Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Jadi Rebutan?


__ADS_3

***


Aurin hanya cengegesan tanpa dosa.


"Dasar anak zaman sekarang!" umpat Pak Wisnu dengan kesal.


Tring! Tring!


Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa berhamburan ke kantin untuk mengisi perut mereka.


"Aurin!" panggil Bintang membuat Aurin menoleh.


"Kenapa?" tanya Aurin.


"Lo gak ham1l beneran, 'kan?" tanya Bintang.


Aurin mengangguk. "Jadi lo udah tau semuanya? Emang gue beneran gak hamil, Bin. Sih nenek lampir itu yang hamil," jelas Aurin.


"Ya, abisnya gue gak tahu!" ketus Bintang.


"Heleh, mata mu," ucap Aurin.


"Lo mau ke kantin? Yuk bareng sama gue," ucap Bintang dan menggandeng tangan Aurin.


"Ehk, jangan di pegang tangan gue, Bin!" ketus Aurin dan ingin melepaskan tangan Bintang dari tangan mungilnya.


"Biasa aja, Rin." Bintang semakin mengeratkan pegangan itu, membuat mereka menjadi pusat perhatian.


"Haduh, dasar cewek kegat3lan. Padahal jelas-jelas sih Aurin deket sama Lucas, dan sekarang sama Bintang." Naomi dan teman-temannya menyindir Aurin, membuat Aurin menatap mereka tajam.


"Apa lo bilang? Mungkin lo yang kegat3lan!" tegas Aurin dan mendekat ke arah Naomi.


"Lo yang kegat3lan sama cowok! Semua cowok lo embat," ujar Naomi.


"Emang dasar lont*h!" sindir Chika.


Plak!


Satu tampAran mendarat di pipi Naomi, membuat semuanya menjadi hening.


"Lo gak usah ikut campur sama urusan gue!" bentak Aurin dengan nafas yang mengebu-ngebu.


"Mental cupu, mental kertas sok keras ngelawan gue!" sindir Naomi lagi.


"Drama banget lo, setelah lo drama pura-pura hamil dan lo juga drama pura-pura tersakiti biar semua cowok perhatian sama lo. Iya, 'kan?!" lanjut Naomi.


"Apa sih yang spesial dari dia, kok semua cowok pada rebutin dia. Mukanya b aja tuh," ujar Irene.


"Biasalah, kegat3lan," balas Chika.


"Kena mental, 'kan lo!" ujar Naomi dan menjulurkan lid4hnya.


"Haha, siapa yang kena mental? Kalo mau ngehina, silahkan. Kita itu gak boleh kasar sama hewan, haha canda hewan." Naomi dan gengnya melotot saat mendengar jawaban dari Aurin.


"Berani, ya, lo sama kita!" bentak Naomi.


"Dasar lo kurang ajAr!" tegas Chika.


"Aurin! Aurin!" sorak semua siswa.

__ADS_1


"Lawan terus Aurin!"


"Aurin nih boss!"


"Lanjutkan bakatmu Aurin."


"Ada apa nih ribut-ribut!" Suara keras tersebut berasal dari Pak Bima kepala sekolah, membuat kantin yang tadinya ramai berubah menjadi hening tanpa suara.


Bintang sengaja memanggil kepala sekolah, agar permasalahan ini terselesaikan. Aurin menatap tajam ke arah Bintang, awas aja dia!


'Dasar ketos nyebelin!' gerutu batin Aurin.


Bintang mengedipkan mata sebelahnya ke arah Aurin, membuat Aurin semakin kesal.


"Awas lo!" umpat Aurin dan Bintang hanya tersenyum tipis saat melihat tingkah Aurin.


"Aurin, Naomi. Ikut Bapak ke ruang Bk!" bentak Pak Bima dan mereka hanya mengangguk.


"Semuanya bubar!" Semua siswa kembali duduk di meja kantin mereka masing-masing dan mulai makan.


***


"Kamu lagi kamu lagi!" Pak Bima menunjuk Aurin menbuat Aurin terkejut.


"Aurin, Bapak gak habis pikir sama kamu, kalo ada masalah di sekolah ini pasti ulah kamu. Sampai kapan kamu begini terus, Aurin? Mau saya keluarkan dari sekolahan ini, HAH?!" Suara Pak Bima meninggi membuat mereka terkejut.


'Serem banget Pak Bima,' batin Naomi dan menutup matanya karna ketakutan.


"Maaf, Pa---." Ucapan Aurin terpotong.


"Maaf kamu bilang? Enteng banget kamu bilang, maaf! Kamu itu perempuan, kalo laki-laki saya maklumin. Ini perempuan yang buat ulah di sekolah!" ucap Pak Bima lagi.


"Lah, Naomi yang mulai duluan, Pak." Aurin membantah dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Pak Bima.


"Gue minta maaf," ucap Aurin dan menjulurkan tangannya.


"Gimana, ya?" Naomi mengelurkan suara sok imutnya membuat Aurin tambah jyjyk.


"Tinggal balas 'Iya' apa susahnya, sih?!" gerutu Aurin.


"Iya, gue maafin." Aurin mengangguk kemudian pergi dari ruang BK.


Saat di luar, sudah ada Bintang dan Lucas yang menunggu Aurin keluar.


"Rin, lo gak papa?" tanya Bintang dan Lucas serempak.


"Lo ngikut-ngikut!" ketus Lucas.


"Lo," balas Bintang.


"Rin, kita ke kelas aja, yuk." Bintang menarik tangan Aurin.


"Aurin ikut sama gue!" Lucas menarik tangan sebelah kiri Aurin.


"Aurin punya gue!" tekan Bintang.


"Lo gak usah ikut-ikutan, dia udah jadi milik gue!" balas Lucas.


"Lo yang mikut-mikut," ucap Bintang tak mau kalah.

__ADS_1


"Pokoknya Aurin punya Lucas seorang!"


"Aurin punya Bintang."


Aurin di buat bingung oleh keduanya.


"Kalo gitu, kita suruh Aurin aja yang pilih," ucap Bintang.


"Rin, lo pilih gue apa Bintang?" tanya Lucas.


"Lepasin tangan gue!" bentak Aurin dan menghempaskan tangan mereka dengan kasar.


"Gak ada pilih-pilihan, kalian semua sama aja!" Aurin berlari dan meninggalkan mereka berdua yang diam mematung.


"Aurin!" teriak Lucas dan mengejar Aurin.


"Gue tandain lo, Lucas." Bintang pergi meninggalkan ruang BK, menuju kelas.


***


Aurin menghisap sesuatu di tangannya dan mengeluarkan asap.


"Tenangnya hidup," ucap Aurin.


"Aurin?" Lucas terkejut saat melihat Aurin menghisap sebatang r0kok di tangannya.


Lucas menepis tangan Aurin, membuat r0kok tersebut jatuh ke tanah. "Lo ngapain nghisap kek gituan hah?!" tanya Lucas dengan amarah.


"Ambilin punya gue, Cas!" rengek Aurin.


"Jangan, Rin. Gak sehat buat lo, lo itu cewek jadi gak boleh lagi nghisap gituan, ya," jelas Lucas.


"Gak usah ngatur hidup gue!" bentak Aurin.


"Gak, lo gak boleh nghisap gituan lagi. Gue pukul lo kalo nghisap itu lagi!" sentak Lucas dengan suara yang menyeramkan membuat Aurin terdiam dan menunduk.


Aurin membayangkan ayahnya membentak dia waktu itu, membuat Aurin meneteskan air mata.


Lucas yang menyadari bahwa Aurin menangis, ia pun memeluk Aurin dan mengelus rambut panjang Aurin yang sudah acak-acakan.


"Maafin gue, ya. Gue cuma gak mau lo sakit," ucap Lucas yang masih setia mengelus rambut Aurin.


"Jangan galak-galak aku takut," ujar Aurin membuat Lucas tertawa kecil.


'Lucu juga nih anak,' batin Lucas.


"Iya-iya, gak kok," balas Lucas.


Lucas menghentikan pelukannya dan berkata, "Lo dapat dari mana r0kok tadi, hah?"


"Gue minta sama cowok di kelas sebelah, terus gue nyoba dan ternyata enak juga."


"Lo gak boleh lagi nghisap r0kok, nanti lo bisa sakit, Rin. Lo tu cewek, jangan bandel!" peringat Lucas.


"Iya, gak bandel lagi," ucap Aurin.


"Anak pintar." Lucas mengacak-acak rambut Aurin membuat Aurin di buat salting lagi oleh Lucas.


'Haduh, pengen melayang,' batin Aurin yang kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2