Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Upacara


__ADS_3

***


Pagi menyapa hari yang sedikit mendung, semua orang beraktivitas seperti biasa. Namun, tidak semangat seperti hari-hari sebelumnya, karna hari begitu dingin dan membuat sebagian orang ingin tidur kembali.


Sama halnya dengan SMA Prima Jaya yang sudah melakukan aktivitasnya.


"Beuh, dikit banget woi!" ucap Heksa dengan suara gemetar karna kedinginan.


"Tumben lo sekolah." Suara itu berasal dari seorang gadis berkuncir dua ekor kuda di kanan dan kiri rambutnya, sambil memainkan pulpen di tangannya. Yang bername-tag Isyah Valerie.


"Karna gue anak rajin, kalo gue gak masuk. Sekolah ini bakalan kehilangan satu siswa dan pastinya semuanya pada kangen sama gue," jawab Heksa.


"Kepedean tingkat dewa lo, Sa!" timpal Isyah.


"Biarin, kalo gue gak sekolah lo juga pasti kangen sama gue. Udah bilang aja, gak usah malu-malu!" balas Heksa lagi.


Isyah merasa geram dengan kelakukan Heksa, ingin sekali ia melempar tiang listrik ke arah makhluk aneh plus nyebelin itu.


Isyah bangkit dari duduknya dan mengambil sapu kelas. Ia kini sudah bersiap untuk melayangkan sapu itu ke arah Heksa.


"Ish, dasar lo ngeselin, ya! Ini lo buat lo, mat1 lo!" oceh Isyah dan memvkul Heksa dengan sapu membuat sang empuh meringis.


"Ampun, sakit woy badan gue," ucap Heksa dan berusaha menghindar.


"Ini buat lo, ihkk! Ihkk!" teriak Isyah dan masih setia memvkul Heksa dengan sapu.


Aldino yang baru datang terkejut saat melihat kejadian itu.


"Masih pagi udah ada drama aja nih kelas," ucap Aldino membuat keduanya berhenti melakukan aktivitas mereka.


Heksa berlari terbirit-birit untuk bersembunyi di belakang Aldino. "Gue takut, Al."


"Bwhahaha, berbat4ng doang lo tapi nyali ciut!" sindir Aldino kepada Heksa.


"Ngapain lo bawa sapu, jangan sok rajin lo jadi orang. Kalo emang beneran rajin, tuh sapuin tempat duduk gue!" perintah Aldino membuat Isyah menatapnya datar.


"Bukan babv anda!" balas Isyah dan meletakkan sapu kelas di balik pintu kelas.


"Idih, dasar cewek mau menang sendiri. Kalo lo cowok udah gue ajak lo tawuran," ucap Aldino sambil menatap Isyah yang sedang berjalan menuju mejanya.


Heksa berdiri di samping Aldino dan berkata, "Makasih udah tolongin gue," ucap Heksa.


"Apa sih yang gak buat bin4tang," jawab Aldino dengan santay dan langsung duduk di mejanya.


Heksa menatap datar ke arah Aldino. "4njing!"


***


"Gue mau berangkat sekolah dulu, ya. Lo istirahat aja," ucap Aurin kepada Bintang.


"Kalo ada yang ngatai lo, bilang ke gue." Bintang memegang tangan Aurin dengan erat.


"Gak kok, ada Heksa sama Aldino yang bakal jagain aku," jawab Aurin dan Bintang tersenyum.


Setelah itu, 5 orang masuk ke dalam ruangan Bintang tanpa izin terlebih dahulu. Mereka memakai baju sekolah SMA Prima Jaya serta kacamata tak lupa sepatu berkilat dengan harga jutaan.


"Di--dia si--siapa?" tanya Aurin dengan terbata-bata.


"Mereka yang bakal antar lo ke sekolah. Tenang mereka itu anak buah gue, mereka juga baik. Jadi lo gak usah takut," jawab Bintang.


"Anterin cewek gue sampai sekolah!" perintah Bintang membuat semuanya mengangguk patuh.


Entah apa yang di kasih oleh Bintang, Aurin hanya geleng-geleng kepalanya.


'Aduh, berasa jadi ratu gue woy!' batin Aurin.


"Mereka juga satu sekolah sama kita, Rin. Tapi beda kelas," ujar Bintang dan Aurin mengangguk.

__ADS_1


"Ayo, Non silahkan," ucap mereka dan Aurin mengangguk.


Sepanjang jalan Aurin hanya diam di dalam mobil dan tidak berbicara sedikitpun.


"Non pacarnya bos Bintang?" tanya salah satu dari mereka yang bername-tag Jean Alaska.


"Bukan, mungkin otw jadi pacarnya," balas Aurin dengan tersenyum.


"Btw, kalian siapanya Bintang?" tanya Aurin.


"Kami anak buahnya Bintang, kami bakalan jagain Non terus." Suara itu berasal dari Nico Altair-menyetir mobil.


"Kok mau sih di suruh-suruh Bintang? Gue juga bisa naik taxi tuh," balas Aurin.


"Hm, Bintang punya geng motor namanya Black Tiger yang ber-jumlah 150 orang," ucap salah satu dari mereka yang bername-tag Maikal Hiandra.


'Baru tau Bintang anak geng motor,' batin Aurin.


Mereka kini sudah sampai di sekolah. Mobil anak buah Bintang melaju memasuki lingkungan sekolah, membuat semua siswa menatap kedatangan mereka.


"Makasih, ya, udah anterin aku." Aurin tersenyum dan segera turun.


"Yakin gak mau di anterin sampai kelas?" tanya Meikel Hiandra-kembaran Maikal Hiandra.


Aurin mengangguk.


Aurin turun dari mobil dengan rambut yang terurai dan tertiup oleh angin membuat ia menjadi pusat perhatian.


Anak buah Bintang mengikuti Aurin dari belakang membuat semua cewek histeris berteriak.


"Woy, di jadiin ratu busett!"


"Waduh, Aurin makin cantik aja tu. Gas nih jadi calon menantu emak gue."


"Buset, holang kaya ternyata!"


"Cantik banget sih dia."


Begitulah pembicaraan siswa tentang Aurin, sedangkan yang di bicarakan hanya diam dan tersenyum tipis menanggapi itu semua.


Setengah perjalanan, Aurin berbalik.


"Kalian masuk aja ke kelas duluan, gue bisa jalan sendiri kok!" pinta Aurin dan mereka mengangguk.


"Non, bilang sama kita aja kalo ada yang nyari masalah," ucap Jean.


"Panggil gue Aurin, jangan Non!" peringat Aurin.


"Siap, Aurin!" ucap mereka serempak dan segera pergi menuju kelas.


"Pagi semua!" sapa Aurin dengan berteriak.


"Woy, jangan teriak-teriak telinga gue budeg nanti!" tegur Febby.


"Suara lo kek toa masjid, Rin." Aurin hanya cengegesan mendengar perkataan Bianca.


"Bintang udah sehat belum?" tanya Heksa.


Aurin mengangguk. "Udah agak mendingan badannya, nanti siang atau besok mungkin udah pulang."


"Alhamdulillah kalo gitu," jawab Aldino dan Heksa bersamaan.


"Upacara akan segera di mulai, semua siswa di harapkan ke lapangan segera." Suara itu berasal dari microfon sekolah, membuat semua siswa berhamburan pergi ke lapangan.


"Gue belakang pokoknya titik gak pake koma!" ucap Aurin dan langsung memilih barisan paling belakang.


"Gue juga," ucap Febby dan Bianca bersamaan.

__ADS_1


"Woy, depan!" perintah Aina Vergaretha-Wakil ketua kelas.


Aurin menggeleng. "Apaan sih lo ngatur-ngatur gue!" sentak Aurin.


"Lo depan 4njir! Gak usah bantah deh," ketus Aira dan mendorong Aurin.


"Lo gak usah ngatur hidup gue, lo aja yang depan sana! Ngapain lo nyuruh gue, hah!" bentak Aurin.


"Banyak bac0t lo, cepatlah lo di depan!" bentak Aira balik.


"Heh, Neng. Gak usah ngatur hidup orang, hidup lo aja gak ke urus malah ngatur hidup orang!" timpal Febby.


"Gue cuma perintahin dia woy! Jangan ngebantah deh," balas Aira.


"LO YANG DEPAN, JANGAN NYURUH AURIN!" teriak Bianca yang sudah emosi tepat di depan Aira membuat semua siswa menatapnya.


"Ca, udah. Lo jangan teriak-teriak," bisik Aurin.


"Apa sih teriak-teriak!" bentak Heksa.


"Ini orang nyuruh Aurin depan, padahal dia sendiri gak mau di depan!" adu Febby dan menunjuk Aira.


"Yang paling pendek di depan, masih banyak siswa cewek yang pendek tuh. Kenapa harus pilih Aurin?" tanya Heksa membuat Aira terdiam.


"Sana lo balik ke barisan lo, gak usah ngatur hidup orang! Liatin diri lo dulu muka Korea badan Afrika," sindir Heksa membuat semuanya tertawa.


Aira menatap mereka semua dengan kesal dan begegas kembali berbarisan dengan rasa malu.


Upacara kini sudah di mulai, semua lapangan mendadak menjadi hening seketika karna pembina upacaranya adalah pak Wisnu-guru galak.


"Woy, gue males banget upacara!" ucap Heksa dengan kesal di pertengahan pidato panjang pak Wisnu.


"Ngeluh mulu, heran!" timpal Febby.


"Bukannya gitu, Feb. Tapi ini nyiksa gue banget," balas Heksa dan mengusap keringatnya sedari tadi.


"Dasar lemah, gue biasa aja tuh!" balas Aldino.


"Yaiyalah, lo bukan manusia. Tapi lo bin4tang, 'kan?"


Aldino yang mendengar perkataan Heksa langsung menatap Heksa dengan tatapan maut, sedangkan Heksa hanya menyengir kuda seakan tak punya dosa.


"Apa lo bilang!" Suara Aldino meninggi membuat semua siswa menatapnya, benar saja mereka sekarang menjadi pusat perhatian.


"Al, lo gak usah teriak-teriak!" tegur Aurin dengan kesal.


"Tuh di liatin sama kepala sekolah, ahkk si4l!" bentak Bianca.


"Hadeh, Heksa-Heksa!" ucap Febby dan geleng-geleng kepala.


Aldino yang sadar mereka menjadi tontonan ia menatap sekeliling dan merasa malu.


"Ke-5 siswa itu, sini maju ke depan!" perintah pak Wisnu dengan suara meninggi.


Aurin, Febby, Bianca, Heksa, serta Aldino maju ke depan membuat semua siswa bersorak.


"Huhh, huhhh!" sorak semua siswa, dan mereka hanya menunduk.


"Dasar anak kurang 4jar, harusnya kalian perhatiin Bapak yang pidato dari tadi bukannya malah ribut! Ini malah sibuk sendiri," ucap pak Wisnu.


"Kalian berdiri di tengah lapangan sampai upacara selesai, dan sesudah upacara berisihin WC sama anak OSIS!" perintah pak Wisnu dan mereka hanya menurut.


"Ini lebih panas dari tadi woy!" bisik Heksa.


"Gara-gara lo, Al!" timpal Bianca dengan suara kecil.


"Tau nih, kita di hukum gara-gara lo berdua," ucap Aurin.

__ADS_1


"Iya-iya gue sama Heksa yang salah," pasrah Aldino.


"Lebih nyiksa yang ini woilah!" umpat Febby.


__ADS_2