Ketika Pangeran Vampire Amnesia

Ketika Pangeran Vampire Amnesia
Bab 21 # Membujuk Arsyana


__ADS_3

"Aku tau kamu marah Ar," ucap Aaron tiba-tiba, membuat langkah Arsyana terhenti. Namun kemudian gadis itu melanjutkan langkahnya, tanpa menjawab. Bibirnya begitu rapat seolah sudah di lem.


Aaron berjalan cepat mendahului Arsyana, dia berjalan mundur tepat di depan Arsyana." Kamu boleh marah Ar. Tapi please jangan diamin aku kaya gini," ucap Aaron memohon. Wajahnya terlihat sedih. Namun gadis itu tak bergeming sedikit pun.


"Kamu harus dengerin penjelasanku, please Arsyana Ayudisha." Aaron memohon, masih berjalan mundur. Namun Arsyana tetap diam. dia masuk ke dalam kelasnya.


"Aku akan menunggumu Ar," Teriak Aaron ketika Arsyana memasuki kelasnya. Membuat mahasiswa yang berada di sana menoleh ke arah pemuda itu. Beberapa dari mereka bergosip.


"Jual mahal banget tuh si Arsyana," cibir salah satu mahasiswi yang sedang duduk di luar kelas Arsyana.


"Cantik juga standard," tambah temanya yang duduk di sampingnya, sinis.


Harap-harap cemas Aaron menunggu di depan kelas Arsyana sesekali dia melihat jam Rolex-nya. Merasa takut kalo tiba-tiba Arsyana keluar tanpa sepengetahuanya.


...*****...


"Arya loe tau ga, kalo si Aaron udah balik?" ucap teman setimnya Arya. Dia tidak tau kalo sebenernya Arya melihat Arsyana dan Aaron ketika pemuda itu keluar dari kantin kampus.


"hhhhm"


Arya yang sedang membaca buku hanya membalasnya dengan deheman, dia berpura-pura focus pada bacaanya.


"Sekarang posisi loe mulai ga aman, apalagi si Aaron bawa mobil sports ke kampus, " timpa Toni, malah memanas-manasi.


Arya tetap diam, sambil menahan amarahnya. Pemuda itu beranjak ke luar kelas. Karena sebenarnya kelasnya sudah berakhir 10 menit yang lalu.


"Tuh anak di ajak ngobrol malah main pergi-pergi aja, " Keluh Toni. Dia juga ikut keluar bersama dua teman lainnya.


...*****...


Kelas Arsyana sudah berakhir. Namun Aaron tak menemukan gadis itu, ada diantara mahasiswa lainnya yang keluar berhamburan dari ruangan kelasnya.


Dengan teliti Aaron mengamati setiap orang yang keluar dari ruangan itu. Satu demi satu semua mahasiswa keluar, Arsyana masih tidak keluar juga. Sampai ketika tidak ada satu pun orang yang keluar lagi. Aaron bergegas masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa jika Arsyana masih berada di sana. Namun ruangan itu kosong, tak ada satu orang pun disana.


"Permisi, Kamu liat Arsyana," tanya Aaron ke salah satu mahasiswi yang masih duduk di depan kelasnya Arsyana.


"Eng_nga.." ucapnya terbata. Ternyata gadis itu salah satu pengagumnya Aaron.


"Aaron..." bisiknya girang ke teman di sampingnya.


"Arsyana, kamu benar-benar marah. Sebegitu niatnya, bahkan kamu pergi diam-diam tanpa sepengetahuanku," gumam Aaron. Dia menyesal kenapa tadi malah ngobrol yang ga penting dengan teman sefakultasnya.


"Aaron, loe kemana aja? Seorang pemuda menepuk bahu Aaron pelan, ternyata dia teman sefakultasnya.


" Ada, cuma ada sedikit urusan, " jawab Aaron singkat. Dia tidak focus sesekali matanya menengok ke belakang. Takut jika Arsyana pergi tanpa sepengetahuanya.

__ADS_1


"Oooh, pantesan lo lama ga masuk. ngomong - ngomong itu mobil loe, keren ya."


"ya." Mata Aaron masih menengok ke belakang.


Hanya beberapa menit obrolan itu berlangsung. Namun Arsyana bisa hilang dari pantauanya. "Aaron loe udah teledor, loe udah bikin satu kesalahan." gumam Aaron. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena hal itu.


...*****...


"Loe nyari si Arsyana?" ucap salah seorang mahasiswa ketika Aaron berjalan kesana kemari mencari Arsyana.


Aaron hanya mengangguk tak sabar mendapat informasi dari orang itu.


"Si Arsyana tadi di ruang rektor, beberapa menit lagi dia ada kelas bareng gue," ucap pemuda itu menjelaskan.


Aaron merasa lega. Dia berniat, kali ini ga boleh kecolongan lagi. Dia harus focus.


"Thanks bro," ucap Aaron sumringah. Dia menepuk pundak pemuda itu tanda sangat berterimakasih.


"It's ok." Pemuda itu tersenyum.


...*****...


Tanpa Arsyana ketahui Aaron berdiri di koridor dekat ruangan kelasnya. Aaron sengaja menunggu di sana karena dari sana Aaron bisa leluasa mengamati jika Arsyana keluar dari kelasnya.


Dengan membawa buku yang ia dekap di dadanya Arsyana berjalan begitu saja melewati Aaron. Wajahnya sedikit menunduk ketika lewat pas di depan Aaron.


Tak pantang menyerah Aaron mengekor di belakang Arsyana. Kali ini Aaron tidak mengatakan apa-apa dia mengekor kemanapun Arsyana pergi. Membuat Arsyana merasa tidak nyaman.


" Jangan Ikuti aku terus!"


Untuk pertama kalinya Aaron merasa senang di usir oleh seseorang. Karena ini adalah kalimat pertama yang Arsyana ucapkan setelah seharian bungkam.


Aaron Bergegas berjalan mendahului Arsyana. Sekarang Ia kembali berjalan mundur tepat di depan Arsyana.


"Maafin aku Ar!" Aaron memohon dengan mengepalkan kedua tanganya, matanya polos memperlihatkan ketulusanya meminta maaf.


Arsyana berusaha menghindar dari mata Aaron, dia tidak ingin tersihir oleh mata zamrud itu.


"Sudah ku bilang jangan Ikuti aku," ucap Arsyana, kesal.


"Aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi sebelum kamu memaafkan aku," ucap Aaron yakin.


Arsyana berlalu mempercepat langkahnya meski ia tau Aaron bisa mengejarnya. Langkahnya lebih panjang.


"Kruuk...."

__ADS_1


Perut Arsyana berbunyi. Dia ingat belum makan sejak pagi. Gadis itu bergegas pergi ke kantin, dari belakang Aaron masih mengikutinya.


"Bu aku mau nasi goreng dua, juice jeruk juga. Untuk Arsyana seperti biasa bakmie special. Tapi kali ini jangan terlalu pedas dia belom makan dari pagi."


Aaron duduk begitu saja di samping Arsyana, kemudian memesan makanan yang biasa mereka pesan membuat Arsyana kesal. Gadis itu pergi dari kantin, Aaron bergegas pergi mengikuti Arsyana dari belakang setelah sebelumnya menyisipkan sejumlah uang di bawah menu di atas meja.


Terlihat Arsyana pergi ke toilet wanita. Aaron tetap mengikutinya. Karena saking semangatnya hampir saja Aaron ikut masuk. Untung dia ingat kalo ini toilet wanita.


"Uffs... hampir saja." Aaron menepok jidatnya sendiri. Kalo tidak para cewek di dalam bahkan akan menghajarnya.


Aaron menunggu di luar, menyenderkan tubuhnya ke tembok, dua kakinya di silangkan. Terlihat dia memainkan salah satu kakinya. Sampai akhirnya Arsyana keluar melihatnya.


"Itu orang sudah gila apa, ngikutin aku sampe toilet," gumam Arsyana dalam hati.


Sejenak Arsyana menatap mata Aaron, namun kemudian dia membuang pandangan dan berlalu pergi. Aaron dengan cepat mengambil langkahnya kembali berjalan mundur tepat di depan Arsyana.


"Kemana kita sekarang? Apakah ada tempat yang lebih aneh dari toilet wanita?" goda Aaron ia tersenyum tengil.


Dalam hati Arsyana ingin tertawa, namun rasa kesalnya lebih besar dari itu. Hingga yang tersisa hanya muka juteknya.


Aaron terus berjalan mundur, tanpa sengaja kakinya menabrak sesuatu. Ia hampir terjatuh.


" Aaaw...." Reflek Aaron berteriak.


Arsyana yang dari tadi menahan tawa akhirnya tertawa kecil. Namun segera ia mengontrol dirinya.


"Nah gitu donk senyum," ucap Aaron senang. Namun Arsyana menghindari senyuman Aaron.


Arsyana pergi menuju halte bus. Karena hari ini motornya sedang di perbaiki di bengkel. Aaron bergegas mengambil mobilnya di parkiran. Dengan cepat ia menghampiri Arsyana yang tengah berdiri menunggu bus.


"Beep... beep... "


Aaron membunyikan klakson mobilnya. Kepalanya menyeringai keluar dari kaca mobil.


"Ayo bareng, aku juga mau pulang ketemu bibi Marisa," ucap Aaron semangat.


Namun Arsyana Bersikap seolah tidak ada orang di sana. Beberapa waktu Arsyana masih menunggu. Namun bus tak kunjung datang. Aaron keluar dari mobil sportnya berdiri di samping Arsyana.


" Ar, busnya lama, sebentar lagi hujan. Ayo pulang bareng aku!" Aaron menunjuk ke arah langit yang mendung.


"Taxi....," teriak Arsyana, memanggil taxi yang tiba-tiba lewat. Arsyana pergi tanpa menghiraukan Aaron. Melaju dengan taxi-nya.


"Gadis itu, sangat keras kepala," gumam Aaron. Dia mengeleng-gelengkan kepalanya.


... ... To be continued......

__ADS_1


__ADS_2