Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Happy Birthday


__ADS_3

***


"Bin, liat tugas lo!" pinta Aldino.


"Hm." Bintang mengangguk dan memberikan buku miliknya.


"Makasih sayang."


"Idih, dasar gila*!" ketus Bintang.


"*njing."


***


Matahari sudah meninggi dan menampakkan sinarnya yang begitu terang. Pukul menunjukkan jam 13.30WIB.


"Assalamualaikum." Aurin mengetok pintu rumah Bintang. Namun, tidak ada jawaban dari orang rumah.


Ceklek!


"Lah? Kok gak ada orang?" Aurin menatap sekeliling rumah yang sepi bak kvburan.


Aurin menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.


Ia terkejut saat melihat balon, boneka teddy bear yang berukuran jumbo, serta buqet bunga yang terletak di atas kasur miliknya.


"Hah? Ini apa woyy?!" tanya Aurin kepada dirinya sendiri.


Aurin membaca surat yang terletak di kasurnya.


Isi surat :


"Happy birthday Aurin cantik, semoga panjang umur, sehat selalu. Dan tambah cantik pastinya, jangan sering marah-marah lagi, ya. Kamu tuh lucu banget lho kalo marah, love you." -Bintang Ganteng!


Aurin tersenyum salting dan tertawa sendiri. "Ahk, lucuu!"


Aurin turun kebawah dan menuju dapur dengan perasaan senang. Di dapur dia menemukan hadiah dan surat lagi.


Isi surat :


"Happy brithday bestod, panjang umur terus, ya. Dan intinya jangan sedih-sedihan lagi, tambah cantik tentunya! Oh, iya, untuk selanjutnya lo ke ruang tv deh." -Febby cuteee.


Aurin berjalan lagi menuju ruang tv, ia mencari-cari yang di maksud oleh Febby barusan.


"Dimana sih suratnya?" Aurin terus mencari dan dia menemukan kado serta surat di dekat pot bunga.


Isi surat :


"Happy birthday Aurin cantik! Doa terbaik untukmu, semoga selalu bahagia udah itu aja sih hehe." -Bianca dan Aldino.


"Kalian lucu banget sih!" gumam Aurin dan tersenyum senang.


Aurin kembali berjalan dan mencari surat lain.


"Itu dia!"


Aurin menemukan surat lagi di dekat jendela serta kado bewarna pink.


Isi surat :


"Happy birthday cantik, panjang nafas terus, ya. Oh, iya, lo jangan mau sama Bintang dia itu galak. Mending sama babang Heksa yang gantengnya tiada lawan ini. Eits, gue bercanda doang! Happy birthday, Rin. Semoga lo cepat jadi ayang gue awok-awok. Sekarang lo boleh keluar rumah dan lo berdiri di dekat pohon mangga samping rumah Bintang." -Heksa tamvan tiada lawan.


Aurin terkekeh kecil saat membaca surat dari Heksa. "Ada-ada aja makhluk aneh satu ini."


Aurin berjalan keluar rumah dan menunggu di dekat pohon rumah Bintang.


"Disini gak ada apa-apa dah," gumam Aurin dengan kesal.


Tiba-tiba seseorang menutup mata Aurin membuat Aurin terkejut.


"Ehk, apaan nih woy! Lepasin gue. Gue gak mau mat1 dulu, gue ini masih b3ban keluarga!" berontak Aurin.


"Sama, aku juga b3ban keluarga kok."


"Lo pasti Febby, 'kan?!" tebak Aurin.


"Bukan, saya adalah penculik!" balas Febby.


"Lepasin gue, kalian apa-apaan sih!" bentak Aurin.


"Diem aja!" bentak Bianca balik.


Febby menginjak gas motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Aurin dan Bianca terkejut.


"Feb, jangan ngajak mat1!" teriak Aurin.

__ADS_1


"Ahkk, gue kehilangan keseimbangan," ucap Febby dan berusaha meredakan gas motor.


"Injak rem!" perintah Bianca.


"Febby, di depan ada mobil!" teriak Aurin dan menunjuk mobil di depan yang tiba-tiba berhenti mendadak.


"AHKKK!" teriak mereka bertiga dan terjetuh dari motor.


"Apa? Pokoknya papa jangan pergi sebelum aku pulang," ujar seseorang di dalam mobil yang bewarna merah.


"Aduh, pinggang gue sakit," ucap Febby.


"Woy, turun lo sekarang!" teriak Bianca ke arah mobil merah di depannya.


Seseorang turun dari mobil merah itu, dengan pakaian bewarna merah muda dari atas sampai bawa serta tas bewarna hitam dan merah yang ia pegang. Tak lupa jam tangan senilai harga jutaan di tangannya.


Ia pun melemparkan uang ke arah mereka bertiga.


"Tuh, lo pasti mau minta ganti rugi, 'kan? Kenapa cuma di liatin doang? Ya ambil dong!" perintahnya.


"Heh, lo gak usah belagu, ya!" bentak Febby.


"Kenalin, gue anaknya tuan Justin Athana, CEO terkaya no 1 se-Indonesia. Kenapa? Takut, 'kan lo?"


"Yang ngomong, bwahahah!" tawa Febby membuat Bianca dan Aurin ikut tertawa.


"Lo tau gak? Motor lo itu motor murahan, gue bisa beli motor lo itu satu truk!" ejeknya.


"Motor gue emang murahan, kek harga diri lo bwahahaha!" ejek Febby balik dan kembali tertawa.


Febby mengendarai motornya bersama Bianca dan Aurin, kemudian ia menjulurkan lidahnya ke arah cewek itu.


"Wlekk, mental cupu jangan sok keras dek!" teriak mereka bertiga sambil menjulurkan lidahnya dan memberikan tangan **** you. Hohohoh!


"ISH AWAS LO!" gerutu cewek itu dengan kesal.


***


Setelah beberapa menit, Aurin kini sudah siap dengan gaun bewarna biru muda dan rambut yang sudah tertata rapi serta make up yang ada di wajahnya.


"Widih, geulis pisan Neng!" ucap Febby membuat Aurin tersenyum.


"Udah, yuk cepat pergi!" ajak Aurin dengan tersenyum.


"Ayo, gas!"


Bianca menutup mata Aurin membuat Aurin kesal.


"Kenapa harus di tutup segala, sih?" tanya Aurin dengan kesal.


"Udah, lo diem aja," jawab Bianca.


Satu.


Dua.


Tiga.


Dorr! Dor!


"HAPPY BIRTHDAY!"


Aurin terkejut saat melihat supries dari teman-temannya, kemudian ia meneteskan air mata bertanda bahagia.


"Makasih!" ucap Aurin.


"Sama-sama Aurin cantik."


Beberapa menit kemudian.


"Kue di sini enak-enak banget," gumam Heksa sambil memakan kue yang berada di tamgannya.


"Rakus banget lo kek gak pernah makan setahun aja!" tukas Aldino tajam.


"Kue itu di hidangkan buat di makan, bukan buat di pajang!" balas Heksa tak kalah tajam.


"Sebenarnya gue kasian liat cewek gue kemarin di prank," ucap Heksa dramatis membuat semuanya menatap dirinya.


"Idih, lo suka sama Aurin?" tanya Aldino.


"Aduh, gimana, ya." Heksa nampak berpikir sebentar sambil memegangi dagunya.


"Yaelah, awas aja lo kalo suka sama Aurin!" gerutu Aldino dengan kesal.


"Semua cowok lo embet, Sa!" kesal Febby dan menjitak kepala Heksa.

__ADS_1


"Sakit b0doh!" gerutu Heksa.


"Ngemeng-ngemeng, lo berdua cocok juga tuchh," ujar Bianca kepada Febby dan Heksa.


"Ogah gue sama nenek lampir," balas Heksa tajam.


"Gue juga ogah sama lo," balas Febby tak mau kalah.


"Nanti jodoh mampua!" timpal Aldino.


"Mampus, beg0," ucap Bianca membenarkan dan Aldino hanya cengegesan.


"Gini amat punya teman str3s!" umpat Bintang yang tengah menyimak sedari tadi.


Hari semakin malam, pukul menujukkan jam 19.40WIB. Bintang mengajak Aurin untuk duduk di luar rumahnya.


"Rin, lo punya crush gak?" tanya Bintang.


"Punya, dia itu ganteng, baik, pintar, dan rajin lagi!" jawab Aurin.


"Ohh."


Aurin menatap Bintang dengan tatapan datar. 'Ish, padahal gue suka sama lo Bintang,' batin Aurin dengan kesal.


Aurin bersedekap dada dan membalingkan badannya.


"Lo marah?" tanya Bintang kepada Aurin.


"Ish, Bintang lo cepetan temb4k Aurin kek!" umpat Bianca di balik pohon bersama yang lainnya.


"Sumpah, gue greget banget sama Bintang. Malah di biarin Aurinnya ngambek," kesal Febby.


"Tinggal bilang kata 'Lo mau gak jadi pacar gue' susah amat sih," ujar Aldino.


"Minggir woy, gue mau liat!" ucap Heksa dan mendorong teman-temannya.


"Woy, jangan dorong-dorong."


"Gue pen liat 4njay!"


"Bac0t."


Bintang mendengar keributan itu membuat ia menoleh ke arah sumber suara, refleks membuat temannya langsung menunduk.


"Tuh, 'kan ketauan," bisik Febby.


"Gara-gara Heksa,' bisik Bianca balik.


"Iya, gue salah. Emang dah cewek tuh si palih bener," ucap Heksa.


Bintang mengambil buqet di motornya dan segera menghampiri Aurin.


"Rin, coba lo balik badan!" pinta Bintang.


Aurin hanya acuh dan cuek. "Dasar gak peka!"


"Bwhaha, kamu lucu banget sih," tawa kecil Bintang.


"Balik sini dulu, cepat!"


Aurin tepaksa berbalik dan ia terkejut saat melihat Bintang memberikan buqet ke arah Aurin.


"Pokoknya lo sekarang jadi milik gue seuntuhnya, gak terima penolakan!" tutur Bintang dan mendekat ke arah Aurin.


Aurin tersenyum. "Gue gak mau," jawab Aurin.


Bintang menatap Aurin dengan tatapan datar. "Kenapa, hm?"


'Ahkk, woyy tolong!' batin Aurin dengan kegirangan.


"Maksudnya gak mau nolak," jawab Aurin terkekeh pelan.


"Serius? Yeyyy, akhirnya!" teriak Bintang dan melompat layak seperti anak kecil.


"Bwahaha, Bintang lo kek bocil!" tawa Aurin membuat Bintang berhenti melakukan aktivitasnya.


"Aduh, malu banget gue!" umpat Bintang.


"PJ jangan lupa!" teriak Heksa, kemudian mereka menghampiri Aurin dan Bintang.


"Kalian dari tadi ngintipin kita, hah?!" tanya Bintang dengan kesal.


"Halah, babang Bintang kok marah sih?" tanya Heksa dan merangkul lengan Bintang.


"Gak usah pegang-pegang, naj*s!" tukas Bintang tajam.

__ADS_1


"Aelah, gini amat punya teman!" kesal Heksa.


"Dasar, kelainan!" timpal Aldino membuat semuanya tertawa.


__ADS_2