
Dokter mengatakan kalau Aaron baik-baik saja, tidak ada penyakit yang berarti. Dia hanya butuh istirahat untuk beberapa saat. Sehingga ia di perbolehkan pulang.
"Hhhhhhh... Wangi banget," ucap Aaron. Hidungnya mengendus bau makanan yang lezat, ketika baru memasuki rumah.
"Aku lapar banget." Aaron mengusap-usap perutnya.
Arsyana yang melihatnya hanya tersenyum. "Dasar tukang makan," gumam Arsyana. Dia merasa senang Aaron telah kembali.
"Apa Ar?" Aaron merasa mendengar sesuatu.
"Ga apa-apa." Arsyana mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum tengil.
"Wah kalian sudah datang," ucap bibi Marisa yang berjalan mendekat untuk menyambut mereka.
"Bi aku lapar," ucap Aaron to the point.
"Bibi sudah siapkan hidangan spesial untuk kalian, ayo kita makan!"
Aaron dengan semangat berjalan menuju ruang makan. "Aaron si tukang makan telah kembali, haha..." ucap Arsyana terbahak, membuat bibi Marisa juga ikut terbahak.
Aaron duduk di meja makan. Matanya berbinar melihat banyaknya hidangan yang bibi Marisa sudah siapkan. Tanpa basa basi dia langsung melahap semua makanan dengan lahapnya. Bibi Marisa dan Arsyana sangat senang melihat Aaron telah kembali. Mereka saling menatap seraya tersenyum cerah.
...*****...
Arsyana termenung memandangi photo orang tuanya. Dia mengingat masa-masa indah bersama mereka. Ketika Arsyana kecil tidak berselera makan, ibu yang berlari mengejar untuk menyuapinya. Kemudian Ayah Arsyana yang selalu memperlakukan Arsyana seperti tuan putri. Arsyana senang sekali ketika menari di udara atau di bopong di pundak Ayahnya.
"Aku tidak mau makan ibu, aku tidak suka sayur." Arsyana kecil menutup mulutnya rapat. Dia menggeleng setiap kali sendok di sodorkan ke mulutnya.
"Sayang coba dulu ini enak." Tak patah semangat, ibu Arsyana terus mencoba. Namun lagi dan lagi Arsyana menolaknya dengan menutup mulutnya rapat. Bahkan Arsyana berlari menjauh. Sampai ibu Arsyana harus mengejarnya.
"Ibu ayo kejar aku. Hahaha..."
Bukannya makan Arsyana kecil malah ingin bermain kejar-kejaran. Namun dengan sabarnya ibu Arsyana menuruti kemauan putri semata wayangnya.
"Tertangkap. Nah itu artinya putri manis ibu harus makan walaupun sesuap," bujuk Ibu Arsyana. Ia menangkap dengan kedua tanganya mendekap Arsyana dalam pelukanya. Arsyana yang mencoba lari, di gelitiknya dengan sayang. Arsyana tertawa terbahak, " hahaha... "
__ADS_1
"Yah, ibu curang. Aku ga suka sayur bu," protes Arsyana, mulutnya membulat.
"Arsyana mau ga punya mata yang indah seperti putri Cinderella?" Ibu Arsyana mulai melancarkan aksinya.
"Iya mau," jawab Arsyana polos. Dia duduk di pangkuan ibunya.
"Ibu tau caranya," ucap ibu meyakinkan.
"Gimana bu?" Arsyana menoleh ke arah ibunya.
"Makan wortel ini, di dalam wortel ada kandungan vit A yang baik untuk mata. Jadi kalau putri cantik ibu ingin memiliki mata yang bersinar indah. Putri cantik ibu harus makan wortel ini," ucap Ibu Arsyana berusaha mengedukasi.
"Oh gitu ya bu." Arsyana mulai membuka mulutnya, "aaaa."
"Wah ternyata wortel enak ya bu." Lagi dan lagi Arsyana melahap suapan demi suapan, hingga akhirnya piring itu kosong tak bersisa.
"Anak ibu pintar," ucap ibu Arsyana tersenyum cerah. Dia mengelus rambut Arsyana sayang.
"Wah wah Putri raja Ayah pintar sekali, makan sayur sampai habis."
Ayah Arsyana mengangkat putri semata wayangnya. Berputar seperti sedang berdansa di atas awan. Dia baru saja pulang dari kantor. Namun rasa lelahnya seperti terobati oleh senyuman putrinya .
...*****...
"Ar cepat siap-siap!" Aaron merebut hp Arsyana yang dari tadi ia mainkan. Menuntun Arsyana ke kamarnya, kemudian menutup pintu kamarnya.
"Kita mau kemana Aaron?" tanya Arsyana merasa bingung. Ia membuka pintu kamar yang tadi Aaron tutup. Menyeringai, berbicara lewat selah pintu yang ia buka hanya sepas badan.
" Rahasia. Tapi kamu pasti suka," ucap Aaron tersenyum sok misterius.
" Ga mau...bilang dulu, ini udah mau jam 10. Mo ke mana kita malam-malam begini." Arsyana coba bernegosiasi.
" Nona Arsyana yang bawel, I hv surprise for you, it's big surprise. Jadi namanya surprise ga boleh di bilangin," ucap Aaron gemas. Ia memegang kedua pipi Arsyana, mencubitnya pelan, membuat Arsyana tersipu, kemudian pemuda itu kembali menutup pintu kamar Arsyana yang membuat gadis itu terpaksa masuk.
Dengan loose t-shirt warna putih bergambar anime dan raped jeans navy, di tambah syal berwarna senada yang Arsyana lilitkan di leher membuat ia terlihat cute. Sejenak Aaron tak bisa berkedip melihat pesona Arsyana.
__ADS_1
Dengan boots-nya Arsyana berjalan mendekati Aaron. " Hey, aku sudah siap." Arsyana menepuk pundak Aaron pelan.
"Eh... Iya, sekarang pake ini! " Aaron menyodorkan kain berwarna hitam untuk menutupi matanya.
"Sebegitu rahasianya ya? Sampe harus pake penutup mata."
Aaron melaju dengan sepeda motor memecah jalanan ibu kota. Sementara Arsyana yang duduk di belakang Aaron menebak-nebak kemana mereka akan pergi.
" Ke danau? ga mungkin ini udah terlalu malam. Lagi pula Aaron ga beli balon atau pun ice-cream seperti dulu. Hehe."
"Oh ya, ke Restauran lebih masuk akal. Mungkin si Aaron tau kalau aku lagi BM banget makan seafood, hehe."
"Atau mungkin nonton? Udah lama banget aku ga nonton. Di bioskop kan ada film baru. Mungkin si Aaron kasihan gadis malang ini ga ada yang ngajak nonton. Hehe."
Arsyana asik menebak-nebak dan menjawabnya sendiri. Bahkan ia mengarang sesuai persepsinya sendiri tentang mengapa Aaron mengajaknya ke salah satu tempat yang ia tebak. Membuat gadis itu tertawa geli.
" Kita sudah sampai, sekarang penutup matanya boleh di buka."
Dengan sangat excited Arsyana membuka kain hitam yang menutupi matanya. Gemerlap lampu warna warni seperti menyambutnya. Berbagai macam permainan seakan sudah bertahun-tahun menanti kedatanganya.
Arsyana tersenyum cerita melihat semua itu kini ada di hadapanya. Matanya berbinar melihat wahana permainan yang dulu akan dia kunjungi bersama orang tuanya. Tanpa dia sadari air mata menetes di pipinya. Mengingat masa-masa indah bersama kedua orang tuanya.
Aaron menghapusnya dan berkata, "Arsyana orang tuamu ingin kamu bahagia, jadi kamu harus bahagia setidaknya untuk orang tuamu!"
"Sekarang ga boleh ada sedih-sedihan, ayo kita main sepuasnya!"
Aaron menarik tangan Arsyana menuntutnya ke salah satu permainan yang ada di sana. Permainan pertama yang ia pilih adalah kuda berputar.
"Silahkan Tuan Putri, kuda Anda sudah siap!" ucap Aaron mempersilahkan. Dia berlaga seperti Pangeran di negeri dongeng.
Arsyana naik ke punggung kuda-kudaan. Tak henti dia tertawa, seperti anak kecil yang tak memiliki beban. Begitu manis dan polos, membuat Aaron yang melihatnya merasa bahagia. Aaron melambaikan tanganya ketika kuda Arsyana lewat di depanya.
"Aaron ayo naik! Ini sangat menyenangkan," teriak Arsyana.
"Hamba akan menjaga Tuan putri disini. Tuan putri main saja sepuasnya!" ucap Aaron.
__ADS_1
"Arsyana kamu harus selalu bahagia seperti ini!" gumam Aron. Matanya focus melihat Arsyana yang tersenyum bahagia.
........ To be continued.... ...