Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Terbongkar


__ADS_3

****


Aurin menuruni anak tangga dan bertemu Lucas di bawah tangga.


"Ikut gue!" ajak Lucas.


"Kemana?" tanya Aurin.


"Udah, cepat lo ikut gue sekarang." Lucas menarik tangan Aurin.


"Jangan apa-apain Aurin lo, kalo terjadi apa-apa sama dia kami gak akan tinggal diam!" teriak Bianca dan Febby dari kejauhan.


"Gue pinjam bentar!" balas Lucas.


***


Lucas mengajak Aurin ke belakang sekolah dan menunjukkan video sesuatu.


"Ini video pengakuan Cindy kalo dia beneran ham1l di luar nikah, dan ini cowoknya." Aurin melihat rekaman video yang berdurasi 30 detik itu dengan sangat teliti.


Isi video :


"Lo tau? Aurin itu orangnya b0doh, meski gue udah bully dan nuduh dia tapi dia masih tetap aja bangkit dan gak nyesal. Padahal gue yang ham1l gara-gara tidur berduaan sama Victor," jelas Cindy di video.


"Lo pintar banget, Cin. Gue kagum sama lo," ujar Aluna.


"Bukan pintar, tapi bijak!" balas Cindy.


"Yoi!" jawab Nataylia.


Off


Aurin mengepal tangannya dengan kuat. "Gue yang bakal buat lo hancur, Cindy."


"Gue punya rencana." Lucas mulai membisikkan rencana ke Aurin.


"Ini yang gue cari bray!" girang Aurin dan melompat di sofa.


"Heh! Ngapain lo lompat-lompat kek p0cong!" tegur Lucas.


"Hehe!" Aurin menyengir kuda tanpa dosa.


***


"Perhatian seluruh siswa!" Suara dari Lucas membuat seluruh siswa menghampirinya di tengah lapangan.


"Kalian tau gak siapa yang ham1l di luar nikah?" tanya Lucas.


"AURIN!" jawab mereka serempak.


"Yakin?"


"YAKIN!"


"HAHAH!" Tawa Lucas dan Aurin bersamaan.


"Mungkin kalian semua akan terngangak saat melihat rekaman suara ini." Lucas mengeraskan volume di hp nya, membuat semua lapangan menjadi hening seketika.


Setelah beberapa detik hening, semua siswa terkejut saat mendengar rekaman itu.


"Jadi Cindy yang ham1l? Berarti kita udah di bohongin dong!"


"Dasar Cindy gak punya urat malu."


"Emang lont*h beneran tu Cindy."


"Semuanya gak benar, berhentii!" teriak Cindy.


"Gue gak ham1l, buktinya perut gue datar gak gede tuh!" tegur Cindy.

__ADS_1


"Halah, palingan udah lo gugurin anak lo," timpal salah satu siswa.


"Huhhh dasar lont*h!" sorak semua siswa.


"LONT*H!" Cindy menundukkan kepalanya karna malu.


"Bukan gue!" bentak Cindy.


Cindy melempar tong sampah ke arah Aurin dengan kesal. "Ini semua gara-gara lo!"


Cindy menarik rambut Aurin membuat Aurin meringis kesakitan. "Gue gak bakal biarin lo bahagia!"


"Lepasin rambut gue, Cin." Aurin berusaha melepaskan tangan Cindy dari rambutnya. Namun, Cindy semakin menguatkan tarikan itu.


"Lepasin dia!" bentak Lucas dan mendorong tvbuh Cindy.


"Lo gak usah ikut campur urusan gue!" bentak Cindy dan mendorong tvbuh Lucas, namun Lucas tidak terjatuh.


"Lo gak usah gangguin Aurin, kalo lo gangguin dia berarti lo berurusan sama gue juga!" tegas Lucas.


Plak!


Aurin memegangi pipi kirinya yang di tampAr oleh Cindy barusan.


"Lo emang gak punya malu, Aurin. Gue benc1 sama lo, benc1!" teriak Cindy di depan Aurin.


"Mat1 aja lo Aurin, gue mau lo pergi dari dunia ini. Lo udah rebut semua kebahagian gue!" oceh Cindy tidak jelas.


"Cin, udah kita pergi aja yuk." Aluna dan Nataylia menarik Cindy untuk pergi dari kerumunan itu.


"Pokoknya gue bakal buat lo nyesal!" oceh Cindy dari kejauhan.


Lucas mendekat ke arah Aurin dan memegangi pipi Aurin yang memerah. "Ada yang sakit?" tanya Lucas.


"Masih nanya lagi! Pipi gue perih," ketus Aurin.


"Gue obatin, ya."


"Apaan sih kalian!" gerutu Aurin yang sudah salting.


Lucas mengajak Aurin untuk duduk di taman sekolah sambil membawa kotak p3k.


"Sini muka lo." Lucas mulai mengobati luka di muka Aurin yang sudah memerah.


"Awss ... sakit!" ringis Aurin.


"Pelan-pelan!"


"Iya-iya, bawel amat!" tegur Lucas.


"Nanti gue pulang agak sore, Rin. Karna gue ada rapat OSIS bentar," ucap Lucas.


"Terus gue pulang sama siapa dong?" tanya Aurin.


"Sama pacarmu, sih Bintang." Aurin memasang wajah datar membuat Lucas ingin tertawa.


"Haha! Jangan kek gitu napa, gue cuma bercanda lho." Lucas tertawa kecil saat melihat tingkah Aurin.


"Idihh."


"Gue mau pergi dari apartement lo, Cas." Lucas terkejut dan menekankan kapas ke wajah Aurin.


"Hah? Kenapa, Rin?!" tanya Lucas dengan kaget.


"Ahkkk, sakit!" teriak Aurin karna Lucas menekan kapasnya.


"Sakit, woee!" rengek Aurin.


"Aduh, sorry banget gue," ucap Lucas dan langsung meletakkan kapas tersebut ke dalam tong sampah.

__ADS_1


"Mana yang sakit?" Lucas mengelus wajah Aurin dengan pelan.


'Di liat-liat, Lucas gantsng juga,' batin Aurin dan senyum sendiri.


Lucas bingung saat melihat Aurin, kemudian ia memetikkan jarinya ke Aurin. "Woy, lo kenapa!"


Lamunan Aurin buyar dan langsung mengalihkan pandangan.


"Lo kenapa liatin gue terus? Gue ganteng, 'kan?" ucap Lucas dengan pedenya.


"Huekk! Kepedean amat lo, Cas. Halumu terlalu tinggi, nanti jatuh nangis lo!" tegur Aurin, padahal isi hati Aurin sekarang mengatakan 'Iya' bahwa Lucas memang tampann.


"Kalo gitu, gue mau ke kelas dulu. Bentar lagi pelajaran pak Wisnu." Aurin bangkit dari duduknya dan mulai berjalan meninggalkan Lucas.


"Rin, lo cantik," ucap Lucas saat Aurin hendak pergi.


Aurin kini di buat salting lagi oleh Lucas, rasanya ia ingin pingsan sekarang juga! Hatinya sekarang tidak baik-baik saja.


"Ihkk, Lucas lo ngeselin!" balas Aurin dan berlari sambil senyum-senyum tidak jelas.


"Hahah," kekeh Lucas saat melihat Aurin salting.


***


Sepanjang kelas, Aurin masih senyum-senyum dan membayangkan kejadian tadi.


"Rin, lo sehat?" tanya Febby.


"Udah gak sehat lagi nih anak," timpal Bianca yang melihat Aurin senyum-senyum sendiri.


Pak Wisnu melihat Aurin yang senyum-senyum dari tadi, ia pun memanggil Aurin. "Aurin, kerjakan soal ini di papan tulis!"


Aurin terkejut dan berhenti membayangkan dirinya dengan Lucas di masa depan. "Sa--saya, Pak?" tanya Aurin menunjuk dirinya sendiri.


"Emangnya nama Aurin di sini siapa lagi?" tanya Pak Wisnu.


Aurin bangkit dari duduknya dan berjalan ke papan tulis, kemudian mengerjakan soal Matematika. "Gue gak paham, liat rumusnya aja pusing."


'Haduh, gimana nih,' batin Aurin dan menoleh ke arah Febby.


"Feb, jawabannya apa," bisik Aurin.


Febby menulis sesuatu di tangannya dan menunjukkan ke arah Aurin. "Cepat lo tulis, Rin."


Aurin mengangguk, kemudian menulis jawaban dari Febby. "Sudah, Pak." Aurin meletakkan spidol ke atas meja dan berjalan ke bangkunya.


Pak Wisnu mengecek jawaban dari Aurin. "Benar atau salah anak-anak?" tanya Pak Wisnu.


"Salah!" jawab semuanya serempak.


"Harusnya, hasilnya 3 bukan 5 Aurin!" ucap Pak Wisnu, dan Aurin hanya mangut-mangut.


"Kamu lagi mikirin apa tadi? Sampai senyum-senyum gak jelas!" tegur Pak Wisnu.


"A--anu, Pak. Mikirin semp4k saya di rumah, tadi udah saya cuci apa belum semp4knya. Gitu, Pak." Semua siswa tertawa saat mendengar jawaban dari Aurin.


"Padahal, semp4k saya bagus ada rendanya dan bunga-bunganya, sayang kalo di cuci." Semua siswa kembali tertawa saat mendengar ucapan Aurin.


Pak Wisnu menepuk jidatnya. "Haduh!"


"Brutal, Rin!" timpal Bianca dan Febby.


"Kocak geming, Aurin."


"Aurin nih bos, senggol dong!"


"Lawak banget Aurin."


Begitulah jawaban dari teman sekelas Aurin.

__ADS_1


***


__ADS_2