
"Tirilit... Tirilit..."
Hp Arsyana berbunyi. Namun Ia tengah asik dengan masakanya.
"Wangi banget Ar, cacingku sudah lapar ni. Hehe." Aaron datang dengan mengusap-usap perutnya.
"Bentar lagi siap ko, tinggal capcay-nya aja." ucap Arsyana. Tanganya masih sibuk menumis sayuran di wajan.
"Mau aku bantu?" Aaron menawarkan bantuan.
"Makasih, tapi aku ga mau jadi ketergantungan obat penurun darah," goda Arsyana mengingatkan kejadian kemaren. Dia tersenyum tengil.
"Hahaha..." Aaron terbahak. "Janji kali ini ga bakalan asin lagi," ucap Aaron meyakinkan. Membuat Arsyana ikut terbahak.
...*****...
Dengan segera Arsyana bersiap. Hari ini ada ujian praktikum di kampus, sehingga Arsyana tidak boleh telat. Tak lupa sebelum berangkat Arsyana meraih tas dan hp-nya di atas meja. Sesekali dia check hp-nya, ingat kalau tadi ada beberapa pesan masuk.
"Ar, tar habis praktikum. Kita ngopi bareng ya." Satu pesan dari Mia.
"Arsyana, habis kampus aku tunggu kamu di tempat biasa." pesan lainnya dari Arya.
Dengan motornya Arsyana melaju menuju kampus memecah jalanan ibu kota yang selalu ramai. Di benaknya bertanya-tanya tentang apa yang ingin Arya sampaikan. Ada rasa takut di hatinya. Arsyana tak ingin lagi merasakan sakit hati. Hatinya akan segera membaik tak boleh tergores lagi.
...*****...
Dengan cemas Arya menunggu Arsyana di rooftop gedung kampus. Sesekali di lihatnya jam di tangan kirinya. Kemudian di check-nya juga hp yang selalu ia pegang. Namun tak ada balasan dari Arsyana. Hanya beberapa pesan dari pelatih dan temanya.
"Kemana gadis ini, seharusnya kelasnya sudah selesai," gumam Arya. Dia mondar mandir ga karuan. Sesekali mengechek area tangga, berharap Arsyana datang.
Untuk beberapa saat Arya masih menunggu. Sampai akhirnya kesabaranya hampir habis.
"Mana ga bales pesan lagi," gumamnya lagi, setelah dia kembali mengechek hp-nya.
Arya menuruni tangga. Suara hentakan kakinya keras, seolah menumpahkan kekesalanya. Arya bergegas menemui Arsyana.
...*****...
Dengan santainya Arsyana keluar dari kelas. Praktikumnya sudah selesai, semua berjalan lancar. Namun ujian berikutnya akan lebih sulit. Bertemu dengan Arya, sepertinya akan lebih sulit dari ujian praktikum.
"Arsyana, ..." Mia datang nyerobot menggandeng Arsyana.
"Jadi kan kita ngopi bareng? Udah lama lo, kita ga jalan bareng. Belajar mulu bosen tau," cerocos Mia.
"Eh.. Emhh.. Iya." Arsyana tidak focus. Ujung matanya menangkap Arya yang sepertinya sedang menunggu Arsyana dari tadi. Dia menatap tajam ke arah Arsyana yang sedang bersama Mia.
"Kenapa si loe Ar? Kaya ga focus gitu.
" Ooooh..., Iya Iya," ucap Mia, setelah melihat Arya menatap ke arahnya. Mulutnya membulat Sepertinya dia mengerti kekhawatiran temanya.
"Ok dech, gue pergi, tar telpon ya! Bye.. " ucap Mia. Dia berjalan mundur, tanganya menirukan orang yang sedang menelpon. Kemudian berlalu.
Arya menarik tangan Arsyana menuju Arah rooftop. Arsyana mengikuti langkah Arya, malas.
Dia ingat setiap senti dari tangga ini, penuh dengan kenanganya bersama Arya. Banyak tawa di sana, yang kini hanya tinggal kenangan.
__ADS_1
...*****...
"Arya, lebih cepat lagi! Hahaha.." ucap Arsyana di gendongan Arya. Dia tertawa bahagia.
"Ini udah cepat Tuan Putri. Cape tau..." keluh Arya, nafasnya ngosngosan.
"Arsyana, kamu makan apa si? Ko berat banget. Hehe" goda Arya, masih ngosngosan.
"Iiiiiiih Arya, beratku cuma 47 kg, blom 50. Kamu kan Atlet." Arsyana mencubit dada Arya kesal, bibirnya membulat.
"Aww... Sakit tau Arsyana."
"Iya Iya blom 50, beratan juga sekarung beras kan?" goda Arya lagi. Arsyana kembali mencubit Arya kesal.
"Alamak udah digendong bukannya di kasih hadiah eh malah di cubit. Nasibku sangat buruk ma, punya pacar galak. Tolong la aku mak!" goda Arya lagi.
"Sono cari cewek lain yang ga galak, yang ga berat." Arsyana turun dari gendongan. Bibinya masih cemberut.
"hahaha..." Arya terbahak.
...*****...
"Arsyana, Arsyana..." Arya memanggil Arsyana beberapa kali namun tidak di respon.
"eh... Iya, " jawab Arsyana gelagapan. Dia terperanjat dari lamunanya.
"Kenapa kamu ga bales chat aku?" keluh Arya to the point.
"Aku ada Praktikum, jadi ga sempat liat hp," jawab Arsyana singkat. Merasa tak harus menjawabnya.
"Aku udah nungguin kamu disini berjam-jam," ucap Arya merasa kesal.
"Aaw..." teriak Arsyana merasa kesakitan.
" Sorry... Aku ga bermaksud. Tapi kita harus bicara Ar." Arya lepaskan genggamanya, selangkah mundur, menjauhkan tanganya dari Arsyana.
"Ga ada yang harus di bicarakan lagi Arya, semua udah selesai. Inikan mau mu?" ucap Arsyana kesal, nadanya meninggi. Air matanya akan berhamburan. Namun dia tahan sekuat tenaga.
"Bukan gitu Ar, aku ga suka kamu deket si cunguk Aaron." keluh Arya, merasa terdesak.
"Apa hakmu, itu urusanku," ucap Arsyana masih menahan tangisnya.
"Itu urusanku, apalagi kalian tinggal serumah," ucap Arya kesal, nadanya meninggi.
"Aku ga harus jawab apa-apa dan kamu ga berhak bertanya apa pun padaku, ingat kita udah putus Arya," ucap Arsyana seraya berlalu pergi.
"Kamu sudah berubah Arsyana. Dulu kamu tak pernah begini. Bagaimana kamu bisa tinggal serumah dengan cowok asing. Cuma cewe_" Ucapan Arya terhenti, ketika dia mulai sadar dengan apa yang akan dia ucapkan dalam amarahnya.
Arsyana berbalik menghampiri Arya, kini jaraknya hanya lima senti dari muka Arya. Matanya yang berlinang menatap tajam mata Arya, berharap pria yang tadi berbicara begitu kejam bukanlah Arya yang dia kenal dulu.
"Cewe apa Arya, cewe apa, jawab?"
"Ok kamu mau jawabnya kan? Aaron itu pacaku. Puas?"
Arsyana berjalan mundur dengan teratur kemudian berlalu pergi dengan air matanya yang mengalir deras lebih deras dari air terjun niagara.
__ADS_1
Arya hanya mematung, tak bisa berkata apa-apa. Dalam hatinya merasa bersalah dengan apa yang baru ia katakan. Namun egonya menahan dia untuk sekedar meminta maaf. Lidahnya seolah kelu.
"Ar.... A_aku"
...*****...
"Apa hakmu, itu urusanku,"
"Aku ga harus jawab apa-apa,"
"Kamu ga berhak bertanya apa pun padaku,"
"Ingat kita udah putus Arya "
"Kita sudah putus,"
"Kita sudah putus,"
"Aaron pacarku."
"Aaaaaaaaaaaaaah"
Arya membanting bolanya dengan keras. Setelah kejadian kemaren di rooftop kampus, kata-kata Arsyana terngiang-ngiang di otaknya. Seperti hantu, terus mengganggu tak mau pergi. Dia tidak bisa focus latihan. Sampai akhirnya dia putuskan untuk membeli minum di kantin.
...*****...
" Ar, jangan minum salted caramel lagi! Sekali-kali pesan Americano, " goda Aaron, dia tersenyum tengil.
"Kenapa??" jawab Arsyana merasa bingung dahinya mengerut.
"Karna kamu udah manis, hehe," jawab Aaron tertawa merasa geli dengan gombalan recehnya.
"hahaha... Ya.. Aaron." Arsyana tersipu.
"Ar, ini ramen kesukaan mu." Tiba-tiba Arya datang dengan membawa semangkuk ramen panas. Dia duduk di kursi dekat Arsyana.
"Ayo pindah ke tempat lain, jangan di sini." ucap Arya seraya melirik ke arah Aaron.
Arsyana berusaha tidak menanggapi. Dia meneruskan obrolanya dengan Aaron.
"Ayo.. Ar." Arya berusaha menarik Arsyana dari kursi.
"Apaan si Arya." Arsyana melepaskan tanganya dari genggaman Arya.
"Arsyana kamu pacarku, kamu harus duduk bersamaku," ucap Arya kesal.
"Aaron pacarku, jadi aku duduk disini," ucap Arsyana menegaskan. Dia menahan Amarah. Aaron melonggo mendengarnya, penuh tanda tanya.
Aaron berdiri menghampiri Arya. "Hi man jangan kasar. Dia ceweku," ucap Aaron cool. Dia seolah mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"hahaha..." Arya tertawa mengejek.
"Gini aja siapa yang menang di pertandingan bola. Dia pacarnya Arsyana," ucap Arya kemudian. Dia ngajak taruhan.
"Ka_mu _" ucap Arsyana kesal. Arsyana beranjak dari tempat duduknya. Namun Aaron coba menenangkanya. Dia memberi tanda dengan gerakan matanya. Seolah berkata 'jangan khawatir, biar aku yang tangani!'
__ADS_1
"Ok" ucap Aaron mengiyakannya.
....... To be continued........