
Hati Gadis itu berkecambuk, antara harus merasa senang karena Aaron sudah kembali dan takut kecewa, jika nanti Aaron akan meninggalkanya lagi. Arsyana tak ingin merasa kehilangan untuk kesekian kalinya. Karena hal itu berhasil membuat hatinya remuk dengan sempurna.
"Dia sudah gila," gumam Arsyana ketika melihat Aaron mengikutinya dari kaca spion.
"Pak, tolong lebih cepat!" ucap Arsyana. Meski ia tahu tak mungkin taxi-nya menandingi kecepatan mobil Bugatti Centodieci-nya Aaron.
"Kamu memang keras kepala Ar. Tapi aku bisa lebih lagi." Dengan tenang Aaron mengikuti taxy yang di tumpangi Arsyana.
...*****...
"Arsyana...please forgive me, I'm apologise," teriak Aaron dari luar rumah, meminta maaf. Dia menunduk wajahnya terlihat muram, sepertinya awan pekat tengah menyelimuti pemuda itu.
"Arsyana please," teriaknya lagi. Suaranya berat, berusaha menahan air mata yang akan segera berhamburan.
"Arsyana...." Suara teriakan Aaron bergema di langit.
Aaron tersungkur di tanah. Air matanya menyatu dengan air hujan yang turun deras mengguyur seluruh tubuhnya. Dia ingat betapa hancur hatinya ketika pertama kali melihat siapa dia yang sebenarnya. Mengingat jika dia tak bisa bersama Arsyana karena perbedaan di antara mereka berdua.
"Vampire dan manusia?" Dua kata itu selalu bergema di fikiranya.
Arsyana menyandarkan tubuhnya ke tembok samping jendela. Tubuhnya gontai, seperti kehilangan tenaga. Diam-diam gadis itu memperhatikan Aaron dari balik jendela kamar lantai dua yang Aaron tempati dulu. Dia mendekap baju Aaron yang masih tertinggal. Pandanganya kabur, gadis itu tak kuasa menahan butiran bening yang mendobrak kuat matanya.
Melihat Aaron tersungkur di tanah dengan bermandikan air hujan. Hatinya serasa di tarik ke luar. Namun tubuhnya membeku menolak untuk menghampiri Aaron.
"Apa aku begitu kejam," gumam Arsyana dalam hati.
"Ada apa dengan hati ini? kenapa rasa sakit ini membuat mulutku bungkam?" Arsyana tak hentinya bertanya pada dirinya sendiri. Namun semakin banyak pertanyaan yang muncul, hatinya semakin pilu.
"Arsyana ..."
Bibi Marisa mengusap lembut kepala Arsyana. Dengan penuh kasih sayang mendekap tubuh Arsyana yang rapuh bersamaan dengan air mata yang mengucur deras.
"Menangislah! Bibi ngerti sayang, keluarkan saja sepuasnya! " ucap bibi Arsyana masih memeluk Arsyana erat.
Arsyana terisak dalam dekapan bibi Marisa.
...*****...
Klek....
Terdengar suara kunci di buka. Bibir Aaron tiba-tiba merekah.
__ADS_1
"Arsyana..." ucap Aaron. Dengan cekatan pemuda itu berbalik. Namun ia harus merasa kecewa ternyata bibi Marisa yang datang dengan payungnya.
"Masuklah," ucap bibi Marisa sambil memayungi badan Aaron yang basah kuyup. Kaki Aaron tertahan di sana. Dia tak mau beranjak. Dalam fikiranya, 'harusnya Arsyana yang datang'.
"Ini masih rumahmu," ucap bibi Marisa lagi. Dia tersenyum.
Aaron melangkah masuk bersama bibi Marisa. Mata Aaron berkelana mencari keberadaan Arsyana. Namun dia tak bisa menemukanya. Akhirnya dia masuk ke kamar kemudian membersihkan badanya.
"Aku tak akan menyerah Ar." Aaron bertekad.
...*****...
Mata Aaron terbuka tiba-tiba. Dia merasakan haus yang teramat.
"Sial aku harus cepat-cepat mendapatkannya."
Sempoyongan Aaron keluar dari kamarnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak meminum darah. Hal itu membuat tubuh Aaron melemah. Malam ini Aaron harus pergi ke hutan untuk mencari hewan buruanya.
Setapak demi setapak Aaron menuruni anak tangga. Tiba-tiba mata zamrudnya terpaku pada satu titik. Untuk beberapa saat mereka saling menatap. Tatapan sendu dari kedua insan beda dunia itu, seolah-olah mengisaratkan kerinduan yang mendalam. Namun kemudian Arsyana mengalihkan pandanganya, dengan cepat dia melanjutkan langkahnya untuk pergi ke dapur.
Aaron yang masih erat memegang pegangan tangga, hampir tersungkur. Namun kemudian ia melangkah keluar. Secepat kilat menuju hutan untuk mencari makananya.
Aaron berusaha mengabaikanya. Dia tetap focus pada hewan buruan yang dengan sangat mudah bisa ia dapatkan.
" Darah rusa itu hanya akan membuatmu lemah. Hahaha, " ejek nya kemudian. Dia terbahak.
"Harusnya kau bersyukur, tak perlu bekerja keras untuk mendapatkan rusa ini. Makan saja sisa rusa buruanku! " Aaron yang kesal melempar rusa yang darahnya habis di hisapnya pada lycan sombong itu. Kemudian terbang menghilang dari hadapan lycan yang masih termangu tak menyangka dengan sikap dan jawaban Aaron.
"Ciiiih, tak sudi aku, " ucap lycan itu kesal.
...*****...
Aaron menatap wajahnya di cermin, dia tersenyum pada dirinya sendiri. Hari ini dengan penuh semangat Aaron melangkah keluar kamarnya. Dalam benaknya ia harus merebut hati Arsyana kembali.
"Arsyana I'm coming."
Aaron duduk di samping Arsyana yang sedang mengoles selai ke roti. Gadis itu melirik Aaron sekilas dengan expresi datar.
"Makasih Bi," ucap Aaron ketika bibi Arsyana menyodorkan piring.
Seperti biasa Aaron makan dengan lahapnya, meski sebenarnya memakan makanan manusia akan berdampak buruk padanya.
__ADS_1
"Ini demi kamu," gumam Aaron dalam hatinya.
"Semangat!" bisik bibi Marisa. Tanganya di ayunkan pelan, pertanda memberi dukungan untuk menaklukkan keras kepalanya Arsyana. Aaron membalasnya dengan kedipan. Dia tersenyum tengil.
Buru-buru Aaron ngekor di belakang Arsyana yang bergegas pergi. Begitu saja Aaron duduk di jok belakang motor yang Arsyana akan kendarai.
"Ayo pergi," ucap Aaron polos.
Arsyana tak menyangka Aaron akan duduk di belakangnya.
"Turun!" perintah Arsyana tegas. Dia menoleh ke arah pemuda itu.
"Ga mau." Aaron tak beranjak dari tempatnya.
"Kamu kan bawa mobil sendiri," Arsyana mengingatkan dengan ketus.
"Aku pengen di bonceng." Aaron tetap diam di tempatnya. Sekarang tanganya malah memegang behel motor kuat-kuat.
"Gimana, apa aku pegangan di pinggang kamu aja? " ancam Aaron, dia tersenyum puas.
"Nyebelin," gumam Arsyana kesal. Sambil men-starter motornya.
"Kalo pagi ini aku ga ada kelas pasti kamu habis Aaron." Batin Arsyana berkata-kata. Sementara Aaron di belakang tersenyum puas.
"Kamu lebih cantik kalo marah Ar," goda Aaron tiba-tiba. Arsyana hanya diam tak beraksi, dia berusaha tak menanggapinya. Aaron malah semakin menikmatinya.
"Ya udah marah aja, aku suka ko," goda Aaron lagi.
Arsyana masih tak bergeming, dia menahan dirinya untuk tidak beraksi.
"Turun!" perintah Arsyana ketika sampai parkiran kampus.
"Kenapa masih berdiri di situ, pergi sana." Arsyana mengusir Aaron yang masih berdiri menunggu Arsyana.
Aaron hanya tersenyum polos. Dia mengekor di belakang Arsyana yang bergegas masuk ke dalam gedung kampus elite itu.
"Kamu mau ikut ke kelas juga." Arsyana semakin kesal di buatnya. Dia menunjukan muka masamnya. Namun Aaron malah mengangguk dengan polosnya.
"Stop!" perintah Arsyana ketika melihat pemuda itu benar-benar akan masuk ke kelas Arsyana. Aaron segera menghentikan langkahnya. Seperti robot yang di kendalikan remote. Membuat Arsyana geleng kepala. "Dia benar-benar sudah gila," gerutu Arsyana. Namun entah kenapa bibinya tersenyum tipis.
...***To be Continued ***...
__ADS_1