Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
UGD


__ADS_3

*****


"Dokter, suster!" panggil Bintang dengan terburu-buru sambil menggendong Aurin.


"Suster, tolongin dia," ucap Bintang saat salah satu suster menghampirinya.


"Tunggu sebentar, saya akan memanggil dokter dan membawa blankar ke sini." Suster tersebut berlari dengan cepat dan Bintang hanya mengangguk.


'Ya Allah, selamatkan Aurin,' batin Bintang sambil menatap Aurin.


Tak butuh waktu lama, akhirnya dokter datang bersamaan dengan dua suster sambil mendorong blankar.


"Sus, bawa pasien ke ruang UGD!" perintah dokter, dan suster mulai mendorong blankar Aurin menuju ruang UGD.


Bintang ingin menyusul Aurin ke dalam. Namun, niatnya terhenti oleh Dokter.


"Mas tunggu di luar, ya. Kami akan memeriksa pasien," ucap Dokter.


"Dok, lakuin yang terbaik buat Aurin," balas Bintang sambil memegang tangan Dokter.


"Iya." Dokter tersebut masuk ke dalam ruang UGD dan tersenyum.


***


"Arghhh!" Lucas menendang kaki meja dengan frustasi.


"Maaf, Tuan muda. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi hasilnya tetap nihil!" ucap anak buah Lucas.


"B*nuh Tisno aja lo gak becus! Gue ada dendam pribadi sama pak Tisno dan istirnya. Karena apa? Karna dia yang udah buat perusahaan papa bangkrut!" jelas Lucas.

__ADS_1


"Maaf, Tuan." Anak buah Lucas hanya menunduk dan terus meminta maaf.


"Pergi lo dari sini!" Suara dingin Lucas mampu membuat bulu kuduk mereka berdiri, dan dengan cepat meninggalkan ruangan Lucas.


"Si@l!" umpat Lucas, kemudian ia mengecek hp nya yang sedari tadi berbunyi terus.


Lucas mengecek pesan dari Aurin. Alangkah terkejut dia saat melihat banyak pesan dan panggilan yang tidak di baca serta tidak terjawab beberapa jam lalu.


"Aurin, sayang. Maafin aku!" Lucas bergegas keluar dari ruangannya dan melajukan motor ninja miliknya dengan kecepatan tinggi.


Saat sampai di apartement, ia menyadari bahwa Aurin sudah tidak berada di kamarnya. Kemudian ia bertanya dengan penjaga di luar.


"Pak, tadi Bapak liat Aurin gak?" tanya Lucas.


"Tadi ada cowok yang datang ke sini, Den. Terus pas keluar dari apartement, dia udah gendong non Aurin yang pingsan. Dan dia tadi keknya pergi ke RS deh," jelas Pak satpam.


"Makasih," ucap Lucas dan melajukan motornya kembali menuju RS.


***


Lucas sampai di RS Cahaya Pelita, ia langsung menuju kasir untuk mencari ruang Aurin.


"Sus, dimana ruangan Aurin Revangga?" tanya Lucas kepada Suster.


"Owh, pasien yang baru datang beberapa menit tadi, ya? Dia tadi di bawa ke ruang UGD, Mas," jelas suster.


"Makasih, Sus." Lucas berjalan menuju ruang UGD dengan buru-buru.


"Dimana cewek gue?!" tanya Lucas kepada Bintang yang tengah duduk.

__ADS_1


Bintang bangkit dari duduknya dan menarik kerah hoodie Lucas. "Lo kemana aja, hah! Aurin butuh pertolongan, dan lo malah asik sendirian. Gak becus lo jagain dia, nyawa Aurin hampir hilang kalo gue gak cepat bawa dia ke RS tadi!" jelas Bintang sambil membentak.


Lucas hanya terdiam mendengar bentakan dari Bintang. Lucas baru mengecek hp miliknya ada 15 panggilan yang tidak terjawab, ia merasa gagal menjadi kekasih Aurin.


"Cowok gak berguna, awas aja lo kalo sampai terjadi sesuatu sama Aurin. Lo liat aja akibatnya," ancam Bintang.


Lucas mengepal tangannya dengan kuat, ingin sekali dirinya menghajAr Bintang habis-habisan. Tapi ia tahan, karna sedang berada di tempat umum.


Setelah beberapa menit, Dokter keluar dari ruangannya. Bintang dan Lucas mendekat dan dari raut wajah mereka, banyak sekali yang ingin mereka tanyakan.


"Gimana keadaan Aurin, Dok?" tanya Bintang.


"Pasien mengalami penyakit usvs bvntu, ia harus segera di 0perasi secepatnya," jawab Dokter.


"Dok, kami setuju kalo Aurin di 0perasi. Tolong lakuin yang terbaik buat dia," ujar Lucas.


"Kalo begitu kamu tanda tangani surat persetujuannya dulu," ucap Dokter.


Lucas sudah men-tanda tangani surat persetujuan itu. "Apa boleh kami masuk?" tanya Lucas mewakili Bintang.


"Boleh, tapi jangan lama-lama," jawab Dokter kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Bau obat-obatan serta bunyi alat-alat terdengar sangat jelas di telinga Lucas, ia bergetar hebat saat melihat Aurin yang terbaring di atas blankar sambil mengenakan alat untuk ia bernafas.


"Rin, maafin aku," ucap Lucas dan duduk di samping Aurin.


Bintang menepuk bahu Lucas. "Bro, lo sebagai cowok harus berguna dikit, tadi Aurin nangis sambil nelfon lo. Tapi, malah lo abaikan talfon dari dia, untung aja gue cepat-cepat bantuin dia. Kalo gak ada gue, mungkin nyawa Aurin sekarang gak selamat. Jangan sakitin Aurin," jelas Bintang.


"Gue pulang dulu, nyokap gue udah telfon tadi. Lo jagain dia!" pinta Bintang kenudian berjalan keluar dari ruangan Aurin.

__ADS_1


"Gue emang cowok gak becus!" ucap Lucas menyalahkan dirinya.


"Argh!" Lucas mengacak rambutnya dengan frustasi, tambah ganteng gak tuh?


__ADS_2