Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Di Kerjain?


__ADS_3

***


Istirahat selesai.


Bianca memberikan kode ke arah Febby, kemudian Febby mengangguk.


Bianca berjalan di samping Aurin sambil membawa nampan yang berisi makanan dan ia sengaja menyenggol Aurin, kemudian ....


Brak!


Bianca terjatuh membuat semua kelas tertawa, kini nampan yang ia bawa tadi sudah terjatuh ke lantai dengan berceceran.


"Aduh ... maaf, Ca. Kamu gak papa, 'kan?" tanya Aurin dan menjulurkan tangan ke arah Bianca.


Bianca menepis tangan Aurin dengan kasar. "Gak usah sok baik!"


"Ada yang sakit gak, Ca?" tanya Febby.


"Kaki gue sakit, keknya keseleo!" rengek Bianca.


Febby menatap tajam ke arah Aurin. "Semua ini gara-gara lo, Rin."


"A--aku ga--gak tau apa-apa," jawab Aurin terbata-bata.


"Halah, gak usah alasan deh. Semua ini salah lo," seru Febby dengan marah.


"Ayo Ca kita pergi, cuma orang b*doh yang masih belain dia!" ujar Febby dan pergi bersama Bianca.


Aurin terdiam sambil menatap kepergian sahabatnya itu.


'Aku salah apa, ya? Padahal aku gak nyenggol Bianca tadi,' batin Aurin dengan sedih.


***


Bel sekolah pun sudah berbunyi sedari tadi, membuat semua siswa berlari menuju rumah mereka masing-masing. Aurin berjalan kaki dengan lesu tentang kejadian tadi di sekolah.


"Hari ini gue si*l banget, udah gak ikut ulangan. Di marahin sama bu Tita, dan di tambah ada masalah sama bestie gue sendiri!" oceh Aurin.


"Ahkk!" teriak Aurin.


"Dahlah, gak ada orang yang baik di dunia ini kecuali Rehan."


Tak butuh waktu lama, akhirnya Aurin sampai di tempat kerjanya yaitu Cafe Flower Lily.


"Kenapa lama banget sampainya?" tanya Disha dengan ketus.


"Maaf, Sha. Aku baru pulang sekolah," jawab Aurin.


"Yaudah, cepat lo layanin pelanggan!" perintah Disha.


Aurin hanya mengangguk dan segera berganti baju.


Di luar Cafe, terdapat Bianca dan Febby yang tengah bersembunyi di balik pohon besar dekat Cafe tersebut.


"Lo berdua dengerin kita," bisik Febby kepada orang suruhannya itu yang bernama Rain Avialine dan Sisil Angelica.


Bianca dan Febby mulai membisikkan rencana ke arah anak buahnya itu dan mereka berdua hanya mengangguk patuh.


Setelah beberapa menit, mereka berdua pun masuk ke dalam Cafe.


"Semoga berhasil!" teriak Febby.


"Suara lo jangan kegedean!" tegur Bianca dan Febby hanya cengegesan.


Rain dan Sisil masuk ke dalam Cafe, kemudian memanggil Aurin.


"Mau pesan apa, Kak?" tanya Aurin dan menyerahkan daftar menu.


"Gue pesan ayam geprek, jus mangga dan buat dessertnya gue pesan es krim rasa coklat," ucap Rain.


"Gue burger, jus jeruk terus sama kue coklat," ucap Sisil.


Aurin mencatat pesanan mereka dan segera pergi.


Beberapa menit kemudian, Aurin datang ke meja Rain dan Sisil sambil membawa nampan berisi pesanan mereka.


"Ini pesanannya, Kak." Aurin tersenyum dan mulai meletakkan pesanan mereka ke atas meja.


"Makasih."


"Sama-sama."


Rain mengeluarkan kecoa dari dalam tasnya dan meletakkannya di dalam piring makannya.


"Ahkk, kecoa!" teriak Rain dan Sisil histeris membuat semua Cafe kaget dan menatap mereka.


"Ahkk, ada kecoa! Tolong," ucap Sisil.


"Kenapa, Mbak?" tanya Disha yang tiba-tiba sampai.


"Ini ada kecoa di makanan saya. Saya gak mau tau, pokoknya saya mau minta ganti rugi!" tegas Rain.


"Tadi makanannya bersih kok, Mbak. Di sini semua makanan di buat oleh bahan premium," balas Disha.


"Buktinya apa ini ada kecoa?!"


"Maaf, Kak. Itu semua salah saya, harusnya saya perhatiin dulu tadi," ucap Aurin.


"Saya gak mau tau, pokoknya harus ganti rugi!" perintah Rain.


"Iya-iya, Kak. Kami akan ganti rugi," ucap Disha dan memberikan uang ke arah Rain.


"Dasar Cafe kotor!" sindir Sisil dan segera pergi bersama Rain.


"Sayang, kita pergi aja yuk dari Cafe ini. Aku udah gak mood lagi makan," ucap salah satu pelanggan.

__ADS_1


"Ayo, mending kita pergi ke Cafe sebelah aja."


"Ayo sayang."


"Ehkk, Mas, Mbak. Mau kemana?" tanya Disha sambil mencegah.


"Ayo kita pergi aja."


"Ayo-ayo, di sini tempatnya gak bersih."


"Lho? Kok malah pergi sih? Mbak, ini ada promo lho!" ujar Disha dan terus berusaha mencegah pelanggannya.


"Mbak jangan pergi!" teriak Disha.


Kini Cafe tersebut sudah sepi, semua pelanggan berhamburan keluar dari Cafe tersebut.


Disha menatap tajam ke arah Aurin. "Ini semua gara-gara kamu! Kalo masak itu yang benar, jangan asal-asalan."


"Mulai detik ini, saya pecat kamu!" bentak Disha.


"Jangan, Sha. Aku mohon, hikss ... hikss. Aku gak tau kalo ada kecoa tadi," tangis Aurin.


"Plis jangan pecat aku. Aku bakal ngelakuin apa aja janji," mohon Aurin.


"Gak, saya udah muak liat muka kamu!" murka Disha dan mendorong Aurin keluar.


"Hiks ... hikss, Ya Allah!" tangis Aurin terisak.


"Dunia jahat!" teriak Aurin dan mulai bangkit dari duduknya.


Sekarang Aurin berjalan pulang dengan berantakan dan lesu.


"Aku capek sama hari ini," lirih Aurin dan terus menangis di sepanjang jalan.


***


"Gimana? Berhasil?" tanya Bianca kepada Rain dan Sisil.


"Berhasil dong, mana upahnya?"


Febby memberikan uang ke tangan Rain dan Sisil.


"Makasih, kalo gitu kami pulang dulu," pamit Rain dan Sisil.


"Feb, kita kek berlebihan gak sih?" tanya Bianca.


"Hm, gak kok. Pasti Aurin sekarang terpukul banget," balas Febby.


"Lo juga ngapain nyiksa dia beg*!" timpal Bianca.


"Biar wow aja gitu."


"Str*s!"


***


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Aurin kenapa kamu, Nak?" tanya Buk Jiel.


Aurin menatap Buk Jiel sebentar dan mulai menangis. "Ibu! Hiks ... hiks, huwaa Ibuu!" tangis Aurin di pelukan Buk Jiel.


"Aurin kenapa? Cerita sama Ibu sini," ucap Buk Jiel.


Aurin menceritakan semua kejadian yang menimpa ia hari ini kepada Buk Jiel.


"Udah-udah, kamu jangan nangis lagi, ya. Mungkin hari ini kamu si4l, siapa tau besok kanu bahagia!" ucap Buk Jiel dan Aurin tersenyum.


"Makasih, Buk."


"Iya, sama-sama sayang."


"Bintang mana?" tanya Aurin.


"Lagi istirahat dia di kamar," jawab Buk Jiel.


"Owh gitu."


"Iya, Ibu lagi bikin kue nih. Kamu mau ikut buat gak?"


"Boleh, yuk!"


"Ayo!"


Hari sudah malam, pukul menunjukkan jam 19.08 WIB.


"Hm, Bianca tadi masih marah gak, ya?" gumam Aurin saat di kamar.


"Oh, iya. Besok, 'kan hari ultah aku," ucap Aurin dengan senang.


"Semoga aja besok ada yang ingat ultah aku."


***


Bintang dan teman-temannya sekarang sedang nongkrong di Cafe untuk membahas rencana ultah Aurin besok hari.


"Jadi gitu rencananya," ucap Bintang mengakhiri pembicaraan.


"Setuju!" jawab mereka serempak.


"Kalian tau gak? Aurin tadi nangis pas pulang, berantakan semua baju sama rambutnya. Wah parah banget kalian buat dia sedih," jelas Bintang.


"Gak papa, Bin. Besok Aurin di jadin ratu dah," balas Aldino.


"Nah, benar tuh! Pintar banget sih teman gue," ucap Heksa dan merangkul lengan Aldino. Membuat sang empuh kegelian.

__ADS_1


"Apaan sih pegang-pegang, naj*s banget!" ketus Aldino.


"Biasa aja kali, lo gak pernah, 'kan di giniin sama pacar lo? Mending sama gue aja," ucap Heksa dan menarik lengan Aldino lagi.


Aldino menatap tajam ke arah Heksa dan berkata, "Set*n!"


Aldino memvkul kepala Heksa membuat sang empuh meringis kesakitan.


"T*i, kepala gue sakit! Gagar ot*k gue nanti," kesal Heksa.


"Yaudah gak papa, biar lo tambah g*blok!" ejek Aldino tanpa dosa.


"S*alan!" umpat Heksa.


"Lo berdua gak jelas banget," ucap Febby.


"Apaan dah, sih Heksa tuh. Iya Heksa yang salah," tuduh Aldino.


"Punya nyawa berapa lo?" tanya Heksa dengan tajam dan bangkit dari duduknya.


"Aelah, udah-udah!" ucap Bianca.


"Heksa nih yang mulai duluan!"


"Hah, apa? Gak usah salahin gue lo! Ngaca dulu deh," balas Heksa tak kalah tajam.


"Halah, bac0t!" ketus Aldino.


"Al, udah dong. Habisin aja makanan lo," ucap Bianca dan mengelus tangan Aldino.


"Ekhem, maaf tangannya," ujar Heksa.


"Iri bilang babv!" ejek Aldino membuat semuanya tertawa geli saat melihat ekspresi Heksa.


"Gue phobia uwuwuan!"


***


Pagi pun tiba, semua orang kini sudah melakukan aktivitas mereka masing-masing. Sama halnya dengan SMA Prima Jaya yang sudah melakukan aktivitas sedari tadi.


"Bin, lo tau gak ini hari apa?" tanya Aurin kepada Bintang.


"Hari Kamis lah, emang kenapa?"


"Hm, gak jadi."


'Padahal aku udah kasih tau Bintang hari ultah aku, masa dia lupa sih!' gerutu batin Aurin.


Heksa yang tengah tertidur pun terbangun.


"Sa, lo tau gak hari ini hari apa?" tanya Aurin kepada Heksa.


Heksa berpikir sejenak. "Gue ingat, Rin. Hari ini ada pelajaran MTK dan gue lupa belajar, untung aja ada lo yang ingetin gue."


Senyuman di wajah Aurin seketika pudar dan ia segera berbalik badan ke arah depan.


'Kenapa pada gak ingat sih hari spesial aku?' batin Aurin bertanya-tanya.


Aurin menghampiri Bianca dan Febby yang asik tertawa dan berkata, "Ca, maafin aku, ya. Masalah yang kemarin," ucap Aurin.


"Kita pergi kesana aja yuk!" ajak Febby dan mereka pun segera berlari keluar kelas.


"Lah? Kok main tinggal aja sih? Harusnya kalo marah gak gitu juga," ucap Aurin dengan suara parau bertanda ia akan menangis, tapi ia tahan.


Bel berbunyi bertanda masuk, Pak Wisnu datang memasuki kelas.


"Baiklah anak-anak, silahkan kumpulkan tugas kalian ke depan!" perintah Pak Wisnu.


"Lah? Ada tugas?" tanya Aldino dengan heran.


"Iya, emang lo gan tau?" tanya Bintang balik. Bintang sudah menyelesaikan tugas dari semalam karna ia bertanya kepada Heksa.


"Gak mungkin, lo pada udah?" tanya Aldino kepada Bintang dan Heksa.


"Jelas babang Heksa udah, karna babang Heksa orangnya rajin!" balas Heksa dengan bangga.


"Liat!" pinta Aldino dan ingin merebut buku Heksa.


"Oh, no oh no oh no oh no no no!" jawab Heksa dramatis.


"Set*n!" umpat Aldino kesal.


...----------------...


BINTANG ARESH PRADIPTA




AURIN REVANGGA




BIANCA TAMARA ADHELIA



FEBBY LUMINA



Itu visual haluan Othor,, kalo kalian bebas ngebayangin siapa? 😌😇

__ADS_1


__ADS_2