
***
Aurin sedari tadi terus saja memikirkan Bintang, ia mondar-mandir di depan ruangan Bintang.
"Bintang ...." lirih Buk Jiel yang tengah duduk sambil menangis.
Aurin menatap buk Jiel dan ikut duduk kemudian memeluk buk Jiel. "Sabar, ya, Tante. Aurin yakin pasti Bintang baik-baik aja."
"Iya, semoga baik-baik aja," ucap buk Jiel.
Hari sudah semakin malam, Dokter pun keluar dari ruangan Bintang.
"Dok, gimana keadaan anak saya?" tanya Buk Jiel.
"Anak Ibu baik-baik aja, cuma ada luka yang cukup besar di bagian bahunya, karna pvkulan yang sangat keras. Mungkin, besok udah siuman," jelas Dokter.
"Makasih, Dok!" ucap Buk Jiel.
"Iya, kalo begitu saya permisi dulu."
Mereka pun masuk ke dalam ruangan Bintang.
"Bintang, kok kamu bisa kek gini, Nak?" Buk Jiel memegang tangan Bintang dan menc1um Bintang.
"Tante yang sabar, ya." Aurin terus-menerus menenangakan buk Jiel.
"Eumm, Tante, Aurin. Saya pamit pulang dulu, ya. Udah di telfon sama mama soalnya," ujar Aldino.
"Saya juga, Tan. Udah di cariin," ucap Heksa.
"Makasih, ya, udah tolongin Bintang. Makasih banget," ujar Buk Jiel.
"Iya, sama-sama, Tan."
"Makasih," ucap Aurin dan mereka pun tersenyum.
***
Hari sudah berganti, seperti biasa Aurin dan teman-temannya sedang berada di kantin sekolah. Tepatnya di pojok kantin.
"Gimana keadaan Bintang, Rin?" tanya Bianca.
"Alhamdulillah gak terlalu parah. Mungkin siang nanti udah siuman," jawab Aurin.
"Semoga aja cepat pulih," balas Febby.
"Btw, kalian nanti mau kuliah kemana?" tanya Bianca.
"Universitas Lentera Bangsa kalo gue," jawab Febby.
"Nah, gue juga masuk di situ!" timpal Heksa dan Aldino serempak.
"Kang niru," ucap Aldino dengan wajah datar.
"Idih, mana ada. Gue gak niru lo woi!" ketus Heksa.
"Serah lo aja dah." Heksa hanya menderetkan gigi putihnya itu sambil cengegesan.
"Kalo lo mau kemana, Rin?" tanya Bianca kepada Aurin.
"Hehe, aku gak tau. Keknya aku gak kuliah, aku aja gak punya keluarga." Kini semuanya mendadak hening dan merasa kasihan dengan Aurin.
"Duh, kok gelap sih?" ucap Heksa. Febby menatap Heksa dengan tatapan tajam membuat Heksa bergidik ngery.
"Aelah, biasa aja kali," ucap Heksa.
"Gak tau nasib orang lo," timpal Febby.
"Ho'oh."
"Ahkk, kita gak boleh pisah, Rin. Pokoknya lo harus barengan kualiahnya sama kita," ujar Bianca.
"Doain aja moga gue dapet beasiswa," balas Aurin.
"Amiinn," ucap mereka serempak.
"Ahkk, lope-lope sekebon buat kalian!" Aurin memberikan tangan sarangheo ke arah teman-temannya itu dengan perasaan senang.
"Apa sih yang gak buat Aurin," ujar Febby dan memeluk Aurin diringi Bianca.
Heksa dan Aldino hanya menyimak percakapan yang random itu.
"Sangat sangat tidak jelas!" ketus Heksa.
Kring! Kring!
Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa berhamburan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Aurin berjalan menuju rumah Bintang dengan perasaan yang tidak enak.
"Aku pengen kuliah di Universitas Lentera Bangsa. Tapi aku sadar kalo aku gak punya siapa-siapa lagi," ucap Aurin. Tak terasa air matanya kini mulai berjatuhan tanpa menunggu persetujuan darinya.
"Ihk, kok aku nangis sih! Harusnya aku bersyukur. Tamat SMA aja udah seneng, tapi aku pengen kuliah. Pengen jadi Dokter hiks ... hikss, andai ibu sama ayah masih hidup. Hidupku kok gini banget, ya? Aku capek rasanya," oceh Aurin di sepanjang jalan.
"Si4l banget sih hidupku, apes, apes!"
Pandangan Aurin tertuju pada sebuah Cafe yang ada di sebrang jalan, di kaca Cafe tersebut terdapat tulisan.
__ADS_1
"Buka lowongan kerja sementara untuk lima hari."
"Hah? Gak salah liat ni?" Aurin berlari menuju Cafe tersebut dan menatapnya tak percaya.
Aurin pun masuk ke Cafe tersebut dan menemui bos pemilik Cafe tersebut.
Setelah beberapa menit.
"Beneran ni Buk?" tanya Aurin sambil menangis bahagia.
"Iya, mulai hari ini kamu bisa bekerja di sini. Selamat bekerja!" ujar Disha-pemilik Cafe-Flower Lily.
"Ahkk, demi apapun makasih banget! Aku juga lagi butuh pekerjaan kek gini," ucap Aurin dan memeluk Disha.
Disha terkejut kemudian membalas pelukan Aurin. "Iya, sama-sama," lanjutnya.
Mulai siang itu, Aurin sibuk melayani pelanggan yang datang. Semua pelanggan senang atas layanan Aurin, karna dia baik dan begitu ramah serta cantik.
"Mas sama Mbak nya mau pesan apa?" tanya Aurin kepada salah satu pelanggan.
"Salad buah sama seblak satu, dan minumannya pesan kopi susu sama jus mangga."
Aurin pun mencatat semua pesanan pelanggan itu.
"Udah itu aja, Kak?" tanya Aurin.
"Iyaa." Aurin mengangguk dan memberikan pesanan itu ke Disha.
"Kamu bantuin aku buat seblaknya, ya," ucap Disha.
"Okehh."
Akhirnya pesanan pelanggan pun jadi, Aurin membawa pesanan itu ke meja no 04 dengan hati-hati.
"Itu bukannya Aurin, ya?" Suara itu berasal dari Naomi dnn gengnya yang duduk di meja pojok.
"Lah, iya. Kenapa dia tiba-tiba jadi pegawai Cafe sini, ya? Miskin kali dia," ucap Chika.
"Biasalah, lont*h kurang asupan!" sindir Irene.
Suara itu terdengar jelas di telinga Aurin, ia berusaha untuk tidak memperdulikan itu semua. Ia menganggap itu semua hanya angin yang lewat.
Saat Aurin berjalan di dekat Naomi dan gengnya, Naomi memberikan kode ke arah Chika. Chika menjulurkan kakinya ke arah Aurin. Dan ...
BRUK!
Aurin terjatuh membuat seisi Cafe tertawa melihat kejadian itu.
"BWHAHAHAH!" Tawa semua orang di Cafe.
"Bwaahaha, mampuss!" ledek Naomi dan merekam kejadian Aurin saat dia jatuh tadi.
"Lucu kek gitu?!" bentak lelaki tersebut.
"Luu--cas?" Naomi terkejut saat melihat Lucas dan Reana.
Disha menghampiri Aurin dan membantu Aurin berdiri.
"Maafin aku, Sha. Aku gak sengaja tadi, maaf! Kalo mau pecat aku pecat aja, aku emang gak becus." Aurin terus menangis, ia merasa bersalah kepada Disha.
"Gimana sih, bawa makanan aja gak becus!" tegur pelanggan yang tadi.
"Maaf, Kak. Ada sedikit masalah, mohon di maklumin," ujar Disha.
"Sayang, kita pergi aja yuk. Udah gak mood makan di sini," ajak pelanggan tadi kemudian pergi meninggalkan Cafe Disha.
"Maafin aku, Sha."
"Udah, gak papa kok, Rin. Lagipula itu bukan salah kamu, aku udah liat semuanya tadi." Disha menatap tajam ke arah Naomi dan gengnya.
"Kenapa liat-liat? Cantik?" tanya Irene dengan pede-nya.
"Idih, muka kek tong sampah aja bangga!" hina Disha.
"Apa lo bilang?!" bentak Irene.
"Apa? Gak suka?" ketus Disha balik.
"Sha, udah," ucap Aurin.
"Huhh, untung aja gue sabar," balas Disha dan mengelus dadanya.
"Aduh, siapa sih yang jatuh tadi?" sindir Naomi.
"Oh, iya. Gue masih punya lho video yang dia jatuh tadi. Kita viralin aja ke sosial media, biar semua orang liat aib dia tadi, bwhahah!" Tawa Naomi dan gengnya.
Naomi menjulurkan lid4hnya ke arah Aurin. Aurin menatap mereka dengan tatapan datar.
"Hahaha, kalo mau sebarin silahkan. Gue sebagai manusia, gak boleh jahat sama bin4tang." Naomi dan gengnya melotot saat mendengar perkataan Aurin.
"Berani ya, lo sama kita!" bentak Naomi dan maju ke arah Aurin.
"Aduh, keknya ada yang ke sindir nih," ejek Aurin.
"Ihkkk!" geram Naomi.
Plak!
__ADS_1
Naomi men4mpar wajah Aurin membuat wajah Aurin memerah.
"Kenapa lo? Sirik sama gue, iri sama gue? Kalo iri saingin dong!" ucap Aurin lagi.
"Ogah gue iri sama lo," tegur Naomi.
"Mending lo pergi dari sini!" bentak Lucas.
"Awas lo!" Naomi dan gengnya menatap tajam ke arah Aurin dan berlalu pergi meninggalkan Cafe itu.
"Aurin, kamu gak papa?" tanya Reana dan menghampiri Aurin yang sedang duduk.
Aurin tersenyum. "Aku gak papa kok."
"Ada yang sakit?" tanya Lucas.
Aurin menatap Lucas dengan lekat. "Gak ada kok sayang! Ehk, ralat woi! Maksudnya Lucas," ucap Aurin dengan gagap.
Disha membawa kotak p3k dan menghampiri Aurin.
"Sini gue obatin luka lo," ucap Disha dan mulai meneteskan betaden ke kapas.
Aurin menutup matanya karna takut, Lucas terkekeh saat melihat tingkah Aurin yang tidak pernah berubah.
'Lucu,' batin Lucas.
"Biar gue aja yang obatin," ucap Lucas dan Disha langsung memberikan kapas itu ke arah Lucas.
"Tahan, ya. Mungkin ini rada sakit," ujar Lucas dan mulai mengobati luka Aurin.
"Awss ... pedih!" tegur Aurin dan memukul tangan Lucas.
"Udah diem aja," balas Lucas.
"Ahkkk, sakit! Pedihh woyy!" ringis Aurin.
"Udah ihhkk," ringis Aurin lagi dan mendorong Lucas.
"Iya-iya."
"Huhh!" Aurin terus meniup luka di lututnya itu.
"Hm, lo kerja di sini?" tanya Lucas.
"Iya, buat nambah uang saku aja hehe," jawab Aurin.
"Kamu hebat, Rin. Masih sekolah udah kerja," ucap Reana dan memberikan jempol ke Aurin.
"Aurin gitu lho!"
"Iyaa dehh, Aurin."
Mereka pun berbincang-bincang hingga sore.
Pukul menunjukkan 17.54 WIB, Cafe tersebut kini sudah tutup dan Aurin bersiap-siap untuk pulang.
"Aurin, tunggu!" panggil Disha dan memberikan sebuah kotak.
"Ini ada pesanan dari rumah sakit, kamu anterin ya pake motor aku. Bisa, 'kan?" tanya Disha.
"Ohh, bisa kok," jawab Aurin kemudian ia mengendarai motor Disha.
Sepanjang jalan wajah Aurin nampak panik, ia takut bertemu dengan buk Jiel dan Bintang.
"Semoga aja gak ketemu sama Bintang," gumam Aurin.
Tak butuh waktu lama, Aurin pun sampai di rumah sakit. Ia mengecek alamat pesanan itu, alangkah terkejutnya Aurin alamat yang tertera di pesanan itu adalah kamar Bintang.
"What? Ini, 'kan ruangan Bintang?" gumam Aurin dengan panik.
"Aduh, gimana nih," ucap Aurin dan mulai mengetuk pintu kamar.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Bintang dari dalam.
'Akhirnya Bintang udah siuman, syukurlah,' batin Aurin.
Aurin mengubah suaranya dengan suara lain. "Permisi, Kak. Ini ada pesanan dari Cafe Flower Lily atas nama Bintang," ujar Aurin di balik pintu.
"Masuk aja sini, saya mager keluar!" panggil Bintang dari dalam.
"Gak bisa, Kak. Saya lagi batuk dan saya juga gak pake masker. Nanti bisa ketularan," balas Aurin kikuk.
Aurin meletakkan pesanan itu di luar kamar Bintang. "Pesanannya saya letakkan di depan pintu, ya, Kak. Kalo begitu saya permisi dulu," ucap Aurin dan ingin pergi.
"Uangnya gimana?" tanya Bintang.
"Oh, iya. Aduh!" Aurin menepuk dahinya itu dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Uangnya selipin aja di bawa pintu," jawab Aurin.
Bintang menyelipkan uangnya di bawa pintu, Aurin dengan cepat mengambil uang itu dan segera pergi.
"Aduhh, aduhh! Cepatt, jangan sampai ketahuan," ucap Aurin dan berlari menuju motornya.
Bintang keluar untuk mengambil pesananya, dan melihat Aurin.
__ADS_1
"Kek kenal tu cewek," gumam Bintang kemudian masuk kembali.