King Of Buaya

King Of Buaya
Musuh Menjadi Satu


__ADS_3

Keesokan harinya.


“Galang, bangun!”


Alarm yang selalu didengarnya setiap pagi. Tidak hanya teriakan saja, tetapi juga ketukan pintu yang tiada henti mampu membuatnya terbangun dari mimpi-mimpi yang menemaninya malam tadi. Perlahan ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Tidak butuh waktu lama bagi Galang untuk bersiap.


Ia kemudian berjalan menuruni anak tangga yang terbilang pendek itu menuju sebuah ruangan yang selalu dinanti olehnya setiap pagi. Tebakannya benar, aroma sedap dari masakan seorang ibu telah membuat perutnya merasakan lapar yang sangat hebat.


“Cepet makan, nanti kamu terlambat sekolah,” ucap Farah.


Galang mengangguk, “Iya, Ma.”


Farah memberikan nasi goreng kegemaran anaknya. Ia memang pandai dalam memasak. Tidak heran jika Galang selalu merindukan masakan ibunya setiap pagi. Mereka berdua kemudian makan bersama pagi itu.


“Mama nggak pergi ke kantor?”


“Nanti Mama ada urusan di luar.”


“Oh,” jawab Galang singkat.


“Nanti Mama pulang malam, karena harus lembur.”


Galang menghentikan aktifitas makannya, “Kalau gitu, biar nanti Galang jemput Mama ya.”


“Nggak usah, Mama bisa pulang naik taksi.”


“Nggak bisa! Mama harus pulang sama Galang.”


Mau tidak mau Farah harus mengikuti perintah anaknya. Selama ini, Galang menjaga ibunya dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin ada satu orang pun yang menyakiti ibunya. Terlebih setelah kejadian buruk yang menimpa keluarganya. Galang akan selalu menjaga ibunya bagaimanapun caranya.


Setelah sarapan pagi selesai, Galang bergegas menuju sekolah. Ia harus berangkat lebih awal karena sekolahnya yang baru itu lebih jauh dari sekolahnya yang lama. Oleh karena itu, ia harus berangkat awal. Selama dalam perjalanan, Galang melajukan motornya dengan santai. Ia juga tidak lupa untuk menjemput kekasihnya pagi itu.


Entahlah sudah berapa wanita yang menjadi kekasihnya. Tetapi semua itu hanya permainan semata bagi Galang. Ia merasa bahwa dirinya bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Beberapa saat kemudian, akhirnya ia sampai di sekolah. Tanpa direncana, rupanya Nada juga baru saja sampai.


“Kenapa harus ketemu dia lagi sih?!” gerutu Nada seraya berjalan melewati Galang.

__ADS_1


“Tunggu!” Pria itu menarik tangan Nada dengan kencang.


Dengan cekatan Nada melepaskan tangan yang menariknya, “Mau macam-macam ya lo?”


“Jangan galak-galak dong, Manis.”


Kedua mata Nada memicing, “Apa lo bilang? Setelah lo buat baju gue kotor, dan dengan gampangnya lo rayu gue kayak gitu. Dasar cowok aneh!”


Nada kembali melanjutkan perjalanannya. Galang berlari untuk menyusulnya. Tetapi Nada terlihat tidak peduli dan tidak ingin berurusan dengan pria itu. Galang berhasil mencegahnya. Ia sekarang berada tepat di hadapan Nada. Sehingga gadis itu terhenti dan hampir saja mereka saling bertabrakan.


“Mau apa sih lo? Ganggu hidup gue terus perasaan.” Nada melipat kedua tangan di dadanya.


“Gue cuma mau ganggu lo aja sih.”


Nada geram dengan jawaban Galang, “Ck! Minggir lo cowok aneh.”


Nada tergesa-gesa ingin segera sampai kelas. Ketika sudah sampai, kelas dalam keadaan ramai. Ia duduk dan meletakkan tasnya di atas meja. Kemudian disusul oleh Galang yang duduk di belakangnya.


“Aneh banget sih tuh cowok. Kemaren buat gue kesel, tadi ngerayu tanpa sebab. Eh, buat kesel lagi aja,” gumamnya dalam hati.


“Iya, Cantik. Aku pasti balas surat kamu kok,” tutur Galang dengan senyuman andalannya.


“Ya ampun, aku mau dong jadi pacar kamu, Gal. Jadi yang kesepuluh juga nggak papa,” jawab salah satu dari mereka.


“Cih, sok artis.” Diam-diam Nada menjawabnya.


“Kalian itu baik dan cantik. Siapa yang nggak mau sama kalian? Pasti semuanya mau jadi pacar kalian.”


“Galang, I love you.”


Mereka benar-benar telah terhipnotis oleh rayuan maut Galang. Hanya ada satu wanita yang tidak ikut terhipnotis, yaitu Nada. Dengan santainya Nada mendengarkan sebuah lagu kegemarannya. Ia tidak mau terlibat dalam urusan percintaan pagi itu. Ia juga tidak tertarik dengan obrolan mereka.


Cukup lama Nada mendengarkan lantunan musik. Lalu terlihat Bu Dara masuk ke dalam kelas. Ia pun melepaskan headset yang ada di telinga dan memasukkannya ke dalam tas. Bu Dara memulai pelajaran pada pagi itu. Semua siswa mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan oleh Bu Dara.


“Ibu langsung bagi kelompok saja ya,” tutur Bu Dara.

__ADS_1


“Iya, Bu,” jawab mereka serempak.


Satu per satu Bu Dara membacakan kelompok untuk tugas minggu depan. Nada terlihat santai, karena ia yakin bahwa dirinya akan satu kelompok dengan Eliana. Sebab, selama ini memang Nada selalu bersama dengan Eliana. Bagai surat dengan perangko, selalu melekat dan tidak terpisahkan.


“Denada dan Galang.”


Sesuatu mengejutkan telah terjadi. Nada terperanjat dan membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana bisa dirinya satu kelompok dengan Galang yang notaben adalah musuhnya sendiri. Belum selesai Nada terkejut, ia disadarkan oleh suara Eliana yang berbisik.


“Apa gue bilang, lo sama dia itu jangan terlalu benci. Pasti bakal sama-sama terus.”


Nada menoleh ke arah sahabatnya dan memberikan tatapan singa, “Lo diem atau gue gibing mulut lo El.”


“Ampun Bos, gue ‘kan bilang aja.” Eliana menggoda Nada dengan menaikkan kedua alisnya.


Pikiran Nada berkecamuk. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya berinteraksi dengan Galang. Sudah pasti tekanan darah Nada akan naik drastis. Selesai membacakan semua kelompok, Bu Dara lalu pergi. Kelas kembali ramai, dan mereka mencari kelompoknya masing-masing.


Sedangkan Nada hanya diam saja. Ia memasang kembali headset di telinganya. Belum sempat Nada mendengarkan lagu, tiba-tiba saja headset itu terlepas. Lebih tepatnya ditarik oleh seseorang. Gadis itu pun menoleh, dan ternyata Galang sudah berada di sampingnya. Nada memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin melihat pria itu.


“Kita satu kelompok,” ucap Galang.


Nada tidak memberikan jawaban apa pun.


“Nanti lo ikut gue ke rumah. Kita kerjain tugas di rumah gue.”


“Ogah!” Nada memutar bola matanya malas.


“Lo gak bisa nolak.” Galang berkata dengan tegas dan tidak terima penolakan.


“Idih, gue bilang nggak tuh ya nggak.”


Galang memberikannya tatapan yang sangat dalam, “Lo mau nilai tugas lo itu paling buruk di kelas? Nggak mau ‘kan?”


Sontak hal itu membuat Nada semakin kesal. Jika berada di dekat Galang, tekanan darahnya terus naik. Sifat Nada yang acuh itu semakin membuat Galang penasaran. Mereka saling diam untuk beberapa menit. Hingga akhirnya, Galang memutuskan untuk pergi dari kelas. Sementara Nada masih duduk memandangi punggung pria menyebalkan itu sampai benar-benar pergi dari pandangan matanya.


Nada mengelus dadanya pelan. Ia mencoba untuk mengontrol emosinya. Nada tidak ingin moodnya hancur hari ini hanya karena harus berurusan dengan Galang. Sementara teman-temannya pergi ke kantin, Nada memilih untuk menetap di dalam kelas. Ia perlu ketenangan hati dan pikirannya. Kegemarannya mendengarkan lagu yang mampu membuat moodnya kembali baik.

__ADS_1


__ADS_2