Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Aku Bukan......?


__ADS_3

***


"To--tolong," lirih Lucas sambil menatap jalanan dengan keadaan buram, kemudian ia tak sadarkan diri.


Semua warga berteriak histeris dan menghampiri Lucas yang sudah terbaring di aspal dengan darah yang sudah berceceran.


"Dia masih hidup, telfon ambulance dan suruh ke sini!" perintah salah satu warga sambil mengecek urat nadi tangan Lucas.


Tak butuh waktu lama, ambulance pun datang.


***


Lucas di bawa ke ruangan UGD. Salah satu warga mengecek hp milik Lucas kemudian menelfon nomor Aurin.


Call On.


"Assalamualaikum, apa benar ini nomor keluarga atas nama Lucas?" tanya warga tersebut.


"Waalaikumsalam, iya saya pacarnya. Kenapa dengan Lucas?" tanya Aurin di sebrang sana.


"Lucas tadi kecelakaan, dia habis di tabrak oleh mobil dan sekarang sedang berada di rumah sakit Cahaya Pelita."


"Saya otw ke sana!" jawab Aurin dengan gagap.


Call Off.


Aurin terduduk di kasurnya, ia masih tak percaya dengan perkataan orang yang tak di kenal tadi.


"Lucass, tunggu aku!" Aurin mengambil tasnya kemudian berjalan keluar dari apartement.


"Bintang angkat dong!" gerutu Aurin dan terus menelfon nomor Bintang.


Drtt! Drtt!


Aurin segera mengangkat telfon dari Bintang.


"Bin, antarin gue ke rumah sakit. Cepat, gue gak ada waktu!" ucap Aurin.


"Kenapa? Lo sakit?" tanya Bintang.


"Udah, lo cepat aja ke sini!"


Aurin memat1kan telfon secara sepihak, ia terus saja memikirkan keadaan kekasihnya itu.


"Haduh, Ya Allah lindungilah Lucas," ucap Aurin.


Brumm! Brumm!


Bunyi klakson itu berasal dari motor milik Bintang, Aurin dengan cepat ia langsung berlari menuju motor Bintang.


"Ngapain ke rumah sakit?" tanya Bintang saat di perjalanan.


"Lucas kecelakaan," jawab Aurin.


Bintang terkejut. 'Hah? Lucas kecelakaan? Apa dia mikirin perkataan gue tadi, ya?' batin Bintang bertanya-tanya.


"Hm, lo yang sabar, ya. Gue pastiin Lucas selamat!" ujar Bintang dan Aurin mengangguk.


***


"Sus, saya mau tanya. Pasien yang di bawa pake mobil ambulance tadi ruangannya dimana, ya, sus?" tanya Aurin kepada suster di kasir.

__ADS_1


"Di bawa ke ruangan UGD, Mbak."


Aurin mengangguk. "Makasih."


Aurin berlari menuju ruang UGD, di sana sudah ada beberapa warga yang setia menunggu di depan pintu ruang UGD.


"Pak, gimana keadaan Lucas?" tanya Aurin kepada salah satu warga.


"Gak tau, Neng. Dokter masih di dalam," jawab warga tersebut.


"Lucass," lirih Aurin dan terduduk di lantai.


Bintang mendekat ke arah Aurin, kemudian menyeimbangkan tingginya dengan Aurin. "Lo tenang aja, Lucas kuat! Dia pasti selamat," ucap Bintang.


"Harusnya aku tadi gak nyuruh dia pergi. Hikss ... hiks, salah aku!" tangis Aurin dan memeluk Bintang.


"Shutt, jangan nangis!" Bintang mengelus rambut Aurin dengan lembut dan berusaha menenangkan Aurin.


"Kalo begitu, kami permisi dulu ya, Neng." Warga tersebut berpamitan untuk pulang dan Aurin hanya mengangguk.


"Makasih, Pak, udah tolongin Lucas. Makasih banget!" ucap Aurin.


"Iya sama-sama."


Bintang dan Aurin masih setia menunggu Lucas, Aurin terus saja menatap Lucas di balik jendela.


'Lo sayang banget sama Lucas, lo gak tau aja kalo Lucas yang b*nuh ortu lo, Rin. Andai lo tau, pasti lo benc1 banget sama Lucas,' batin Bintang.


Dokter pun keluar dari ruang UGD, Aurin langsung menghampiri Dokter tersebut.


"Dok, gimana keadaan Lucas?" tanya Aurin.


"Pasien mengalami benturan keras di kepalanya, membuat dia hilang ingatan untuk sementara. Tapi seiring berjalannya waktu nanti ingatannya akan balik kembali," jelas Dokter.


"Tentu, tapi jangan lama-lama. Pasien masih butuh banyak istirahat!" Dokter tersebut pun pergo meninggalkam mereka berdua.


Aurin memasuki ruang UGD ia menatap Lucas yang sedang terbaring di atas brankar.


Aurin mengelus rambut Lucas dan berkata, "Cepat sembuh, sayang. Aku kangen sama kamu." Aurin mencium dahi Lucas dengan lama.


Pukul menunjukkan 20.10 WIB.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Seseorang datang ke dalam ruangan Lucas. Seorang lelaki paruh baya datang bersama seorang gadis yang berumuran seperti Aurin.


"Apa yang terjadi dengan Lucas?" tanya Fian-ayah Lucas. Masih ingat, 'kan di part sebelumnya?


"Lucas di tabrak sama mobil, Om. Dan dia mengalami benturan di kepalanya membuat dia ilang ingatan," jelas Aurin.


"Anda siapanya anak saya?" tanya Fian.


"Saya pacarnya," jawab Aurin dan tersenyum.


"Kamu anaknya Tisno? Yang b*nuh nyawa istri saya, 'kan!" bentak Fian membuat Aurin terkejut.


"Ha--hah? Mak--maksudnya apa, Om?" tanya Aurin dengan terbata-bata.


"Jangan sok polos kamu, dasar anak pemb*nuh!" Fian ingin melayangkan satu tAmparan ke arah Aurin. Namun, tangannya di cegah oleh Bintang.

__ADS_1


"Jangan pernah main tangan ke perempuan!" bentak Bintang balik.


"Emang dasar gak punya malu, anak pemb*nuh masih aja mau deketin Lucas!" ledek Reana-teman kecil Lucas.


"Mulai sekarang anda jauhin anak saya, saya gak sudi punya menantu anak dari pemb*nuh!" teriak Fian.


"Aku gak tau apa-apa, Om. Aku bukan anak pemb*nuh!" ucap Aurin.


"Pergi, saya bilang pergi!" bentak Fian lagi.


"Kalo udah di usir, minimal pergi lah! Dasar gak punya urat malu," sindir Reana lagi.


Aurin menatap tajam ke arah Reana.


Bintang menarik tangan Aurin untuk pergi dari ruangan Lucas. "Ayo kita pergi, orang kek gini gak pantas di baikin!" ujar Bintang.


"Ta--tapi, Lucas!" ucap Aurin dan menangis sambil menatap Lucas.


"Rin, yok kita pulang!" ajak Bintang, kemudian dia menggendong Aurin layak seperti anak kecil.


"Lepasin, hiks ... hikss. LUCAS!" rengek Aurin.


"Lepasin!"


"LUCASSS!"


Aurin terus berteriak sampai di luar rumah sakit, Bintang menurunkan Aurin. "Udah lo jangan nangis lagi," ucap Bintang.


"Ayang aku gimana? Hikss ... hiks, ayang aku!" rengek Aurin lagi.


"Udah ada bapaknya yang jagain dia. Kita ke cafe, situ yuk!" tunjuk Bintang kepada sebuah Cafe di sebrang jalan.


"Gak mau!" tolak Aurin.


"Udah, ayo!" Bintang pun menarik paksa tangan Aurin untuk pergi ke Cafe tersebut.


Cafe Flowers Red tulisan besar tersebut terpapar di atas Cafe itu, serta dengan tambahan lampu-lampu dan bunga gantung membuat Cafe tersebut menjadi lebih indah dan menarik untuk di kunjungi.


Bintang mengajak Aurin untuk duduk di rooftop Cafe tersebut, di atas rooftop sudah tersedia konser musik. Pantas saja banyak anak muda yang berkunjungi di Cafe ini.


"Pengumuman, ada yang bisa bermain gitar dan bisa membawakan sebuah lagu?" Suara dari microfon tersebut membuat Bintang tertarik untuk maju ke depan.


"Gue bisa sih main gitar," gumam Bintang.


"Lo cepat maju sana, gue pengen liat!" pinta Aurin.


Bintang mengangguk, kemudian ia maju.


"Ahkk, dia ganteng banget!"


"Calon ayah dari anak-anak ku nanti itu."


"Plis ganteng banget!"


"GBL GBL, ganteng banget lho!"


Begitulah teriakan dari cewek-cewek dengan histeris.


"Malam ini saya ingin membawakan sebuah lagu untuk gadis tercantik yang tengah duduk di pojok sana," jelas Bintang membuat semua tamu menatap ke arah Aurin.


Aurin terkejut dan merasa malu saat semua orang menatapnya.

__ADS_1


'Bintang apaan sih, bikin gue salting aja!' batin Aurin dengan senyam-senyum tidak jelas.


__ADS_2