King Of Buaya

King Of Buaya
Lo cantik, Nad


__ADS_3

“Wleee…” Nada menjulurkan lidahnya seraya berjalan melewati Galang yang sedang menyapu halaman.


“Kurang ajar lo!” Galang menyayunkan sapu di tangannya, namun Nada berhasil menghindar.


Gadis itu merasa puas sekali karena sekarang musuhnya dalam keadaan sulit. Setiap kali mereka bertemu sudah seperti kucing dan anjing. Selalu saja bertengkar dan saling mengejek. Tidak terasa akhirnya Galang telah menyelesaikan semua hukuman yang diberikan oleh Bu Tika.


Ia pun segera masuk ke dalam kelas. Saat ini kelas dalam keadaan kosong. Guru sedang melaksanakan rapat hingga satu jam kedepan. Sungguh, waktu seperti ini yang membuat para siswa bergembira ria. Di dalam kelas terjad kericuhan oleh salah seorang siswa yang bernama Jean.


“Nad, bisakah kau terima bunga mawar merah ini?” tanya Jean seraya duduk bersimpuh di hadapan Nada.


“Aduh Je, lo ngapain sih? Gue malu tau!”


“Aku tidak peduli, Nad. Tolong terima bunga ini.”


Jean adalah salah satu penggemar Nada. Tidak heran jika pria itu membawakan sekuntum bunga mawar untuk sang idolanya. Walau terkenal galak, tetapi Nada memanglah gadis cantik. Sudah pasti banyak pria yang menyukai dirinya. Hanya saja Nada tidak begitu peduli dengan itu semua.


“Terima! Terima! Terima!” teriakan semua teman-temannya.


Nada menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. “Sekali ini aja gue terima. Tapi, bukan berarti gue suka sama lo ya!”


Nada mempertegas ucapannya. Jean tidak peduli dengan itu. Sebab, yang terpenting bagi dirinya adalah Nada sudah mau menerima hadiah pemberiannya. Sontak semua teman berteriak histeris. Di mana telah terjadi sebuah insiden romantis di kelas mereka. Tetapi tidak bagi Nada, ia merasa malu dan ingin rasanya memukul Jean.


Semua itu ia urungkan, mengingat Jean adalah salah satu temannya yang baik. Tidak mungkin bagi Nada memperlakukan tidak baik padanya. Sementara itu, Galang yang sedang duduk dengan santai ikut menyaksikan kejadian tersebut. Tidak tahu mengapa ia tidak begitu tertarik dan cenderung kesal.


“Cieee…” Eliana mencoba untuk menggoda sahabatnya.


“Apaan sih, El? Gue ‘kan nggak mungkin buat Jean malu di depan temen-temen,” balasnya seraya meletakkan bunga tersebut di atas meja.


“Tapi lo hati-hati sama dia. Nanti lama-lama lo jatuh hati lagi sama Jean.”


Nada menghela napas panjang, “Gue nggak mungkin suka sama dia. Lagian Jean bukan tipe gue.”


“Terus, tipe lo kayak gue?” Secara mengejutkan Galang ikut dalam pembicaraan dua sahabat itu.


“Ehhh Bambang, buat gue kaget aja,” oceh Eliana.


“Berarti tipe lo kayak gue dong?” Galang mengulang pertanyaannya pada Nada.


“BUKAN URUSAN LO!!!”

__ADS_1


Gadis itu memalingkan wajahnya. Sedangkan Galang menaik turunkan alisnya menggoda Nada. Beberapa saat kemudian, guru datang. Semua siswa kembali ke tempatnya masing-masing untuk memulai pelajaran.


**


“Hai Nada, boleh aku duduk di sini?” Lagi dan lagi, Jean datang dan terus mendekati Nada.


“Bisa nggak sih lo jangan ganggu gue? Masih banyak ‘kan kursi yang lainnya?” Kali ini Nada sedang tidak ingin diganggu.


“Dasar cabe-cabean. Semua aja dideketin, nggak Galang, nggak Jean. Dasar murahan!” Sasha datang dengan gengnya.


“Apa lo bilang?!” Nada tersulut emosi.


Akibatnya mereka terlibat percekcokan. Dengan sigap Eliana merelai kejadian itu. keadaan kantin ricuh akibat mereka berdua. Tentu saja mereka menjadi tontonan siswa lainnya. Selama ini memang Sasha tidak pernah suka dengan Nada. Selain ia selalu kalah dalam nilai, Sasha juga selalu kalah dalam menaklukkan pria.


Keadaan yang semakin memanas, Sasha menarik rambut Nada dengan kencang menyebabkan teriakan dahsyat. Tidak mau kalah, Nada juga ikut menjambak rambut Sasha. Perkelahian tersebut tidak bisa dihindari. Sorakan murid terdengar riuh. Ada yang mendukung Nada, ada juga yang mendukung Sasha. Hingga akhirnya, datang seorang pria yang bertubuh tegap.


“Ada apa ini?” Galang datang dan berdiri di antara mereka berdua.


“Galang… Lihat dia mau jambak aku.” Sasha mendekat ke arah Galang dan berdrama.


“Idih, lo sendiri yang mulai duluan. Dasar penjilat.” Nada tidak mau kalah.


Ketika mendapat ancaman, tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Sasha. Ia semakin kesal karena Galang membela Nada dibanding dirinya. Sasha dan gengnya pergi meninggalkan kantin. Nada masih emosi dan melipat kedua tangan di dada. Ingin rasanya ia menjambak rambut Sasha dan memberikannya pelajaran.


“Bubar semuanya!” teriak Galang. Semua yang ada di situ lalu melanjutkan makan siang.


“Duduk, Nad.” Jean memegang bahu Nada dan menuntunnya untuk duduk kembali.


Spontan Galang menepis tangan Jean yang berada di bahu Nada, “Jangan pegang-pegang dia!”


Nada memicingkan matanya, “Jangan sok jadi pahlawan.”


Kemudian Nada pergi, dan disusul oleh Eliana. Sedangkan Jean yang ingin menyusulnya tiba-tiba saja dicegah oleh Galang. Kedua pria itu saling bertatapan. Seluruh tubuh Jean gemetar tatkala dirinya mendapatkan tatapan tajam dari seorang Galang. Ia pun berusaha agar tidak gugup dengan membetulkan kacamata miliknya.


“Awas lo kalo macem-macem sama dia!” ancam Galang.


“I-iya.” Hanya itu yang mampu diucapkan oleh Jean.


Galang mempercepat langkah kakinya. Ia terhenti ketika melihat sosok yang sedang ia cari tengah duduk santai di bawah pohon. Ia pun menghampirinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Nada. Ia duduk di samping Nada yang membuat gadis itu menoleh terkejut.

__ADS_1


“Ngapain lo ke sini?” tanya Nada dengan sinis.


“Ini ‘kan tempat umum. Boleh dong gue duduk si sini?”


Nada diam saja tidak menjawabnya. Ia membiarkan Galang duduk di dekatnya. Udara sejuk di tempat itu membuat hati Nada sedikit tenang. Percekcokannya bersama dengan Sasha membuat energi Nada terkuras habis. Gadis pemilik bula mata bulat itu memejamkan mata. Merasakan setiap embusan angin yang mengenai tubuhnya.


Sementara itu, diam-diam Galang memperhatikannya. Tanpa disadari olehnya, Galang tersenyum tatkala menyaksikan pemandangan indah di depan matanya. Saat diam seperti ini, Nada semakin terlihat cantik. Tidak hanya cantik saja, tetapi manis. Itulah yang membuat kedua mata Galang tertarik untuk melihatnya.


“Lo cantik, Nad,” ujar Galang pelan.


Nada menoleh dan berkata, “Apa?”


“Hah.. Nggak.” Galang mengalihkan pandangannya.


“Oh.” Nada menjawab dengan singkat.


“Hampir aja ketahuan,” gumam Galang dalam hatinya.


“Tumben lo baik sama gue?”


Galang menaik turunkan alisnya, “Baik? Biasa aja. Perasaan lo aja kali.”


Belum sempat Nada membalas, tiba-tiba saja ponsel Galang berdering. Pria itu segera mengeceknya. Ternyata sebuah panggilan dari seorang wanita. Sudah pasti itu adalah kekasih Galang. Nada yang mengetahui hal tersebut berpura-pura tidak tahu. Sampai saat ini memang Galang belum banyak perubahan.


“Iya, Sayang. Nanti aku jemput kamu. Ya udah dulu ya, bye!” ujar Galang di akhir pembicaraannya.


“Gak capek apa lo jadi buaya terus?” Nada mencecarinya dengan pertanyaan.


“Gue itu tampan. Salah satu anugerah dari Tuhan yang harus gue manfaatkan.”


Mendengar jawaban tersebut, Nada memutar bola matanya malas.


“Emang lo nggak lihat ketampanan gue?”


“Maaf, gak tertarik gue.” Nada menjawab dengan malas.


Galang berdehem dan kembali menatap lurus ke arah lapangan yang ada di hadapannya.


Mereka begitu menikmati udara siang itu di bawah pohon yang ada di pinggir lapangan. Walau terik matahari terasa menyengat, tetapi keduanya terlihat sangat menikmati tanpa ada beban. Tidak banyak murid yang berada di tempat itu. Di sisi lain, Sasha memperhatikan mereka berdua. Ia geram dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


“Awas aja, bakal gue balas!” tuturnya penuh dengan dendam.


__ADS_2