Ketua Osis Galak

Ketua Osis Galak
Di Usir


__ADS_3

****


Aurin duduk di kelasnya sambil melamun menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.


"Rin, lo kenapa?" tanya Bianca dan Febby.


"Rin, jangan sedih lagi, ya. Kita ada di sini dukung lo, kita setia sama lo, Rin. Susah senang harus barengan!" ucap Bianca dan memeluk Aurin, diiringi Febby.


"Makasih, ya." Aurin meneteskan air mata dan mereka berpelukan.


"Berhenti dulu woi pelukannya! Rin, lo di suruh ke ruang BK. Ortu lo udah datang," ujar salah satu siswa yang baname-tag Heksa Narendra.


Aurin mengangguk, kemudian berjalan ke ruang BK. Rasa takut menyelimuti dirinya, bulu kuduk berdiri karna takut.


Saat memasuki ruang BK, di sana sudah ada kedua ortunya yang tengah duduk bersama buk April.


"Silahkan duduk, Aurin." Aurin duduk di dekat Vivian-ibu Aurin.


"Anak Bapak sama Ibu ham1l di luar nikah, dan Aurin juga tadi bolos sekolah. Apa benar, kamu ham1l di luar nikah, Aurin?" Aurin menggeleng pelan.


"Gak, saya gak pernah berhubungan seksval dengan lelaki lain di sekolah ini. Itu semua fitnah, saya di fitnah!" tegas Aurin.


Pak Tisno-ayah Aurin, bangkit dari duduknya dan menampAr Aurin.


"Anak kurang ajAr kamu! Saya gak pernah ngajarin kamu seperti ini, cuma bisa malu-maluin keluarga aja. Dasar anak HAR4M!" Semua guru hanya menyaksikan kejadian itu, tidak ada yang berani menghentikan Pak Tisno yang sudah tersulut emosi.


"Mau taro di mana muka saya ini, AURIN!?" tekan Pak Tisno dan menarik Aurin keluar dari ruang BK.


Aurin di tarik hingga kakinya terkena aspal. "Aduh ... sakit, Pa."


"Masuk!" bentak Pak Tisno, menyuruh Aurin masuk ke dalam mobil.


Banyak pasang mata yang melihat kejadian itu, dari depan ruang BK sampai ujung gerbang. Semua siswa menatap mobil Aurin.


Saat di rumah.


Pak Tisno menghempaskan tvbuh Aurin ke lantai dengan kasar.


"Pergi kamu dari rumah saya, dasar anak har4m! Cuma bisa malu-maluin keluarga, anak gak tau terima kasih!" bentak Pak Tisno.


"Aku gak ham1l, Pa. Aku di tuduh!" ucap Aurin membenarkan.


Pak Tisno men3ndang perut Aurin hingga Aurin terguling dan mengeluarkan d4rah. "Sa--sakit."


"Anak har4m!" murka Pak Tisno.


"Liat aja nanti," ucap Aurin dan dia pun tak sadarkan diri.


Setelah beberapa jam pingsan, Aurin terbangun. Ia sekarang sudah berada sebuah rumah tua, mungkin keluarganya yang membawa dia.


"Tisno, Vivian, Cindy. Gue tandain," ucap Aurin kemudian bangkit dan keluar dari rumah tua tersebut.

__ADS_1


Aurin berjalan menyusuri jalanan yang sudah sepi, di perkiraan sekarang jam menunjukkan pukul 22.45 WIB.


Saat sedang berjalan, tiba-tiba dua orang preman mencegahnya.


"Ehk, ada gadis cantik nih," ucap salah satu dari mereka.


"Mau kemana malam-malam gini, cantik? Ikut Abang, yuk!" ajak preman tersebut.


"Kalian siapa!" teriak Aurin.


"Cantik-cantik kok galak," ujar preman itu.


"Jangan dekat-dekat!" bentak Aurin.


"Manis banget sih," goda salah satu dari mereka.


Bughh!


Aurin melayangkan satu pukvlan ke preman tersebut. "Tuh, 'kan jadi benj0l!"


"Gak usah macam-macam sama gue, bokap gue polisi. Bisa aja gue laporin lo berdua ke bokap gue dan lo berdua masuk penjara!" ancam Aurin.


"Ampun, jangan laporin kami ke kantor polisi. Gimana nanti keadaan istri dan anak saya di rumah, kalo saya masuk penjara." Kedua preman tersebut berlutut di kaki Aurin sambil memohon.


"Ada syaratnya," ucap Aurin membuat mereka bangkit dari jongkoknya.


"Apa?" tanya mereka berdua.


"Ngerti?"


"Paham bos!"


"Oke."


***


Aurin memasuki rumahnya tanpa permisi lagi, dan mendobrak pintu rumahnya dengan kasar.


Semua keluarganya sedang berada di ruang tamu terjekut saat Aurin datang.


"Hai Family, apa kabar!" sapa Aurin dengan sokap dan mulai menaiki anak tangga untuk mengambil barang-barangnya.


Setelah beberapa menit, Aurin turun ke bawah sambil membawa koper besar di tangannya.


Saat sedang berjalan melangkahkan kaki keluar, Tisno memanggil. "Tunggu!"


Aurin berbalik. "Kenapa?"


"Atas izin siapa kau datang kemari?" tanya Pak Tisno.


"Saya sendiri, mungkin sekarang anda buat saya hancur. Tapi liat aja nanti," ucap Aurin dan pergi meninggalkan rumah tersebut.

__ADS_1


Aurin mengendarai mobil milik Lucas-anak buah barunya, untuk pergi ke apartement Lucas.


Call On.


"Gue udah ambil barang-barang milik gue, sekarang lo share lokasi apartement lo biar gue bisa ke sana. Lo tunggu aja," ujar Aurin.


"Nanti gue kirim lewat chat," balas Lucas di sebrang telpon.


Tutt!


***


Aurin sampai di apartement milik Lucas, ia langsung memarkirkan mobil Lucas kemudian masuk ke dalam apartement.


Ting! Tong!


Aurin memencet bel pintu kamar Lucas. Namun, tidak ada jawaban dari anak satu itu.


"Woi, gue udah sampai nih! Bukain gih pintunya!" teriak Aurin.


Ceklek!


"Ahkkk!" teriak Aurin, karna ia melihat Lucas yang baru selesai mandi, dan hanya memakai handuk setengah badan. Kebayang gak tuh?!


Aurin membalingkan wajahnya ke sembarang arah. "Lo g1la banget, sumpah."


"Abisnya lo gak sabaran sih!" ketus Lucas.


"Ihk! Cepat lo pake baju sana, gue gak mau liat lagi!" perintah Aurin.


"Iya, astaga."


Setelah beberapa menit berdebat hal random, akhirnya mereka duduk di sofa.


"Cas, lo yakin kalo Cindy beneran ham1l?" tanya Aurin kepada Lucas.


"Gue yakin, soalnya beberapa hari yang lalu gue liat dia pergi ke hotel bareng cowok. Ya, mungkin aja mereka berhubungan int*m gitu," jelas Lucas.


"Hm, yakin nich?" tanya Aurin yang nampak belum sepenuhnya percaya.


"Iya, dia tuh suka sama Bintang dan dia benc1 kalo lo deketin Bintang terus. Makanya dia selalu nyari masalah sama lo, seakan-akan dia yang paling tersakiti. Dan dia tuduh lo ham1l sampai buat poster kek gitu, padahal dia sendiri yang ham1l. Lawak banget!" Aurin mangut-mangut perkataan Lucas.


"Tuh anak emang gak punya urat malu kali, ya. Padahal dia sendiri yang ham1l, malah nuduh gue yang aneh-aneh!" gerutu Aurin kesal.


"Besok rencananya di mulai, lo tenang aja. Gue bakal buat rahasia Cindy kebongkar," ucap Lucas.


"Siap."


*****


HAPPY READING

__ADS_1


__ADS_2