
Setelah hampir satu bulan lamanya Aaron pergi. Akhirnya dia kembali. Awalnya dia berniat untuk tidak kembali. Namun setelah mengetahui tentang darah suci yang di maksud Duke adalah milik Arsyana. Aaron merasa harus melindungi Arsyana. Di samping itu Aaron memiliki janji pada dirinya sendiri untuk mewujudkan mimpi-mimpi Arsyana.
"Arsyana maaf, aku hampir mengingkari janjiku sendiri. Tapi kali ini aku akan memperbaiki semuanya. Aku tak peduli lagi jika kamu akan membenciku atau marah padaku," gumam Aaron.
Sepanjang jalan yang mobilnya lewati. Mengingatkan Aaron pada masa indah yang di laluinya bersama Arsyana. Ketika berangkat ke kampus, mengantarkan pesanan catering, dan yang terakhir berkeliling kota.
Baby, I'm dancing in the dark
With you between my arms
Barefoot on the grass
Listening to our favourite song.....
Aaron tersenyum sendiri mengingat Arsyana yang tertawa di belakangnya. Saat itu Aaron menyanyikan lagu 'Perfect' dengan nada fals dan suara yang kencang. Sehingga pengendara motor lainnya melirik ke arah Aaron.
Mata Arsyana yang berbinar dan senyumanya yang ceria, ketika melihat Aaron makan dengan lahapnya, seperti orang yang tidak pernah makan.
Cerewetnya Arsyana ketika meminta Aaron melakukan sesuatu.
Semua itu tergambar sangat jelas di benaknya.
"I miss you Arsyana." Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutnya.
...*****...
"Tuan muda...." Aaron menoleh ketika seseorang memanggilnya.
"Damian.." ucap Aaron yang hendak memasuki kamarnya.
"Seperti yang Hamba janjikan dulu, Hamba akan menyambut Tuanku ketika Tuanku kembali."
Damian membungkukan punggungnya tanda memberi hormat. Aaron tersenyum sebagai balasan.
"Jangan terlalu formal padaku! Kita ini adalah teman, kita juga seumuran."
"Sebenernya ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tentang sesuatu yang ingin kau katakan sebelum kau menghilang," selidik Aaron penasaran. Tidak sabar ingin mendengar jawaban.
"Dan kenapa malam itu kamu tidak datang menemuiku?" tambahnya lagi.
"Hal itu pula yang ingin hamba sampaikan hari ini. Tapi kita tak bisa bicara disini. Seperti pepatah bilang, dinding pun bisa berbicara, mereka juga punya mata."
Mereka berdua bergegas pergi ke rumah pohon Aaron.
__ADS_1
"Tuanku harus berhati-hati pada saudara tiri tuan. Dia berkonspirasi dengan para Lycan untuk membunuh Tuanku. Untuk merebut tahta kerajaan vampire. Sehingga mereka bisa dengan mudah menguasai dunia kegelapan." ucap Damian menjelaskan.
"Satu lagi Tuanku. Darah suci yang di incar Duke dan di butuhkan Ayahmu adalah milik Arsyana. Hamba yakin Tuanku lebih bijak," ucap Damian menambahkan.
"Lalu kenapa waktu itu kau tiba-tiba menghilang?" selidik Aaron.
"Para Lycan itu menyekap hamba. Mereka tidak ingin hamba membocorkan rahasia tuan Duke."
"hhhhh..."
Aaron menarik nafas panjang mengingat percakapanya dengan Damian saat dia pergi ke castile-nya. Selain janji Aaron pada dirinya sendiri. Hal itu juga yang akhirnya mendorong Aaron untuk kembali. Dia merasa harus melindungi Arsyana. Dia tak ingin Arsyana terluka.
...*****...
Semenjak Aaron pergi Arsyana menjadi lebih pendiam. Dia merasa kecewa karena Aaron pergi tanpa berpamitan.
Hari itu Arsyana pergi ke kantin untuk minum coffee sambil mengerjakan beberapa tugas kuliahnya. Mata gadis itu terpaut pada satu meja. Dia ingat dulu dia dan Aaron biasa makan di sana.
"Arsyana boleh aku tambah lagi," ucap Aaron dengan polosnya. Senyumnya yang seperti anak kecil membuat Arsyana tak kuasa menolaknya.
Sejenak Arsyana tertawa mengingat semua itu. Namun raut mukanya berubah sedih.
"Sudahlah Arsyana, jangan kau ingat-ingat lagi! Nasibmu tak sebaik itu," gumam Arsyana merasa frustasi.
"Sudahlah Tresh, kasian. Dia cuma cewek untuk taruhan. Hahaha," timpal Tara, puas.
Semenjak Aaron pergi, tak jarang cewek-cewek pengagum Aaron khususnya geng elite mencibir dan menyindir Arsyana. Mereka berkata kalo Arsyana hanya gadis untuk taruhan. Namun Arsyana coba untuk tak menghiraukanya.
" Apaan si loe Tresh. Loe lupa peringatan dari gue?" ancam Arya. Matanya tajam menatap ke dalam mata gadis sexy itu.
Waktu itu ketika Treshy mengunci Arsyana di kamar mandi yang rusak. Arya memperingatkan Treshy untuk tidak mengganggu Arsyana lagi. Kalau tidak dia harus membayar mahal.
" Arsyana aku ingin bicara," ucap Arya. Namun gadis itu berlalu tanpa sepatah katapun setelah membereskan laptop dan buku-bukunya. Di dalam benak Arsyana merasa tak ada yang benar-benar mencintainya, semua pria egois. Datang dan pergi seenak jidatnya.
...*****...
Dari Bugatti Centodieci, Aaron keluar menggunakan setelan kemeja putih pas badan dipadukan celana chinos abu. Setelan itu begitu fit di badan Aaron yang Atletis.
"Ga ada tapi tapian. Kamu kan ga ada baju. Cobain!" Arsyana memaksa, nada suaranya mengeras, matanya membulat.
Aaron tersenyum mengingat bagaimana bulatnya mata Arsyana waktu itu. Dia melihat sekilas kemejanya, dia begitu bangga mengenalkan baju pilihan Arsyana. Meski bukan barang branded namun memiliki nilai yang tinggi di hati Aaron. Mobil sport atau jam bermerknya seakan tak berarti lagi.
Pesona Aaron tak pernah memudar di tambah Mobil Sport seharga 10 juta dollars, membuat mata semua orang tertuju pada Aaron. Namun tujuan pemuda itu hanyalah Arsyana.
__ADS_1
Aaron berjalan dengan gagahnya sesekali mata zamrudnya mencari keberadaan Arsyana.
Langkahnya terhenti di perpustakaan, dia ingat kejadian lucu di sana.
"Eeeeeeeuuuuuu..."
Aaron bersendawa kencang sekali membuat semua orang menoleh ke arahnya. Arsyana menahan tawanya. Ia menggerakan matanya memberi isyarat agar Aaron focus. Arsyana tak ingin Aaron merasa malu.
"Berapa banyak makanan yang kamu makan tadi?" selidik Arsyana. Dia berbisik menggunakan buku yang dia pakai untuk menutupi mukanya.
"Hehe, banyak," ucap Aaron malu dengan wajah polosnya.
Aaron tertawa sendiri mengingat semua itu.
"Hey, Aaron. Kemana aja loe." Mita menepuk pelan bahu pemuda itu. Aaron hanya membalasnya dengan senyuman.
"Mit, loe liat Arsyana ga?" tanya Aaron mengalihkan pembicaraan.
"Apa kalian bertengkar? Udah lama gue ga liat kalian sama-sama. Si Arsyana sekarang sering ga focus," selidik Mita, peduli. Dia malah balik bertanya. Aaron terdiam sejenak kemudian tersenyum penuh misteri.
" Ni anak, di tanya malah senyam senyum. Si Arsyana tadi di kantin." Mita merasa gemas.
Dengan penuh semangat Aaron berjalan ke arah kantin. Tiba-tiba pandanganya terkunci. Gadis yang ia cari-cari kini ada di hadapanya. Sejenak mereka saling menatap.
"Aku tau kamu marah dan kecewa Ar," gumam Aaron. Pandanganya tak mau lepas
"Kenapa kamu pergi tanpa pamit Aaron? Ada apa sebenernya? Kemana kamu pergi, dimana kamu selama ini? Sebenernya kamu anggap aku apa?."
Begitu banyak pertanyaan di benak Arsyana. Ingin sekali ia bertanya pada Aaron langsung. Namun kekecewaan yang ia rasakan menutup mulutnya rapat.
" Kamu pantas marah Ar, aku takan mengeluh," gumam Aaron pasrah
" I miss you Aaron. Ingin rasanya aku berhambur ke pelukanmu. Namun hati ini terlanjur sakit," gumam Arsyana.
Seperti saling mengerti satu sama lain, mereka bersahut-sahutan dalam hati masing masing.
" Ar _"Ucapan Aaron terhenti. Arsyana berlalu begitu saja melewati Aaron tanpa mengatakan sepatah katapun.
Deg....
Entah mengapa meski Aaron sudah siap menerima semua konsekuensinya. Namun sikap Arsyana memukul mundur hatinya. Seolah ada sesuatu yang menonjok hatinya keras.
....... To be continued.......
__ADS_1