
***
Aurin melajukan motor Disha dengan kecepatan tinggi serta diiringi keringatan dingin yang sudah membasahi tubuhnya.
"Kamu kenapa?" tanya Disha kepada Aurin setelah sampai.
"Gak papa kok, hehe," jawab Aurin.
"Yakin nih?" tanya Disha memastikan.
Aurin mengangguk kemudian mengambil tasnya dan segera pulang.
"Aku pulang dulu, ya. Maaf banget soal yang tadi," ujar Aurin.
"Iya, gak papa kok. Hati-hati di jalan, ya. Besok banyak pesanan yang mau di anter, jangan lupa datang, ya."
"Siap!" Aurin memberikan jempol ke arah Disha dengan tersenyum.
"Oke, semangat!" ucap Disha.
"Kalo gitu, byee!"
"Byee, hati-hati Rin!" teriak Disha.
"Iyaa!"
***
Aurin berjalan pulang ke rumah Bintang seorang diri. Sekarang ia melewati jalanan yang begitu sepi, karna hari sudah semakin magrib. Ia berjalan agak cepat karna takut.
Tiba-tiba, seorang lelaki datang mecegatnya.
"Heyy, Nona cantik. Mau kemana jalan sendirian?" tanya lelaki itu sambil tersenyum-senyum tidak jelas.
"Lo siapa, gak usah gangguin gue!" bentak Aurin.
"Cantik-cantik kok galak sih? Sini main sama Abang," goda lelaki itu dan mendekat ke arah Aurin.
"Dasar baj1ngan!" murka Aurin dan memukul lelaki itu dengan tasnya.
"Aduh sakit," ucap lelaki itu.
Tas Aurin terlempar ke arah lelaki itu, membuat lelaki itu mengambilnya.
"Tasnya bagus, buat aku aja, ya." Lelaki itu mulai memeluk tas Aurin dan menc1umnya.
"Dasar lelaki g1la!" umpat Aurin.
"Balikin tas gue!" bentak Aurin.
"Kamu, 'kan gak mau tasnya. Buktinya kamu lempar ke arahku," jawab lelaki itu.
"Ish, balikin!" gerutu Aurin dan merebut tasnya.
"Jangan ini punya aku!"
"Balikin punya gue!"
Mereka berdua kini saling merebut tas itu tanpa berhenti sedikitpun.
Lelaki itu mendorong tubuh Aurin hingga Aurin terjatuh ke aspal.
Bruk!
"Wlekk, wlekk! Aku dapat tasnya," ucap lelaki itu sambil mengejek Aurin.
"Balikin!" teriak Aurin.
"Main dulu sama aku, baru aku balikin!" balas lelaki itu.
Lelaki itu kembali mendekat, b1birnya kini ia mancungkan dan bersiap untuk menc1um Aurin.
Aurin membalingkan wajahnya dan menutup matanya sambil mendorong dada lelaki itu.
"Cupp, cupp," gumam lelaki itu semakin mendekat.
"Pergi!" bentak Aurin dan ingin menangis, tapi ia tahan.
"PERGI!" teriak Aurin lagi.
__ADS_1
Bughh
Satu t0njokan berhasil mendarat di wajah lelaki tadi membuat sang empuh terkejut.
"Balikin tasnya!" Lelaki itu ketakutan dan segera mengembalikan tas milik Aurin kemudian ia berlari sekuat tenaga.
"AMPUN!" teriak lelaki itu dan berlari menjauh.
Aurin hanya menunduk ketakutan. "Makasih udah tolongin gue, Bin." Yaps, orang yang menolong Aurin tadi adalah Bintang.
"Nih tas lo." Bintang menyerahkam tas itu ke arah Aurin.
Bintang mendorong tubuh Aurin ke dinding membuat Aurin terkejut.
"Bunda nyariin kamu, katanya gadis cantiknya dia kemana kok belum pulang-pulang dari tadi." Aurin menatap lekat ke arah Bintang, jantungnya kini sudah dag-dig-dug tak karuan.
"Ehk, kamu udah sembuh?" tanya Aurin mengalihkan pembicaraan.
"Udah agak mendingan. Lo tadi darimana hah?" tanya Bintang.
"Eum, a--anu. Eh, udah yuk pulang aja, gue capek!" ucap Aurin dan berjalan mendahului Bintang.
"Kebiasaan orang belum selesai ngomong main pergi aja," ucap Bintang.
Bintang mengiikuti Aurin dari belakang. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan pandangannya kini menjadi buram.
"Ahk, sakit!" ucap Bintang dan berusaha berdiri.
Bruk!
Bintang terjatuh ke aspal membuat Aurin menoleh.
"BINTANG!" teriak Aurin dengan terkejut dan segera berlari ke arah Bintang.
"Ya Allah, Bintang bangun," ucap Aurin dan menepuk pipi Bintang dengan pelan.
Aurin menelpon buk Jiel untuk membawakan mobil ke tempat Aurin berada.
"Bintang, lo tahan, ya. Bentar lagi mobilnya datang," ucap Aurin dan mengelus rambut Bintang.
Aurin masih setia menunggu mobilnya datang, ia terus saja mengelus rambut Bintang sedari tadi.
Bunyi klakson mobil terdengar sangat jelas membuat Aurin melambaikan tangannya.
"Pak, disini!" teriak Aurin, kemudian mobil melaju ke arahnya.
Pak Joni-satpam keluarga Bintang, menggendong Bintang ke mobil dan diikuti Aurin yang masuk ke mobil.
Aurin terus menatap Bintang di pangkuannya.
***
Hari sudah malam, kini Aurin ikut duduk di dekat blankar Bintang.
"Masih pusing?" tanya Aurin kepada Bintang.
"Gak lagi kok," jawab Bintang.
"Syukurlah kalo gitu."
"Eh, tadi Aurin kemana aja kok gak pulang-pulan?" tanya buk Jiel penasaran.
'Hm, apa aku jujur aja, ya, kalo aku udah kerja? Gak, gak. Jangan sampai mereka tau,' batin Aurin.
"Aurin?" panggil buk Jiel membuat lamunan Aurin buyar.
"Tadi ada urusan sama teman, Tante." Aurin hanya menyengir kuda.
"Owh, gitu. Tante takut aja kalo kamu kenapa-kenapa," balas buk Jiel.
"Gak bakalan kok," ucap Aurin.
Pukul menunjukkan jam 19.10 WIB.
"Aurin, Tante boleh minta tolong gak?" tanya buk Jiel.
"Boleh, minta tolong apa, Tan?" tanya Aurin balik.
"Ambilin obat Bintang di kasir, tadi udah Tante bayar kok. Bisa gak?"
__ADS_1
"Bisa-bisa, kalo gitu Aurin permisi dulu, ya," ucap Aurin dan segera pergi.
Saat di perjalanan, Aurin melihat salah satu Dokter dan pasiennya yang sedang duduk di kursi roda. Pasien tersebut kini sedang berusaha berlatih berjalan.
"Ayo, semangat!" sorak Dokter.
"Yeyyy, Fisca bisa jalan," ucap Dokter itu.
Pasien yang bernama Fisca tadi tersenyum bahagia.
"Berkat Dokter yang ngerawat dan selalu jagain Fisca. Jadi Fisca bisa jalan lagi, Fisca sayang sama Dokter!" ucap Fisca dan memeluk Dokter tersebut.
"Dokter bakalan bantu Fisca sampai Fisca bisa jalan kek normal," ujar Dokter itu.
Aurin meneteskan air mata saat melihat kejadian di depan matanya barusan, ia mulai berhayal untuk menjadi Dokter suatu hari nanti.
"Gue gak mungkin bisa jadi Dokter," gumam Aurin dan menghapus air matanya.
"Hehehe!" Aurin berusaha tersenyum walaupun terpaksa dan segera mengambil obat Bintang.
Setelah beberapa menit, Aurin pun sudah selesai mengambil obat Bintang dan segera pergi menuju kamar Bintang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Aurin kok lama banget, Nak?" tanya buk Jiel heran.
"Tadi ngantri, Tan. Maaf kalo lama," bohong Aurin dan memberikan obat ke buk Jiel.
"Aurin habis nangis, ya?" tebak buk Jiel.
"Ehk, gak kok. Mata Aurin cuma kelilipan," ucap Aurin dengan gagap.
"Kalo ada masalah cerita sama Tante, jangan sungkan-sungkan!" ujar buk Jiel dan Aurin mengangguk.
Tak terasa hari pun semakin larut, kini jam menunjukkan pukul 21.25 WIB. Aurin duduk di luar ruangan Bintang, ia masih teringat tentang kejadian tadi.
"Kapan, ya aku jadi Dokter?" gumam Aurin dan terus membayangkan menjadi Dokter suatu saat nanti.
Bintang menatap Aurin kemudian menghampiri Aurin. "Kenapa duduk di luar?"
Aurin terkejut akan kehadiran Bintang dan berkata, "Gak papa, cuma nyari angin aja."
"Hm, btw cita-citamu mau jadi apa?" tanya Bintang.
"Aku kalo udah gede mau jadi Dokter," jawab Aurin dengan senang.
"Yakin jadi Dokter?"
"Iya, panggil aku Dokter Aurin!" jawab Aurin dengan kegirangan.
Bintang tersenyum saat melihat Aurin senang. "Kenapa pengen jadi Dokter?"
"Karna bisa menolong orang yang sakit, hehe. Itu cita-cita gue dari kecil sampai sekarang gak pernah ganti. " Aurin terus membayangkan Fisca dan Dokter itu tadi, ia bahkan berhayal di posisi Dokter itu.
"Kalo lo mau jadi apa?" tanya Aurin balik.
"Gue mau jadi penculik aja," jawab Bintang membuat Aurin terkejut sekaligus marah.
"Apa-apa? Wah, gak bener nih anak!" geram Aurin sambil menunjuk ke arah Bintang.
"Biar bisa culik hatimu!" seru Bintang membuat Aurin salting.
"Ihk, lo nyebelin!" kesal Aurin dan tersenyum malu.
"Iya-iya bawel amat," tegur Bintang.
"Tuh, 'kan salting."
"Ihk, Bintang!" ketus Aurin dan memukul lengan Bintang.
"Aduh, galak amat sih," balas Bintang.
"Abisnya lo nyebelin!"
"Cuppp, cuppp. Jangan marah, nanti cepat tua lho. Dan gak cantik lagi," ujar Bintang dan mencubit pipi Aurin.
"Tau dah, pen tidur!" ketus Aurin dan segera berlari meninggalkan Bintang dengan tersenyum salting.
"Ciee, salting!" teriak Bintang.
__ADS_1
"Gakkkk!" timpal Aurin.