
Setelah Aaron memenangkan pertandingan kemarin, itu artinya Arsyana dan Aaron resmi pacaran. Sayangnya itu cuma bohongan. Arsyana hanya menghindar dari Arya dan Aaron hanya ingin melindungi Arsyana. Dia tidak ingin Arsyana menangis lagi.
"Aku pacar Arsyana, kita pacaran?" Aaron bertanya pada dirinya sendiri. Tak sadar bibirnya tersenyum merekah. "Apaan, apa yang aku fikirkan? Arsyana begitu mencintai Arya." Namun kemudian dia hempas fikiran-fikiran itu jauh-jauh. Ada sesuatu yang mengganggu di hatinya, membuat dia merasa tidak nyaman.
"Aku hanya ingin melihat Arsyana selalu tersenyum, hatiku terasa sakit ketika melihatnya menangis," gumam Aaron. Dia terlihat sedih.
Aaron mencoba memejamkan matanya. Namun tak pernah berhasil. Dia putuskan untuk pergi ke dapur mengambil air.
"Dug.."
Di depan pintu Aaron bertabrakan dengan Arsyana yang hendak masuk ke dapur.
"Uf... Sorry," ucap Arsyana meminta maaf.
"It's OK, aku yang ga focus," jawab Aaron tersenyum.
"Ka.. Mu_" Arsyana dan Aaron bicara berbarengan. Mereka sama-sama ingin bertanya tentang sesuatu.
"Ok kamu duluan Ar!" ucap Aaron mempersilahkan.
"Engga kamu aja duluan." Arsyana malah ikut-ikutan mempersilahkan.
"Ok Ar." Aaron tersenyum merasa geli sendiri. "Kenapa Blom tidur Ar, ini sudah jam 1 lebih?"
"Pertanyaan itu juga yang ingin aku tanyakan," ucap Arsyana tersenyum.
"Hanya tak bisa tidur," jawab Aaron simpel, merasa bingung harus menjawab apa.
"Sama," ucap Arsyana singkat.
"Aaron..." ucap Arsyana tiba-tiba. Tangan gadis itu meraih ice-cream di dalam kulkas, kemudian mengambilkan air mineral untuk Aaron.
"Iya Ar," jawab Aaron.
"Aku ingin bicara sesuatu," ucap Arsyana ragu.
"ngomong aja Ar," ucap Aaron memberi jalan.
Mereka duduk di meja makan dekat kulkas, tanpa menyalakan lampu. Arsyana mulai menyodok Ice-cream vanillanya dengan sendok yang lebih besar dari sendok biasanya.
"Maaf.." ucap Arsyana merasa bersalah. Dia mengaduk-aduk ice-cream dengan sendoknya.
"Apa.. Ar," ucap Aaron ragu.
"Iyah maaf." Arsyana menegaskan.
Sementara Aaron masih merasa bingung.
"Kenapa harus minta maaf?" ucap Aaron, dahinya berkerut.
"Kamu jadi ikut terseret ke dalam masalah, karena aku, " jawab Arsyana menegaskan. Raut Arsyana berubah, matanya berkaca-kaca. Dengan sekuat tenaga, dia menahan air matanya untuk tidak keluar.
"Ga masalah, aku ngerti ko Ar. Aku mau bantu kamu menghadapi masalah ini." Aaron tersenyum. Namun matanya berkaca-kaca. Sama seperti Arsyana, dia juga berpura-pura tegar.
...*****...
Sama seperti Aaron dan Arsyana. Arya tidak bisa memejamkan matanya, meski beberapa kali merubah posisi. Kadang ia menghadap ke kanan, kadang ke kiri, tengkurap bahkan terlentang. Hatinya masih terasa panas dan sesak.
Bayang-bayang Arsyana yang berdiri mengumandangkan yel-yel. bahkan susah-susah menciptakanya untuk tim Aaron. Sudah berhasil merenggut tidurnya. Cara dia mendukung Aaron, menatap Aaron, memeluk Aaron. Semua itu bermain-main di fikiranya.
"Apa mungkin Arsyana jatuh cinta pada Aaron? Apa Arsyana sudah benar-benar melupakan ku?"
"Aaaaaah" Arya memberontak memapas semua pertanyaan itu dari fikiranya. Dia bangun kemudian duduk di pinggir kasur, meraih air yang ada di atas meja kecil dekat ranjangnya.
...*****...
__ADS_1
Pagi itu seperti biasa Aaron dan Arsyana pergi ke kampus. Namun sekarang sedikit berbeda, dengan status pacar bohongan. membuat mereka harus ber-acting seolah pasangan kekasih. Khususnya di depan Arya.
"Cie pasangan baru kita," ucap Mia yang datang dari belakang. Dia nyerobot mengambil alih tempat Aaron yang tadi berjalan di samping Arsyana.
"Apaan si..." ucap Arsyana, canggung.
"Goal couple kita pagi-pagi udah main romantis - romantisan, pake acara ga mau di ganggu. Hehe," goda Mia. "Bikin orang patah hati aja," ucapnya lagi.
"Ni anak pagi-pagi udah ngaco," gerutu Arsyana, seraya memukul kepala Mia dengan buku pelan.
"Aw.. Aw.. Sakit tau. Haha." Mia ber-acting kesakitan, kemudian terbahak.
"Tuan Aaron, kuserahkan temanku padamu, jaga dia ya! Tapi kalo nakal jewer aja, haha," goda Mia seraya menyatukan tangan Aaron dan Arsyana.
"OK bye..." Mia berpamitan. Namun tak di respon Aaron maupun Arsyana.
"Dasar bucin. Buciiin, buciin, " gumam Mia, tersenyum.
Arsyana dan Aaron masih saling menatap, tangan mereka pun masih bergandengan. Ketika Mia berlalu pergi, pipi keduanya merona.
"A_" keduanya bersamaan mengucapkan sesuatu. Seraya melepaskan tangan masing-masing.
"Ok kamu duluan Ar," ucap Aaron mempersilahkan.
"A_ aku duluan ya, ada kelas pagi soalnya," ucap Arsyana gelagapan.
"OK Ar... Take care, bye," ucap Aaron, tersenyum.
...*****...
"Hi Arya, gue temenin ya," ucap Treshy manja, seraya duduk di kursi di sebelah Arya. Dia membenahi rambut panjangnya. Namun Arya masih sibuk dengan fikiranya,Treshy pun di abaikanya.
"Arya loe mikirin apa si, liat muka loe kusut banget," cerocos Treshy, seraya merebut minuman yang dari tadi Arya mainkan dengan sedotanya. Arya hanya membalasnya dengan deheman membuat gadis sexy itu kesal.
"It's not your business, gue juga ga nyuruh lo duduk disini," ucap Arya. To be point.
"iiiiiih _" Dengan kesal Treshy meninggalkan Arya yang masih duduk termenung.
Tanpa di sadari Aaron dan Arsyana. Pagi tadi Arya melihat mereka saling menatap dan berpegangan tangan. Semua itu mengganggu fikiran Arya. Arya masih tidak bisa menerima kenyataan kalau dia telah kehilangan Arsyana. Meski kalah di pertandingan berhasil mencoreng martabatnya sebagai pesepak bola. Namun kenyataan kehilangan Arsyana lebih menyakitkan.
...*****...
"Hhhhhh"
Arsyana menarik nafas panjang, akhirnya kelasnya usai juga.
Merasa ingin me-refresh diri, Arsyana berencana untuk pergi ke taman kampus, setelah sebelumnya dia membeli beberapa snacks dan softdrink. "Ini akan sangat menyenangkan, duduk-duduk di taman dengan cemilan di udara yang sejuk," gumam Arsyana bersemangat.
Arsyana berjalan melewati beberapa kelas, kemudian menuju lorong. Setelah menuruni beberapa anak tangga dia akan sampai di taman kampus yang penuh dengan pepohonan dan berbagai tanaman dan bunga-bunga yang indah. Berbeda dengan taman lainnya. Konsep di taman kampus Arsyana adalah Fairy forest. Taman yang indah seperti hutan dalam dongeng.
Ada sedikit yang aneh. Setiap kali Arsyana berpapasan dengan cewek-cewek di kampus ini, mereka memasang muka jutek. Sebagian dari mereka bahkan menatap sinis ke arah Arsyana.
"Cantikan gue kemana-mana," gerutu seorang mahasiswi berambut ikal, seraya menyibakan rambutnya. Dia melihat sekilas ke arah Arsyana. Body-nya sexy bak gitar spanyol. Arsyana tersenyum geli mendengarnya.
"Aaaaaa_" Teriakan Arsyana terputus. Seseorang menutup mulutnya sebelum ia sampai di taman kampus, dengan bantuan seseorang lainnya, ia menyeret tubuh Arsyana ke kamar mandi yang rusak dekat lorong. Makanan yang di pegang Arsyana jatuh berhamburan.
"Kleek..." Dengan cepat-cepat mereka berlari keluar kemudian mengunci pintu, meninggalkan Arsyana yang ketakutan.
"Dug... dug...dug... dug.."
"Tara... Tara... buka pintunya! Natalie tolong! Buka pintunya! Apa mau kalian? Bukan pintunya! " Arsyana mengedor gedor pintu, memohon Tara membukanya. "hahaha..." Namun mereka malah tertawa puas seraya berlalu meninggalkan Arsyana.
"Dug... dug... dug!"
"Tolong, siapa saja buka pintunya, buka pintunya!"
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Arsyana mengedor-gedor pintu. Namun tak ada seorang pun yang mendengar.
Suaranya kini sudah mulai habis, Arsyana merasa frustasi. Dia tersungkur di atas lantai, air matanya tak bisa berhenti mengalir. Dia berusaha berfikir dan mengontrol dirinya "hhhhhh..." Arsyana menghela nafas.
"Calm down your self Arsyana, and take it easy! Jalan keluar Arsyana, Jalan keluar. Hentikan tangisanmu, sekarang berfikirlah!" Arsyana berbicara pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Tolooooooong...."
Dengan tenaga yang tersisa, Arsyana berteriak sekencang-kencangnya. Namun masih belum ada yang mendengarnya. Lorong itu sangat sepi, tak ada seorang pun yang lewat.
"Oh ya hp, hp." Tanganya gemetaran menyusuri setiap senti tas kecilnya, sampai-sampai semua barang yang ada di tas, di keluarkanya. Dia ingat telah menaruh hp itu di tasnya tadi. Dengan segera di bukanya hp itu. Namun sial tak ada signal sama sekali. Tak patah semangat Arsyana mencoba mencari signal, dengan mengacungkan tanganya, meraih tempat yang lebih tinggi. Tetep saja hasilnya nihil.
"Aaroooooooon...." Arsyana juga berusaha memanggil Aaron. Namun suara Arsyana tak cukup keras untuk menjangkau Aaron yang berada di kelasnya.
...*****...
"Arsyana."
Tiba-tiba terlintas nama Arsyana di benak Aaron. Jantungnya berdetak tak beraturan. Dia merasa harus bertemu Arsyana segera. Dia tidak bisa fokus memperhatikan dosen yang sedang menerangkan di depan. Tanpa fikir panjang Aaron keluar dari kelas sebelum kelas itu berakhir. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Aaron mencari Arsyana di semua tempat, kelas terakhirnya, perpus dan kantin.
"Loe liat Arsyana?" Aaron bertanya pada Mia yang sedang menikmati coffee-nya di kantin kampus.
"Yang lagi bucin, ga bisa jauh. Romantisnya." Mia malah menggoda Aaron.
"Bukan gitu, gue serius Mi," sanggah Aaron menjelaskan.
"Eng_ga, gue ga liat Arsyana semenjak terakhir kita ketemu pagi tadi." Mia merasa bingung dan penasaran. "Kemana Arsyana? " gumamnya penuh tanda tanya.
...*****...
Tak sengaja Aaron mendengar percakapan antara Treshy dan Arya mereka sepertinya sedang bertengkar. Namun langkah Aaron terhenti saat Arya menyebut nama Arsyana.
"Apa yang loe lakuin ke Arsyana? jawab!" Teriak Arya mengintimidasi Treshy yang masih belaga polos.
" Gue ga tau apa-apa." Treshy masih bertahan dengan acting-nya.
"Jangan bohong gue denger dari Tara dan Natalie tadi. Mereka bilang Eloe yang nyuruh mereka mengunci Arsyana," ucap Arya menerangkan.
"Jawab Tres!" Arya berteriak lebih keras. Membuat Treshy gemetaran.
"Ar_sya_na, Arsyana ada di kamar mandi rusak." Treshy tergagap ketakutan.
"Yang jelas! kamar mandi rusak yang mana?" teriak Arya, dia merasa belom paham.
"Kamar mandi rusak dekat lorong," ucap Treshy menjelaskan
"Loe ya_" Arya menahan amarahnya, hampir saja dia memukul Treshy. Hanya saja dia ingat Treshy itu perempuan. "Keterlaluan loe, urusan kita belum selesai," ucap Arya sambil berlalu pergi.
...*****...
"Braaaaak" Dengan tenaga penuh Aaron mendobrak pintu itu.
"Aaron, hiks... hiks... hiks." Arsyana berhambur kepelukan Aaron. Air matanya berhamburan membasahi kaos hitam Aaron. " Aku tau kamu pasti datang," ucap Arsyana suaranya serak. "Aku takut, aku takut." Arsyana semakin erat memeluk Aaron.
" Jangan takut Ar, sekarang aku di sini. Maafin aku datang terlambat." Aaron menggendong Arsyana di pangkuanya, membawanya keluar dari tempat kotor itu.
"Arsyana...." gumam Arya sedih. Dia menatap Aaron yang berlalu di hadapanya, semakin menjauh membawa Arsyana bersamanya.
...****...
Malamnya ketika Aaron tertidur saat menjaga Arsyana. Tiba-tiba bayangan itu muncul lagi. Kepala Aaron terasa sangat sakit, tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa lemas, sampai-sampai dia jatuh tersungkur di bawah tempat Arsyana tidur. Namun Untungnya Arsyana masih lelap tertidur.
....... To be continued.... ...
__ADS_1