Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Flashback Lucas


__ADS_3

***


"Keadaan Aurin baik. 0perasinya berjalan dengan lancar, tinggal tunggu Aurin siuman aja." Lucas bersujud di kaki Dokter Jia dan banyak mengucapkan terimakasih kepada yang di atas serta Dokter Jia.


"Makasih, makasih banget!" ucap Lucas.


Dokter Jia menarik Lucas untuk berdiri dan berkata, "Iya, sama-sama. Jangan sujud di kaki saya lagi, ya. Itu sudah tugas saya menolong pasien," lanjut Dokter Jia.


"Akhirnya Aurin selamat!" Bianca dan Febby berpelukan sambil menangis bahagia.


"Alhamdulillah, makasih Ya Allah," ujar Bintang.


"Dok, apa kami boleh masuk?" tanya Lucas.


"Cuma satu orang yang boleh masuk," jawab Dokter Jia.


"Cas, lo aja yang masuk. Kita nunggu di luar aja," ucap Heksa.


Lucas masuk ke dalam ruangan Aurin dengan gemetar. "Sayang," panggil Lucas dan menghampiri Aurin.


"Rin, cepat sembuh. Aku kangen sama kamu, makasih udah berjuang demi aku!" Lucas mengenggam tangan Aurin dengan erat, kemudian menc1um dahi Aurin.


Bintang hanya menyaksikan kejadian itu di balik jendela ruangan Aurin, ia merasa cemburu dan sakit di hatinya.


'Argh, harusnya gue gak cemburu,' batin Bintang.


"Woy, kita ke resto yuk!" ajak Heksa.


"Yuk, gue juga udah laper nih," balas Febby.


"Bin, lo mau ikut?" tanya Bianca kepada Bintang.


"Kalian duluan aja, gue gak laper." Bintang pun meninggalkan mereka yang masih kebingungan.


"Lah, kenapa tuh anak?" tanya Aldino terheran-heran.


"Mungkin banyak pikiran, biasalah anak muda!" timpal Heksa.


"Emang lo anak tua?" balas Aldino dengan sinis.


"Gue tamp0l lo!" sentak Heksa.


"Baperan tingkat dewa lo," ujar Aldino.


"Secarakan Heksa gak pernah salah." Heksa memukul dadanya dengan bangga.


"Iya, sih si paling bener," ujar Febby dan Bianca sambil berjalan mendahului mereka.


"Aelah main tinggal aja," ucap Aldino dan mengikuti mereka berdua bersama Heksa.


***


"Guys, gue ada cerita," ucap Heksa memulai percakapan.


"Gak usah ajak gibah, gue udah tobat, Sa. Lo jangan tambah dosa gue," balas Febby yang seakan tau niat Heksa.


"Cerita sama gibah itu lain," ucap Heksa.


"Iya juga, ya. Mau cerita apa?" tanya Febby.


"Str3s banget dekat lo berdua. Ot*k lo berdua 11 12," ujar Bianca.


"Ogah banget gue sama Heksa. Muka kek reog gitu," ucap Febby.

__ADS_1


"Mulut yu bisa diem gak? Kata emak gue, gue ganteng!" ucap Heksa kepada Febby.


"Gue gAmpar juga lo." Febby mengambil buku tebal di dalam tasnya dan siap untuk melemparkan buku tersebut ke arah Heksa.


"Ampun, Nenek lampir. Bukunya tebal banget kek dosa lo, hahah!" Tawa Heksa dengan kencang.


"Dosa lo!" ketus Febby.


"Hadeuhh." Bianca dan Aldino hanya menyaksikan kejadian yang tidak berfaedah itu, membuang waktu saja. Lumayan, tontonan gratis.


***


Aurin sudah di pindahkan ke ruang inap atau ruang rawat sejak tadi. Sekarang, Lucas sedang menunggu Aurin siuman.


Drtt! Drtt!


Bunyi getaran ponsel berasal dari saku celana milik Lucas. Membuat dia langsung cepat mengangkat telfon tersebut.


Call On.


"Cas, pak Tisno sama istrinya udah berhasil gue tangkep. Lo cepatan ke sini, lumayan buat jadi makan siang kita!" ucap seseorang di sebrang telfon.


"Gue otw ke sana, lo jagain Tisno sama istrinya jangan sampai lepas."


Tut!


Lucas menc1um seluruh wajah Aurin dengan penuh kasih sayang. Dan berkata, "Sayang, aku pergi dulu, ya. Jaga diri baik-baik, nanti ada Febby sama Bianca yang jagain kamu."


Lucas begegas keluar dari ruangan Aurin.


"Cas!" panggil Heksa dan Aldino.


"Lo mau kemana?" tanya Heksa mewakili semuanya.


"Main tinggal aja tuh anak," ucap Heksa dan masuk ke ruangan Aurin.


"Mungkin ada urusan mendadak," tambah Febby.


***


Brum! Brum!


Motor ninja Lucas membela jalan raya Jakarta yang begitu ramai. Lucas mengendarai motornya dengan kecapatan tinggi.


Setelah beberapa menit, akhirnya dia sampai di markas miliknya.


Lucas mendobrak pintu markas dengan kuat dan berjalan menuju Victor-anak buahnya.


"Gimana?" tanya Lucas dan menatap ke arah pak Tisno serta istirnya yang telah di ikat menggunakan tali di tangan dan kaki mereka.


"Lepasin saya. Saya mohon, saya tidak bersalah apapun!" mohon Pak Tisno kepada Lucas.


"Anda yang buat perusahan papa saya hancur. Dan Anda juga yang membuat orang yang paling saya sayangi pergi!" teriak Lucas.


Orang yang paling Lucas sayangi, yaitu bunda-nya.


Flahsback on


"Lucas, jangan main di jalan, ya, Nak!" teriak Naina-bunda Lucas.


"Siap, Bun."


Lucas anak kecil yang berusia 5 tahun, ia adalah anak tunggal dari pasangan Fian dan Naina.

__ADS_1


Tiba-tiba, bola yang di mainkan oleh Lucas pergi menuju jalan raya.


"Bola aku!" teriak Lucas dan ingin menyusul bola tersebut. Namun, Naina dengan cepat menggandeng tangan Lucas.


"Jangan pergi, Nak. Biar Bunda ambilkan," ucap Naina dan berjalan menuju jalan raya.


Lucas melihat ke arah kiri jalanan, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. "Bunda awas!" teriak Lucas.


"Ahkkk!" teriak Naina.


Dan, bruk!


"Bunda!" Lucas berlari dan memeluk Naina yang sudah berlumur d4rah.


"Bunda jangan tinggalin Lucas, hiks ... hikss. BUNDA!" teriak Lucas menangis tersedu-sedu.


"Astgahfirullah!" Fian berlari menuju kecelakaan tersebut.


"Ayah, Bunda di tabrak sama mobil itu hiks ... hiks," adu Lucas sambil menunjuk mobil yang menabrak Naina.


Pak Tisno keluar dari mobil tersebut dan menyerahkan sebuah koper berisi uang kepada Fian dan keluarganya.


"Ambil, kalian pasti mau minta ganti rugi, 'kan?" Lucas menatap tajam ke arah Pak Tisno.


"Saya gak butuh uang, saya mau Anda balikin nyawa istri saya!" bentak Fian.


"Tinggal ambil aja apa susahnya," ujar Pak Tisno.


"Om, jahat! Aku akan balas perbuatan Om suatu hari nanti," ucap Lucas membuat Pak Tisno dan istirnya tertawa.


"Dasar bocah ingusan, bukti kan saja suatu hari nanti!" ejek Pak Tisno.


"Kamu itu masih kecil, jadi jangan sok-sokan!" timpal Vivian.


Mereka berdua meninggalkan kerumunan itu dengan acuh.


"Liat aja nanti." Lucas mengepal tangannya dengan kuat sambil menatap mobil Pak Tisno yang menjauh.


Flashback Off.


Mata Lucas memerah bertanda ingin meneteskan air mata, saat mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Saya menyesal, tolong maafkan saya!" ucap Pak Tisno.


"Gak ada kata maaf. Semuanya sudah lewat, Anda ingat janji saya waktu kecil? Saya akan membalas perbuatan Anda dan istri Anda ini!" bentak Lucas.


"Lucas anak baik, jangan apa-apain Tante, ya. Tante mohon," ujar Vivian memohon.


"Selamat tidur selamanya."


"LUCASS JANGAN!" teriak Vivian dan Tisno.


Jleb!


Jlebb!


Arghh, sakit bukan?


Lucas menusuk Vivian dan Tisno dengan bersamaan. Senyum smirk tersimpul di wajah Lucas, akhirnya ia bisa membalas dendamnya yang selama ini ia tahan.


"Jangan berurusan dengan Lucas Gabriell." Lucas terkekeh pelan.


"Bagus, Tuan." Victor ikut terkekeh bersama Lucas.

__ADS_1


__ADS_2