
***
Aurin melepaskan pelukannya dan menatap Lucas. "Lo yang salah!" tunjuk Aurin.
"Lo mau laporin gue ke penjara?" tanya Lucas.
Aurin menghapus air matanya. "Gue sayang sama lo, Cas. Gue gak mau pergi dari kehidupan lo, tapi. Ahk, gak tau!" kesal Aurin.
"Maaf, Rin. Maafin gue!" ucap Lucas.
"Gue udah maafin lo." Aurin tersenyum dan memegang tangan Lucas.
"Makasih, Rin." Lucas membalas senyuman Aurin.
"Gitu kek dari tadi, maaf-an dong! Belum juga ber-rumah tangga udah drama aja nih duo bucin!" timpal Heksa yang asal terobos.
Febby menginjak kaki Heksa membuat sang empuh meringis.
"Woy, sakit!" sentak Heksa.
"Lo bac0t terus dari tadi, mulut lo mau gue lakban hah?!" kesal Febby dan berkacak pinggang.
"Haduh, lo jangan teriak-teriak, Feb! Budeg gue lama-lama," ejek Heksa sambil mengelus telinganya.
"Lo tuh emang ngeselin!" gerutu Febby.
"Mana ada gue tuh anak baik dan tidak sombong," ucap Heksa.
"Halah, gak ada!"
"Ada woy!"
"Bagi gue gak, lo tuh kek emak-emak. Badan doang laki, tapi mulut kek emak-emak!" ujar Febby membuat semuanya tertawa.
"Kechee Febby!" tambah Bianca.
"Bwahahah!" Tawa mereka semua membuat Heksa menunduk malu. Ingin sekali dirinya bakv hant4m dengan Febby sih nenek lampir itu.
'Awas aja lo,' batin Heksa sambil menatap Febby sinis.
***
Sore hari ini, sekitar jam 16.34an Bintang mengajak Aurin untuk jalan-jalan ke taman bunga.
"Tamannya bagus banget!" kagum Aurin sambil melihat bunga-bunga yang tertata rapi.
Bintang memetik setangkai bunga mawar bewarna merah muda, kemudian ia memasangkan bunga tersebut di balik telinga Aurin.
"Wahh, apa nih." Aurin memegangi telinganya.
"Lo suka?" tanya Bintang dan Aurin mengangguk.
"Suka! Bunganya cantik," jawab Aurin dengan senang.
"Iya, cantik kek bidadari di depan gue." Aurin yang mendengar perkataan Bintang barusan, ia langsung tersenyum salting. Kini mukanya sudah merah bak kepiting rebus!
"Ihk, lo bisa aja deh!" ketus Aurin dan masih tersenyum salting.
"Lucu banget sih!" gumam Bintang dan mencubit pipi Aurin.
"Ish, sakit!" tegur Aurin.
"Hahah!"
Mereka berfoto dan bermain layangan di taman itu hingga magrib.
"Yuk pulang, udah malam!" ajak Aurin dan Bintang mengangguk.
__ADS_1
Senja sudah menampakkan dirinya, senja begitu cerah sore ini dan diikuti kendaraan berlalu lalang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Ehk, darimana aja kok baru pulang?" tanya Buk Jiel.
"Habis jalan-jalan di taman," jawab Aurin.
"Kalian berdua itu cocok banget, Tante setuju kalo Aurin yang jadi mantu Tante!" ujar Buk Jiel membuat keduanya terkejut.
"Apa sih, Bund. Jangan bahas itu!" tegur Bintang dan dengan cepat ia masuk ke dalam rumah.
"Apaan dah Tante ini," ucap Aurin.
"Aurin tuh cantik banget lho! Oh, iya. Kata pelanggan yang pesan kue kemarin malam, katanya kue buatan kamu enak!" ujar Buk Jiel.
"Wah, serius?" tanya Aurin tak percaya.
"Iya!"
"Aurin gak nyangka dia bilang gitu, Tan."
Aurin dan Buk Jiel mengobrol sambil memasuki rumah.
Malam pun tiba.
Drtt! Drtt!
Getaran ponsel tersebut berasal dari ponsel milik Bintang, ia dengan cepat melihat ponselnya itu.
Call On.
08xxx
"Ingat sama janji di sekolah tadi? Lo mau berantem sama gue malan ini, ke sini kalo lo emang jagoan!"
"Tunggu gue," ucap Bintang dan menutup telponnya.
Bintang memakai hoodienya kemudian mengambil kunci motor dan bergegas turun.
"Bintang, kamu mau kemana Nak?" tanya Buk Jiel di ruang makan.
"Bintang keluar bentar, ya, Bund. Ada urusan sama teman, mendadak nih!" jawab Bintang dan segera pergi.
"Hati-hati, Nak!" teriak Buk Jiel.
Brumm! Brumm!
Bintang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi dan membela jalan raya Jakarta.
Tak butuh waktu lama, akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Tempat itu begitu sepi, jarang sekali kendaraan yang lewat jalan situ.
"Akhirnya lo sampai juga, gue kira lo gak sampai lagi!" ledek Hans salah satu dari mereka.
Mereka ber-jumlah 3 orang, mereka adalah musuh Bintang.
"Tentu, secarakan dia cengeng!" ejek Tian salah satu dari mereka.
"Kenapa diam aja lo!" tegur Syaf dan berjalan ke arah Bintang.
Bintang menatap mereka dengan remeh. "Sini maju!"
Mereka pun maju dan mulai menghaj4r Bintang.
Bintang dengan gesit ia menghindari pvkulan yang di berikan oleh lawannya, membuat mereka terguling di jalan.
"Aishh, lo berdua gak becus!" bentak Syaf dengan kesal.
__ADS_1
Syaf melayangkan satu pvkulan ke arah Bintang. Namun, Bintang dengan cepat menahan tangan Syaf dan memutar tangan Syaf ke belakang.
"Ahkk, lepasin! Sakit 4njing!" bentak Syaf sambil berteriak.
Bintang menghempaskan tvbuh Syaf ke aspal membuat b1bir sang empuh tergores sedikit.
"Awss, s1alan!" umpat Syaf.
Tiba-tiba, mobil seseorang berhenti. Bintang tak menyadari itu, ia tetap fokus dengan lawannya dan menantang mereka kembali.
Syaf tersenyum remeh karna atasannya datang. "Mungkin lo yang bakal mat1!" teriak Syaf dan tersenyum smirk ke arah Bintang.
Dan ....
BUGH!
Seseorang memvkul punggung Bintang dengan kayu, membuat Bintang terkejut.
"Ahkk!" ringis Bintang kemudian ia terjatuh ke aspal.
***
"Duh, Bintang kemana sih?" Aurin berjalan mondar-mandir sedari tadi di depan rumah Bintang, ia khawatir dengan Bintang karna belum pulang dari tadi.
Tiba-tiba Heksa dan Aldino berlari menuju rumah Bintang dengan tergesa-gesa.
"Aurin!" panggil Heksa dan Aldino setelah sampai.
"Kenapa kalian lari-larian?" tanya Aurin dengan heran.
"Bin--bintang," jawab Heksa dengan terbata-bata.
"Bintang? Kenapa dengan Bintang?!" tanya Aurin.
"Dia pingsan di dekat jalan melati!" jawab Aldino.
"HAH? Kok bisa, antar gue kesana cepat!" perintah Aurin dengan panik.
"Bintang!" teriak Aurin dan segera berlari.
Aurin berlari lebih dahulu dari mereka berdua.
"Woy, tunggu!" teriak Heksa dengan nafas yang tersengang.
Setelah beberapa menit, Aurin terkejut saat melihat Bintang yang sudah tergeletak di aspal dengan kepala yang sudah berdar4h.
"BINTANG!" teriak Aurin dan menghampiri Bintang.
Aurin menarik Bintang ke pangkuannya sambil menangis. "Bintang, lo kok bisa gini sih? Hiks ... hikss, Bintang!" tangis Aurin.
Bintang yang setengah sadar, ia pun mengelus wajah Aurin. "Haha, gue gak papa kok. Lo jangan nangis lagi gue sayang sama lo," ucap Bintang kemudian ia tak sadarkan diri.
"Bintang bangun, Bin! Hikss ... hikss, Bin bangun!" tangis Aurin dan terus menepuk wajah Bintang.
Heksa dan Aldino sudah menelpon ambulance untuk ke sini dan membantu Bintang serta preman tadi. Pelaku yang memvkul Bintang tadi sudah pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Siapakah dia?
"Bintang lo jangan mat1 dulu, utang lo masih banyak sama gue!" ucap Heksa dramatis sambil menangis.
"Idih, lebay banget lo!" tegur Aldino yang sudah kesal.
Setelah beberapa menit, ambulance pun datang dan membawa Bintang ke rumah sakit.
"Al, lo bawa motor Bintang, ya." Aurin pun masuk ke dalam ambulance dan Aldino hanya mengangguk.
Aurin terus memegangi tangan Bintang. "Gue tau lo kuat," ujar Aurin dan menc1um tangan Bintang.
__ADS_1
Astaga Heksa..........pengen gue tampol dah 😌😅