
"Ayo naik!" ucap Arsyana, seraya mengulurkan open face helm berwarna coffee dengan combinasi hitam. Aaron sudah siap dengan kaos hitam polos dan celana kain berwarna hitam milik mendiang ayah Arsyana. Hanya baju itu yang cocok. Walaupun sedikit kekecilan di badan Aaron yang atletis. Tapi setidaknya bukan celana panjang yang hanya sampai betis.
"Broom... Broom..."
Dengan penuh semangat Arsyana menancap gas motor maticnya. Pagi itu mereka akan pergi ke Pasar Traditional di pusat kota.
Bibi Arsyana mendapatkan pesanan catering sebanyak 500 kotak snacks untuk acara ulang tahun anak dari customer bibi Arsyana besok. Mereka adalah orang kaya pemilik toko mas di daerah Arsyana tinggal. Meski hanya pesta ulang tahun namun di rayakan sangat meriah. Aaron dan Arsyana bertugas berbelanja bahan-bahan untuk membuat kue-kue isian snacks.
Pagi itu terasa sejuk. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang juga, yang membuat udara terasa lebih segar.
"Bila cinta ini tak nyata
Jangan engkau beri harapan
Sudah, cukup kini kusadari
Terlalu cepat jatuhkan hati
La la la la ......."
Tanpa sadar Arsyana menyanyikan lagu Tiara Andini 'Merasa Indah' dengan suara yang cukup keras. Seolah mengungkapkan isi hatinya terhadap Arya. Aaron hanya tersenyum di belakang Arsyana. Tangan kananya berpegangan pada behel motor dan tangan yang satunya lagi dia rentangkan seolah mencoba menangkap udara pagi. Tanpa sepengetahuan Aaron. Diam-diam Arsyana mengintip dari kaca spion.
"Tuan Alien Ganteng akhirnya tersenyum," gumam Arsyana dalam hati.
"Kenapa, jelek ya?" tanya Arsyana merasa sedikit malu.
"Suara kamu bagus," jawab Aaron singkat.
"Kaya ga ridho bilang bagus ni tuan Alien," gumam Arsyana dalam hati.
"Suara kamu bagus Arsyana, kamu benar- benar berbakat." ucap Aaron jujur. Entah dia tau isi hati Arsyana atau hanya kebetulan, membuat pipi Arsyana memerah.
Selain hobi masak, Arsyana juga suka menyanyi walau cuma di kamar mandi. Suara Arsyana selain merdu juga berkarakter.
__ADS_1
...******...
Pasar selalu ramai di pagi hari. Terlihat banyak orang berlalu lalang. Di setiap lapak di penuhi ibu-ibu, terutama di lapak sayuran dan daging. Walaupun ini Pasar Traditional namun semua serba bersih dan teratur. Pasar ini memiliki 3 lantai, dan berkonsep modern. Di pintu masuk di sediakan troli, ada escalator yang memudahkan orang berbelanja dengan trolinya. Tak ada lagi kata berat untuk bawa barang belanjaan dalam jumlah banyak. Cara pembayaranya pun sudah ter- upgrade. Tak hanya cash namun bisa dengan debit dan credit juga. Namun semua harga barang disini lebih murah di banding Supermarkets.
Aaron dan Arsyana melangkah di keramaian, mencari bahan-bahan untuk membuat kue. Tiba saatnya Arsyana berbelanja minyak, margarine dan lainnya di toko bahan kue. Seorang ibu berperawakan over sides menyelonong tak tau aturan merebut tempat Arsyana. Ibu itu menyingkirkan Arsyana dari tempatnya dengan badannya yang besar. Langkahnya seolah membuat bumi bergoyang, dia mendekati penjual bahan kue.
"Aaaw...." Teriak Arsyana hampir terjatuh. Namun terhenti ketika tangan Aaron dengan sigap menahan tubuh ramping Arsyana. Kini Arsyana jatuh ke pelukan Aron, mata mereka bertabrakan membuat Arsyana tersipu.
"Thanks.." Arsyana berterima kasih. Wajahnya masih merah, dia merasakan hangat di pipinya. Dan Aaron hanya tersenyum manis sekali.
Mata ibu-ibu di sana tak bisa terlepas dari Aaron. Pesona Aaron telah merebut kesadaran mereka. Wajah ganteng dengan mata kehijauan itu telah menyihir mereka semua, di tambah perawakanya yang atletis makin membuat ibu-ibu tergila-gila. Kesempatan itu tak di sia-siakan Arsyana. Sekarang Arsyana bisa berbelanja dengan mudahnya. Di saat ibu-ibu disana sibuk memperhatikan Aaron.
"Aaron, nanti kamu aja yang berbelanja sisanya. Kamu itu punya sihir untuk ibu-ibu, belanja jadi lebih mudah sekarang. Ting," Arsyana asal ngide, dia mengedipkan sebelah matanya.
"hahaha..." Aaron terbahak memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
"pantesan aja ibu-ibu pada tergila-gila. Tukang tebar pesona sih," umpat Arsyana.
"engga.. engga," sangkal Arsyana malu. Sembari menggelengkan kepalanya ragu.
"Aaron ini udah hampir terlambat, kita harus cepat-cepat menyelesaikan belanjanya." ucap Arsyana menutupi rasa malunya. Dia berjalan menuju toko berikutnya.
Dengan segera mereka menyelesaikan semua. Ternyata jurus yang di bilang Arsyana benar juga. Karena pesona Aaron, berbelanja jadi lebih singkat.
Setelah menyelesaikan belanjaan untuk kue. Arsyana pergi ke lapak sayur dan daging.
" Nenk itu pacarnya ya? Meni ganteng pisan," ucap seorang ibu memuji. Arsyana hanya tersipu malu.
"Aduh, ganteng-ganteng gini mau belanja ke pasar. Suami idaman banget," ucap ibu penjual sayur.
Arsyana merasa risih dengan semua pujian mereka. Dia menganggukan kepalanya dan tersenyum malas, tiap kali pujian itu di lontarkan untuk Aaron. Dengan segera dia menyelesaikan semua belanjaan dan berlalu pergi.
"Wait ... wait ..." Mata Arsyana tertawan pada setelan kemeja dan celana yang sepertinya cocok untuk Aaron. Sehingga mereka memutar arah pergi ke dalam sebuah toko baju.
__ADS_1
Arsyana memilih beberapa baju kemudian menyuruh Aaron untuk mencobanya.
"Coba ini Aaron, please.. !" kata Arsyana memohon. Suaranya lembut dan memelas.
"Tapi aku ga punya uang Ar," ucap Aaron. Entah mengapa kata 'Ar' terasa renyah terdengar. Panggilan yang begitu manis.
"Ga ada tapi tapian. Kamu kan ga ada baju. Cobain!" Arsyana memaksa, nada suaranya mengeras, matanya membulat.
"Jangan khawatir, kamu bisa kerja di catering bibiku untuk membayarnya," ucap Arsyana lembut. Sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aaron hanya bisa mengangguk setuju. Kemudian masuk ke sebuah kamar pass yang terletak di ujung, dekat barisan kemeja pria.
Baju pertama yang di coba adalah celana pendek chinos hitam dan beberapa kaos polos yang berbeda warna . Arsyana memberikan jempolnya, tanda kalau baju itu cocok di badan Aaron.
"Pilihan Arsyana Ayudisha tak pernah salah," gumam Arsyana merasa bangga pada dirinya yang memiliki selera bagus dalam memilih.
Baju yang kedua hoodie polos dan celana jeans berwarna dark blue. Arsyana sekali lagi memberi dua jempolnya.
Tiba saatnya, Aaron mencoba kemeja putih pas badan dengan, celana chinos abu muda semata kaki.
"Oh God ... Tuan Alien ganteng." ucap Arsyana pelan.
"Apa Arsyana, kamu bilang apa, jelek ya?" tanya Aaron merasa mendengar sesuatu, dahinya berkerut. Sesekali matanya mengechek baju yang ia kenakan.
Mata Arsyana melongo, tak bisa berkedip melihat Aaron memakai setelan kemeja dan celana itu. Arsyana seperti hilang kesadaran, tersihir pesona Aaron. Apa yang di kenakan Aaron membuat dia terlihat seperti executive muda, ganteng dan elegant. Tak kalah dengan opa opa di Webtoon.
"Eng_enga, ko itu cocok di kamu." Arsyana gelagapan menjawab, yang kemudian mengacungkan dua jempolnya, meski terkesan telat.
"Ayo pulang, ini sudah telat!" ucap Arsyana menutupi kegugupanya. Pipinya masih merah merona.
Aaron merasa bingung dengan sikap Arsyana. Tanganya menggaruk kepala yang ga gatal. Arsyana sendiri yang mengajak Aaron mampir belanja. Tapi dia juga yang terburu-buru. Namun Aaron yang malang tak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa ngekor di belakang Arsyana.
...To be continued...
__ADS_1