
Seorang wanita berusia 34 tahun, duduk di sebuah kursi bambu di teras rumahnya. Wanita itu terlihat masih cantik dan muda di usianya yang ke 34. Sesekali dia menggigit-gigit bibir bawahnya yang tebal sexy. Matanya yang sayu sibuk mengechek hp yang selalu dia pegang di tangan kananya. Kadang, dia beranjak dari kursi yang sudah dia duduki selama berjam-jam, hanya untuk memeriksa jika ada seseorang yang datang.
"Arsyana, Bibi sangat khawatir, kenapa ga kabarin Bibi? Dari tadi Bibi berusaha chat dan telpon tapi hp kamu ga aktif, Bibi juga tanya Arya dan dia bilang bahkan dia pun sama susahnya menghubungimu." Serang bibi Arsyana khawatir. Namun merasa sedikit lega melihat Arsyana keluar dari taxy. Dia beranjak berjalan menghampiri Arsyana.
"Pak bisa bantu saya?"
"Tentu Nona."
Dengan sedikit kesusahan, akhirnya Driver taxy bisa mengeluarkan tubuh pria asing itu, yang kemudian membopongnya masuk ke dalam.
"Siapa itu, Arsyana? Kenapa dia pingsan?" tanya bibi Arsyana penasaran, dahinya mengerut, semakin mendekat menghampiri sopir taxi dan Arsyana yang sedang membopong pria asing itu. Dia terlihat khawatir melihat Arsyana membawa pria asing dalam keadaan pingsan. Apalagi jam sudah menunjukan pukul 11 malam.
"Ceritanya panjang Bi, nanti aku ceritakan," jawab Arsyana, seraya meletakan tubuh pria itu ke tempat tidur di ruang tamu.
Pria itu masih tergeletak pingsan. Hanya berganti tempat saja dari atas tanah yang dingin ke atas kasur yang hangat. Tubuh tinggi dan kekarnya seolah tak berdaya, ketika driver taxi membantunya berpakaian. Untung masih ada baju ayah Arsyana disana. Walaupun celananya kependekan. Karena posture tubuh ayah Arsyana lebih pendek. Bibi Arsyana masih menyimpan baju-baju itu di kamar ayah ibu Arsyana. Bahkan semua barang-barang di kamar itu masih tetap sama berada di tempatnya. Dia tidak pernah merubahnya, hanya sesekali membersihkanya dari debu.
Arsyana pergi untuk mengambil air hangat dan wash lap berniat membersihkan kotoran dari wajah, tangan dan kaki pria itu.
Dengan lembut tangan Arsyana mengusap wajah pria asing itu, matanya focus memandangi pria itu lekat-lekat. Masih banyak pertanyaan di benaknya. Dia tidak sabar menunggu pria itu bangun, jiwa detective-nya meronta-ronta. Tak terasa matanya mulai menutup, sebentar lagi kesadaranya akan sepenuhnya terenggut.
...******...
"Namaku Arya, nama kamu siapa?" sapa seorang anak kecil berumur 8 tahunan, sambil mengulurkan tanganya. Senyumnya yang manis masih mengembang, menunggu balasan dari seorang gadis kecil yang sedang duduk termenung di bawah pohon mangga yang rindang, bersama boneka kelinci pink yang dia peluk erat-erat.
"Arsyana." Jawab anak perempuan itu singkat, seraya berlalu meninggalkan anak kecil itu. Dia masih mengulurkan tanganya walau tanpa balasan.
"Oh .... Arsyana," gumam anak kecil itu, tersenyum. Matanya melirik, mengikuti Arsyana kecil yang semakin menghilang.
Dengan lembut tangan kekar itu mengusap air mata Arsyana yang membasahi pipinya. Matanya sayu memperhatikan wajah Arsyana yang masih terlihat cantik meski sedang tertidur. Namun Gadis itu masih duduk terlelap, dengan tangan yang menelungkup di pinggiran tempat tidur.
"Arya ..."
__ADS_1
Arsyana terperanjat bangun dari tidurnya. Tak sadar berteriak memanggil nama Arya. Matanya bertabrakan dengan mata zamrud yang masih menatapnya lekat sembari tersenyum polos.
"Eh kamu sudah bangun, tunggu aku siapin kamu sarapan!" ucap Arsyana gelagapan. Dia beranjak dari kursi, membenarkan rambut panjang lurusnya yang sedikit berantakan. Kemudian pergi dari kamar tamu, meninggalkan pria asing itu yang masih dalam posisi yang sama.
Mimpi itu masih membayang di benak Arsyana. Teringat kembali kenangan itu, ketika Arsyana kecil pertama kalinya bertemu Arya. Waktu itu Arsyana berumur 7 tahun. Gadis kecil itu selalu murung. Traumatic yang di deritanya membuat dia lebih suka menyendiri. Hanya boneka kelinci pink, yang selalu ia bawa kemana pun dia pergi. Orang tua Arsyana meninggal karena kecelakaan. Hari itu adalah ulang tahun Arsyana. Mereka berencana pergi ke wahana permainan untuk merayakan ulang tahun Arsyana. Namun naas nasib buruk menimpa mereka. Di perjalanan mobil mereka mengalami kecelakaan. Mobil orang tua Arsyana bertabrakan dengan truck. Arsyana kecil yang duduk di bangku belakang hanya pingsan dan mengalami luka-luka, karena ibu Arsyana melindungi dia dengan badannya sampai akhirnya meninggal dunia. Sementara Ayah Arsyana yang menyetir di bangku depan harus meninggal dengan luka yang sangat parah. Arya kecil yang tak pernah menyerah membuat Arsyana tersenyum, perlahan bisa menyembuhkan traumatic yang di alami Arsyana.
"Kruk.."
Terdengar suara perut pria asing itu keroncongan, meminta di isi, tanpa sadar dia berjalan ke arah dapur mengikuti wangi makanan yang sedang di masak Arsyana dan bibinya.
"Kamu lapar ya? " tanya Arsyana ketika melihat pria itu berjalan ke arah dapur. Tanganya sibuk mempersiapkan hidangan di atas meja makan.
Pria asing itu berdiri mematung, sambil memegangi perutnya, dengan muka yang polos. Arsyana berusaha menahan tawa melihat tingkah pria itu yang seperti anak kecil, di tambah celana yang ia kenakan hanya sampai betis.
"Semua hidangan sudah siap, kalian pasti sudah lapar, yo kita makan!" ajak bibi Arsyana yang datang membawa semangkuk besar nasi goreng.
Terlihat bermacam makanan terhidang di atas meja makan. Wangi makanan itu menusuk cacing-cacing yang ada di perut pria asing itu, sampai mereka berontak.
Tanpa fikir panjang pria asing itu melahap banyak makanan, ayam goreng, nasi goreng, roti, selai, gorengan, bahkan buah, tanpa menggunakan sendok.
"Ngomong- ngomong aku harus manggil kamu apa?" tanya Arsyana membuka percakapan. Tapi pria itu hanya menggeleng dan focus pada makananya.
"Apa kamu ingat, dari mana kamu berasal dan di mana rumahmu?" tanya Arsyana tak putus asa. Jiwa detective-nya masih belum puas. Namun dengan polosnya pria itu masih menggeleng.
"Kalo begitu apa kamu ingat kenapa kamu bisa ada di hutan?" tanya Arsyana lagi. Namun pria itu tetap menggeleng.
"Udah-udah sesi tanya jawabnya, biarin tamu kita makan dengan tenang!" sanggah bibi Arsyana tiba-tiba. Namun pria asing itu malah focus pada makananya. Seperti orang yang baru menemukan makanan.
"Gimana kalo Aku panggil kamu Aaron, yang artinya cahaya. Bagus bukan?" kata Arsyana lagi memberi ide. Dengan mulut penuh makanan akhirnya pria itu mengangguk setuju.
Arsyana dan bibinya di buat terheran-heran, dengan sikap Aaron yang polos seperti anak kecil. Cara makanya terkesan bar-bar namun menggelikan.
__ADS_1
Seperti sudah kenyang saat melihat nafsu makan Aaron yang besar. Bibi dan ponakan itu hanya saling menatap sambil menahan tawa.
"Groak...." Pria asing itu bersendawa dengan kerasnya. Namun dia masih melanjutkan makanya.
" Bruuuutt...." Tiba- tiba suara buang gas dari pria itu memecah kesunyian. Arsyana dan bibinya hanya bisa menahan nafas. Karena bau yang di timbulkan.
"Ayo aku tunjukan dimana kamar mandi nya," kata Arsyana seperti mengerti kalo saat ini yang di butuhkan Aaron adalah toilet.
Arsyana beranjak dari ruang makan ke toilet yang tak jauh dari sana. Di susul Aaron yang mengikutinya dari belakang.
"Ini kamar mandinya dan itu toiletnya," kata Arsyana menunjukan dimana letak toiletnya.
Terlihat kamar mandi berukuran 2 x 3m, dengan toilet dan kamar mandi yang tersekat dinding kaca semi transfaran.
Pria asing itu masuk kedalam, mondar mandir seperti tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Di sentuhnya semua benda yang ada di sana. Namun dia teringat kata-kata Arsyana ' Di sebelah sana toiletnya'. Di bukannya tutup kloset duduk itu, kemudian dia duduk disana. Ditariknya shower closet yang ada di samping kloset. Dia perhatikan lekat lekat. Namun ketika dia tarik tuasnya, air muncrat membasahi muka dan sebagian bajunya.
...******...
"Oh tuhan, kamu basah kuyup," kata Arsyana ketika melihat Aaron yang basah kuyup.
"Bentar, aku ambilin kamu baju dan handuk. Kamu mandi aja!" kata Arsyana lagi, sambil berlalu pergi ke kamar orang tuanya untuk mengambil baju ganti.
"Hahaha hahaha"
Arsyana tidak bisa menahan tawanya lagi, dia sudah menahanya cukup lama. Di kamar itu, akhirnya tawa itu terlepas seperti bomb. Arsyana tertawa terbahak- bahak, seperti lupa akan kesedihan dan masalahnya dengan Arya.
"Oh Aaron, Kamu lucu banget haha... Sebenernya siapa kamu? Ko bisa sepolos itu? Apa kamu orang dari pedesaan? Hahaha..."
Gadis itu tertawa sampai mengeluarkan air mata, dia memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa sambil duduk di atas lantai dekat kasur.
Karena kebanyakan tertawa, Arsyana merasakan sesuatu mendesak di bagian intimnya. Arsyana segera pergi ke toilet untuk buang air kecil. Namun apa yang di temukanya dalam closet. Aaron pergi dari toilet tanpa menyiramnya.
__ADS_1
...... To be continued ... ...