
***
"Aurin!" Pak Bima-kepala sekolah, mengebrak meja membuat Aurin terkejut.
"I--iya, Pak?" tanya Aurin terbata-bata.
"Sudah berapa kali kamu di kasih peringatan buk April, tapi kamu gak ada sama sekali perubahan. Makin parah dari yang lama kamu ini, saya gak habis pikir sama kamu, Aurin. Kamu itu perempuan," jelas Pak Bima.
"Maaf, Pak. Tapi, Cindy yang mulai duluan, saya itu di tuduh, Pak!" ucap Aurin membenarkan.
"Pokoknya saya mau kedua orang tua kamu datang ke sekolah," lanjut Pak Bima.
Degh!
Seketika hati Aurin merasa sesak dan sakit, kenapa harus bersangkutan dengan orang tua?
"Cepat, berapa nomor orang tua kamu!" pinta Pak Bima.
"Orang tua saya pergi ke Belanda, Pak. Jadi mereka gak ada di rumah," ujar Aurin cengengesan.
"Yasudah, kamu saya skor selama 1 minggu. Silahkan keluar dari ruangan saya." Aurin mengangguk kemudian berjalan keluar.
"Gimana, Rin?" tanya Bianca dan Febby.
"Kamu nanyea? Kamu bertanya-tanya?" ucap Aurin membuat Febby dan Bianca menatapnya datar.
"Cukup, gue udah muak!" ketus Bianca.
"Affah iya kamu bertanya-tanya," lanjut Aurin dan diiringi tertawa kecil.
"Rin!" teriak Febby dan Bianca.
"Iya, gue jawab!" balas Aurin.
"Orang tua gue di panggil tadi, ter---" Ucapan Aurin terpotong.
"Huwaa, hiks ... hikss Aurin!" Febby memeluk lutut Aurin.
"What?! Kok bisa, Rin. Ayo gue antar!" Bianca menarik paksa tangan Aurin, membuat Aurin kebingungan.
"Mau kemana?" tanya Aurin bingung.
"Mau pasang bendera kuning, ortu lo, 'kan udah pergi." Aurin menatap datar ke arah Bianca dan Febby, di kira ortu Aurin meninggoy apa? Haha!
"Ortu gue di panggil ke sekolahan, bukan di panggil Tuhan beg0!" jelas Aurin membuat Bianca cengegesan.
"Bilang kek dari tadi!" gerutu Bianca.
"Abisnya, gue belum selesai ngomong kalian udah motong," sambung Aurin.
"Mangap, Rin." Febby berdiri dan cengegsan.
"Maaf, woy! Bukan mangap," timpal Bianca.
"Hehe!" Febby hanya menyengir kuda tidak jelas.
"Temenin gue ke UKS," ajak Aurin dan mereka berdua mengangguk.
Aurin memasuki ruang UKS dan menatap Cindy.
"Woy, bangsAt! Ehk, maksudnya Cindy. Gue minta maaf, ya." Aurin menjulurkan tangannya ke arah Cindy, membuat Cindy membalingkan muka.
"Gak," jawab Cindy.
"Norak banget lo, gue minta maaf sama lo." Aurin menatap sinis ke arah Cindy.
__ADS_1
"Lo maafiin aja, Cin. Lagian Aurin udah mau minta maaf," ucap Aluna.
"Hm, gue maafin." Cindy membalas tangan Aurin.
"Yuk pulang," ajak Aurin kepada Bianca dan Febby.
Satu minggu berlalu, kini Aurin sudah kembali ke sekolahnya.
"Gimana pas libur?" tanya Bianca.
"Gue gabut banget, woi! Gak ada kerjaan di rumah, cuma rebahan doang!" ketus Aurin.
"Bagus dong, andai gue libur satu minggu," ujar Febby.
"Yaudah, lo gak usah sekolah aja sekalian!" timpal Bianca.
"Idih, ogah banget."
Bruk!
"Aduh, sorry sengaja!" Aurin menatap gadis yang menabrak dirinya, ternyata itu sih Nenek lampir yaitu Cindy.
"Woy, lo gak usah nyari gara-gara sama Aurin!" bentak Bianca yang emosi.
"Udah, Ca. Lagian gue gak apa-apa," ucap Aurin.
"Keknya sih tukang caper udah mulai sekolah, nich!" sindir Cindy.
"Mungkin lo yang caper deh. Secara, 'kan lo iri sama gue," ucap Aurin sinis.
"Gue gak iri sama lo, ya. Gak usah ke g'r- an lo!" geram Cindy.
"Oh, gitu. Kalo gak iri, kenapa nyari masalah terus sama gue? Kalah saing Mbak?" sindir Aurin lagi.
"Ihkk, dasar ngeselin!" kesal Cindy.
"Kita harus bikin rencana biar Aurin di benc1 satu sekolah," ucap Cindy dan gengnya mengangguk.
Setelah beberapa jam.
Aurin mendapatkan pesan dari Cindy untuk menemuinya di rooftop sekolah.
"Ngapain lagi tu sih nenek lampir," ucap Aurin dan menuju rooftop berasa teman-temannya.
Tak lama kemudian, Aurin dan temannya sampai di rooftop dan melihat Cindy serta gengnya.
"Akhirnya lo datang juga," ucap Cindy.
"Cepat ngomong, gue gak ada waktu." Cindy mendekat ke arah Aurin.
"Lo gak usah deketin Bintang, dia crush gue!" tegas Cindy.
Aurin menatap sinis ke arah Cindy.
"Kenapa liat-liat? Gak usah macam-macam lo sama gue, bokap gue orang terkaya no 7 se-Asia. Jadi, kalo lo berurusan sama gue, lo bakal kena masalah besar, ngerti?" jelas Cindy.
"Dan, lo keknya menikmati banget ya di deketin Bintang. Lo jauhin dia!" sambung Cindy.
"Gak kok, makasih ya. B4bu, berkat lo gue jadi bisa di perhatiin sama Bintang." Cindy mendekat ke arah Aurin dan menarik kerah bajunya dengan kasar.
"Dasar cewek kegat3lan!" kesal Cindy.
Aurin mendorong tvbuh Cindy. "Gak usah deket-deket, nafas lo bau woy!"
"Hahaa!" Tawa Febby dan Bianca.
__ADS_1
"Apaan sih!" Cindy menatap Bianca dan Febby tajam.
"Lo mau deketin Bintang, 'kan? Deketin aja sana. Tapi, bokap lo buat gue, ya. Lumayan dapat duda kaya!" Aurin menyengir kuda tanpa dosa.
"Bokap lo orang kaya no 7 se-Asia, 'kan? Nanti malam gue datangin bokap lo, gue rayu bokap lo. Dan gue nikah sama bokap lo, terus gue jadi emak lo. Gue jadiin lo pembantu, dan gue usir lo dari rumah!" ucap Aurin membuat Cindy semakin kesal.
"Udah, Rin. Mending kita balik ke kelas aja," ujar Bianca.
"Dasar lont*h!"
Cindy ingin men4mpar Aurin. Namun, Aurin langsung memegang tangan Cindy. "Gue gak nyari ribut sama lo."
"Ayo, Rin. Jangan sampai kalah!" sorak Febby dan Bianca.
Plak!
Satu tAmparan mendarat di pipi Cindy.
"Aduh, sakit banget pipi gue!" rengek Cindy.
"Cin, kok lo kalah sih!" geram Aluna.
"Jadi anak manis gak boleh menangis, malu sama kucing. Meong, meong, meong!" Aurin tertawa sambil menjulurkan lid4hnya ke arah Cindy dan berlari membuat Cindy semakin geram.
Cindy mengejar Aurin dengan kesal. "Ihk, ngeselin banget lo Aurin!"
"Ayolah bernyanyi, gak boleh bersedih. Malu sama Aurin wekk, wekk, wekk!" Tawa Aurin dan teman-temannya.
"Ayo, Rin. Buat nenek lampir kena mental!" sorak Febby.
"Ayo kejar gue!" ucap Aurin dan terus berlari.
Bugh!
Cindy terjatuh membuat Aurin dan teman-temannya kembali tertawa.
"Hahah! Mampus lo, itu azab buat lo gara-gara kegat3lan." Cindy menatap mereka bertiga dengan tajam.
"Ihk, sakit aduhh," rengek Cindy.
"Makanya gak usah kegat3lan, apa perlu gue garukin? Sini gue garuki, gratis kok," ucap Aurin.
"Gue udah videoin kejadian tadi. Gak usah gangguin besti gue lo, gue punya buktinya!" ucap Nataylia dan sambil menunjukkan ponselnya.
"Gak ada bukti-buktian." Aurin m3nendang ponsel yang berada di tangan Nataylia, membuat ponsel tersebut terjatuh ke lantai dan pecah.
"Rin, kok lo hancurin hp gue!" gerutu Nataylia.
"Upss, sorry sengaja, hahah!" Tawa Aurin dan gengnya.
"Ngomong elite, nyali sulit!" ucap Aurin dan teman-temannya serempak.
"Bilang lo sekali lagi!" bentak Cindy.
"Ngomong elite, nyali sulit wlekkk!" Aurin dan teman-temannya menjulurkan lid4h ke arah Cindy dan gengnya.
"Hahah!" Mereka pun berlari meninggalkan rooftop dan diiringi tertawa.
"Gak bisa, gak bisa! Mereka bisa lebih populer dari kita kalo kek gini terus," ujar Aluna.
"Pokoknya kita harus bikin mereka malu," timpal Nataylia.
"Ngeselin banget dia woi!" gerutu Cindy.
HAPPY READING
__ADS_1