membuyarkan lamunanya.
...... To be continued... ...