Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Jadi, siapa iiank salah?


__ADS_3

*****


"Berhenti lo ketawa!" tegur Aurin kepada Bintang.


"Haduh, yuk pulang," ucap Bintang dan mulai menaiki motornya.


***


"Au--aurin. Aurin, AURIN!" Lucas berteriak dan terbangun dari pingsannya, membuat Reana terkejut.


"Lucas, kamu udah siuman?" tanya Reana dan menghampiri Lucas.


"Aurin, dimana Aurin?!" Lucas terus saja memanggil nama Aurin membuat Reana kebingungan. Siapa Aurin?


"Aurin siapa?" tanya Reana.


"Cewek gue mana! MANA!" Suara Lucas meninggi menggelar seluruh ruangan UGD.


'Jadi nama gadis tadi Aurin? Namanya cantik sama seperti orangnya,' batin Reana.


"Minggir, gue mau ketemu sama Aurin!" ujar Lucas dan beranjak turun dari blankarnya.


"Lucas, lo gak boleh pergi. Lo masih sakit!" tegur Reana dan berusaha menahan Lucas agar tidak turun.


"Minggir, lo gak usah ngatur gue. Aurin sayang, kamu dimana!" oceh Lucas terus-menerus.


Reana terus menahan Lucas untuk tidak turun. Namun, tenaga Lucas lebih kuat dari dirinya dan dia pun terdorong.


"MINGGIR!" Lucas mengeluarkan suara menyeramkan ke arah Reana, membuat dia ketakutan dan mengalah berjalan mundur.


Lucas turun dari blankarnya. Pandangan Lucas menjadi buram dan dia merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya, kejadian yang dia alami tadi teringat olehnya.


"Ahkkk!" Lucas memegangi kepalanya yang terasa sakit dan mulai membayangkan kecelakaan tadi.


"Ahkkk, kepala gue sakit! AHKKKK!" teriak Lucas dan terjatuh di lantai.


"Lucass!" Reana berteriak dan langsung menghampiri Lucas.


"Lucas bangun, Ya Allah. Dokter, suster, om Fian!" teriak Reana dengan panik.


Reana berlari keluar dari ruangan UGD, ia memanggil Dokter dan suster untuk mengangkat Lucas.


Setelah beberapa menit.


"Gimana keadaan Lucas, Dok?" tanya Reana.


"Sebenarnya Lucas jangan di suruh turun dulu dari blankarnya, karna kepalanya masih belum seratus persen sembuh. Kamu tolong jagain dia, ya, jangan biarin dia keliling untuk sementara," jelas Dokter dan Reana mengangguk.


"Makasih, Dok."


"Saya permisi dulu."


Reana mengangguk.


"Hm, kamu cinta mat1 banget, ya, sama Aurin." Reana mengelus rambut Lucas dan menatap Lucas dengan lekat.


'Mama Lucas ngidam apa sih dulu, sampai bisa punya anak seganteng dan semanis ini?' batin Reana sambil tersenyum menatap Lucas.


***


"Iya, Rin. Tante serius," ucap Buk Jiel sambil mengaduk adonan kue.


Aurin mendempetkan sedikit tubuhnya ke arah Buk Jiel. "Busett, Bintang udah gede masih suka minum susu pake botol doraemon," ujar Aurin dengan suara agak keras.


"Iya, bayi gede dia," balas Buk Jiel dan terkekeh pelan diikuti Aurin.


"Bwahahah, bayi gede!" tawa Aurin dan Buk Jiel.


Bintang datang dengan keheranan saat melihat tingkah Aurin dan Buk Jiel. "Kenapa kalian ketawa kek gitu?" tanya Bintang heran karna keduanya menatap dirinya dengan tertawa.


"Kepo lo bayi gede!" timpal Aurin.


Bintang melotot saat mendengar perkataan Aurun. "Apa lo bilang?" ucap Bintang dengan wajah yang sangat marah.


"Bayi gede," ucap Aurin sekali lagi.


"Gue bukan bayi gede."

__ADS_1


"Bayi gede!"


"BUKAN!"


"Udah-udah jangan berantem!" ujar Buk Jiel membuat mereka terdiam.


"Bund, botol Bintang mana?" tanya Bintang.


"Ada di rak piring, udah Bunda cuci," jawab Buk Jiel.


Bintang mengambil botol doraemon kesayangannya kemudian mengisinya dengan susu rasa coklat. Aurin terkekeh saat melihat kelakukan Bintang bak anak kecil itu, ternyata di balik sifat galaknya tersimpan sifat yang gemesin!


'Dasar bayi gede,' batin Aurin.


Bintang menuju kamarnya sambil membawa botol doraemon miliknya dan di tangan kirinya terdapat sebuah piring berisi cemilan. "Bund, Bintang ke kamar," ucap Bintang.


"Iya, Nak."


"BAYI GEDE!" teriak Aurin.


"Biarin!" ucap Bintang dan menjulurkan lid4hnya ke arah Aurin.


"HUHH, BAYI GEDE!" teriak Aurin lagi.


"Gak denger!" teriak Bintang.


Setelah beberapa jam, kue yang di buat Aurin bersama Buk Jiel pun akhirnya jadi.


"Wihh, kuenya udah jadi!" Aurin bertepuk tangan sambil kegirangan.


"Iya, berkat Aurin yang bantuin. Tante jadi cepat buat kuenya," ucap Buk Jiel sambil menata kue tersebut.


Aurin meletakkan buah cerry ke atas kue tersebut. "Keknya enak deh," guman Aurin.


Buk Jiel memberikan sepotong kue sisa tadi ke arah Aurin. "Ini ada sisanya, kamu makan aja," ucap Buk Jiel.


"Makasih, Tante." Aurin tersenyum dan mulai memakan kue tersebut.


"Eumm, enak banget!" ucap Aurin.


"Tante sering-sering ajarin Aurin masak kue gini, ya."


"Nanti Tante ajarin."


"Siap!"


***


Hari sudah berganti, selesai pulang sekolah Aurin berkunjung ke rumah sakit untuk menemui Lucas.


Aurin datang bersama teman-temannya yang lain, mereka sudah berjanji tadi saat di sekolah untuk menemui Lucas.


"Assalamualaikum, Lucas." Mereka semua masuk ke dalam ruangan Lucas dengan semangat.


"Waalaikum salam," jawab Lucas dan Reana.


Aurin menatap Reana yang tengah menyuapi Lucas, Reana yang merasa di perhatiin ia pun berhenti melakukan aktivitasnya.


"Alhamdulillah lo udah sadar, Cas. Gue kangen sama lo walau lo nyebelin!" ujar Heksa.


"Idih, lo juga nyebelin woi!" timpal Febby.


"Mulut yuu bisa diem gak? Yuu jangan banyak bac0t!" tunjuk Heksa kepada Febby.


"Halah, baperan amat lo!" ketus Febby.


"Mana ada, mungkin lo kali," ucap Heksa tak mau kalah.


"Lo woi!"


"LO!"


"Udah sih! Kalian ini tiap ketemu pasti berantem terus," ucap Bianca yang sudah muak mendengar perdebatan yang tidak berfaedah itu.


Aurin menghampiri Lucas dan memberikan keranjang buah, serta surat. "Ini buat kamu."


Aurin meletakkan keranjang buah itu ke atas nakas dekat tempat tidur Lucas. Lucas mengambil surat yang di berikan Aurin dan membukanya.

__ADS_1


"Surat cinta tuchh!" timpal Heksa.


"Diam woi!" gerutu Febby yang sudah kesal.


"Nyinyi nyinyi!"


Lucas membaca surat itu. "Lo mau putusin gue, Rin?" tanya Lucas membuka suara.


Aurin menunduk, berat baginya untuk melepaskan kekasih yang sangat ia sayangi selama ini. "Iya. Kamu, 'kan yang sudah b*nuh ortu aku?"


Bayangan Lucas di masa lalu kini kembali, membuat kepalanya terasa sakit. "Ahkk, sakit!" ringis Lucas yang kesakitan.


"Lucas!" ucap mereka semua dengan panik.


Lucas berusaha mengingat kejadian sebelumnya walau merasakan sakit di kepalanya. Memori waktu dia kecil kini sudah kembali.


"Aurin." Aurin menoleh dan menatap Lucas.


"Jangan tinggalin aku," ucap Lucas.


"Gak, kamu jahat! Kamu udah b*nuh ortu aku, kamu jahat! Aku benc1 sama kamu, Lucas." Aurin menangis sejadi-jadinya.


"Rin, lo tau? Gue b*nuh ortu lo ada alasannya sendiri. Gue tau itu sakit bagi lo, bokap lo udah buat bunda gue pergi! Dan, bokap lo gak ada sedikit rasa kasihan buat nolongin bunda gue! LO TAU GAK! BOKAP LO JUGA SALAH!" Emosi Lucas kini sudah memuncak, air mata Lucas membasahi seluruh wajahnya baru kali ini ia menangis lagi.


"Gue juga gak tau kalo itu ortu lo, gue juga sakit hati, Rin. Lo gak mikirin perasaan gue, lo bisanya nuduh gue aja! Kalo lo mau pergi, silahkan. Tinggalin gue, emang gue gak pantes buat lo. Gue pemb*nuh! Gue cowok yang gak becus," jelas Lucas sambil menangis.


Aurin terkejut mendengar perkataan Lucas. "Gak, ini gak mungkin!"


"Rin, yang di katain Lucas itu bener," jawab Bintang sambil memegang bahu Aurin.


"Gak mungkin, hiks ... hiks," tangis Aurin.


"Udah, lo jangan nangis lagi," ucap Bintang dan berusaha menenangkan Aurin.


Semua teman-temannya hanya terdiam melihat perdebatan itu, mereka hanya menyimak. Percuma juga toh kalo mereka berkata.


"Gue kecewa sama lo Lucas," lirih Aurin.


"Maaf, maaf Rin!" ucap Lucas.


"Maafin gue, gue salah! Kalo lo mau masukin gue ke penjara gak papa kok."


"Hiks ... hiks, gakk!" teriak Aurin.


"Rin, lo maafin aja Lucas!" pinta Bintang.


"Orang marah masih bisa memaafkan. Namun, jika sudah kecewa sulit untuk memaafkan." -Aurin.


Lucas terdiam, andai waktu bisa di putar. Ia ingin mengembalikan semuanya ke awal dimana ia bertemu Aurin dan ingin memperbaiki semuanya.


Singkat, sangat singkat hubungan Lucas dengan Aurin.


Aurin mendekat ke arah Reana.


"Kamu jagain Lucas, aku sayang sama dia. Jangan buat dia sakit hati lagi," jelas Aurin dan kembali menangis.


Reana memeluk Aurin. "Jangan nangis lagi, aku bakal jagain dia. Percaya sama aku."


"Makasih."


"Tapi, kamu maafin Lucas, ya. Kali ini aja," mohon Reana.


Aurin menatap Lucas dengan lekat. "Maaf, aku gak bisa!" tolak Aurin.


"Bintang, ayo kita pulang!" ajak Aurin dan menarik tangan Bintang.


"Lo maafin Lucas dulu," ucap Bintang.


"Aku belum siap, tunggu waktu yang tepat."


"Gak papa gak di maafin, semuanya salah aku," timpal Lucas.


"Makasih udah selalu ada buat aku, makasih untuk hari-harinya."


Aurin menoleh dan berlari ke arah Lucas kemudian memeluk Lucas. "Hikss ... hiks, maafin aku! Semua ini juga salah papa aku," tangis Aurin.


Lucas mengelus rambut Aurin. Dan berkata, "Jadi siapa yang salah?"

__ADS_1


__ADS_2