Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Terungkap Semuanya


__ADS_3

***


"CIEEE! CIEE!" sorak semua tamu.


"NYANYII! NYANYII!"


"NYANYI DONG!"


"NYANYII!"


Begitulah sorakan semua tamu kepada Bintang.


Musik telah di nyalakan, semua peralatan musik berbunyi melenggar di Cafe tersebut.


"Kau tahu sejak pertama bertemu?"


"Terbayang senyum indah di matamu."


"Kau berikan tatapan cinta untukku."


"Ku jatuh cinta."


"Jatuh cinta."


Aurin tersenyum salting saat mendengar nyanyian Bintang. Ia sangat nyaman saat berada di dekat Bintang.


"Baper woi!"


"Ahkk, baper banget sumpah!"


"Meleleh gue coyy!"


"Ahkkkk, melelehhh!"


Teriakan itu berasal dari ciwi-ciwi dengan kegirangan dan senang setelah mendengar lagu dari Bintang.


***


"Om, kok bisa Om tau kalo ortu pacarnya Lucas b*nuh tante Naina?" tanya Reana kepada Fian.


"Om udah lacak semua identitas keluarga Tisno, emang itu anaknya Tisno. Gak ada malu dia, udah putus urat malunya! Bisa-bisanya dia deketin Lucas," ujar Fian dengan geram.


'Yess! Akhirnya gue bisa deketin Lucas,' batin Reana sambil tersenyum.


"Sabar, ya, Om. Rea pastiin gadis itu gak deketin Lucas lagi," sambung Reana.


"Kamu pantau-in dia terus!" pinta Fian dan Reana mengangguk.


***


Hari sudah semakin larut, kini Aurin dan Bintang segera pulang dari Cafe Flowers Red.


"Lo yakin mau tidur di apartement Lucas?" tanya Bintang.


Aurin mengangguk. "Aku gak mau jauhin Lucas, aku udah terlanjur sayang sama dia."


"Hm, gue mau cerita sama lo," ucap Bintang.


"Sebenarnya yang b*nuh ortu lo itu Lucas," ujar Bintang.


Aurin menatap Bintang tak percaya. "Hah? Eh, lo pasti bercanda, 'kan?"


"Gue serius, emang raut wajah gue kek bercanda kah?"


"GAK! GAK MUNGKIN!" bentak Aurin.


"Rin, sadar! Bokap Lucas aja benc1 sama lo, bokap lo udah b*nuh nyokap Lucas. Lucas b*nuh ortu lo buat ngebalas dendam bokap lo itu," jelas Bintang.


Aurin meneteskan air mata. "Gak! Gak mungkin Lucas ngelakuin itu, gue tau Lucas. Gak mungkin dia ngelakuin hal sekejam itu."


Bintang mengambil ponsel di saku celananya, kemudian membuka pesan suara Lucas saat bertemu tadi. Ia sengaja merekam suara tersebut sebagai bukti bahwa Lucas bersalah.


Hening seketika.


Aurin masih setia mendengar rekaman suara itu.


Setelah beberapa detik.


"Ja--jadi, Lu--cas ya--yang b*nuh ortu aku?!" Aurin terkejut dan terduduk di aspal.


"Iya, lo masih gak percaya juga?" tanya Bintang.


"Orang yang selama ini gue cintai ternyata b*nuh ortu gue sendiri, lo jahat Lucas! Gue benci lo Lucass. Hikss ... hikss, gue benci LO! AHKKKK GUE BENC1 SAMA LUCAS!" teriak Aurin dengan histeris.


Ia saat ini merasa stres dan merasa gila.


"Dunia kejam! Manusianya yang di dunia ini kejam. Gue benci dunia!" teriak Aurin lagi.


"Ahkkk! Stres aku rasanyaa," ucap Aurin sambil mengacak-ngacak rambutnya layaknya orang gila.


Bintang berusaha menenangakan Aurin. Namun, hasilnya nihil Aurin terus saja memberontak bak orang hilang arah atau gila.


"Tolonggg b*nuh aku sekarang. B*nuh aku sekarang juga!" bentak Aurin.


"Rin, sadarr! Tenangin diri lo dulu!" bentak Bintang sambil menggoyangkan tubuh Aurin.

__ADS_1


"Ahkkk! Jahattt, jahatt!" Aurin terus saja memukulin tangan Bintang dengan kuat.


"AURIN UDAH!" teriak Bintang membuat Aurin terdiam.


"Lo jahat Bintang, lo gak tau perasaan gue. Hikss ... hikss," tangis Aurin.


Bintang langsung memeluk Aurin dan berkata, "Tenangin diri lo dulu, lo jangan kek gini lagi Rin. Kenapa lo jadi kek orang hilang arah!?" ucap Bintang.


"Bintang, dunia jahat banget sama aku."


"Dunia gak jahat, yang jahat manusianya."


"Dunia ini kejam untuk aku yang lemah."


"Aurin kuat, shutt! Gak boleh nangis lagi. Ada gue di sini, lo cengeng banget sih!" tegur Bintang dan menghapus air mata Aurin.


Bintang merapikan rambut Aurin dan mengusap wajah Aurin yang sudah acak adul.


"Kita pulang yuk!" ajak Bintang dan Aurin mengangguk.


Saat di perjalanan, Aurin hanya terdiam sambil memeluk Bintang.


'Harusnya gue gak ngasih tau dia tadi,' batin Bintang.


Tangan Bintang terangkat untuk mengelus kepala Aurin yang sedang bersender di bahunya. "Lo ngantuk? Tidur aja, kalo udah sampai gue bangunin nanti," ucap Bintang.


"Lucas jahat," lirih Aurin.


"Udah-udah, gak boleh nangis lagi."


***


Bintang mengajak Aurin untuk pulang ke rumahnya, dan memutuskan mengambil barang-barang Aurin esok pagi saja. Karna hari sudah semakin larut.


"Assalamulaikum Bunda!" panggil Bintang.


"Waalaikumsalam, dari mana aja kamu baru pulang, Nak?" tanya Buk Jiel, masih ingat di part awal?


"Temenin Aurin di Cafe," jawab Bintang.


Buk Jiel menatap Aurin yang terus saja menunduk dari tadi.


"Aurin masih ingat sama Tante? Aurin kenapa kok murung gitu, Nak?" tanya Buk Jiel lembut.


Bintang memberikan kode love patah ke Buk Jiel. Buk Jiel langsung paham dan mengangguk.


"Kamu lagi sedih gara-gara cinta?" tanya Buk Jiel.


Aurin kembali menangis dan memeluk Buk Jiel.


"Jangan nangis lagi, ya, sayang. Aurin gak boleh sedih," ujar Buk Jiel dan terus mengusap rambut Aurin dengan lembut.


"Hikss ... hikss, Lucas jahat udah b*nuh ortu Aurin. Aurin benc1 dia," tangis Aurin.


"Iya, Tante paham. Mending sekarang kita masuk ke dalam, ya. Aurin istirahat dulu," jelas Buk Jiel dan Aurin mengangguk.


Setelah beberapa menit, Aurin sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Buk Jiel meminjamkan baju miliknya saat dia masih remaja dahulu, baju dengan motif kelinci bewarna pink sangat cocok di badan Aurin.


"Aurin cantik banget sih," goda Buk Jiel membuat Aurin tersenyum.


"Tante bisa aja," jawab Aurin.


"Kan emang cantik. Tante banyak baju yang kecil, nanti Tante kasih kamu. Sayang kalo gak di pake," ujar Buk Jiel dan Aurin mengangguk.


Buk Jiel dan Aurin sibuk mengobrol hal random sedari tadi. Dan ....


"Oh, iya. Tante lupa ada yang pesan kue tadi, dan besok di ambil, aduh!" ucap Buk Jiel.


"Yaudah bikin malam ini aja Tante," jawab Aurin.


"Tante lupa beli bahannya."


"Suruh Bintang aja."


Buk Jiel mengangguk


"Bintang!" panggil Buk Jiel.


"Kenapa, Bund?" tanya Bintang sambil menuruni anak tangga.


"Ada yang pesan kue, Bunda lupa beli bahannya tadi. Kamu bisa gak beliin bahannya di Indomaret?" tanya Buk Jiel.


"Iya deh," jawab Bintang dengan malas.


Setelah beberapa menit, akhirnya Bintang turun dari kamarnya sambil memakai hoodie bewarna hitam yang di belakangnya bertuliskan 'Black Tiger' yaps, hoodie gengnya.


"Mana uangnya?" tanya Bintang.


"Ini, kalo ada sisanya buat kamu aja," ucap Buk Jiel.


"Aku ikut, ya!" ucap Aurin.


"Gak usah, udah malam ini," balas Bintang.


"Pliss, aku pengen ikut!" Aurin menunjukkan puppy eyesnya membuat Bintang ingin mencubit pipi Aurin.

__ADS_1


'Nih anak gemesin,' batin Bintang.


"Ajakin aja Aurin," timpal Buk Jiel.


"Hadeh, yuk!" ajak Bintang.


***


"Oh, iya. Gue lupa minta catat bahan-bahannya tadi." Bintang menepuk jidatnya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Kenapa?" tanya Aurin heran.


"Gue gak tau bahan kuenya, tadi lupa minta sama Bunda. Gimana nih?" tanya Bintang.


"Buat kue apa?"


"Kue ultah gitu."


"Aelah, simpel itu mah! Yuk gas kita beli," ucap Aurin dan berjalan mendahului Bintang.


Bintang hanya mendorong keranjang belanjaan sambil mengikuti Aurin.


"Lo yakin ini bahannya?" tanya Bintang sambil menatap keranjang belanjaan yang sudah terisi bahan kue, mulai dari telor, tepung, cream, minyak, gula, dan sebagainya.


"Gue sering buat kue sama ibu dulu," ucap Aurin sad.


Duh, kok gelap ya?


"Hm, ehk ada es krim tu!" Bintang mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk tempat es krim.


"Hah? Mana? Aku mau beli," ucap Aurin dengan semangat.


"Ayo kesana!" ajak Bintang.


Aurin menatap kulkas es krim dengan senang. Andai saja ia banyak uang, pastinya ia sudah memborong semua kulkas es krim itu.


"Bintang, mau es krim!" ucap Aurin.


"Ambil aja," jawab Bintang.


"Yeyyy!" sorak Aurin dengan semngat.


Aurin mengambil es krim chornetto rasa oreo favoritnya.


"Udah?"


"Iya."


"Yuk bayar."


Mereka berdua kini sedang mengantri di kasir, tak butuh waktu lama akhirnya giliran mereka yang membayar.


"Berapa?" tanya Bintang.


"70k, Mas."


"Ini uangnya."


"Bin, gue ke motor lo duluan, ya," ucap Aurin dan Bintang mengangguk.


"Lo tetap di parkiran, jangan keliaran!" peringat Bintang.


"Iya!"


"Masnya ganteng banget, udah punya istri belum?" tanya tukang kasir dengan nada menggoda.


"Belum, Mbak. Saya masih sekolah," jawab Bintang.


"Boleh jadi teman gak? Teman hidup maksudnya," ucap Mbak kasir itu lagi sambil cengegesan.


Bintang hanya tersenyum tipis, ingin sekali ia melempar tiang listrik ke arah mbak kasir yang kegat3lan ini bak ulat bulu.


"Woi, udah belum bayarnya! Lumutan gue nunggu lo," tegur seseorang di belakang Bintang.


"Maaf, Mas. Saya akan pergi kok," jawab Bintang dan pergi meninggalkan kasir.


"Byee, A'a ganteng!" teriak Mbak kasir itu lagi.


"Ihkk, jyjyk banget gue! Mending nikah sama kambing dari pada dia," oceh Bintang.


"Lama banget bayarnya, aku dari tadi nungguin!" ketus Aurin sambil memakan es krimnya di atas motor Bintang.


"Tadi antriannya panjang," jawab Bintang berbohong.


"Heleh, masa?" tanya Aurin yang nampak tak percaya.


"Serius, Rin."


Bintang tertawa kecil saat melihat wajah Aurin yang sudah belepotan oleh es krim.


"Bwuhaha, muka lo!" tawa Bintang.


"Hah? Kenapa muka gue?" tanya Aurin panik.


Aurin melihat wajahnya di kaca spion motor Bintang. "Hah, astaga muka gue!" kaget Aurin.

__ADS_1


__ADS_2