King Of Buaya

King Of Buaya
Malam yang Tegang


__ADS_3

Bruk..


Keduanya tumbang dengan luka lebam di sekujur tubuh. Preman itu pun berlari terbirit-birit. Sedangkan Nada masih terpaku. Juluran tangan menyadarkannya. Segera Nada menerima uluran tangan tersebut. Ketika sudah sadar, ia mengetahui jika pahlawannya itu adalah Galang. Spontan Nada mengibaskan tangan Galang.


“Ngapain lo pegang tangan gue?” bentak Nada dengan nada sinisnya.


“Yeeehh, udah ditolongin. Bukannya bilang terima kasih, malah marah-marah.”


Nada tidak menjawabnya.


“Malam-malam nggak baik cewek keluar sendiri. Ikut gue!” Galang menarik tangan Nada.


Karena merasa terancam, Nada berusaha untuk melepaskan tangan Galang. Namun tenaga pria itu jauh lebih besar dari dirinya. Kemudian Galang meminta agar Nada naik ke atas motornya. Nada enggan untuk mengikuti perintah pria konyol tersebut. Galang yang sudah berada di atas motor, lalu memutar tubuhnya ke arah Nada. Mereka saling beradu pandang dalam beberapa detik.


“Lo mau culik gue ya? Gue teriak ini sekarang.” Nada memberikan ancaman kepadanya.


“Siapa juga yang mau culik lo? Gue cuma mau bantu supaya lo nggak diganggu preman lagi.”


“Gue bisa sendiri.” Nada beranjak pergi dari sana.


Tetapi Galang berhasil mencegahnya. “Lo mau ikut gue atau gue panggil preman tadi buat hajar lo lagi?”


Sejujurnya Nada takut dengan kedua preman tadi. Ia hanya takut jika dirinya dimutilasi. Setelah berpikir panjang, akhirnya Nada menerima tawaran Galang. Ia naik ke atas motor, dan Galang mulai melajukan motornya. Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Tidak ada kalimat yang terlontar di antara keduanya.


Galang mengendarai motornya dengan santai, menembus dinginnya malam minggu. Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di sebuah tempat. Ya, Galang mengajak Nada untuk singgah di markas Warriors. Ketika melihat tempat itu, Nada memicingkan kedua matanya. Sementara itu Galang sudah jalan terlebih dahulu.


“Lo mau di situ aja atau mau masuk?” tanya Galang dari kejauhan.


Nada tersadar, “Oh iya, lo ngapain ajak gue ke tempat kayak gini?”


“Gue mau ambil barang. Nanti setelah itu gue antar lo pulang.”


“Tapi mobil gue gimana?” Nada baru ingat dengan mobil miliknya.


“Udah gue suruh orang buat jaga mobil lo.”


Lalu Galang masuk ke dalam. Lampu yang remang-remang membuat penglihatan Nada sedikit terganggu. Beberapa saat kemudian, lampu putih yang terang menyala. Nada terkejut tatkala menyaksikan banyak pria di sana. Ada wanita juga yang tentunya tidak ia kenal. Nada tampak seperti wanita kebingungan dengan keadaan sekitar.

__ADS_1


“Lo bawa siapa Bos?” tanya Tiger.


Galang tidak memberikan tanggapan.


“Hai anak manis. Nama kamu siapa? Aku Tiger,” tuturnya seraya mengulurkan tangan.


Dengan penuh keraguan Nada menyambut uluran tangan itu, “Nada.”


“Pacarnya Galang? Cantik juga.”


“Bu-bukan.” Nada menggelengkan kepalanya.


Tiger mempersilakan Nada untuk duduk. Sedari tadi Nada mengedarkan pandangannya. Ia membaca setiap tulisan yang ada di tempat itu. Lalu ia mengetahui jika Galang merupakan anggota geng motor. Nada sebelumnya tidak pernah menyetahui hal tersebut.


“Oh, ketua geng motor,” gumamnya dalam hati.


Tidak lama kemudian, Tiger datang dengan membawa air minum untuk Nada. Dengan senang hati Nada menerimanya. Mereka berbincang sejenak sebagai perkenalan. Tiger memang pria yang bisa membuat suasana menjadi asik. Walau baru mengenalnya, Nada bisa merasakan jika Tiger adalah orang yang baik. Ia menceritakan semua tentang Warriors dan juga Galang sebagai ketua geng motor.


Nada mendengarkan dengan seksama. Sebab, ia tidak pernah tahu tentang geng motor dan semua itu hal baru bagi dirinya. Ketika sedang asik berbincang, tiba-tiba saja Galang sudah berdiri di hadapan Nada dan mengajak gadis itu untuk segera pergi. Tanpa pikir panjang Nada mengikutinya. Walau terlihat buruk, tetapi hati Galang itu baik. Buktinya ia sampai rela mengantarkan Nada selamat sampai tujuan.


Pria itu hanya diam saja tidak menjawabnya.


“Oh iya, lo ‘kan mau dinner sama Eliana? Kenapa jadi ada di sini?”


“Gue ada janji sama cewek lain,” balas Galang lalu pergi.


Saat mendengar hal itu, Nada menjadi geram, “Woi! Berhenti!” Nada berteriak sekencang mungkin.


Tetapi semua itu sia-sia. Galang sudah pergi jauh meninggalkannya. Nada kembali tersulut emosi ketika Galang menjawab seperti itu. Ingin rasanya ia mengiris tubuh Galang dan menjadikannya sup yang lezat. Karena waktu sudah larut malam, Nada memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dengan emosi yang menggebu-gebu.


“Awas aja kalau ketemu, habis lo sama gue!” gerutunya dalam hati.


**


Sore itu Nada sedang memilih pakaian di kamarnya. Kondisi kamar sudah dalam keadaan berantakan. Malam ini dirinya akan pergi bersama kedua orang tuanya. Sebagai permintaan maaf kedua orang tua Nada. Sejak tadi Nada masih bingung memilih pakaian yang akan dikenakan dirinya nanti malam. Selagi memilih, ia mendengar suara ketukan pintu.


“Masuk aja Bun, nggak dikunci kok,” teriak Nada dari dalam.

__ADS_1


Veny kemudian membuka pintu dan tersenyum ke arah anak semata wayangnya. “Anak cantik Bunda lagi apa?”


“Lagi pilih baju, Bun. Nanti ‘kan mau makan malam diluar.”


“Nada ‘kan udah cantik, jadi kenapa harus pakai baju yang bagus?”


“Biar kelihatan bagus di foto nanti, Bun,” jawabnya dengan candaan.


Veny tersenyum tatkala mendengar tingkah anak gadisnya.


Sebagai seorang ibu, Veny membantu Nada untuk memilih pakaian terbaik. Nada gembira sekali. Ia tidak pernah menyangka jika kedua orang tuanya masih peduli dengan dirinya. Seketika rasa kesal itu hilang. Setelah semuanya siap, Nada dan kedua orang tuanya pergi ke sebuah restoran mewah yang ada di kota tersebut.


Firman memesan ruang VVIP untuk keluarganya menikmati malam. Nada sedari tadi tersenyum bahagia, begitupun dengan Veny yang berada di sampingnya. Mereka kemudian memesan makanan dan juga minuman. Seraya menunggu Nada bermain ponsel.


“Setelah lulus nanti, Ayah mau kamu kuliah di Australi Nad,” ucap Firman.


Nada menghentikan aktifitasnya, “Tapi Nada mau di Jakarta aja, Yah. Nada udah nyaman di sini.”


“Nanti ‘kan kita mau pindah dari sini. Ayah mau urus kerjaan di sana.”


“Apa yang dibilang Ayah itu benar, Sayang,” timpal Veny.


“Ya udah, terserah Ayah dan Bunda aja.”


Nada tidak ingin merusak momen berharganya. Sebelum makan, Nada terlebih dahulu pergi ke toilet. Ia berjalan menyusuri restoran yang terlihat ramai oleh pengunjung. Saat berjalan, pandangan mata Nada tertuju pada seseorang yang berada di sudut restoran. Seketika langkah kakinya terhenti ketika ia benar-benar sadar jika kekasih dari sahabatnya tengah bermesraan dengan wanita lain.


Langkah kaki Nada terburu-buru, dengan napas yang memburu ia menghampiri Galang yang sedang bersama dengan wanita lain. Sudah jelas itu bukanlah Eliana. Wajahnya sudah memerah karena menahan amarah. Nada datang dan langsung menggebrak meja yang ada di hadapannya.


“Kurang ajar ya lo! Udah berani selingkuhin sahabat gue!” bentak Nada membuat seisi restoring mengalihkan pandangan ke arahnya.


Galang terkejut dan langsung berdiri. “Apa-apaan ini?”


“Lo itu yang apa-apaan? Berduaan sama cewek lain di sini? Gila ya lo, udah sakitin sahabat gue lagi.”


“Denger ya wanita udik. Mau gue sama siapa pun itu bukan urusan lo!” Galang memberikan tatapan tajam padanya.


Keduanya saling bertatapan tajam. Suasana berubah menjadi mencekam, di mana keduanya meluapkan emosinya.

__ADS_1


__ADS_2