Ketika Pangeran Vampire Amnesia

Ketika Pangeran Vampire Amnesia
Bab 23 # Akhirnya Arsyana Memaafkan


__ADS_3

Setelan 2 jam lamanya berada di dalam kelas akhirnya Arsyana keluar dari ruanganya.


"Hhhhhhh..."


Arsyana menghela nafas panjang namun tiba-tiba pandanganya terkunci pada satu titik. Senyuman ceria Aaron menyambutnya dari luar. Pemuda itu juga melambai-lambaikan tanganya seolah menyambut seseorang di Bandara.


"Oh God.. Aaron," gumam Arsyana heran. Gadis itu seperti kehabisan kata-kata dengan tingkah Aaron.


Arsyana melewati Aaron dengan ragu. Berpura-pura seolah tidak melihat Aaron di sana. Namun kemudian Pemuda itu menarik tangan Arsyana mendekat padanya. Membuat Arsyana terhenyak.


"Lepasin," ucap Arsyana kesal. Dia mencoba membebaskan tanganya dari genggaman Aaron.


"No way." Aaron menarik Arsyana menjauh dari keramaian hendak membawanya ke suatu tempat. Gadis itu masih berusaha melepaskan diri. Namun genggaman Aaron terlalu kuat. Tapi Aaron yakin genggaman itu tidak akan melukai Arsyana.


Arsyana yang tidak berhasil melepaskan diri akhirnya terpaksa membiarkan pemuda itu menggenggam tanganya. Kulit wajahnya yang putih kini bersemu merah. Gadis itu merasakan detak jantungnya berpacu lebih kencang.


Aaron membawa Arsyana ke parkiran, menyuruhnya naik ke motor yang akan Aaron kendarai.


"Ayo naik!" ucap Aaron.


"Mo kemana, sejam lagi aku ada kelas? selidik Arsyana penasaran.


" Ikut aja. " Aaron menggendong Arsyana naik ke atas motor.


" Turunin, Aaron aku bilang turunin ! "


Arsyana meronta-ronta berusaha melepaskan diri namun dengan mudah pemuda itu berhasil membuat Arsyana duduk di atas motor. Beberapa mahasiswa yang berada di sana menoleh dengan tatapan aneh ke arah mereka. Namun Aaron memberi tanda dengan tanganya, mengisaratkan kalau semua baik-baik saja. Dia juga berbisik, "Ini calon istri."


Arsyana memalingkan muka, mulutnya membulat saking kesalnya. Aaron tersenyum tipis kemudian melaju dengan motornya. Entah kemana dia akan membawa Arsyana pergi.


Gadis itu tak bicara sepatah katapun. Namun hatinya berkata-kata sendiri.


" Aaron benar-bentar sudah keterlaluan. Nyebelin, nyebelin, nyebelin."


Aaron yang sedang mengendarai motornya tersenyum sendiri seperti mendengar isi hati Arsyana.


...*****...

__ADS_1


"Arsyana sorry." Aaron berlutut memegang tangan Arsyana yang duduk di bangku pinggir danau. Gadis itu masih memalingkan muka.


"Aku tau aku sudah membuat kamu marah dan kesal. Tapi kalau aku tidak melakukan ini semua, aku tak akan punya kesempatan untuk menjelaskan semuanya, " ucap Aaron memulai percakapan. Namun Arsyana masih memalingkan muka.


"Arsyana...." Aaron menyentuh pipi gadis itu lembut. "Tatap mataku!" ucap Aaron tulus.


"Apa ada kebohongan di sana?" Arsyana mulai menatap mata Aaron ragu. Namun gadis itu masuk ke dalamnya, dia bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari sorot mata kehijauan itu. Mata Arsyana mulai berkaca-kaca, seolah benteng pertahanan yang ia bangun dengan kokoh akan roboh seketika.


" Menangislah, marahlah sepuasmu!" Suara Aaron yang lembut seolah merobek dinding pertahanan itu. Gadis itu mulai menangis. "hiks... hiks"


"Kenapa kamu pergi tanpa pamit Aaron? hiks... hiks... Kenapa kamu bisa setega itu padaku? hiks... hiks... Lalu kenapa kamu kembali setelah sekian lama pergi? Harusnya jangan kembali saja hiks.. hiks... Apa bedanya kamu dan Arya?"


Arsyana menangis sejadinya. Air matanya meleleh seperti letusan gunung berapi yang lama memendam lahar panasnya. Kemudian meletus memuntahkan semuanya.


Aaron meneluk Arsyana dengan penuh kasih sayang. Arsyana terisak di pelukan pemuda itu. Tangan lentiknya memukul-mukul punggung Aaron. Pukulan itu semakin pelan bersamaan hatinya yang lebih tenang.


"Kamu tega, kamu tega, kamu tega Aaron, hiks.. hiks..."


"Marah saja Ar! Aku pantas menerimanya, aku tau aku sudah membuat kesalahan yang patal." Aaron memeluk Arsyana lebih erat. Namun tangan gadis itu terkulai tak memberi balasan.


"Aku tahu, aku tak pantas mengatakan kata ini, aku juga tak pantas di beri maaf. But, I'm so sorry, forgive me! Kamu tahu aku tak pernah bermaksud menyakitimu. Meski pada kenyataanya aku telah menyakiti hatimu." Suara Aaron berat. Pemuda itu sekuat tenaga menahan badai yang akan mendobrak matanya.


Setelah hujan tangisan itu reda dan mereka merasa lebih tenang. Mereka duduk bersebelahan di atas bangku. Mereka terlihat canggung, merasa bingung untuk berbicara apa, bagaimana memulai percakapan.


"Ar.."


"Aaron.."


Mereka berbarengan berbicara. Wajah mereka bersemu merah.


"Hahaha..." Mereka terbahak ingat dengan kelakuan mereka sendiri.


"OK kamu duluan Ar," ucap Aaron mempersilahkan.


"Ga kamu duluan aja." Arsyana malah menyuruh Aaron untuk memulai.


"Ok deh, dari pada saling tuding aku duluan." Aaron tersenyum.

__ADS_1


"Malam ini kamu mau masakin aku apa? Aku udah kangen masakan kamu," ucap Aaron cerah.


"Hehe oh itu, nanti aku siapin makanan kesukaanmu. Nasi goreng Ayam." Arsyana bersemangat, senyumnya begitu cerah.


"Hore..." Aaron bersorak seperti anak kecil yang bahagia ketika di beri mainan. Arsyana yang melihatnya terbahak. Aaron merasa bahagia melihat Arsyana yang kembali tersenyum.


"Kamu harus selalu tertawa seperti itu. Kamu kelihatan lebih cantik." Batin Aaron bergumam. Pemuda itu menatap Arsyana lembut.


Namun tiba-tiba pandangan Aaron menangkap sesuatu yang mencurigakan di balik semak-semak. Seseorang tengah memperhatikan mereka, mungkin sejak lama. Mata zambrud itu memperhatikan semak itu lebih teliti. Ternyata ada beberapa lycan yang bersembunyi di sana.


"Ada apa Aaron?" selidik Arsyana ketika melihat mata Aaron seperti memeriksa sesuatu.


"Hhhhm.. Eh... Ia.." Aaron gelagapan.


"Ga ada apa-apa, ayo kita pulang hari sudah semakin gelap." ucap Aaron khawatir.


Aaron menggenggam tangan Arsyana ke tempat motor mereka berada. Gadis itu merasa penasaran dengan apa yang Aaron lihat. Arsyana terus menoleh ke belakang, mata bulatnya menjelajah memeriksa sekitar. Namun tidak ada yang dia temukan.


Entah mengapa batinnya merasa kalau Aaron melihat sesuatu. Namun kemudian Arsyana menepisnya, berusaha berfikir positif.


Aaron berjalan lebih cepat, kemudiam bersegera men-starter motornya. Baru ia akan melaju, seorang lycan tiba-tiba muncul hendak menculik Arsyana. Gadis itu sekilas melihat wajah lycan yang menakutkan itu, manusia berwajah srigala yang melompat ke arahnya. Namun dengan kekuatanya segera Aaron membuat Arsyana tak sadarkan diri.


"Seharusnya gadis manusia itu kau isap habis darahnya untuk makan malam mu , bukan malah kau kencani. Hahaha," ejek lycan itu. Dia dan kawananya masih mengejar. Aaron terus melaju dengan motornya secepat mungkin.


"Apa pewaris tahta kerajaan vampire selemah ini? Serahkan saja gadis manusia itu! Biar kami yang mengurusnya. Hahaha," ejek mereka lagi. Aaron mengerang untuk mengusir mereka. Memperlihatkan mata merahnya. Namun mereka malah terbahak. "hahahah..."


Aaron yang sudah tidak bisa menahan amarahnya melompat dari motor yang masih melaju, membawa Arsyana dalam perlukanya. Dengan cepat membungkam mulut lycan sombong itu.


"Apa kau lupa kejadian tempo hari. Ketika aku dengan mudah merebut makananmu? Hari ini bukan cuma makananmu. Tapi nyawamu juga." Sorot mata Aaron begitu tajam menatap ke dalam mata lycan sombong itu, warnanya merah semerah darah. Aaron mencekik leher lycan itu, dan dengan mudah memisahkan kepala dari badanya. Kemudian di lemparkanya kepala yang sudah tak berdaya lagi ke hadapan lycan lainnya.


Salah seorang lycan mencoba menyerang Aaron, kemudian yang lainnya ikut menyerang. Satu persatu Aaron bisa melumpuhkan mereka. Arsyana yang masih dalam dekapan Aaron ikut terombang ambing.


Aaron melajukan kembali motornya. Arsyana masih tak sadarkan diri. Tangan lentiknya Aaron linggarkan di pinggangnya yang atletis. Dengan satu tangannya Aaron menjaga tangan Arsyana tetap melingkar disana. Aaron sangat khawatir, jika hal yang sama terulang lagi. Dalam benak Aaron bertekad, dia harus selalu menjaga Arsyana. Tak boleh ada satu pun orang yang menyakiti Arsyana.


"Ar... Ar.. bangun! Kita sudah sampai." Aaron menggoyang - goyangankan pundak Arsyana yang masih tak sadarkan diri. Tubuh gadis itu masih berlindung di punggung Aaron yang hangat.


"Hoaam, kita sudah sampai? Gadis itu perlahan membuka mata yang masih terkantuk itu. Tangan kananya mengucek-ngucek sebelah matanya. Dia merasa telah mengalami hal yang menakutkan. Namun ia tidak ingat tentang apa itu. Sambil berjalan dia berusaha mengingat-ingan kejadian apa itu.

__ADS_1


........ To be continued.... ...


__ADS_2