Ketika Pangeran Vampire Amnesia

Ketika Pangeran Vampire Amnesia
Bab 10 # Jalan-Jalan


__ADS_3

"Ar bosen ni, jalan-jalan yu!" ajak Aaron penuh harap.


"Eehhm..." Arsyana yang sedang duduk di teras depan rumah tidak merespon dengan baik. Dia sama sekali tidak focus. Hanya bermain dengan hp-nya, membuka dan menutup aplikasi sembarang.


"Ar...." Aaron menepuk pundak Arsyana pelan.


"I.. ya Aaron. Apa?" Arsyana terperanjat.


" Ayo jalan-jalan! kamu kan udah janji mo ajak aku keliling kota A. Aku juga ga pernah jalan-jalan selama disini. Ayo pergi!" Aaron nyerocos, berharap Arsyana merubah fikiranya.


" Besok lagi aja ya, please," pinta Arsyana memelas.


"Ga mau, aku maunya Sekarang," ucap Aaron menegaskan.


"Tapi_" Ucapan Arsyana terpotong.


Ga ada tapi tapian." Aaron menirukan gaya bicara Arsyana. Dia menarik Arsyana dari kursi bambunya, membuat dia beralih ke posisi berdiri.


"Iiiiiih Aaron." Arsyana menahan tawanya melihat gaya Aaron.


"Ayo Ar! Nanti aku yang masak bekalnya, sekarang kamu mandi." Aaron menuntun Arsyana ke kamar mandi. Sementara Arsyana masih ogah-ogahan mengikuti langkah Aaron.


" Iya, Iya... pergi sekarang. Senang? Tapi jangan tarik-tarik, aku bisa sendiri," ucap Arsyana meyakinkan. Dia melepaskan tanganya dari genggaman Aaron. Aaron tersenyum puas.


"Nah .... gitu donk. seneng la, seneng banget malah," ucap Aaron bersemangat. Dia memegang kedua pipi Arsyana dengan kedua tanganya, yang kemudian dia mainkan gemas. Membuat Arsyana tersipu.


Sementara Arsyana pergi mandi. Aaron menyiapkan bekal untuk nanti.


"Brang.....klontrang...kosreng."


Dengan semangat empat lima Aaron menyiapkan nasi goreng, sementara telur dadar di tungku lainnya. Dia pergi mencuci beberapa bawang dan cabai setelah sebelumnya memanaskan minyak di wajan sehingga minyaknya berasap. Aaron berlari kecil ke arah tungku dengan cepat mematikanya. Namun sialnya telor dadar yang dia masak sebagian gosong. "Ya.... Gosong," ucapnya. "Tapi cuma sedikit, ga apa-apa lah. Yang penting rasanya. Arsyana pasti ngerti hehe," ucapnya lagi tertawa sendiri.


...*****...


"Ayo Tuan Putri! Hamba sudah siap. Silahkan!" Aaron yang sudah duduk di motor mempersilahkan Arsyana untuk duduk. Setelah sebelumnya mengelap jok motor dengan lap yang sudah Aaron siapkan. Seperti pelayan yang melayani tuanya.


"Kamu yakin bisa pake motor?" tanya Arsyana merasa tidak yakin, dahinya mengerut.


"Tentu saja, dulu hamba mengendarai kereta kencana. Hamba siap melayani, ayo naik Tuan Putri!" jawab Aaron menyakinkan. Masih dengan gaya pelayanya.


"Apaan si Aaron. Aku bukan tuan putri, udah ah main-mainya. Ini bukan zaman kerajaan. Kereta kencana sama motor jelas beda," protes Arsyana. Merasa heran dengan tingkah Aaron. Namun sebenernya dia terhibur.


"Tenang aja Ar. Kali ini giliran ku," ucap Aaron menyakinkan. Dia tersenyum manis sekali.


...*****...


Baby, I'm dancing in the dark


With you between my arms


Barefoot on the grass


Listening to our favourite song


When you said you looked a mess

__ADS_1


I whispered underneath my breath


But you heard it


Darling, you look perfect tonight


La la la....


Dengan suara yang kencang dan fals Aaron bernyanyi di sepanjang jalan. Beberapa pengendara menoleh merasa aneh. Arsyana menahan tawa di belakang.


"Ketawa aja Ar, jangan di tahan, aku ga peduli sama orang yang penting hati senang " ucap Aaron sambil mengedipkan sebelah matanya. Arsyana hanya tersenyum.


"Ayo ikutan nyanyi, supaya suara fals ku ter-cover sama suara merdumu," tambah Aaron.


Akhirnya mereka bernyanyi bersama, sesekali terbahak. Aaron merasa senang melihat itu.


"Tunggu, tunggu, tunggu..." ucap Aaron ketika berpapasan dengan tukang balon gas keliling. Dia memarkirkan motornya kemudian berlari menghampirinya.


"Pa balon nya saya borong, berapa?" tanya Aaron antusias.


"Seratus Lima puluh ribu aja den," ucap bapak tukang balon,senang.


"ini Pak, kembalianya buat Bapak aja," ucap Aaron sambil menyodorkan uang 200 ribu.


"Terimakasih banyak den," ucap bapak itu berterimakasih. Matanya berbinar, senyuman merekah.


...*****...


"Kamu beli balon sebanyak itu buat apa?" tanya Arsyana penasaranan.


"Ar, tunggu ya," pinta Aaron tiba-tiba.


"Apalagi si, Aaron. Mo beli balon lagi?" tanya Arsyana lagi.


"Bukan Ar, ini panas banget. Tunggu ya aku mau beli ice-cream dulu."


Aaron pergi ke mini market terdekat. Dia membeli dua ice-cream coklat. Menurut hasil temuanya di Internet, coklat bisa membuat perasaan lebih relax.


"Ada ice-creamnya?" tanya Arsyana ketika Aaron kembali.


"Ada donk," jawab Aaron bangga.


"Kamu ga borong ice-creamnya kan?" goda Arsyana.


"Hahaha..." Aaron terbahak. "Ga lah Ar," ucapnya lagi.


"Sebelum ice-creamnya mencair lebih baik kita makan ice-creamnya dulu. Tuh disana ada bangku," ucap Aaron menyarankan. Sambil menunjukan bangku di taman, yang tak jauh dari sana.


"Enak banget ya panas-panas begini makan ice-cream." ucap Aaron, sambil menikmati ice-cream coklatnya dengan khusyu. Di bibir dan pipinya belepotan noda ice-cream. Arsyana menahan tawanya.


"Aaron, Aaron. Kamu emang ga pernah berubah. Kalo lagi makan pasti kaya anak kecil," gumam Arsyana dalam hati, merasa geli dengan tingkah Aaron.


Setelah puas keliling kota, mereka pun melanjutkan perjalanan.


"Tadi kamu udah ngajak aku keliling kota. Nah sekarang giliran ku membawa kamu ke suatu tempat," ucap Aaron sambil memasangkan kain hitam untuk menutupi mata Arsyana."Jangan ngintip ya!" tambahnya.

__ADS_1


"Kita mo kemana? Pake di tutup segala matanya," tanya Arsyana penasaranan.


"Aku mo culik kamu," goda Aaron dengan menirukan suara penjahat.


"iiiiiih Aaron." Arsyana memukul punggung Aaron gemas.


...*****...


"Tuan Putri, sekarang boleh buka tutup matanya." ucap Aaron, tak sabar melihat expresi Arsyana.


Dengan penuh semangat Arsyana membuka kain penutupnya. Dia sangat senang melihat danau berair bening terbentang luas. Senyumya merekah. Matanya focus, menjelajah ke setiap sudut.


" I'm surprised Aaron, Makasih," ucap Arsyana merasa senang.


" Tunggu, jangan berterima kasih dulu, masih ada surprise yang lainnya," ucap Aaron sok misterius.


"Apa itu?" tanya Arsyana penasaranan.


"This is it" ucap Aaron menirukan gaya chep Farah Queen, sambil memperlihatkan masakanya.


"hahaha..." Arsyana terbahak.


Di lahapnya nasi goreng dan telor dadar yang tadi Aaron buat. Meski rasanya keasinan dan telor dadarnya juga gosong, Arsyana tetap menghabiskanya. Aaron si tukang makan kini harus melongo, menonton Arsyana. Namun perasaanya begitu bahagia melihat Arsyana bisa tersenyum.


"Kayanya habis ini aku harus minum obat penurun darah," goda Arsyana. Karena menghabiskan nasi goreng yang keasinan.


"hehe... Maaf ya Ar, keasinan. Tadi aku terlalu bersemangat." Aaron menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.


"Arsyana ini buat kamu." Aaron menyodorkan spidol warna hitam.


"Apa lagi ini?" Arsyana penasaranan.


"Sekarang kamu tulis,, perasaan apapun yang mengganggumu. Mau itu marah, kesal, sedih, kecewa, apapun itu," ucap Aaron memberi Intruksi.


"Ok," jawab Arsyana singkat


"Ini udah," ucap Arsyana, beberapa saat kemudian setelah semua balon siap.


"Ayo kita berhitung sama-sama!" Aaron memberi Intruksi.


" 1......2.....3........ Sekarang lepasin balonya Ar! biar mereka bebas. Lalu teriak sekencang-kencangnya!"


"Aaaaaaaaaaah..."


Bersama-sama, mereka melepaskan semua balonya ke udara. Sama seperti melepaskan semua perasaan yang mengganggu dan menyesakan hati mereka. Balon-balon itu berhamburan bersama angin, semakin tinggi terbang ke angkasa. Perlahan menghilang, bersama perasaan yang harus di buang.


"By the way, thanks for today Aaron. Aku merasa lebih baik, " ucap Arsyana berterimakasih. Dia tersenyum cerah.


Aaron hanya tersenyum. "It's oke Ar, aku juga senang,"


"Tau ga Aaron? Tempat ini memiliki banyak kenangan untuku. Dulu aku dan kedua orang tuaku sering kesini. Karena suasana disini begitu tenang. Kami sering berkemah di sini. Membuat api unggun dan memancing ikan. Bahkan Ayah sampai membuatkanku sebuah ayunan di sana. Saat itu adalah saat terbaik dalam hidupku. Itu sebabnya, setiap kali aku merasa tidak baik atau ketika aku merindukan ayah ibuku. Aku akan pergi ke tempat ini." Arsyana bercerita dengan haru.


Aaron mendengarkan dengan penuh perhatian, menatap lekat wajah Arsyana. Mata Arsyana berkaca-kaca. Mata yang penuh kerinduan.


....... To be continued .... ...

__ADS_1


__ADS_2