
“Galang,” panggil Farah.
Secara mengejutkan Farah datang, membuat Nada dan Galang langsung salah tingkah serta saling menjauhkan diri. Galang kemudian bangkit dan menghampiri ibunya yang masih berdiri. Sementara Nada, ikut berdiri seraya memberikan senyuman manis pada wanita paruh baya tersebut.
“Mama kok udah pulang? Katanya pulang nanti malam?” Galang mencecari ibunya dengan berbagai macam pertanyaan.
Farah lalu berjalan dan meletakkan sesuatu di atas meja, “Iya, meetingnya diundur besok. Jadi Mama bisa pulang lebih awal. Oh iya, ini siapa?”
“Tante, perkenalkan nama aku Nada.” Gadis itu memberikan salam pada Farah.
“Temannya Galang atau pacarnya Galang?”
Nada terkejut mendengar pertanyaan tersebut, “Teman aja kok, Tan.”
“Calon pacar, Ma.” Galang menyahuti, membuat kedua bola mata Nada seperti akan keluar dari tempatnya.
Farah tersenyum lebar, “Hem.. Calon menantu Mama berarti. Ya sudah kalau begitu, Mama bawain camilan buat kalian dimakan ya. Mama ke kamar dulu.”
Galang menjawab dengan kedua ibu jari yang terangkat.
Nada kesal karena celetukan Galang tadi. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Galang menyatakan bahwa dirinya adalah calon pacar. Padahal mereka kalau bertemu saja seperti kucing dan anjing. Selalu bertengkar dan tiada hari tanpa berdebat. Nada masih memasang wajah masam. Sedangkan Galang sudah menikmati makanan yang dibawakan oleh ibunya.
Galang tidak peduli dengan Nada yang masih mengerutkan dahinya. Ia begitu menikmati makanan tersebut. Ditambah memang dirinya sedang lapar karena perkelahian tadi. Di sela makan, Galang melirik ke arah Nada. Ia memberikan suapan pada gadis tersebut.
“Gue nggak mau!” tolak Nada.
“Cobain. Ini enak.” Galang terus menyodorkan makanan pada Nada.
Terpaksa Nada membuka mulut dan melahap makanan yang diberikan oleh Galang.
“Enak, ‘kan?”
Nada hanya diam saja tidak menjawabnya.
Setelah menikmatinya, mereka kembali melanjutkan tugas yang sempat terhenti. Cukup lama mereka bergelut dengan tugas tersebut. Tanpa disadari, hari mulai gelap. Nada melihat ke arah jendela. Terlihat jika sebentar lagi hujan akan turun dan dirinya berpikir untuk segera pulang.
Belum sempat Nada berbicara pada Galang, hujan sudah turun dengan begitu derasnya. Ia tidak bisa pulang dalam keadaan hujan seperti ini. Seraya menyaksikan rintikan hujan, Nada menghela napas panjang. Diam-diam Galang memperhatikan gadis yang sedang berada di sampingnya itu.
__ADS_1
“Kalo diem gini, lo kelihatan cantik,” ucap Galang pelan.
Spontan Nada menoleh, “Apa lo bilang?”
“Lo kelihatan cantik,” ulangnya lagi.
Blush… Rona di pipinya memerah. Nada jadi salah tingkah ketika mendapat pujian seperti itu dari Galang. Apalagi, pria itu sedikit tersenyum. Tidak bisa dipungkiri jika memang Galang itu tampan. Tidak heran jika banyak wanita yang tergila-gila padanya. Tatapan teduh dari keduanya saling melekat serta berhasil membuat jantung Nada tidak terkendali.
“Galang, Nada, makan dulu Nak,” teriak Farah dari dapur.
Nada dan Galang langsung mengalihkan pandangan masing-masing.
“Iya, Ma. Makan dulu,” pinta Galang.
Sementara itu Nada menggelengkan kepala, “Nggak deh. Gue masih kenyang.”
“Yakin? Dari tadi lo ‘kan belum makan. Udah, jangan banyak mikir.”
Sekali hentakan Galang berhasil membuat gadis itu berdiri. Saat ini Nada tidak bisa menolak. Ia terpaksa ikut makan bersama dengan Galang dan juga ibunya. Rupanya Farah telah menyiapkan makan malam untuk semuanya. Berbagai macam masakan tersaji di meja makan.
Ketika melihat itu, Nada langsung tergiur. Terlebih ia memang sudah lapar sejak tadi. Hanya saja dirinya gengsi kalau sampai Galang tahu bahwa dirinya kelaparan. Kemudian Farah meminta agar Nada ikut duduk bersama dengan mereka.
“I-iya, Tante.” Nada membalasnya dengan keraguan.
“Jangan malu-malu, makan aja semuanya.”
Nada tersenyum.
“Dia mana ada malunya, Ma,” imbuh Galang yang mendapat omelan dari Farah.
“Hust… Nggak baik bilang gitu.”
Lalu Nada menikmati makanan tersebut. Ia terkesima karena semua makanan yang ada di atas meja itu terasa sangat lezat sekali. Belum pernah Nada merasakan kelezatan ini sebelumnya. Ia terlihat sangat lahap, sampai-sampai dirinya tidak sadar sudah menjadi pusat perhatian Galang dan juga Farah.
“Pelan-pelan makannya, Sayang.”
Nada tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan bersih, “Maaf Tante, abisnya makanannya enak banget. Nada belum pernah makan seenak ini.”
__ADS_1
“Iya tentunya, Mama gue yang masak pasti enak. Pasti Mama lo juga masakannya enak,” sahut Galang.
Nada langsung terdiam. Ia tidak tersinggung dengan perkataan Galang. Tetapi, ia menyadari bahwa sudah lama sekali ibunya tidak memasak untuk dirinya. Selama ini, Nada hanya makan masakan Bi Surti. Kalau tidak ya pesan dari aplikasi online. Galang mengamati perubahan raut wajah Nada. Ia seperti menyadari ada sesuatu yang tengah dipikirkan olehnya.
“Nada boleh kok main ke sini setiap hari, nanti Mama masakin yang enak-enak,” ujar Farah.
“Yang benar Tante?” Kedua mata Nada memancarkan binar-binar kebahagiaan.
Farah mengangguk.
“Terima kasih, Tante. Nada seneng banget.”
“Panggil Mama aja, jangan Tante. Biar lebih akrab sama calon menantu.”
Blush… Untuk kesekian kalinya pipinya berubah merona. Padahal ia dan Galang tidak mempunyai hubungan spesial. Namun Nada merasa nyaman berada di rumah ini. Apalagi Farah memperlakukan dirinya seperti anaknya sendiri.
Beberapa saat kemudian, makan malam telah usai. Sekarang sudah waktunya bagi Nada untuk pulang. Ia pun pamit kepada Farah dan tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih. Tentu saja Farah senang dengan kehadiran Nada di rumah ini. Farah juga memerintah Galang untuk mengantarkannya pulang.
**
Hari-hari telah berlalu. Nada menjalankan kehidupannya seperti biasa. Pagi itu ia telah sampai di sekolah. Bahkan beberapa menit setelah dirinya masuk, gerbang sekolah sudah ditutup. Begitu banyak siswa yang terlambat dan akan berujung dengan hukuman. Beruntung dirinya tidak terlambat.
Ketika Nada hendak pergi, tiba-tiba saja ia melihat sosok Galang di antara para siswa yang terlambat. Seketika Nada tertawa kecil. Ia merasa puas karena sekarang Galang akan dihukum oleh guru BK karena sudah terlambat. Rupanya hal tersebut diketahui oleh Galang. Pria itu menatap Nada dengan tajam yang kemudian mendapat juluran lidah dari Nada sebagai tanda ejekan.
“Rasain lo, telat sih. Jadi kena hukum deh.” Nada tersenyum puas dan bahagia.
Ia pun melenggang masuk dan meninggalkan Galang yang masih memperhatikannya. Di dalam kelas, Eliana sedang menunggu sahabatnya yang sejak tadi tidak kunjung datang. Nada duduk dengan penuh ketenangan dan masih saja tersenyum akibat teringat kejadian tadi.
“Lo kenapa, Nad? Sakit?” Eliana mengecek suhu tubuh sahabatnya itu menggunakan telapak tangannya.
“Apa sih? Gua baik-baik aja.”
“Terus, kenapa lo senyum-senyum gitu?” tanyanya menyidik dan heran.
Nada menyunggingkan bibirnya, “Nggak, gue lagi seneng aja. Karena Galang dihukum.”
“Kenapa bisa dihukum?” Eliana masih tidak mengerti.
__ADS_1
“Iya, dia terlambat. Udah pasti kena hukuman sama Bu Tika.”
Bu Tika adalah guru BK yang terkenal kejam. Siapa saja siswa yang terlambat akan dihukum dan juga diberikan sanksi. Oleh sebab itu, semua siswa sangat takut padanya. Begitupun dengan Nada yang selalu menghindari Bu Tika agar tidak berurusan dengan beliau.