King Of Buaya

King Of Buaya
Pelukan Tidak Disengaja


__ADS_3

Gadis yang sedang berada di pinggir jalan terus berusaha menghubungi sahabatnya. Tetapi tampaknya Eliana tidak melihat ponselnya. Entah sudah berapa pesan yang dikirimkan oleh Nada pagi itu pada sahabatnya. Karena tidak mendapatkan jalan keluar, Nada memutuskan untuk menunggu kendaraan umum atau taksi yang melintas di tempat itu.


Selagi menunggu taksi atau angkutan umum, terlihat sebuah motor melaju ke arahnya. Nada hanya diam saja, melirik sedikit ke arah motor tersebut. Tidak lama motor itu berhenti tepat di samping Nada. Dua orang pria mengendarai motor dan juga mengenakan helm full face. Nada sedikit memicingkan kedua matanya, ia tidak mengenali pria tersebut.


“Serahin barang lo!” ucap salah satu di antara mereka.


Nada membulatkan kedua matanya. “Mau apa lo? Jangan macem-macem, atau gue teriak!”


“Diem lo bocil! Serahin uang lo!”


Pria itu mencoba untuk merebut tas milik Nada. Sekuat tenaga Nada memberontak. Ia berteriak, tetapi tidak ada satu pun orang yang dapat menolongnya. Sebisa mungkin Nada melawan. Ia memukul pria itu dengan tangannya yang kosong. Namun, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan. Tempat itu memang biangnya begal, tidak heran jika tempat itu sepi. Hingga akhirnya, suara deru motor lain terdengar.


Brumm… Ciiittt…


“Beraninya sama cewek!”


Terjadi perkelahian yang dahsyat pagi itu. Nada menyingkir, ia ketakutkan dengan kejadian tersebut. Penolong itu memukul preman sampai tersungkur. Tidak butuh waktu lama bagi pria penolong menghabisi dua preman tersebut. Nada bernapas lega, ia menghampirinya dan tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih. Perlahan kaca helm tersebut dibuka. Muncullah sosok yang sangat dikenal oleh Nada. Ya, dia adalah Galang. Pria itu lalu turun dan berjalan menghampiri Nada.


“Lo nggak papa? Kenapa lo ada di sini? Mobil lo kenapa?” tanya Galang seraya melepaskan helm dari kepalanya.


Nada diam saja dengan kaki yang gemetar akibat perlawanan tadi.


“Dia abis ngapain lo?” Galang tampak cemas sekali.


“Terima kasih karena udah nolong gue. Tadi gue nggak papa kok, masih aman. Untung lo cepet datang,” balas Nada.


 Galang menghela napas sejenak, “Syukurlah kalo gitu. Mau bareng gue gak?”


“Nggak usah, gak perlu. Gue bisa naik taksi!”


“Udah, bareng gue aja.”


Galang masih berusaha membujuk Nada agar mau berangkat ke sekolah bersama dengan dirinya. Tetapi tampaknya Nada enggan untuk pergi bersama Galang. Sebab, ia tidak ingin menjadi perbincangan satu sekolah hanya karena berangkat bersama Galang. Sudah pasti ia menjadi bahan permbicaraan sampai beberapa hari ke depan.


“Ayo naik,” pinta Galang.

__ADS_1


“Gue bisa sendiri. Lagian bentar lagi juga ada taksi lewat.”


“Mana ada taksi lewat jalan ini.”


Nada tetap dengan pendiriannya.


“Ya udah kalo gak mau. Gue berangkat duluan, bye!”


Menyaksikan Galang akan pergi meninggalkannya, Nada berpikir kembali. Ia gelisah karena sebentar lagi bel masuk. Sudah pasti ia akan berurusan dengan guru BK, dan tentunya akan mendapatkan hukuman. Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya Nada menerima tawaran yang diberikan oleh Galang.


“Tunggu,” panggil Nada.


Galang mematikan motornya, “Naik. Gitu aja gengsi.”


Dengan penuh keterpaksaan, Nada naik ke motor Galang. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana respon teman-teman sekolahnya pagi ini. Terutama Eliana, sudah pasti ia mendapat ejekan dari sahabatnya itu. Perlahan Galang mulai melajukan motornya.


Sepanjang perjalanan, Nada tidak mengeluarkan kata-kata. Ia hanya diam saja seperti patung. Sekarang dirinya sudah berhutang budi pada Galang atas kejadian tadi. Keadaan memang sudah siang, namun Galang menjalankan motornya sangat pelan sekali. Hal tersebut membuat Nada geram dan mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu.


“Bisa cepet nggak? Nanti kita telat.” Nada menepuk pundak Galang secara mengejutkan.


“Yehh… Biasa aja bisa nggak? Udah numpang, ngomel lagi.”


“Nanti kalo ada preman lagi, lo nangis. Siapa yang mau nolongin lo? Gue ‘kan baik dan tampan,” cepetuk Galang.


Sontak Nada memutar bola matanya malas. Bagaimana tidak, tingkat kepercayaan diri Galang itu sudah level atas, bahkan ia sampai tidak bisa menandinginya.


Atas perintah Nada, pria itu mengencangkan laju motornya. Sontak Nada terkejut dan hampir saja terjatuh. Keterkejutannya itu membuat Nada spontan melingkarkan kedua tangan di pinggang Galang. Alhasil, gadis itu terlihat seperti sedang berpelukan. Galang ikut terkejut dengan kejadian itu.


Tiba-tiba saja, ia menghentikan motornya secara mendadak. Tubuh Nada tersungkur ke depan. Mereka terdiam beberapa saat dalam keadaan berpelukan. Beruntung tidak banyak orang di tempat itu. Tidak lama kemudian, Nada tersadar. Secepat kilat ia melepaskan kedua tangannya.


“Maaf, gue nggak sengaja,” ujar Nada yang mulai salah tingkah.


“Oh, iya nggak papa.”


Tidak tahu kenapa, sekarang Galang jadi salah tingkah. Mereka seperti gugup satu sama lain.

__ADS_1


“Kenapa gue jadi gugup ya?” gumam Galang dalam hatinya.


“Ayo jalan!” pinta Nada.


Galang sedikit memutar kepala ke arah Nada, “Lo suka sama gue ya?”


“Idih, PD bener lo.” Nada menggeliatkan tubuhnya tatkala mendengar pertanyaan Galang.


“Alah, bilang aja kalo lo itu suka sama gue. Makanya lo peluk-peluk gue kayak gitu.”


Nada semakin kesal, karena itu ia memberikan cubitan di punggung Galang. Cubitan itu membuatnya kesakitan. Walau kecil, tetapi rasanya lumayan membuat kulit menjadi perih. Nada yang melihatnya tertawa kecil.


“Hahaha… Masa gitu aja sakit. Kemarin aja babak belur biasa.”


Galang memutar bola matanya malas, “Lo bisa nggak kalo jadi cewek itu yang lembut sedikit?”


“Gue bukan pacar lo, atau fans lo yang lembek,” balas Nada seraya berkacak pinggang.


“Ya ‘kan siapa tau lo bakal jadi salah satu dari fans gue.”


“Idih.. Udah ah, cepet berangkat. Nanti kita terlambat.”


Tidak hanya Galang saja, Nada juga merasakan hal yang sama. Ingin rasanya Nada turun atau menghilang dari tempat itu. Sebab, saat ini pipinya mulai memerah. Ia tidak ingin Galang mengetahuinya. Setelah dirasa tenang, Galang mulai melajukan motornya kembali. Sementara itu, Nada mencoba untuk menyembunyikan wajahnya. Pelukannya itu terjadi tanpa kesadaran Nada.


“Duh… Malu banget gue,” tutur Nada pelan.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai. Namun naas, mereka terlambat. Gerbang sekolah sudah ditutup. Satpam yang menjaga di depan gerbang pun menggelengkan kepala. Sebab, tidak hanya mereka yang terlambat. Melainkan ada sekitar sepuluh siswa yang terlambat pagi itu.


“Pak, tolong bukain Pak!” Nada memohon pada Pak Satpam.


“Tidak bisa. Sebentar lagi Bu Tika akan ke sini. Kalian siap-siap aja kena hukuman.”


“Pak, tolong sekali ini aja Pak!” Nada kembali memohon. Berharap jika Pak Satpam masih menyimpan rasa empati di dalam hatinya.


“Tidak bisa. Salah kalian sendiri, kenapa telambat? Kalian begadang ya tadi malam?”

__ADS_1


“Ayolah Pak!” ujar salah satu dari siswa.


“Bu Tika akan memberikan hukuman yang setimpal. Karena kalian tidak tepat waktu,” balas Pak Satpam setengah menaku-nakuti.


__ADS_2