King Of Buaya

King Of Buaya
Berita Bohong


__ADS_3

“Apaan sih lo?” Nada menepis tangan Galang dengan kasar.


“Kasar banget jadi cewek.”


Nada tidak menjawabnya. Ia mengalihkan pandangan agar Galang tidak tahu kalau sekarang dirinya salah tingkah. Cukup lama mereka berada di sana, tanpa terasa waktu istirahat telah habis. Sudah waktunya bagi mereka untuk kembali ke kelas.


Seluruh siswa dan siswi berhamburan keluar sekolah. Ada yang jalan kaki, ada yang membawa kendaraan. Semuanya terlihat antusias karena akhirnya jam pulang telah tiba. Begitupun dengan Nada. Ia ingin segera melepas penatnya karena seharian belajar di ruangan.


Nada melenggangkan langkah kaki menuju parkiran. Ketika dirinya hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Nada mendengar suara teriakan seseorang. Ya, sosok itu tidak asing di telinganya. Siapa lagi kalau bukan Eliana. Wanita itu berlari dengan membawa beberapa buku di tangannya.


“Kenapa lo El?” tanya Nada.


“Nad, bantuin gue yuk. Ngerjain semua ini.”


“Ya udah, kita ke rumah lo sekarang.”


Eliana mengembangkan senyumannya.


Kemudian mereka bergegas menuju rumah Eliana. Sampainya di sana, Nada duduk dengan tenang. Sementara itu Eliana membawa air segar dan juga camilan ringan. Sore ini mereka akan mengerjakan tugas Eliana sebagai anggota OSIS. Ya, mereka memang mempunyai hobi yang berbeda. Di saat Eliana masuk Osis, tetapi Nada tidak tertarik dengan itu.


“Eh Nad, gue perhatiin lo deket banget sama Galang,” ujar Eliana.


Nada menoleh, “Siapa yang deket sama dia?”


“Ya gue perhatiin aja beberapa hari ini.”


“Ogah gila gue deket sama dia. Para mantannya itu udah neror gue tau, mana mungkin gue deket sama dia.” Nada berbicara seraya menggerutkan keningnya.


“Tapi lo suka sama dia?” pertanyaan Eliana semakin mengerucut.


Nada memutar bola matanya malas, “Idih… Gue nggak akan suka sama dia El. Dia udah usik hidup gue dan juga hidup lo. Jangan-jangan lo masih suka sama dia?”


Eliana langsung terdiam tatkala mendapat pertanyaan seperti itu. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam sejujurnya Eliana masih memendam perasaan pada Galang. Tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan semuanya. Sehingga Eliana memilih untuk bungkam dan tidak banyak bicara. Menyaksikan sahabatnya hanya diam saja, Nada menggoyahkan tubuhnya, dan membuat Eliana tersadar.

__ADS_1


“Ditanya malah diem aja,” gerutu Nada.


“Maaf, Nad. Udah ah jangan bahas itu mulu. Mending kita selesaiin semua ini.”


Nada setuju dengan itu. Tidak hanya mengerjakan pekerjaan Eliana, mereka juga menonton drama korea kegemaran Eliana. Sore itu mereka menghabiskan waktu berdua. Tanpa terasa langit sudah gelap. Itu pertanda kalau sekarang sudah malam. Tidak ingin pulang larut malam, Nada memutuskan untuk pergi.


Ia berjalan menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Ketika dirinya hendak masuk, secara mengejutkan dari arah berlawanan muncul sebuah motor yang dikendarai oleh dua orang pria melaju ke arahnya. Nada sempat menoleh, dan salah satu di antara mereka menyambar tas yang ada di genggaman tangan Nada.


“Ehhh.. COPET,” pekiknya.


“Woi copet!!!”


Nada berlari sekencang mungkin. Ia mengejar motor itu tetapi tidak berhasil. Sekarang tas yang berisikan dompet telah lenyap begitu saja. Nada yang masih mengatur napas berusaha untuk meminta bantuan. Tetapi kondisi jalanan sedang sepi. Eliana yang mendengar teriakan spontan berlari ke arah sahabatnya.


“Ada apa, Nad? Copet ya?” tanya Eliana dengan napas yang tersenggal.


Nada mengangguk.


Sebelum copet itu kabur, Nada sempat melihat jaket yang dikenakan oleh penjahat itu. Beberapa saat Nada berpikir. Jaket yang dikenakan oleh keduanya tidak asing bagi Nada. Di saat sedang berpikir, Nada dikejutkan oleh suara Eliana yang meminta sahabatnya untuk kembali.


“Nad, sebaiknya kita balik. Nanti kita lapor polisi,” tutur Eliana.


“Iya El. Mana di dalam tas itu isinya dompet. Gue cemas kalau identitas gue jadi bahan kejahatan sama mereka.”


Eliana mengangguk setuju, “Sebaiknya kita lapor polisi sekarang.”


Tanpa pikir panjang mereka pergi menuju kantor polisi terdekat. Musibah itu memang tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi, dan di mana tempatnya. Selama dalam perjalanan menuju kantor polisi, Nada terus mengingat jaket itu. Ia terngiang-ngiang seperti pernah melihat sebelumnya.


**


“Gal, lihat ini.” Cakra menunjukkan sesuatu di ponselnya.


Galang memperhatikan dengan seksama sebuah video yang beredar di media sosial. Perlahan kedua mata Galang membulat dengan sempurna. Bagaimana tidak, sebuah tindak kejahatan dilakukan dua orang yang memakai jaket Warriors. Sangat jelas sekali lambing Warriors di sana.

__ADS_1


Aksi itu telah terjadi beberapa jam yang lalu. Pemalakan pedagang kaki lima dan juga pedagang lainnya. galang mengepalkan tangannya dengan sempurna. Ia geram dengan apa yang dilihatnya saat ini.


“Kurang ajar! Siapa yang udah lakuin itu semua?” Galang beranjak dari tempat duduknya.


“Kejadiannya baru banget, Gal. Yang gue heran, kenapa bisa orang-orang itu pakek jaket Warriors?”


“Tapi mereka bukan anggota Warriors,” timpal Tiger.


“Kumpulin anak-anak sekarang. Kita adain rapat sekarang juga!” pinta Galang.


Davin segera menghubungi seluruh anggota Warriors. Beberapa saat kemudian, keadaan semakin menegang. Di mana Galang mendesak semua anggotanya untuk berbicara dan mengaku atas jaket Warriors yang dipakai oleh kedua penjahat itu. Semuanya terdiam, mereka saling memandang satu sama lain.


“Jelas kita udah kecolongan. Sekarang nama baik Warriors makin tercoreng. Kita harus bertindak sekarang juga,” ucap Reynan.


“Nggak bisa gegabah gitu aja, Rey. Kalau kita bertindak sekarang, pasti nama baik Warriors makin buruk.”


Reynan berdecak kesal, “Ck! Lama lo Gal. Tunggu apalagi? Tunggu para fans lo selesai masalahnya semua, baru lo lirik Warriors?”


BRAKK…


Galang menggebrak meja dengan keras. Membuat semuanya terdiam tanpa kata. Galang memberikan tatapan tajam ke arah Reynan. Selama ini memang Galang tahu jika Reynan sangat membencinya. Bahkan pria itu ingin menyingkirkan Galang dari Warriors.


“Apa kalian sudi dipimpin sama pemimpin yang nggak peduli sama Warriors?” Reynan kembali berkumandang.


“Diam lo Rey! Bacot lo!” Davin naik pitam dan hendak menghajar Reynan. Tetapi berhasil dicegah oleh Tiger.


“Udah lah. Siapa yang mau ikut gue selidikin masalah ini?” Reynan berdiri dengan gagah di hadapan teman-temannya.


Ada beberapa anggota yang ikut berdiri. Itu berarti mereka ikut bersama dengan Reynan. Galang berusaha untuk menenangkan, tetapi keadaan semakin kacau. Tidak mau menunggu waktu lama, Reynan dan yang lainnya pergi meninggalkan markas. Sementara itu Galang kembali melayangkan pukulan keras pada meja yang ada di hadapannya.


“Gal, kenapa lo diam aja? Gimana kalau mereka malah mempekeruh keadaan?” tanya Cakra.


“Gue yakin kalau Reynan nggak akan berbuat macam-macam.”

__ADS_1


Cakra menghela napas kesal, “Lo gila ya Gal. Dia bakal rusak citra baik Warriors kalau gegabah kayak gitu. Dan lo biarin gitu aja.”


“Udah Cak. Kita pantau aja si Reynan. Kalau dia macam-macam, baru kita bertindak.” Davin berusaha untuk menenangkan temannya.


__ADS_2