
***
Upacara selesai, kini mereka masih setia menunggu di lapangan sekolah sambil hormat di tiang bendera karna mendapatkan hukuman dari Pak Wisnu.
"Woy, panas!" kesal Heksa.
"Lo pikir, cuma lo doang yang kepanasan? Kita juga panas anj*r!" tegur Febby.
"Udah lo pada jangan berisik," ucap Aldino.
Tiba-tiba siswa yang ber-rompi OSIS datang menghampiri mereka.
"Kalian ber-5 ikut kita. Dan lo Heksa, padahal lo ikut OSIS tapi malah dapat hukuman! Dasar, gak becus ngurus sekolah," tunjuk seorang gadis yang berkacamata transparan serta rambut yang terurai dan pita kain berwarna putih di rambutnya, yang bername-tag Feylin Amaira.
"Terus? Ngerugiin lo kah?" tanya Heksa acuh.
"Halah, cepat kalian semua ikut kita!" bentak seorang gadis yang berdiri di samping Feylin, yang bername-tag Gecca Arabella.
"Aelah, sewot amat," timpal Aldino.
"Ish, cepat!" bentak Feylin balik.
Mereka pun hanya menurut perkataan OSIS itu, dan mengikutinya menuju WC.
"Lo semua bersihin WC yang bersih!" perintah Gecca.
"Pms kali dia," bisik Febby.
"Biasalah, orang norak," balas Aurin berbisik.
"Heh, Neng. Berhenti dulu ngemrupinya," ujar Gecca kepada Aurin dan Febby.
Mereka berdua tak menghiraukan perkataan Gecca dan tak peduli.
"Aldino, baju gue basah!" bentak Bianca dengan kesal.
"Abisnya lo gak ngehindar!" ketus Aldino.
"Ahk, basah," ucap Bianca.
"Salah lo itu," balas Aldino.
"Ihk, jahat lo sama gue!" ujar Bianca.
"Ihkk Abang jahat, aku tuh cinta berat!" timpal Febby di sela-sela keributan itu.
"Sini dong dekat-dekat, ku pegang erat-erat!" balas Febby lagi diiringi tertawa.
"Garing banget," ucap Aurin datar.
"Bwahahah!" tawa Febby dengan kencang.
"Muka Bianca tertekan banget!" lanjut Febby.
Bianca menatap Febby dengan geram, kemudian ia mengambil gayung yang berisi air dan langsung menyiramkan air itu ke arah Febby.
Byurr!
Febby terkejut dengan siramam itu, dan diam sesaat.
"Bwahahah, liat eksperesi Febby!" tawa Bianca dan yang lainnya.
"Kocak banget muka lo Feb," tunjuk Heksa yang ikut tertawa.
"Set*n!" gerutu Febby.
"Bac*t!" balas Bianca.
"Udah-udah, ayo cepat kerjain biar bisa masuk kelas!" perintah Aurin.
"Rin, nanti temenin gue ganti baju, ya."
"Iya, nanti gue temenin."
***
Mereka kini sudah boleh masuk ke kelas, saat ini sudah masuk jam kedua. Berarti sebentar lagi guru lain akan datang yaitu Buk Tita-Guru IPA.
"Tutup pintunya!" pinta Heksa membuat temannya itu menutup pintu kelas.
Heksa mengambil sapu dan berdiri di atas meja, kemudian sapu tersebut ia letakkan di dekat mulutnya layaknya mic.
"Mulai!" teriak Heksa.
"Aku cinta padamu!"
"Tu, wa, ga! Meski ku bukan yang pertama ... di hatimu."
__ADS_1
"Tapi, cintaku yang terbaik!"
"Ohhhh, meskii!"
Mereka pun beryanyi bersama dengan suara yang meninggi. Dan ....
Brakk!
"Bagus-bagus!" Buk Tita bertepuk tangan membuat semua siswa kembali duduk ke barisan masing-masing.
Heksa dan Aldino cengegesan dan segera turun dari meja, kemudian meletakkan sapu ke tempatnya.
"Kenapa tadi teriak-teriak, hah?!" Suara Buk Tita meninggi membuat kelas menjadi hening.
"Kenapa gak duduk? Kalian bisulan?" tanya Buk Tita kepada Heksa dan Aldino. Semua kelas kini hanya menahan tertawa saat mendengar perkataan Buk Tita barusan.
Heksa dan Aldino cengegesan dan berkata, "Ini juga mau duduk kok."
Buk Tita memijat pelipisannya sambil geleng-geleng dan segera duduk ke meja guru.
"Dasar anak zaman sekarang, di zaman Ibu dulu gak ada modelan kek kalian ini!" ucap Buk Tita.
"Hari ini kita ulangan bab 3, karna kelas sebelah kemarin udah selesai ulangan bab 3. Cuma kelas ini yang belum ulangan, siapkan kertas 1 lembar dan semua buku harus di masukkan ke dalam tas!" jelas Buk Tita.
"Buk, lihat hp boleh gak?" tanya Heksa dan menunjuk tangan.
"Kamu nanyea? Kamu bertanya-tanyea?" jawab Buk Tita.
"Korban tiktok!" umpat Aurin dengan kesal.
"Udah muak gue dengernya!" gerutu Heksa.
"Namanya juga ulangan, pasti gak boleh liat buku lah. Apa lagi liat hp!" ujar Buk Tita.
Ulangan pun di mulai, kini kelas menjadi hening seketika.
"Al, woy! Liat no 2," bisik Heksa.
"Belum," bisik Aldino balik.
'Aduh, gue gak ngerti,' batin Aurin dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Ca, lo udah belum?" tanya Aurin.
"Belum, Rin. Gue udah no 2378," jawab Bianca.
Bianca merobek buku coretannya dan mulai menulis jawaban. Ia menggulung kertas itu menjadi kecil dan melemparkannya ke arah Aurin.
"Rin, tangkep!" ucap Bianca dan siap untuk melayangkan kertas itu.
Kertas yang di lemparkan Bianca kini terjatuh di lantai, karna jarak meja Bianca dan Aurin sangat jauh.
"Aduh, pake jatuh segala lagi," gumam Aurin dan dia menatap sekelilingnya.
Buk Tita melihat Aurin, membuat Aurin langsung berbalik ke depan dan berpura-pura menulis.
'Pake acara di liatin segala lagi,' batin Aurin.
"Kertas siapa ini woy?" Suara itu berasal dari seorang lelaki yang bername-tag Jio Langgara. Ia mengambil kertas jawaban Bianca yang ingin di berikan oleh Aurin tadi.
"Ngapain di ambil sama dia sih!" gerutu Aurin dengan kesal.
"Itu punya gue, balikin!" pinta Aurin dengan suara kecil.
"Siapa duluan yang liat, berarti ini punya gue. Gak usah ngaku-ngaku deh lo," jawab Jio.
Bianca menatap tajam ke arah Jio dan berkata, "Jio, balikin kertasnya!" pinta Bianca.
"Apaan sih gak mau, suka-suka aku!" tolak Jio.
Bianca berdiri dan merebut kertas itu dari tangan Jio. "Balikin gak!"
"Gak, jangan!" ucap Jio dan berusaha menahan kertas itu agar tidak lepas dari tangannya.
"BALIKIN!" teriak Bianca membuat seluruh kelas menatapnya.
Jio terdiam, ia sangat ketakutan.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Buk Tita dengan raut wajah marah.
Buk Tita menghampiri meja Jio dan berkata, "Kenapa ribut-ribut?" tanya Buk Tita.
"Ini, Buk. Bianca sama Aurin mau ambil kertas aku," adu Jio.
"Lo yang ambil kertas gue!" ucap Aurin tak mau kalah.
"Berantem yok!" ajak Bianca yang sudah kesal.
__ADS_1
"Udah-udah!" bentak Buk Tita.
Buk Tita membuka isi kertas itu dan melihatnya. "Ini jawaban siapa, hah?!" tanya Buk Tita dengan suara meninggi.
"Jio, ini punya siapa?" tanya Buk Tita.
"Punya Aurin, terus tadi Bianca juga nyuruh aku buat balikin kertasnya," jawab Jio.
"Siapa dari kalian yang menyontek?" tanya Buk Tita kepada Bianca dan Aurin.
"Sa--saya Bu--buk," jawab Aurin dengan terbata-bata.
Buk Tita mencubit tangan Aurin dan mendorongnya dengan kasar. "Dasar gak punya malu! Ulangan ini harus jujur, jangan nyontek!" bentak Buk Tita.
Aurin hanya menunduk dan terdiam, andai waktu bisa di putar ia tidak mungkin menyontek.
"Ini cewek tapi gak jujur! Nilai kamu saya nol, 'kan karna menyontek!" lanjut Buk Tita dan mengambil lembar jawaban Aurin kemudian pergi.
Aurin duduk di mejanya dan mulai menangis. "Hiks ... hiks, awas aja lo Jio!" tangis Aurin dan menatap Jio dengan tajam.
"Maafin gue, Rin," ucap Bianca.
"Udah cupu, sok keras pula. Untung anak orang kaya," sindir Aldino dan menatap Jio dengan tatapan tajam.
"Untung nih orang di tutupin pake isi dompet," timpal Heksa kepada Jio.
"Anj4y!" balas Febby dengan tertawa kecil.
"Sok asik," ucap Heksa membuat Febby menatapnya datar.
"Awas lo, Sa!"
Jam istirahat tiba, semua siswa berhamburan keluar dari kelas mereka menuju kantin untuk mengiri perut mereka yang sudah kerocongan.
"Woi, bentar lagi, 'kan ultahnya Aurin gitu. Kita kasih supries apa buat dia?" tanya Bianca memulai percakapan.
"Hm, menurutku kita prank aja dia," jawab Reana.
"Cas. Lo, 'kan mantaannya Aurin. Pasti lo tau kesukaan Aurin," ucap Aldino.
"Oh, jadi lo mau bikin supries buat ultah Aurin, 'kan? Nanti pastinya kalian cuekin dia seharian dan duarr! Tada, hbd Aurin bestie akuu! Itu basi woy," jelas Lucas.
"Hm, bener juga kata lo," balas Febby.
"Jadi gini, guys. Ultah itu umur bakal berkurang. Berarti Aurin bakal cepat menuju kemat1annya," ujar Heksa membuat semuanya menatap ia dengan tatapan datar.
"Menurut gue, kita buat acara syukuran dan yasinan aja buat ultah Aurin. Karna ultah itu sama aja dengan hari kemt1an dia," lanjut Heksa.
"Gue gampar pala lo, Sa!" bentak Febby dan memvkul kepala Heksa dengan sendok.
"Sakit, woy!" tegur Heksa.
"Str3s!" timpal Aldino.
"Gak gitu juga b4mbang," ucap Lucas dengan kesal.
"Pengen banget tvsuk hati Heksa!" ketus Bianca.
"Apa sih, gue ngomong benar woy!" ujar Heksa dengan bangga.
"Halah, bac0t," ucap Febby.
"Hm, kita kasih tau Bintang dulu keknya," ucap Reana.
"Nah, gue setuju sama lo, Re!" jawab Aldino.
"Yaudah, gini aja. Nanti malam kita ketemuan di Cafe Flower Lily dan ajak Bintang juga sekalian, gue dengar dari Aurin tadi Bintang udah bisa pulang siang ini. Gimana?" jelas Bianca.
"Iya, nanti kita diskusi bareng Bintang aja buat supresinya," ujar Aldino.
"Sekitar jam 7an lah," lanjut Bianca.
"Pokoknya harus berhasil rencana kita!" ucap Febby.
"Rencana apa?" tanya Aurin yang tiba-tiba sampai.
Semuanya kini terkejut dan nampak canggung saat melihat Aurin.
"Ehk, gak ada kok," jawab Febby cengegesan.
"Kambing gue mau lahiran tadi, terus gue bingung mau lahiran dimana dia. Jadi kami bikin rencana buat lahirannya," ucap Heksa.
"Nah, betul kata Heksa," ucap Bianca.
"Semoga lahirannya selamat, ya." Aurin tersenyum.
"Makasih."
__ADS_1
'Untung aja Aurin percaya,' batin Febby.