Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Kecelakaan


__ADS_3

***


Aurin mengangguk dan menyender di bahu Lucas, hingga ia tertidur pulas.


Lucas mengelus rambut Aurin dan sesekali menc1um dahi Aurin. 'Maafin aku, Rin.'


***


"Gue pastiin Bintang Aresh Pradita mat1 di tangan gue!" Suara tersebut berasal dari Victor,


Readers masih ingat sama anak buah Lucas di part sebelumnya? Nah, Victor adalah musuh geng Black Tiger-geng motor Bintang.


Bintang melayangkan satu pukulan ke wajah Victor, membuat sang empuh menoleh ke samping. "Silahkan kalo bisa," bisik Bintang.


Bintang mengeluarkan pisau kecil miliknya. Dan berkata, "Pisau kesayangan gue gak pernah meleset, lo mau gue tusuk pake pisau kesayangan gue?"


Victor menelan ludahnya dengan pelan, keringat mengucur di seluruh tubuhnya hingga bajunya basah oleh keringat. Ia sangat ketakutan!


"A--mpun, lepasin gue!" ucap Victor memohon.


Bintang menghempaskan tubuh Victor ke lantai dengan kasar. "Siapa atasan lo?" tanya Bintang.


'Hm, kalo gue kasih tau bakal gagal rencana yang udah Lucas susun selama ini,' batin Victor.


"JAWAB!" bentak Bintang membuat Victor terkejut.


"Lu--lucas, iya Lucas!" jawab Victor dengan terbata-bata.


'Lucas? Hati lo terbuat dari apa Lucas, busuk banget hati lo! Gue gak bakal biarin Aurin dekat sama pemb*nuh kek lo,' batin Bintang dengan geram.


"Gue tanya, apa benar Lucas yang b*nuh pak Tisno serta istrinya?" Victor yang mendengar perkataan Bintang barusan, ia mendadak jadi panik dan berkeringat dingin.


"Jawab atau lo mau mimpi indah malam ini?" ucap Bintang.


"Iya, tapi Lucas ada alasannya sendiri b*nuh pak Tisno sama istirnya." Victor mulai menceritakan masa kecil Lucas, saat ia berusia 5 tahun.


Setelah beberapa menit.


'Dendamnya dalam banget. Lucas hebat bisa nahan dendam selama itu,' batin Bintang.


"Lo tau, orang yang Lucas b*nuh itu ortunya Aurin pacar dia sendiri. Aurin gak tau kalo Lucas yang b*nuh ortunya, andai dia tahu pasti dia benci banget sama Lucas!" jelas Bintang.


"Gue tau Lucas itu orangnya baik, dan dia juga gak tau kalo pak Tisno papanya Aurin."

__ADS_1


Victor mengangguk.


"Mending jangan kasih tau Aurin dulu soal ini. Dia pasti syok banget," ujar Victor dan Bintang mengangguk.


***


"Ibu, ayah. Maafin Aurin, ya, Aurin udah tinggalin kalian berdua. Aurin udah maafin ayah kok, ayah yang tenang ya di sana. Aurin bakal selalu kirim do'a buat kalian," ucap Aurin sambil menangis dan memeluk batu nisan.


'Maafin aku, Rin. Aku gak tau kalo itu ortu kamu, aku nyesal! Maaf om, tante. Maafin Lucas,' batin Lucas.


Lucas memeluk Aurin dan berkata, "Kita pulang, yuk. Hari udah sore nih," ucap Lucas.


Aurin mengangguk kemudian bangkit dari jongkoknya. "Byee, ayah, ibu."


"Ayo!" ajak Lucas dan merangkul Aurin.


Saat di perjalanan, Lucas mendapatkan pesan dari Bintang.


Isi pesan.


"Gue mau ketemuan sama lo di tempat biasa. Ada yang mau gue bicarakan sama lo, kalo lo gak datang berarti lo pengecut!"


"Otw."


"Siapa?" tanya Aurin.


"Gak ada kok, sayang." Lucas tersenyum dan mengelus rambut Aurin sejenak.


Tak butuh waktu lama, mobil Lucas kini sudah memasuki parkiran apartement miliknya. Aurin sudah di bolehkan untuk pulang karna keadaanya sudah cukup membaik, walau masih butuh banyak istirahat.


"Kamu istirahat, ya. Kalo butuh apa-apa tinggal panggil bik Nina aja," ucap Lucas kepada Aurin yang sudah berbaring di atas kasur.


"Kamu mau kemana?" tanya Aurin.


"Ada urusan bentar," jawab Lucas.


"Bye, sayang." Lucas mencium dahi Aurin dan mulai berjalan keluar dari kamar.


"Hati-hati!" pesan Aurin.


Lucas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, suasana jalan raya Jakarta sangat ramai berlalu lalang kendaraan yang lewat seperti biasa.


Lucas sampai di tempat yang Bintang maksud, banyak anggota Black Tiger yang sudah menunggunya sedari tadi.

__ADS_1


"Kenapa? Cepat bilang apa mau lo, gue gak ada waktu." Lucas memulai percakapan dengan geng Black Tiger.


"Apa bener lo yang b*nuh pak Tisno sama Vivian?" tanya Bintang membuat Lucas terkejut.


"Iya, dan gue ada alasannya sendiri buat b*nuh mereka," jawab Lucas. Jujur, Lucas bukan type cowok yang banyak basa-basi. Jika memang itu suatu kebenaran, maka ia jawab dengan jujur. Keren gak tuh?


Bintang menarik hoodie Lucas dan berkata, "Lo mau buat Aurin sedih, hah?! Kenapa lo b*nuh orang yang dia sayang!" bentak Bintang dan memukul wajah Lucas.


Lucas hanya terdiam dengan bentakan itu.


"Lo gak usah sakitin Aurin, atau lo tau akibatnya!" ancam Bintang lagi.


"Udah selesai ngocehnya?" tanya Lucas dengan santay.


Bintang hanya menatap datar ke arah Lucas, ia kali ini agak susah berbicara dengan lawannya.


"Gue salah, dan gue nyesal! Lo tau? Pas bunda gue di tabrak sama sih tua itu, dia malah ketawa dan gak ada sedikit pun hati nurani buat nolong bunda gue. Gimana perasaan lo kalo orang yang paling lo sayang ninggalin lo, GUE TANYA!" bentak Lucas dan kini matanya sudah berkaca-kaca bertanda akan menangis.


Bintang terdiam sambil menatap ke arah bawah.


"Dan, akhirnya dendam yang selama ini gue pendam tercapai. Udah bertahun-tahun gue nahan dendam itu," lanjut Lucas.


"Gue bakal jauhin Aurin, karna gue gak pantas buat dia. Gue pemb*nuh! Kalo dia tau masalah ini, pasti dia bakal benci sama gue. Lo jagain Aurin, jangan sampai lo buat dia sakit hati sedikitpun. Gue gak bakal biarin itu!" jelas Lucas kemudian ia berjalan menuju motornya.


"Masalahnya udah selesai, 'kan? Gue izin pamit," ucap Lucas dan pergi mengendarai motornya.


Bintang mengepal tangannya dengan erat sambil menatap kepergian Lucas.


****


Lucas mengendarai motornya dengan kecapatan kilat, ia sangat terpvkul tentang kejadian tadi.


"Gue gak pantes buat lo, Rin. Kenapa lo mau sama cowok yang kek gue!" oceh Lucas.


Lucas terus saja mengoceh tidak jelas di atas motor sampai tak sadar bahwa di depan ada mobil yang sedang melaju dengan cepat.


Tin! Tin!


Bunyi suara klakson mobil terdengar sangat keras, Lucas tersadar dan menatap mobil yang sedang melaju ke arahnya.


"Ahkk!" teriak Lucas.


Brukk!

__ADS_1


__ADS_2