
Aaron menatap lekat wajah Arsyana yang dari tadi sibuk dengan hp-nya. Dia teringat kejadian kemaren di koridor. Ketika hendak pergi ke toilet. Pemuda itu menemukan Arsyana yang sedang termenung sedih. Mata yang berkaca-kaca itu masih tergambar jelas di ingatan. Entah mengapa Aaron sungguh tidak menyukainya. Dia bertekad untuk melindungi dan menjaga Arsyana sebisa mungkin.
"Aaron, Aaron," panggil Arsyana. Dia melambai-lambaikan tanganya di depan muka Aaron yang asik melamun.
"eh i_ya," ucap Aaron terperanjat.
"Ada apa? ayo ke perpus! aku butuh beberapa buku untuk bahan presentasi."
Aaron hanya menggeleng dan mengikuti Arsyana pergi ke perpus.
...*****...
"Si Arsyana beruntung banget ya dapetin Aaron."
" Eh, menurut si A, anak fakultas ekonomi mereka sudah tinggal bersama lo, apa mungkin, mereka akan segera menikah?"
"Bukannya Arsyana masih pacarnya Arya?"
"Si Arsyana itu...."
"Si Arsyana....."
"Stoooop!"
Arya seakan memerintah fikirannya sendiri untuk tidak mengingat kata-kata para cewek di kampus. Pemuda itu akan menemukan semua kebenaranya dengan mengikuti kemana pun mereka pergi.
Hari ini selepas kelas, Arya siap siaga untuk memulai aksinya. Dengan hati-hati, Arya berjalan mengikuti Aaron dan Arsyana. Ketika dia melihat mereka akan masuk ke perpus. Arya menunggu waktu yang tepat sampai mereka masuk duluan. Sesaat setelah itu Arya masuk diam-diam mencari tempat yang tepat, supaya bisa melihat bahkan mendengarkan percakapan mereka. Dengan buku yang terbalik dia menutupi wajahnya, pura-pura membaca. Matanya mencoba mengintip dari balik buku.
"Hey... buku loe kebalik tuh," ucap seorang mahasiswa yang duduk tak jauh dari Arya.
"Eh i_yah. Thanks," jawab Arya pelan. Dia memeriksa dan membenahi posisi bukunya dengan tangan yang gemetaran.
Sontak hal itu membuat Aaron dan Arsyana menoleh. Mata Arya dan Arsyana bertabrakan untuk pertama kalinya setelah putus. Dalam beberapa saat mereka saling menatap, membuat mereka merasa salah tingkah. Raut muka Arsyana berubah sedih. Aaron yang menjadi saksi saat itu hanya bisa terdiam.
"Ah sial, hampir saja," ucap Arya jengkel.
Tak Pantang menyerah Arya kembali mengikuti mereka. Sepertinya mereka akan keluar dari area kampus. Dengan Topi dan kacamatanya, Arya siap jadi penguntit. Tak lupa juga, sepeda motor matic yang sengaja ia pinjam dari temanya, untuk menemani aksinya.
" Persiapan sudah matang. Arya kamu harus focus!" perintah Arya pada dirinya sendiri.
Dengan sangat hati-hati Arya melaju dengan motornya. Selalu memberi jarak, sangkan tidak ketahuan.
Dari kejauhan terlihat Aaron dan Arsyana memasuki pasar traditional. Buru-buru Arya memarkirkan motornya. Kemudian menggantung helmnya asal.
__ADS_1
Ketika Aaron menengok ke belakang, Arya segera sembunyi di antara orang-orang yang ada di sana, untungnya saat itu pengunjung pasar sangat ramai.
"Eh Mas ganteng ikut belanja lagi," ucap pedagang sayur yang kemaren.
"Mas ini udah ganteng, rajin belanja lagi. Pasti di sayang mertua," ucap pedagang itu menambahkan.
"Mas ganteng, ayo belanja di sini, ada discount spesial, khusus untuk mas ganteng," ajak ibu penjual daging yang tak jauh dari sana. Dengan suara khasnya yang mengayun.
Aaron hanya tersenyum, dengan beberapa barang belanjaan di tanganya. Dan Arya yang mendengarnya mencibir sebal.
Setelah lebih dari 30 menit berbelanja, akhirnya Aaron dan Arsyana keluar dari pasar. Kali ini mereka tidak menggunakan motor. Tetapi berjalan menuju cafe yang tak jauh dari sana.
Dengan penuh perhatian Arya mengawasi mereka. Pandanganya tak pernah lepas. Dengan hati-hati dia mengikuti mereka sampai ke cafe.
Cafe itu terlalu sepi untuk Arya masuki. Terlalu berbahaya, bisa-bisa dia ketahuan. Arya hanya bisa mengamati mereka dari jauh.
Terlihat mereka ngobrol begitu asik. Sesekali mereka tertawa. Dan menikmati coffee masing-masing.
"coffee-nya enak Ar, makasih ya udah traktir," ucap Aaron seraya menyeruput coffee Americano kesukaanya.
"My pressure Aaron. Aku kan udah janji. Secangkir coffee untuk kamu sang penyelamat kakiku. Kalo ga ada kamu tamatlah. hehe," goda Arsyana mengingat kejadian di dapur.
"By the way gimana kampusnya. Kamu betah?" tanya Arsyana, sambil memainkan sedotan di salted caramel java chip-nya.
"Betah aja, kampusnya nyaman ko. Apalagi makananya enak-enak. Hehe," canda Aaron.
Di luar Sana
"Apa yang mereka bicarain? asik banget."
"Tuh ... tuh, pake acara ketawa lagi."
Arya masih menunggu di luar dengan perasaan campur aduk. Benaknya penuh dengan banyak pertanyaan. Sampai akhirnya mereka keluar dan mengambil motor, kemudian melaju dengan motornya.
...*****...
Arya men-starter motor matic-nya, bersegera membuntuti mereka.
"Rasanya aku kenal jalan ini," gumam Arya mulai khawatir.
...*****...
"Arya, dorong lebih keras!" pinta Arsyana kecil untuk membuat ayunanya melaju lebih cepat. Dia tertawa bahagia.
__ADS_1
"Iya Arsyana." Dengan semangat empat lima Arya mendorong lebih keras. Ayunan Arsyana kini melaju kencang. Sehingga hampir menyentuh langit. Arsyana percaya ketika ayunanya bisa menyentuh langit, itu artinya dia bisa melihat ayah ibunya yang telah tiada.
"Sebentar lagi, sebentar lagi aku bisa melihat ayah dan ibu," ucap Arsyana dengan penuh semangat.
Entah berapa kali mereka mencoba membuat Ayunan lebih tinggi dan tinggi lagi. Entah seberapa keras mereka mencoba. Namun mereka tak pernah berhasil melihat Ayah dan ibu Arsyana.
...*****...
Arya tersenyum, merasa geli mengingat kepolosan mereka berdua di waktu kecil. Kini sepeda motornya semakin mendekati rumah Arsyana.
"Jalan ini....." gumam Arya mengingat hal yang ia lakukan di masa kecil bersama Arsyana.
"Arsyana focus, ayo terus kayuh, kamu pasti bisa!" ucap Arya kecil menyemangati. Dia berlari mengejar Arsyana yang sedang belajar mengendarai sepeda.
"Lurus..., lurus, Arsyana. Awaaass ada pohon!" ucap Arya memberi peringatan. Namun sepeda yang dari tadi melaju tidak stabil. Akhirnya harus menabrak pohon.
"Aaaaaaaaa..."
Gubrak
"Arsyana kamu tidak apa-apa?" tanya Arya khawatir. Dia berusaha menolong Arsyana yang duduk tersungkur di atas tanah.
"Aw.. Aw..." Arsyana merasa kesakitan. Kaki dan tanganya luka-luka. Bergesekan dengan batu kerikil yang bertebaran di tanah.
"Hati-hati! Dengan susah payah Arya membopong Arsyana yang terluka.
" Arsyana kamu tidak usah belajar naik sepeda lagi!" ucap Arya kecil polos. Matanya berkaca-kaca.
" Kenapa? Aku kan pengen bisa main sepeda kaya kamu." Arsyana merasa bingung, dahinya mengerut.
"Jangan khawatir Arsyana. Aku kan bisa bonceng kamu. Aku ga ingin liat kamu terluka lagi," ucap Arya dengan mata masih berkaca-kaca.
"Emang kamu mau janji? Kalau kamu akan selalu ngasih aku tumpangan, ketika aku mau bermain sepeda," ucap Arsyana dengan polosnya. Sambil mengacungkan kelingkingnya. Matanya melirik ke arah Arya.
"Tapi Arya, kamu jangan khawatir! Kata ibu Arsyana anak yang kuat," ucap Arsyana meyakinan. Matanya berbinar, bibirnya di hiasi senyuman manis yang bisa menyihir siapa saja. karena kepolosanya.
...*****...
Tanpa sadar Arya senyum-senyum sendiri. Hatinya terasa hangat mengingat semua kenangan indah di masa kecilnya bersama Arsyana.
" Arya focus Arya. Ingat misimu!" gumam Arya, memerintah dirinya sendiri. Matanya menjelajah mencari motor Aaron dan Arsyana.
Ternyata benar dugaan Arya, ini adalah jalan menuju rumah Arsyana. Arya begitu mengenal jalan itu. Karena jalan itu adalah jalan menuju rumahnya di masa kecil. Sampai akhirnya di kelas dua SMP, dia harus pindah ke rumah yang lebih besar di pusat kota.
__ADS_1
"Shiiiit..." ucap Arya penuh amarah, darahnya mendidih, rasa panas menjulur di sekujur tubuhnya. Dia meninju pohon di depanya. Ketika melihat Aaron masuk ke rumah bersama Arsyana.
...... To be continued ... ...