
...****************...
Pagi pun tiba, matahari sudah menampakkan dirinya sedari tadi. Semua orang sudah melakukan aktivitas mereka seperti biasa, sama halnya dengan SMA Prima Jaya.
"Baiklah anak-anak, hari ini kita akan mengadakan study tour di luar sekolah. Jadi, semua siswa di wajibkan untuk ikut! Jika tidak ikut, akan mendapatkan hukuman."
"Baik, Pak."
Setelah beberapa menit.
"Bi, bantuin gue keluarin snack dari dalam tas!" pinta Aurin.
"Minumannya juga, Rin?"
"Iya lah."
"Okee."
Mereka pun mengeluarkan snack dan minuman untuk di dalam bis nanti, dan mulai menghitung jumlahnya.
"Pas gak?" tanya Aurin kepada Bianca.
"Pas, Rin."
"Bantuin gue ambil yang lain lagi!" ajak Aurin dan Bianca mengangguk.
Setelah Aurin dan Bianca pergi, Cindy dan gengnya pun datang sambil membawa sebuah botol kecil. Botol itu adalah obat sakit perut.
"Itu apa, Cin?" tanya Aluna kepada Cindy.
"Ini tuh obat, siapapun yang minum obat ini bakalan sakit perut. Nanti sih Aurot bakal di salahin dan di keluarkan dari sekolah, terus gue bisa deketin Bintang deh!" jelas Cindy sambil tertawa renyah.
"Wah, pintar banget lo, Cin." Aluna ikut tertawa dan memberikan jempol ke arah Cindy.
"Bukan pintar, tapi bijak!" balas Cindy dengan bangga.
"Nih ambil, Lun." Cindy memberikan dua botol minuman rasa coklat itu ke arah Aluna.
"Buat siapa?"
"Buat kita lah, beg0!"
"Oh, iya, ya." Aluna hanya menyengir kuda.
"Cepat kita balik ke bis!" ajak Cindy dan mereka pun mulai berlari menuju bis.
Aurin sedari tadi mengintip aktivitas mereka berdua.
"Ca, buang semua minuman ini. Tadi salah satu minuman ini di kasih obat sama Cindy dan Aluna, nanti gue bakal minta tante Jiel buat kirimin minuman lagi. Dan dua minuman ini jangan di buang! Gue ada rencana," jelas Aurin.
"Rin, gak sempet lagi kalo ganti yang baru," ucap Bianca.
"Lo mau satu sekolah kena racun? Kita yang di salahin, Ca!" jawab Aurin.
Bianca mengangguk. "Benar juga sih. Ternyata sih gat3l itu masih hidup," ujar Bianca.
"Biasalah, orang norak."
Aurin pun mulai menelfon buk Jiel.
Call On.
"Assalamualaikum, Tan."
"Waalaikumsalam, kenapa Rin?"
"Tan, bisa kirimin minuman lagi, gak? Soalnya tadi ada yang jahil, ada yang taro racun di dalam minuman itu."
"Astaghfirullah, iya nanti Tante kirim lagi. Kamu tunggu aja, ya."
"Siap, Tan."
Call Off.
"Aduh, Cin. Aku kebelet pipis!" ucap Aluna saat di dalam bis.
"Aduh, lo gimana sih, Lun?" tanya Cindy dengan kesal.
"Anterin gue ke wc bentar, plis!" balas Aluna yang sudah tidak tahan.
"Yaudah, ayo!" ajak Cindy dan mereka pun pergi ke wc.
Aurin mengintip kepergian Cindy dan Aluna di balik semak-semak, kemudian ia masuk ke dalam bis.
Aurin menukarkan minuman di dalam tas Cindy dengan minuman yang sudah di beri obat tadi.
"Lo yang bakal sakit perut, Cin." Aurin tersenyum smirk dan keluar dari bis.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
"Baiklah anak-anak, semuanya sudah ada di sini, 'kan? Kita akan berangkat sekarang juga."
"Semuanya sudah lengkap, Pak.,
3 bis berjalan menuju study tour, Aurin dan teman-temannya menempatin bis no 1. Serta dengan Cindy dan Aluna.
'Aku ngantuk banget, soalnya tadi subuh-subuh udah bangun buat nyiapin makanan. Duh, kok ngantuk banget sih,' batin Aurin.
Pandangan Aurin menjadi buram, kini matanya sudah tertutup sempurna bertanda ia sudah terbawa di alam mimpi.
Bintang menatap ke arah Aurin. "Ca, boleh tukeran tempat duduk gak?" tanya Bintang.
"Nanti kalo di marahin pak Wisnu gimana?" tanya Bianca balik.
"Kalo di marahin, gue yang bakal tanggung jawab," jawab Bintang.
"Okee."
Bintang dan Bianca pun pindah tempat duduk.
'Baru tau kalo Bintang duduknya sama Aldino,' batin Bianca dengan gemetar.
Mungkin ini bertanda cinta buat Bianca dan Aldino, haha.
'Udah tidur beneran nih anak,' batin Bintang dan menarik Aurin untuk bersandar di dadanya.
"Cantik banget sih," gumam Bintang sambil menatap wajah Aurin.
'Apaan sih Aurin, manja banget dah!' batin Cindy dengan gerutu.
Pukul menunjukkan jam 09.02WIB.
Aurin terbangun dari tidurnya, ia terkejut saat melihat Bintang.
Mata Aurin berkedip berkali-kali dan menatap Bintang tak percaya. 'Aduh, canggung,' batin Aurin.
Aurin membalingkan wajahnya ke dekat jendela dengan malu.
"Gak usah malu deh, lo pasti capek gara-gara ngurusin snack sama minuman tadi." Bintang mengelus rambut panjang Aurin membuat Aurin salting setengah mat1.
"Bisa aja deh," balas Aurin dan tersenyum.
Tak butuh waktu lama, bis pun berhenti mendadak membuat semua siswa terkejut.
"Aduh, kepala gue benj0l!"
Begitulah ucapan siswa karna bis berhenti mendadak.
"Maaf, semuanya. Saya kebelet pipis," ucap sopir dan berlari keluar bis.
Aurin dan Bianca mulai mengambil snack di bagian depan tepat di depan bangku Febby.
"Baiklah teman-teman, aku bakalan bagiin snack sama minuman buat kalian semua," ucap Aurin dan mulai membagikan snack dan minuman.
"Jangan mudah percaya, itu minuman udah di kasih racun sama Aurin." Suara itu berasal dari Cindy membuat semua siswa menatapnya.
"Aku gak mau ahk," tolak salah satu siswa.
"Teman-teman, ini gak bahaya kok. Kalo salah satu dari kalian ada yang sakit perut, aku yang bakal tanggung jawab. Jadi kalian gak usah takut, oke?" jelas Aurin dan mereka mengangguk.
"Halah, palingan mencret doang nanti," timpal Heksa sambil memakan snack.
"Dasar, Heksa!" umpat Febby.
'Kita liat aja nanti,' batin Cindy dan tersenyum smirk sambil melihat Aurin membagikan snack dan minuman.
Setelah beberapa menit.
"Duh, kok perutku sakit, ya?" ucap Cindy dan mulai memegangi perutnya.
"Mampus, itu azab buat lo gara-gara sering jahatin Aurin," timpal Febby.
"Apaan sih lo!" balas Cindy tajam.
"Lun, anterin aku turun! Perutku sakit," ucap Cindy dan menarik tangan Aluna.
"Ehk, Cin. Jangan tarik-tarik," balas Aluna.
Saat di luar.
"Perutku sakit banget woy!" gerutu Cindy dan terus memegangi perutnya.
"Cin, cepatan! Bisnya bentar lagi mau berangkat tuh," tunjuk Aluna kepada sopir bis yang mulai masuk ke dalam.
"Perut gue masih sakit, Lun!" kesal Cindy.
"Keknya lo di bohongin lagi deh, Cin. Tadi aku minum gak ngerasain apa-apa tuh," ujar Aluna.
"APA?!" Mata Cindy melotot.
__ADS_1
Tin! Tin!
Bis mulai berjalan meninggalkan Cindy dan Aluna yang masih setia menunggu di luar.
"Bye, kita mau berangkat!" ucap Febby dan Bianca dari dalam bis.
"Lun, kita ketinggalan," ucap Cindy dengan panik dan mengejar bis.
"Pak, tunggu!" teriak Cindy dan Aluna.
"Pak, kita belum naik!"
Bintang yang mendengar teriakan itu langsung menoleh ke arah jendela.
"Pak, berhenti ada yang belum naik!" teriak Bintang membuat bis berhenti mendadak.
"Cepat naik!" teriak pak Wisnu ke arah Cindy dan Aluna.
Mereka pun naik kembali, bis pun mulai berjalan lagi.
Aurin mendekat ke arah Cindy dan menjulurkan tangannya untuk minta maaf. "Maafin aku, ya. Gara-gara aku kamu sakit perut," ucap Aurin.
"Tapi, itu emang kesalahanmu sendiri," bisik Aurin.
"Ogah gue maafin lo!" ketus Cindy.
"Banyak banget gaya lo, orang Aurin udah minta maaf!" timpal Bianca.
"Gue bilang gak mau ya gak mau!" balas Cindy tajam.
Aurin menatap Cindy dengan tatapan tajam.
"Pantes, pantes dia selalu gangguin kalian! Kalo kalian aja kek gini terus, masalah kecil di besar-besarin. Kalian tuh sama aja kek Cindy," ucap Bintang.
"Belain aja terus sih Cindy itu, kasian banget Aurin punya cowok kek lo!" timpal Febby.
"Heh, ada apa ini ribut-ribut?" tanya pak Wisnu.
"Kalian itu keterlaluan, ya. Kalian jahat banget sampai bikin gue sakit perut," ujar Cindy.
"Lah? Gak usah sok paling tersakiti, Mbak. Lagian yang nyuruh lo keluar dari bis itu siapa, hah?" tanya Bianca dengan suara meninggi.
"Bukan kita juga yang nyuruh bis berangkat, ini pak sopir yang jalanin bis nya. Dasar bermuka dua," balas Febby.
"Lanjutin terus woy!" timpal salah satu siswa di kursi belakang.
"Heh, lo gak usah ikut campur, ya. Ini urusan gue sama Aurot!" tukas Cindy tajam.
"Kenapa lo dari tadi diem aja? Ngomong dong!" bentak Cindy kepada Aurin.
"Diam salah ngomong salah, Aurin diemin lo karna dia malas berantem sama bocil gak ot*k kek lo!" bentak Bianca balik.
"Bagus, Ca. Gue berpihak sama lo," ucap Aldino sambil memakan snack.
"Sudah-sudah jangan berantem lagi, kalo kalian gak mau berhenti. Mending kita gak jadi pergi aja! Sana kalian balik ke tempat duduk masing-masing!" sentak pak Wisnu.
"Lo kenapa nuker minumannya?" tanya Cindy dengan marah kepada Aurin.
"Maaf, Cin. Tapi gue gak mau debat sama lo, karna itu buang-buang waktu gue aja!" balas Aurin.
Cindy mendekat ke arah Aurin dan mulai menjambak rambut Aurin.
"Gak usah songong lo jadi orang!" bentak Cindy dan menamp4r Aurin.
Plak!
"Ya, terus gue harus apa! Lo jahatin gue, gue jahatin balik lah!" bentak Aurin balik dan menamp4r Cindy.
Plak!
"Lo gak usah belagu di sini!" ujar Cindy dan menarik rambut Aurin.
"Aww, ihk sakit," ringis Cindy karna Aurin menarik rambut Cindy balik.
"Lepasin rambut gue, Cin. Gue bakal berhenti kalo lo lepasin rambut gue," ucap Aurin.
"Gak akan, gue gak akan berhenti sebelum lo mat1!" balas Cindy.
Cindy mendorong Aurin dan menamp4r Aurin lagi hingga terjatuh. Tamp4ran kedua ingin di layangkan oleh Cindy lagi. Namun, tangannya di cegah oleh Bintang.
"Udah, lo gak usah gangguin cewek gue lagi, kalo lo gangguin Aurin lagi lo berurusan sama gue!" bentak Bintang tajam.
"Kamu juga, masalah kecil di besar-besarin. Kamu tuh lebih dewasa di banding dia, harusnya kamu tuh mikir! Gak usah ke kanak-kanakan deh," ucap Bintang kepada Aurin.
"Asal Kakak tau, aku kek gini demi Kakak. Karna Kakak selalu belain Aurin, Aurin, Aurin, aja terus! Kalo aku jadi baik Kakak juga gak bakal peduli sama aku, aku tuh juga pengen di hargai sama Kakak!" jelas Cindy.
"Oke, gue bakal hargai lo! Tapi lo harus janji gak bakal gangguin Aurin lagi," balas Bintang.
"Sekarang lo semua duduk dan jangan buat rusuh lagi!" perintah Bintang.
__ADS_1