King Of Buaya

King Of Buaya
Balas Dendam


__ADS_3

Ruangan itu sekarang dipenuhi dengan amarah. Seteru mereka berlanjut hingga membuat sang ketua jengah dan ikut menengahi. Terutama Cakra yang tidak terima jika sahabatnya terus dipojokkan.


“Udah, bisa diam nggak? Kalian itu udah besar, nggak seharusnya kayak gini.” Galang memberikan nasihat.


Reynan berdecak kesal, “Baik ketua yang paling bijak dan selalu mengedepankan wanita di atas kepentingan bersama.”


Pria itu pergi meninggalkan markas. Sementara Galang menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Belum selesai masalah satu, datang masalah lain dalam hidupnya. Ketegangan itu terus berlangsung, sehingga Galang memutuskan untuk pulang. Sampainya di rumah, kembali Galang mendapati hal aneh.


Saat dirinya membuka pintu, Galang melihat dengan jelas sebuah tangan hendak memukul ibunya yang duduk tidak berdaya. Spontan Galang berlari dan mencegah tangan itu. Ia mendorong sang pelaku hingga jatuh tersungkur.


“Mau apa lo ke sini?!” Galang naik pitam dan menghajar sosok laki-laki yang merupakan ayah kandungnya.


“Galang!!! Berhenti, Nak.” Suara Farah terdengar gemetar. Ia mencoba untuk bangkit menghentikan perkelahian itu.


“Bajingan! Beraninya lo sama cewek!”


Bug… Bugg… Bugg…


Beberapa pukulan berhasil membuat tubuh Luis tidak berdaya. Galang membabi buta karena mendapati ibunya sedang dianiaya oleh ayahnya sendiri. Swetelah beberapa saat, akhirnya Galang dapat tenang. Ia kemudian mendekati Farah dan memeluknya. Wanita itu tidak berhenti menangis.


“Apa Mama baik-baik aja? Kita ke dokter sekarang ya.” Galang sangat mencemaskan keadaan ibunya.


Farah menggelengkan kepala, “Mama baik-baik aja, Nak. Kasihan papamu.”


“Mama kasihan sama dia? Dia udah buat Mama kayak gini. Galang pasti nggak akan terima.”


“Anak kurang ajar! Nggak ada sopannya sama orang tua.” Luis hendak membalas Galang, tetapi berhasil dicegah oleh Farah.


“CUKUP!!! Kamu pergi dari sini, atau aku panggilkan polisi!”


Mendengar hal itu, Luis langsung pergi meninggalkan mereka. Farah kembali terisak dalam pelukan anak semata wayangnya. Tidak tega melihat sang ibu yang sudah tidak berdaya, Galang membawanya ke kamar.


Ia juga membawakan segelas air putih agar ibunya kembali tenang. Anak mana yang tidak teriris jika ibunya diganggu oleh orang lain. Sekalipun itu ayah kandungnya sendiri. Sampai saat ini, Galang tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kedua orang tuanya. Sehingga mereka sering bertengkar, dan berujung kekerasan dalam rumah tangga.

__ADS_1


“Ma, kita ke rumah sakit sekarang ya?” pinta Galang.


“Nggak usah, Gal. Mama baik-baik aja kok.”


“Tapi Mama lemes gini.” Raut wajah Galang menunjukkan jika dirinya sangat cemas dengan kondisi sang ibu.


Farah tersenyum, “Mama cuma perlu istirahat aja, Nak.”


“Ma,” panggil Galang.


Wanita itu menoleh seraya menaikkan kedua alisnya.


“Kalo boleh tau, Mama dan Papa itu kenapa? Kenapa Papa selalu siksa Mama?”


Farah terdiam, ia tidak mampu untuk menjawab pertanyaan anaknya. Ruangan itu berubah menjadi hening. Keduanya saling terdiam, Galang menunggu jawaban yang akan diberikan oleh ibunya. Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya Farah memberanikan diri untuk berbicara.


“Pernikahan Papa dan Mama itu tidak direstui oleh Nenek dan Kakek, Gal. Bahkan sampai sekarang mereka tidak pernah merestui kami,” ungkap Farah.


“Tapi kenapa Nenek dan Kakek kelihatan baik-baik aja?”


Ungkapan Farah berhasil membuat Galang tertegun. Untuk pertama kalinya Galang mengetahui kebenaran ini. Selama ini, tidak ada yang ia ketahui tentang keluarganya. Luis merasa direndahkan oleh keluarga Farah. Setiap usahanya selalu dipandang sebelah mata. Oleh sebab itu, Luis menanamkan rasa dendam di dalam hatinya.


Oleh sebab itu, Luis meluapkan kemarahannya itu pada Farah. Ia melakukan kekerasan dan terus menyakiti hati Farah. Sungguh miris memang, tetapi itulah jalan hidup yang harus Farah tempuh. Dalam diamnya, Galang mengepalkan kedua tangan. Ia tidak terima atas semua perlakuan ayahnya.


“Kamu jangan salahkan Papa, Nak. Papa itu hanya balas dendam, sebenarnya Papa itu baik,” lanjut Farah.


“Nggak bisa gitu, Ma. Papa tetap salah, kesal sama Nenek dan Kakek. Tapi membalaskan dendam sama Mama.”


Farah hanya diam saja. Ia tidak bisa menahan emosi Galang. Anak muda memang tidak bisa ditahan jika sudah diselimuti rasa amarah. Beberapa saat kemudian, Galang memutuskan untuk keluar dari kamar.


Ia melihat keadaan rumah sudah berantakan. Satu per satu Galang membereskannya. Ia menata kembali barang itu dan meletakkan ke tempat semula. Keluarganya miris sekali, dari kecil ia tidak merasakan keharmonisan dalam keluarga. Padahal, di saat seperti ini ia sangat membutuhkannya.


**

__ADS_1


Keesokan harinya di sekolah.


Nada bersama dengan Eliana berjalan santai menuju kelas. Tiba-tiba saja Nada terhenti. Ia melihat sosok Galang sedang berdiri di depan kelas. Melihat Nada datang, Galang langsung menghampirinya. Namun gadis itu menghindari dan berlari menjauhinya. Sekuat tenaga Galang mengejar Nada dan mendapatkannya.


“Lepas! Jangan ganggu hidup gue lagi,” bentak Nada.


“Nad, gue minta maaf. Gue nggak tahu kalau Tasya bakal berbuat sekeji itu sama lo.” Galang berusaha untuk meminta maaf.


“Ya semua ini salah lo. Kenapa lo jadi playboy? Kenapa lo jadi buaya? Akhirnya gue yang jadi korbannya.”


“Gue tahu, gue salah, Nad. Gue minta maaf. Gue pastiin kalau Tasya nggak akan ganggu lo lagi.”


Nada memberikan tatapan tajam pada pria yang ada di depannya itu, “Basi!!!”


Gadis itu berjalan melewatinya. Ia tidak peduli dengan perkataan Galang. Rasa kesal dalam hatinya sudah mendarah daging. Tidak bisa diganggu gugat. Selama pelajaran berlangsung, Nada cenderung diam. Beberapa kali Galang berusaha untuk mengajaknya berbicara, tetapi Nada bersikap cuek.


Ia tidak mau berurusan lagi dengan pria seperti Galang. Waktu istirahat telah tiba, Nada segera menuju ke kantin. Sementara Eliana pergi ke ruang guru karena ada sesuatu yang perlu diselesaikan. Galang terus mengikuti gadis itu sampai ke kantin. Serta duduk tepat di depannya. Nada membuang wajahnya dan terus mengalihkan pandangan.


“Nad, lo bener-bener marah sama gue?” Galang berusaha untuk berkomunikasi dengan Nada.


“Menurut lo?! Badan gue dibuat remuk sama dia, dan gue maafin lo gitu aja? Sorry.”


Galang menghela napas sejenak, “Ya udah kalo gitu. Gue bakal terus ikutin lo sampai lo maafin gue.”


Nada memutar bola matanya malas.


Nada kembali menikmati makan siangnya dengan tenang. Ia tidak memedulikan kehadiran Galang walau pria itu berada di dekatnya. Sedangkan Galang, tidak berpaling dari wajah Nada ketika gadis itu sedang makan. Diam-diam ia tersenyum walau hanya dirinya saja yang menyadari hal itu.


Ketika berada di penghujung, Galang melihat makanan sisa yang ada di bibir Nada. Dengan sigap ia mengusap dengan menggunakan ibu jarinya. Sontak Nada terkejut dan berujung saling memandang. Walau sedang kesal sekali pun, Nada tidak bisa mengontrol degub jantungnya.


Wajah mereka saling dekat. Nada merasakan getaran di seluruh tubuhnya. Usapan lembut itu sangat terasa sekali. Perlahan Galang mengembangkan senyuman. Ia mendapati paras Nada yang cantik jika diamati dari dekat.


Deg… Deg… Deg…

__ADS_1


“Aduh, gue ini kenapa sih?” gumam Nada dalam hati.


__ADS_2