
***
Hari sudah sore, senja dari tadi sudah menampakkan dirinya.
Lucas mengendarai jalan raya dengan kecapatan rata-rata, seperti biasa kendaraan berlalu lalang melakukan aktivitas mereka.
Lucas berhenti di dekat pedagang kaki lima, ia membeli kue coklat kesukaan Aurin.
"Pak, saya beli 10k aja," ujar Lucas dan penjual pun mengangguk.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan Lucas pun jadi.
Lucas memberikan uang 50k kepada penjual. "Ini uangnya, sisanya buat Bapak aja."
"Matur suwun, Mas. Semoga makin lancar rezkinya dan sehat selaau, makasih Mas!" ucap penjual tersebut dengan senang.
Lucas tersenyum kemudian mengendarai motornya lagi untuk menuju rumah sakit. "Aku datang my princess ku," gumam Lucas.
***
Aurin dan teman-temannya kini sedang asik mengobrol dan membicarakan tentang hal random. Aurin sudah siuman sejak tadi siang, mereka banyak bersyukur dan terimakasih kepada yang di atas telah memberikan kesempatan untuk Aurin.
"Btw, Lucas kemana? Kok dari tadi gak kelihatan batang hidungnya?" tanya Aurin.
"Dia tadi ada urusan, Rin. Keknya bentar lagi pulang," jawab Bianca.
"Hayo loh, Lucas punya gebetan baru!" canda Heksa mampu membuat wajah Aurin cemberut.
"Hishh, lo gak usah nambah beban Aurin napa sih!" ketus Febby dan memukul lengan Heksa dengan kasar.
"Aduh, sakit woy!" gerutu Heksa.
"Hadeh, berantem lagi," ucap Aldino dan menepuk jidatnya.
'Bintang kemana, ya? Kok dia gak ada sih,' batin Aurin.
Selang beberapa menit, akhirnya Lucas datang sambil membawa kantong kresek berisi kue.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Lucas langsung menghampiri Aurin dan mencium seluruh wajah Aurin. "Kamu udah siuman?" tanya Lucas.
Aurin mengangguk.
"Alhamadulillah, makasih Ya Allah," ucap Lucas.
"Itu apa?" Aurin menunjuk kantong yang di tangan Lucas.
"Ini ada kue buat kamu," ucap Lucas dan memberikan kantong tersebut ke arah Aurin.
"Makan ayang, nanti ayang sakit. Ayang jangan telat makan lagi." Suara tersebut berasal dari makhluk aneh siapa lagi kalau bukan Heksa.
Aurin hanya tertawa kecil saat melihat tingkah Heksa, Lucas tersenyum saat melihat Aurin kembali ceria.
"Aelah, Aurin doang nih yang di tawarin?" sindir Aldino.
"Nih buat kalian." Aurin memberikan kue kepada mereka, dan dengan gercep mereka langsung mengambil kue tersebut.
"Kata emak gue rezeki gak boleh di tolak. Dengan terpaksa babang Heksa yang tampan dan baik harus mengambil kue ini," ucap Heksa dengan dramatis.
"Bac0t!" timpal Aldino yang sudah kesal.
"Makan aja napa!" tegur Febby.
"Galak amat!" timpal Heksa.
"Nyenyenye," ucap Febby.
"Ini nih kalo cewek kalah ngomong," ujar Heksa membuat semuanya tertawa. Sedangkan Febby, ia hanya diam menatap mereka dengan datar.
Setelah beberapa jam.
"Ehk, kalian tau gak. Ada pengusahan terkenal yang di b*nuh sama anak remaja," ucap Febby dan menunjukkan sebuah video. Ternyata video itu adalah video pak Tisno dan Vivian, refleks membuat Lucas langsung keringat dingin dan panik.
"Wah kasian banget, ya. Kok tega di b*nuh," ucap Aldino.
"Itu, 'kan. A--ayah, i--ibu!" ucap Aurin dengan gugup.
"HAH?" Semua yang di sana terkejut saat melihat Aurin.
"Itu ayah sama ibu aku, AYAH IBU!" teriak Aurin histeris.
__ADS_1
"Lo yakin ortu lo?" tanya Febby.
"Iya, nama nya sama hiks ... hikss," tangis Aurin dengan tersedu-sedu.
"Ayah, ibu. Tega banget yang b*nuh ortu akuu." Lucas memeluk Aurin dan mencoba menenangkan Aurin.
"Shutt, jangan nangis lagi, ya, sayang." Lucas menghapus air mata di wajah Aurin sambil mencium dahi Aurin.
"Ibu, ayah ....!" lirih Aurin.
"Sabar, ya, Rin." Bianca dan Febby memeluk Aurin, membuat Aldino kebingungan.
"Gue juga dehh!" ucap Aldino dan ikut memeluk Aurin.
'*Maafin aku. Aku gak tau kalo itu ortu kamu, andai aja aku tau. Pasti aku gak bakal b*nuh calmer aku sendiri, aku nyesal!' batin Lucas*.
Pukul menunjukkan jam 21.24 semuanya kini sudah tertidur pulas di sofa dekat ruangan Aurin. Lucas masih setia menemani Aurin sampai ia tertidur pulas.
"Sampai saat ini aku gak bisa ngasih tau kamu dulu kalo aku yang b*nuh ortu kamu. Aku belum siap kehilangan kamu, aku gak mau kamu dorp gara-gara aku. Maaf!" ucap Lucas dan terus memegangi tangan Aurin dengan erat.
Bintang mendengar ucapan Lucas dari balik jendela, ia tadinya ingin mengunjungi Aurin. Namun, niatnya ia urungkan saat mendengar perkataan Lucas.
"Gue bakal bongkar semua rahasia lo," gumam Bintang.
"Berani banget lo buat Aurin hancur. Awas aja lo, Lucas." Bintang pergi meninggalkan ruangan Aurin, ia kembali ke rumahnya karna hari sudah semakin larut.
Keesokan harinya.
"Sayang, makan dulu, ya." Lucas berusaha menyuapkan bubur ke mulut Aurin. Namun, Aurin tetap saja menolak.
"Gak mau, aku mau ketemu makam ibu sama ayah," ucap Aurin dan meneteskan air mata.
"Iya, nanti kita ke sana. Tapi kamu makan dulu, biar cepat sembuh!" bujuk Lucas.
Lucas menyodorkan bubur ke arah Aurin. Namun, Aurin langsung menepis bubur tersebut, membuat bubur itu jatuh ke kasurnya.
"Rin!" bentak Lucas membuat Aurin terkejut.
"Lo jangan keras kepala, lo harus makan! Nanti lo tambah sakit. Gue gak suka lo kek gini!" lanjut Lucas.
"Kamu bentak aku?" Mata Aurin sudah menampung air dan siap untuk turun ke bawah.
__ADS_1
Aurin meneteskan air mata tanpa menunggu persetujuan dari dirinya, Lucas langsung memeluk Aurin dengan penuh kasih sayang.
"Maafin aku, sayang. Jangan nangis lagi, ya. Nanti cantiknya ilang," ucap Lucas dan menghapus air mata Aurin.