Ketika Pangeran Vampire Amnesia

Ketika Pangeran Vampire Amnesia
Bab 2 # Panik


__ADS_3

Arsyana panik mencari sesuatu untuk menutupi tubuh pria asing yang masih tergeletak pingsan di tanah. Sebagian area sensitive-nya Arsyana tutupi dengan beberapa daun kering dari ranting yang tadi Arsyana pegang untuk perlindungan diri. Meski sebenernya tak cukup banyak untuk meng-covernya.


Arsyana berlari kesana kemari berharap bisa menemukan sesuatu. Sampai akhirnya tangan Arsyana dengan spontan mengelap keringat di dahinya dengan syal yang dia pakai. Syal bola yang berlogokan Timnya Arya.


"Oh God, bodohnya aku, capek-capek nyari sesuatu ternyata ada di depan mata," gumam Arsyana kesal, seraya menepok jidatnya sendiri.


Tanpa berfikir lagi buru-buru di tutupinya bagian penting dari tubuh pria itu. Melingkarkanya membentuk rok.


"hhhhhh, akhirnya sekarang aman," gumam Arsyana seraya menghela nafas, setelah selesai meng-covers area sensitive pria asing itu.


"Eitt, tapi ini belom selesai. Mau di kemanakan tubuh pria ini?" Lagi lagi Arsyana merasa bingung. Di pandanginya tubuh tinggi besar yang tergeletak tak berdaya.


"Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Apa aku tinggalin aja dia di sini? Ah ga mungkin aku tinggalkan pria ini sendirian dalam keadaan pingsan, terlalu kejam. Siapa pria aneh ini?


Kenapa ada sini? apa dia alien? tapi ko ganteng hehe."


Tanpa sadar bibir Arsyana komat-kamit, bicara sendiri. Bertanya pada diri sendiri dan menjawabnya sendiri.


" Aduh berat banget ni cowok, gimana bawanya? "


Arsyana berusaha membopong tubuh pria asing itu, yang malah membuat dia ikut terjatuh, setelah berhasil mengangkat setengah dari badanya. Terlihat perbedaan yang jauh antara badan Arsyana yang mungil dengan tubuh pria itu yang tinggi dan kekar.


Tak pantang menyerah Arsyana berusaha menyeret tubuh pria itu. Tapi apa yang terjadi tak sedikit pun tubuh pria itu bergeser dari tempatnya. Terlihat keringat bercucuran membasahi dahi Arsyana. Sesekali gadis itu menyeka keringat yang jatuh ke wajahnya.


"Aduuuh gimana ini apa yang harus aku lakukan?" gumam Arsyana frustasi. Dia duduk di tanah tak berdaya.


"Aha ... aku tahu sekarang." Tiba-tiba Arsyana bangkit merasa menemukan jawaban.


"Tuan alien ganteng, tunggu aku di sini! aku pasti kembali dengan bantuan."


Arsyana berlari keluar dari area hutan menuju ke arah jalan utama, berusaha meminta bantuan. Berharap ada kendaraan yang lewat untuk di mintai pertolongan.


Gadis itu berdiri di pinggir jalan. Sesekali di acungkan tanganya ketika kebetulan ada kendaraan yang lewat.


Hampir sejam dia berdiri, namun tak ada satupun kendaraan yang berhenti. Arsyana merasa frustasi.


Meski itu adalah jalan utama tapi tidak banyak kendaraan yang lewat karena jaraknya yang lumayan jauh dari pusat Kota.


"Tuhan tolong aku, Aku mohon!"


Dalam hati Arsyana berdoa, penuh harap. Di pejamkan matanya, dengan tangan menyilang dalam posisi berdoa.


"Beep ... Beep ..."


Bunyi klakson membuat Arsyana kaget. Dia terbangun dari doanya. Sontak Arsyana membuka matanya.


"Akhirnya...." gumam dia dalam hati senang.


"Hai nona cantik sedang apa sendirian di sini, mendingan ikut kita. Kita senang-senang bareng."


Seorang pria muda menggoda Arsyana dari dalam mobil, hanya separu dari badanya menyeringai keluar melalui kaca depan. Terlihat ada 2 orang lagi duduk di belakang. Mereka menatap tajam Arsyana. Seperti serigala yang siap menerkam mangsanya. Arsyana hanya terdiam, membuang muka. Berusaha tak meladeni mereka.

__ADS_1


"Kamu bisu ya? cantik cantik ko bisu, haha," godanya lagi membuat Arsyana jengkel.


Arsyana masih terdiam berusaha tenang, walau sebenarnya dia merasa takut jika mereka turun dan melakukan hal jahat.


"Ikut kita aja cantik hari udah mulai gelap, ga akan ada kendaraan yang lewat ke area ini. Kamu ga tau kan disini tempatnya angker kalo malam tiba auuu.....hahaha," ucapnya lagi berusaha mempengaruhi Arsyana dengan cara menakutinya. Kemudian dia tertawa terbahak di susul kedua temanya, setelah berusaha memperagakan hantu dengan tanganya.


Mata pria itu nakal, memperhatikan Arsyana dari ujung kepala sampai kaki.


"Sabar... sabar, Arsyana kamu harus tenang. Kali ini kamu harus bertindak cerdas!" gumam Arsyana dalam hati, menahan amarah. Dia masih tetap terdiam.


Hihihi .... Hihihihi .... Hihihihi ...


Tiba-tiba Arsyana tertawa mengikik seperti kuntilanak, perlahan menoleh, matanya kosong menatap ke arah pria gila itu.


Dengan segera pria muda itu menancap gas. Wajahnya pucat pasi karena ketakutan. Mobil melaju kencang kemudian menghilang di persimpangan.


"Hahaha ... Hahahaha ... " Arsyana tertawa terpingkal-pingkal merasa lucu melihat expresi ketakutan dari mereka yang kemudian kabur tanpa kata. Kesombongan mereka hilang di hadapan rasa takutnya.


"haha, kalian fikir cewek itu makhluk lemah yang ga bisa melawan. Mereka tak tau berhadapan dengan siapa, Arsyana Ayudisha," gumam Arsyana sedikit merasa bangga.


"Ada untungnya dulu masuk kelas acting pas SMA," gumamnya lagi merasa keputusanya masuk ekskul acting dulu adalah hal yang benar.


"Tapi di fikir-fikir seram juga, sendirian di jalanan sesepi ini, mungkin nasibku hari ini harus bermalam di hutan."


Bulu kuduk Arsyana terasa merinding. Arsyana memutuskan untuk kembali ke danau setidaknya disana ada manusia yang akan menemaninya.


...******...


Hari semakin gelap, udara di Danau terasa semakin dingin. Arsyana mencoba menyalakan api dari dedaunan dan ranting-ranting kecil yang dia punguti di sekitar hutan. Tanganya yang lentik begitu piaway menyalakan api dengan dua batu yang di gesek-gesekan.


"Lumayan lah untuk menghangatkan tubuh," gumam Arsyana bangga. Seraya membersihkan tanganya dari kotoran yang menempel dengan mengesekan tangan satu ke tangan lainnya.


"Hai pria asing kamu siapa? Kamu tinggal Dimana? Nama kamu siapa? Apa kamu penjahat? Atau kamu orang yang butuh pertolongan? "


Arsyana mengajak pria asing yang masih pingsan itu untuk berbincang. Walau dia tau, mustahil jika pria itu akan menjawabnya.


"Kamu datang seperti meteor dari langit, tiba-tiba mengagetkanku. Kamu tak tau kan Tuan alien kalo hari ini aku mengalami hal buruk? trus kamu juga malah menambahnya jadi rumit. Oh god, " ucap Arsyana lagi, masih berusaha mengajaknya berbincang. Seketika raut muka Arsyana berubah sedih, teringat hal yang di alaminya tadi siang.


" Tuan Alien mulai sekarang aku panggil kamu Aaron ya soalnya kamu datang seperti cahaya meteor dari langit." ucapnya lagi sedikit memaksa.


Titut... Titut..


"Oh God, sekali lagi dalam kepanikan, aku melupakan semuanya. Tadi syal sekarang hp-ku. Kenapa ga dari tadi aku nelpon orang untuk meminta bantuan, atau pesan saja taxi online. Arsyana kenapa bisa bodoh begini?"


Suara baterai lowbat mengingatkan Arsyana kalo sekali lagi dia berbuat bodoh, sehingga dia terjebak di hutan sampai selarut ini.


Segera Arsyana membuka Hp, menyalakan data seluler dan bersegera membuka aplikasi taxi online untuk memesan. Dia harus berburu dengan waktu karena baterai hpnya tersisa hanya 10% lagi.


"yah ga ada signal."


Arsyana segera pergi berkeliling mencari signal, menyusuri setiap pelosok tanpa menyerah.

__ADS_1


"Ayolah, kamu satu-satunya harapanku." Seperti orang gila Arsyana berbicara pada hpnya. Berharap signal segera ketemu.


"Tirilit ... Tirilit ... Tirilit ... Tirilit ..."


Berpuluh-puluh pesan masuk. Kebanyakan dari Arya dan beberapa panggilan tak terjawab dari bibinya dan juga Arya.


"Arsyana kamu dimana?"


"Arsyana kamu marah sama aku ya?"


"Arsyana aku khawatir."


"Arsyana maafkan aku."


"Arsyana tapi kita tetep perlu break, please coba ngertiin aku ......."


Berpuluh- puluh pesan dari Arya. Dia merasa bersalah dan khawatir.


"Arsyana kamu dimana, Kenapa hp kamu ga aktif, bibi khawatir, segera telpon bibi ketika kamu baca pesan ini!" Satu pesan dari bibi Arsyana, mengatakan bahwa dia sangat khawatir.


Tanpa fikir lagi Arsyana segera memesan taxi lewat aplikasi online. Aplikasi mulai mencari available driver. Tapi sayangnya beberapa kali di tolak driver. Mungkin karena tempat ini jauh dari pusat kota dan ini sudah larut malam.


" Arya..."


Terpintas di fikiran Arsyana untuk meminta tolong pada Arya. Namun kemudian dia hempas fikiran itu jauh. Dia ingat kalo dia baru saja putus dengannya. Dulu Arya selalu ada, tapi sekarang Arya seperti orang asing baginya.


"Hore.. "


Akhirnya seorang driver taxi online menerima order dari Arsyana. Gadis itu lompat-lompat kegirangan berlari ke arah jalan utama, berniat menunggu supir itu di sana. Karna mobil tak mungkin masuk ke jalan setapak menuju danau.


...******...


Senang bercampur cemas, Arsyana berdiri menunggu di pinggir jalan. Baterai Arsyana kini tinggal 3%. Dalam hati Arsyana terus berdoa, berharap supir taxi datang tepat pada waktunya.


"Nona Arsyana?" tanya supir taxi memastikan.


"Iya pak Saya Arsyana," jawab Arsyana segera seraya tersenyum. Merasa senang ternyata supir taxi datang tepat di saat hp Arsyana mati.


"Pak bisa bantu saya?" tanya Arsyana penuh harap.


"Tentu saja bisa Nona," jawab supir taxi itu tulus.


"Pak tolong bantu teman saya. Dia pingsan setelah berenang di Danau," kata Arsyana beralasan. Dia tak punya alasan lain yang tepat untuk kondisinya saat ini.


...*****...


"Sesuai aplikasi kan Nona?"


"Iya pak."


Tak punya cara lain akhirnya Arsyana membawa pria asing itu ke rumahnya. Dia takut bila dia di salahkan, jika dia bawa pria itu ke kantor polisi. Pikiranya sedang kacau karena masalahnya dengan Arya, dia tak mau menambahkan beban yang lainnya lagi.

__ADS_1


....... To be continued... ...


__ADS_2