King Of Buaya

King Of Buaya
Hari Sial


__ADS_3

“Amit-amit gue jatuh cinta sama dia,” jawab Nada seraya memukul kepalanya pelan.


Eliana tertawa geli, “Hahaha.”


Mereka melanjutkan kembali makan siang yang sempat terhenti. Ketika mereka sedang damai memakan semua makanan yang ada di atas meja, tiba-tiba saja Galang datang menghampiri. Nada langsung memasang wajah sinisnya. Ia tidak ingin berada dalam satu meja dengan pria itu.


“Hai, El! Gimana kabarnya?” tanya Galang berbasa-basi.


Eliana seketika memalingkan wajahnya, “Jangan ganggu hidup aku lagi, Gal. Aku udah gak suka dan gak akan mempan dengan rayuan kamu,” balasnya dengan tegas.


Galang menarik napasnya, “Oke kalo gitu.”


“Ngapain lo di sini? Pergi lo sana!” Nada mengusirnya.


“Ini ‘kan tempat umum. Semua murid yang bersekolah di sini, boleh dong duduk di meja ini?”


Nada tidak terima dengan adanya Galang di sekolah ini. Eliana yang berada di sampingnya seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya. Segera Eliana menarik tangan Nada. Ia mencoba untuk menenangkan Nada agar tidak terbawa emosi. Sementara itu, Galang hanya tersenyum tipis. Nada seperti melihat suatu rencana busuk dari Galang.


“Lo pergi dari meja ini! Atau gue seret lo buat pergi?!” ucap Nada tegas.


“Gue cuma mau berteman aja sama semua murid yang ada di sini.”


“Cih… Basi lo!”


Nada lalu bangkit dan pergi meninggalkan Galang. Ia tidak tertarik dengan ucapan Galang siang itu. Moodnya seketika hancur sejak kehadiran Galang dalam hidupnya. Eliana berusaha untuk mengejarnya. Napas yang memburu terdengar sangat jelas. Hingga akhirnya Nada memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang berada di pinggir lapangan.


Ia mencoba agar dapat mengontrol emosinya yang sudah meledak-ledak. Beberapa kali terlihat Nada menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Tidak lama kemudian, Eliana datang dan langsung duduk di sampingnya. Cuaca siang itu cukup panas, dengan matahari yang bersinar terik sekali.


“Lo ngapain di sini sih Nad? Panas tau,” oceh Eliana.


“Lo diam, atau mau gue semprot?!”


Eliana langsung bungkam tidak menjawabnya.


“Lagipula kenapa sih cowok gak tahu diri itu muncul di hidup gue? Lihat mukanya aja gue eneg.”


“Ya gue gak tahu, Nad. Emang gue Tuhan yang bisa tahu kehidupan manusia?”

__ADS_1


Jawaban yang diberikan oleh Eliana tidak membuat Nada puas. Nada tampak nyaman berada di tempat itu. Apalangi angin sepoi-sepoi membuat hatinya terasa damai. Kursi yang terletak di bawah pohon rindang itu memang pas untuk bersantai. Sembari menunggu bel masuk, Nada dan Eliana berbincang perihal Galang. Mereka yang masih menaruh rasa curiga atas pindahnya Galang ke sekolah ini.


Sedangkan di sudut lain, ternyata diam-diam Galang mengamati mereka berdua. Ia melebarkan senyumannya tatkala menyaksikan kebingungan di antara Nada dan Eliana. Sebenarnya memang semua ini telah direncanakan oleh Galang. Ia ingin membalaskan perbuatan Nada yang selalu saja membuat dirinya malu di hadapan banyak orang.


“Lo lihat aja, hidup lo gak akan tenang kalau ada gue,” ujarnya pelan.


**


Langkah kaki gontai mengiringi perjalanan Nada siang itu. Tubuhnya terasa lelah dan ingin segera melabuhkannya pada sebuah singgasana yang sangat nyaman di dalam kamarnya. Ia terus berjalan dengan tangan yang memainkan kunci di sela jemarinya. Hujan yang mengguyur sebelum pulang sekolah membuat udara sedikit terasa dingin. Suasana ramai siang itu terlihat sangat jelas. Di mana para siswa dan siswi berhamburan keluar sekolah untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Ketika Nada hampir sampai di parkiran, tiba-tiba saja.


Grunggg…. Byurrr…


Cipratan air akibat lubang kecil itu membasahi dan mengotori pakaiannya. Sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi. Nada terkejut dan berteriak sekencang-kencangnya. Semua orang terhenti dan menoleh ke arahnya.


“Woi! Kalau jalan bisa lihat-lihat gak!” pekik Nada dengan lantang.


Motor tersebut berhenti mendadak. Seorang pria yang mengenakan helm fullface itu memutar tubuhnya dan menatap tajam ke arah Nada. Geram dengan kelakukannya, Nada lalu bergegas menghampiri pemilik motor tersebut. Ia terpogoh-pogoh karena sekarang pakaiannya sudah kotor akibat cipratan air tersebut.


“Kalo lewat itu bisa gak jangan ngebut? Lo buta apa gimana? Gak bisa lihat ada kubangan lo?” Nada terus berbicara tanpa jeda.


“Kenapa sih hidup gue gak pernah tenang sejak ada lo?” Amarah Nada tidak bisa tertahankan.


Galang hanya menatapnya saja tanpa ada jawaban.


“Lo harus tanggung jawab karena udah buat baju gue kotor!”


“Berapa?” balas Galang dengan santai.


Ekpresi wajah dan jawaban dari Galang semakin membuat Nada emosi. Belum sempat Nada membalas, Galang kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sekuat tenaga Nada berteriak. Namun semua itu hanyalah sia-sia. Ia ditinggalkan dengan rasa kesal yang masih menjalari dirinya.


“Arrgghh!!!”


Siang itu Nada benar-benar menjadi tontonan banyak orang. Ia sudah tidak peduli dengan rasa malu. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang. Pakaiannya telah kotor dan basah. Ia tidak akan memaafkan perlakuan Galang hari ini.


Sampainya di rumah, Nada bergegas membersihkan tubuhnya. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kejadian hari ini membuat tubuhnya mengeluarkan banyak energy. Oleh sebab itu, Nada memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum beristirahat. Ketika sedang menikmati makan siang, ia mendapati ponselnya berbunyi.


‘Ting’

__ADS_1


Lalu Nada mengeceknya. Pesan masuk dari seorang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Beberapa hari ini ia selalu saja mendapatkan pesan yang sama dari nomor yang sama. Tetapi dirinya tidak tertarik dan memilih untuk tidak menanggapinya.


“Anak Bunda sudah pulang ternyata.” Veny muncul dan merangkul Nada dari belakang.


“Bunda,” balasnya seraya menoleh ke arah Veny.


“Serius banget makannya.”


“Tumben Bunda ada di rumah. Biasanya selalu sibuk sama urusan Bunda sendiri.”


Veny lalu duduk dan mendekati anaknya, “Boleh dong Bunda temani anak kesayangan Bunda hari ini?”


Nada berdehem.


“Oh iya, bulan depan Bunda sama Ayah mau keluar kota. Apa kamu mau ikut?”


Ketika mendengar hal itu, Nada menghela napas kencang. “Hemm… Gak perlu, Bun. Aku bisa di rumah sendiri.”


“Bener kamu nggak mau ikut Bunda aja?”


Nada menggelengkan kepala.


Nada sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Rumah selalu sepi karena hanya ada dirinya bersama dengan Bi Surti. Mungkin beberapa kali kedatangan Eliana membuat ramai suasana di rumah. Siang itu dilewati Nada dengan berbincang singkat. Sebenarnya Nada sangat merindukan kehangatan sebuah rumah. Tetapi tidak banyak yang dapat dilakukan olehnya selain diam dan mengikuti semua perkataan kedua orang tuanya.


“Apa Ayah nggak pulang hari ini, Bun?” tanya Nada karena tidak melihat keberadaan ayahnya.


“Ayah pulang nanti malam.”


“Bun, bisa nggak kalau Bunda itu di rumah aja? Temani Nada di rumah. Nada merasa kesepian, Bun.” Nada memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.


Veny terdiam, ia tampak kebingungan. Tetapi tergurat rasa sedih di wajahnya.


“Bisa ‘kan, Bun? Lagian, Nada itu butuh banget Bunda dan Ayah. Tapi, kalian malah sibuk.”


“Maafin Bunda sama Ayah ya, Nak. Tapi Bunda dan Ayah nggak bisa tinggalin pekerjaan gitu aja, Sayang.” Veny mengusap lembut kepala anak semata wayangnya itu.


Helaan napas Nada terdengar menyakitkan, tatkala mendengar jawaban dari ibunya.

__ADS_1


__ADS_2