
Baik Nada maupun siswa lainnya serempak mengeluh. Hukuman membersihkan toilet sudah menunggu di depan mata. Tidak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu sudah datang. Sesuai dugaan, Bu Tika datang dengan membawa buku catatan di tangannya. Semua siswa yang terlambat di kumpulkan di sudut lapangan.
Termasuk Nada dan juga Galang. Satu per satu Bu Tika mencatat nama siswa serta memberikannya sanksi atas keteledoran mereka dan ketidak-tepatan dalam waktu. Kini giliran Nada. Ia sudah membayangkan hukuman menyikat toilet dan membersihkannya.
“Nada dan Galang tolong bersihkan perpustakaan. Susun buku-buku baru di rak sesuai dengan kelasnya,” tutur Bu Tika.
Nada dan Galang kompak menoleh.
“Cuma itu aja Bu?” Galang menimpali.
Seketika Nada mencubit pria itu, membuatnya merintih kesakitan.
“Kamu mau hukuman yang lebih berat?”
“Nggak, Bu.”
“Ya sudah, sana kerjakan!”
Tanpa pikir panjang, Nada menarik tangan Galang untuk pergi ke perpustakaan. Sejujurnya ia sedikit kesal dengan celetukan Galang. Jika sampai Bu Tika memberikan hukuman lebih berat, ia akan menyalahkan Galang atas kemalangannya pagi ini.
Sampainya mereka di perpustakaan. Rupanya ada setumpuk buku baru yang masih berada di atas meja. Melihat itu, Nada menghela napas panjang. Ia tidak pernah menyangka jika pekerjaannya sangat berat.
“Cepet kerja,” ujar Nada.
“Ya lo juga kerja.” Galang tidak mau kalah.
Nada meletakkan tas di atas meja, “Gue yang susun buku ini. Terus lo yang taro di rak.”
Galang setuju dengan itu.
Berjalannya waktu, semakin lama Galang merasa lelah. Buku-buku itu terlalu banyak untuk pekerjaan mereka berdua. Kemudian Galang memutuskan untuk istirahat sejenak. Ia duduk pada sebuah kursi seraya memejamkan mata. Sementara itu, Nada melihat ke arahnya. Ia tidak menegur dan membiarkan Galang beristirahat.
Ketika sedang santai, mereka dikejutkan dengan suara pintu perpustakaan yang terbuka. Seketika Nada menoleh, dan ia menunggu kira-kira siapa yang datang. Sebab, sekarang bukan waktu istirahat. Sehingga tidak mungkin ada siswa yang datang ke perpustakaan di jam pelajaran. Rupanya Sasha yang datang. Wanita itu berjalan mendekati Galang.
“Galang, kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Sasha.
__ADS_1
Pria itu hanya diam saja tidak menanggapinya. Begitupun dengan Nada.
“Mau aku bantu? Biar aku selesaikan hukumanmu.”
“Oh boleh kalo gitu. Kamu bantu Nada, dan susun semua buku itu di rak.” Galang memberikan penjelasan.
Nada membulatkan kedua matanya, “Enak aja. Ini hukuman lo, Gal. Kenapa lo jadi nyuruh orang lain?”
“Sssttt… Berisik lo.”
“Hei, udah dengar ‘kan kata calon pacar gue? Jangan banyak omong deh lo.” Sasha ikut menimpali.
“Ck! Dasar aneh,” gerutu Nada.
“Yang rapi dan semangat ya, Cantik.” Galang memberikan pujian pada Sasha.
Dalam keadaan apa pun, jiwa playboy dalam diri Galang tidak akan pernah luntur. Bahkan ketika ia mengucapkan pujian, membuat para wanita langsung meleleh. Begitupun dengan Sasha. Gadis itu tersipu malu tatkala Galang memberikannya semangat. Ya, kehadiran Sasha di tempat ini memang untuk mencari perhatian Galang.
Sedangkan Nada, meneruskan pekerjaannya. Ia menatap sinis ke arah Sasha. Sejujurnya Nada tidak suka dengan kehadiran Sasha di dekatnya. Tetapi seolah memanfaatkan, Galang membiarkan Sasha mengerjakan hukumannya. Semua itu ia lakukan hanya agar pekerjaannya cepat selesai tanpa harus merasa lelah.
“Lo yang bener geh susun bukunya!” bentak Sasha.
“Buku ini harusnya gak ada di sini.”
“Ya tinggal taro di tempatnya, gitu aja repot.” Nada tidak mau kalah.
“Girl, jangan bertengkar dong. Sasha, katanya mau jadi pacar gue. Jangan galak gitu,” timpal Galang.
Blush… Sasha tersipu malu.
“Idih, mau aja dikibulin sama cowok buaya,” ujar Nada pelan.
Mereka terlibat percekcokan. Selama di sekolah, Nada dan Sasha selalu saja bertengkar. Tidak pernah akur walau mereka beberapa kali masuk ke ruang BK. Nada tidak suka dengan sikap Sasha seolah-olah seperti tuan puteri. Begitupun Sasha, ia iri karena Nada selalu mendapatkan apa yang diinginkan olehnya.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya semua buku sudah tersusun dengan sempurna. Kini saatnya untuk membersihkan lantai. Sesuai dengan perintah dari Bu Tika. Nada ingin segera menyelesaikan semuanya, oleh sebab itu ia pergi mengambil peralatan untuk membersihkan lantai.
__ADS_1
Saat dirinya kembali, ia melihat Galang sedang bermesraan dengan Sasha. Lebih tepatnya Sasha yang selalu mencoba untuk mendapatkan hati Galang. Ia kesal menyaksikan kejadian itu. Sudah lelah, ditambah melihat orang yang sedang bermesraan. Dengan terpogoh-pogoh, Nada berjalan menghampiri Galang. Tepat berada di sampingnya, Nada meletakkan ember yang sudah berisikan air.
“Sekarang giliran lo yang bersihin lantai. Jangan malah pacaran terus,” oceh Nada.
“Kenapa lo sirik? Makanya cari pacar. Jangan jomlo aja,” ejek Sasha.
Nada mengangkat tangan siap untuk menjambak rambut Sasha, tetapi berhasil dicegah oleh Galang.
“Jangan rebut di sini, biar gue kerjain.” Galang meraih ember yang ada di lantai.
Pria itu mulai membersihkan lantai. Sementara Nada mengawasinya. Seraya berkacang pinggang, Nada memeberikan arahan. Terlihat sekali bahwa Galang tidak pernah mengepel. Tangannya yang kaku dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.
Ketika sedang fokus pada pekerjaannya, secara mengejutkan Nada melihat sesuai yang berlari ke arahnya. Kedua mata Nada mengamatinya dengan seksama. Semakin lama, semakin mendekat. Rupanya seekor tikus berlari ke arah Nada yang membuat gadis itu berteriak.
“Aaarrrggghhh!!!! TIKUS…” Nada menjerit sangat kencang.
Spontan ia berlari ke arah Galang dan memeluk pria itu. Galang ikut terkejut tetapi tidak berteriak. Sementara itu Nada bersembunyi di balik dada bidang milik Galang. Ia sangat ketakutan dan enggan untuk melihat tikus tersebut. Akibat teriakannya yang dahsyat, sekarang tikus itu terkena gangguang mental.
“Kenapa? Ada apa?” Galang mencecarinya dengan pertanyaan.
“I-itu, a-ada tikus,” jawab Nada terbata-bata. Ia sampai tidak sanggup.
“Mana tikut? Gue nggak liat.”
“Di sana.” Nada masih bersembunyi dan berusaha menunjuk ke arah di mana ia melihat tikus tersebut.
“Ehh… Main peluk calon pacar orang.” Sasha yang menyaksikan kejadian itu langsung memisahkan Nada dan Galang.
Masih dalam keadaan takut, Nada mengedarkan pandangannya. Ia memastikan bahwa tikut itu sudah tidak ada. Sasha memberikannya tatapan sinis. Ia tidak suka jika ada seseorang yang menyentuh Galang. Kondisi di perpustakaan menjadi keos. Seluruh tubuh Nada terasa lemas. Bahkan ia tidak sanggup untuk berdiri. Seakan mengerti, Galang mengambil kursi dan meminta agar Nada duduk.
“Lo duduk dulu biar tenang,” ucap Galang.
Tubuh Nada gemetar tidak terkendali.
“Minum dulu.” Galang memberikan minum yang ia bawa dari rumah.
__ADS_1
“Terima kasih,” balas Nada singkat lalu meminum air tersebut.
Sekarang kondisinya sudah jauh lebih tenang. Tanpa banyak orang yang tahu, bahwa Nada memang sangat takut sekali dengan tikus. Ia pernah trauma dengan binatang tersebut. Hanya kedua orang tua dan juga Eliana saja yang mengetahuinya.