King Of Buaya

King Of Buaya
Balap Liar


__ADS_3

Misi selanjutnya, seperti yang sudah direncanakan. Warriors akan melawan anggota geng motor lainnya. Tentu saja dengan pemain andalan mereka, siapa lagi kalau bukan Galang. Pria itu terkenal gagah di jalan. Tidak heran jika banyak geng motor lain yang mengakui hal tersebut. Sudah pasti Warriors dipandang baik oleh geng motor di seluruh daerah.


Sayup-sayup terlihat langit yang mulai berubah warna. Sementara sudah banyak orang berkumpul di arena pertandingan. Galang bersama dengan ketua The Moge siap untuk menaklukan jalanan. Mereka saling menarik gas pada motor masing-masing. Tinggal menunggu aba-aba dari seorang gadis cantik pembawa bendera kecil.


“Kalian ada ngerasa aneh nggak?” tanya Tiger pada teman-temannya.


“Aneh kenapa?” tanya Davin penasaran.


“Kenapa gak ada pengamanan ya di sini? Padahal kita ‘kan maunya ada yang amanin. Biar nggak terjadi keributan.”


Begitu mendengar hal tersebut, Davin dan Cakra mulai mengedarkan pandangannya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Tiger itu benar. Tidak ada satu pun anggota keamanan yang ada di tempat itu. Padahal, mereka sudah mengatur semuanya dengan sangat baik.


“Mungkin telat kali,” celetuk Cakra.


“Mana ada polisi terlambat, Cak.”


“Jangan panggil gue Cak, bisa nggak?” protes pria itu.


Tiger menaikkan kedua alisnya dengan heran, “Kenapa gitu?”


“Jelek.”


“Yehh… Eh, Rey lo udah atur semuanya dengan baik, ‘kan?” ujar Tiger seraya mendekati temannya itu.


Reynan menganggukkan kepala.


Walau sudah mendapatkan jawaban, tetapi Tiger merasa ada yang janggal. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Rupanya pertandingan dimulai. Sorak gembira para penonton memenuhi tempat itu. Mereka saling mendukung idola masing-masing. Tidak terkecuali Cakra yang sudah berteriak hebat memanggil nama Galang. Di saat suara riuh mendominasi tempat itu, tiba-tiba saja ada suara yang terdengar cukup nyaring.


Wiuwww… Wiuwww… Wiuwww…


Tampaknya sirine polisi menuju ke tempat itu. Semua orang yang mendengarnya berhamburan untuk menyelamatkan diri. Sementara Galang dan ketua The Moge belum menyelesaikan pertandingannya. Beberapa menit kemudian.


Dorrr.... Dorrr… Dorr…

__ADS_1


Tembakan peringatan dilepas oleh para anggota polisi. Membuat para anggota geng motor kocar kacir menyelamatkan diri mereka masing-masing. Cakra dan yang lainnya terlihat sangat kebingungan. Sedangkan mereka belum melihat tanda-tanda kehadiran Galang di sana.


“Woi! Gimana ini? Kita harus kabur sekarang,” pekik Cakra mengajak teman-temannya.


“Berhenti! Jangan bergerak! Kalian sudah melakukan balap liar dan tempat ini sudah dikepung!” suara salah satu dari anggota polisi itu.


“Ban*sat! Kenapa bisa terjadi?!” Tiger kelimpungan.


Hanya butuh waktu sekejap polisi berhasil mengamankan sejumlah anggota geng motor. Termasuk Tiger, Cakra, dan Davin. Keadaan sudah keos, tidak ada yang bisa melawan. Beberapa saat kemudian, Galang menghentikan laju motornya. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Kedua matanya terbelalak sempurna.


“Apa yang sudah terjadi?” Galang bertanya-tanya.


“Kamu dan teman-temanmu harus ikut kami ke kantor. Jelaskan semuanya di sana.”


“Tunggu, Pak! Apa salah kami?” Galang masing membela diri.


Tetapi para polisi itu membawa mereka semua ke kantor. Sampainya di sana, Galang duduk di sebuah kursi bersama dengan Tiger. Mereka mencoba untuk menjelaskan semuanya. Mulai dari rencana acara mereka, sampai saat ini. Awalnya polisi tidak percaya, sebab tidak ada laporan bahwa mereka akan mengadakan acara tersebut.


“Pak, kami benar-benar sudah mengatur semua perizinan,” terang Galang.


Galang dan Tiger saling melirik.


“Tapi Pak, kami sungguh-sungguh. Bahkan kemarin saja kami sudah mengadakannya dengan tertib. Ini buktinya.”


Tiger kemudian menunjukkan semua bukti yang ia punya. Satu per satu polisi itu mengecek kebenaran atas bukti tersebut. Suasana menjadi hening. Semuanya terdiam, termasuk anggota geng motor yang tengah berdiri dan berharap masalah ini cepat selesai. Setelah memeriksanya, polisi itu mengembalikan ponsel milik Tiger.


Sebisa mungkin Tiger dan Galang menjelaskan kronologi kejadian. Bahwa memang mereka sudah mempersiapkan semuanya. Tidak ada niat untuk mengadakan balap liar, atau apa pun yang dituduhkan pada Warriors.


“Tapi kalian sudah menganggu ketenangan warga sekitar,” lanjut Pak Polisi.


“Baik, Pak. Kami mengaku jika kami bersalah. Saya mewakili teman-teman, meminta maaf yang sebesar-besarnya,” tutur Galang.


Pak Polisi terdiam dan berpikir sejenak, “Apa kalian tahu akibat jika melanggar hukum?”

__ADS_1


“Kami tahu, Pak. Tapi kami sudah menjelaskan semuanya kepada Bapak. Kami tidak mengadakan balapan liar, dan kami juga tidak tahu kenapa bisa surat izin itu tidak sampai,” terang Galang dengan sengit.


Ia sudah berputus asa karena polisi itu tidak mempercayai perkataannya. Terlebih, sekarang Galang sedang mempertaruhkan keselamatan teman-temannya. Bagaimana jika mereka dijatuhi hukuman, sudah pasti Galang akan merasa bersalah karena ia merupakan ketua Warriors.


Perdebatan sengit tidak bisa dihindari. Galang terus membela diri agar ia dan teman-temannya tidak dijatuhi hukuman. Tiger juga ikut membantu menunjukkan beberapa bukti lainnya sebagai penguat. Setelah cukup lama beradu argumen, akhirnya pihak kepolisian percaya dengan mereka dan membebaskan semua yang ada di sana.


“Terima kasih banyak, Pak. Kami janji, kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama,” ucap Galang.


“Bagus kalau begitu. Sebaiknya kalian kembali ke rumah, dan jangan lanjutkan perjalanan. Ditakutkan kejadian serupa akan terjadi di daerah lain.”


Galang dan yang lainnya mengangguk mengerti.


Tanpa menunggu waktu lama, Galang dan yang lainnya keluar dari kantor polisi. Degub jantung mereka berpacu dengan cepatnya. Tidak terbayangkan jika mereka akan menerima hukuman atas apa yang sudah terjadi. Cakra dan Davin saling berpelukan, mereka bernapas lega karena telah berhasil terselamatkan dari masalah besar itu.


Namun tidak untuk Galang, ia terlihat sedang berpikir keras. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Beruntung Tiger mengetahui hal tersebut, ia kemudian mengajak Galang dan yang lainnya untuk pergi mencari makan. Kebetulan memang mereka belum makan sejak siang tadi.


Sampailah mereka di sebuah rumah makan yang berada tidak jauh dari kantor polisi. Cakra dan Davin yang sudah kelaparan langsung memesan makanan. Hanya tersisa beberapa anggota Warriors di sana. Sebagian sudah melarikan diri sejak sirine mobil polisi terdengar.


“Gal, sebaiknya lo makan dulu,” ujar Tiger seraya menepuk pundaknya.


“Setelah makan kalian cari penginapan aja. Gue ada urusan.”


“Lo mau ke mana, Lang?” tanya Zayn, salah satu anggota Warriors yang terkenal pendiam.


“Gue harus ketemu sama The Moge dan juga anak-anak lainnya yang tadi kabur.”


Tiger menghela napas panjang, “Besok pagi ‘kan bisa. Kenapa harus sekarang?”


“Nggak bisa, Ger. Semua harus selesai sekarang. Gue yang bertanggung jawab sama kalian semua.”


Mendengar perkataan Galang, tidak ada yang dapat membantahnya. Mereka melanjutkan makan malam yang sempat tertunda. Selama menikmati makanan, di dalam benak Galang timbul banyak sekali pertanyaan. Ia harus mencari tahu kenapa semua bisa terjadi. Padahal ia dan Warriors sudah menyusun rencana dengan sangat baik.


Selepas makan malam, anggota Warriors pergi mencari penginapan. Sedangkan Galang menghampiri markas The Moge. Ia akan meminta maaf dan juga mencari tahu asal muasal kenapa bisa kejadian seperti ini terjadi. Ia tidak akan tinggal diam begitu saja ketika anggotanya terancam.

__ADS_1


“Pasti ada yang nggak beres. Gue harus selidiki sampai tuntas,” ucapnya pelan seraya memakai helm dan melajukan motornya.


Rupanya diam-diam Tiger mengikuti Galang. Ia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Galang. Jika dirinya ikut, sudah pasti ia akan siap sedia jika ada masalah. Tiger mengikutinya tanpa sepengetahuan Galang. Jika sampai Galang tahu, sudah pasti pria itu akan melarang dirinya untuk pergi.


__ADS_2